Kamis, 26 Oktober 2017

Dari Infaq dan Sedekah, PCNU Ngawi Segera Miliki Gedung

Ngawi, PKB Kab Tegal. Keinginan warga Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Ngawi memiliki Gedung NU baru tiga lantai akan segera menjadi nyata. Gedung tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 5 ribu meter persegi di Jl Soekarno-Hatta atau Ring Road Ngawi. Di tanah tersebut dibangun kantor, masjid, pusat studi, plus gedung serbaguna.

Dari Infaq dan Sedekah, PCNU Ngawi Segera Miliki Gedung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Infaq dan Sedekah, PCNU Ngawi Segera Miliki Gedung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Infaq dan Sedekah, PCNU Ngawi Segera Miliki Gedung

Pembangunan tersebut direncanakan menghabiskan biaya senilai 17 miliar rupiah dan diperkirakan akan selesai 3 tahun. Jumlah tersebut dihimpun NU dan Banom dari jalan infaq atau sedekah dari kedermawanan pengurus sendiri serta masyarakat luas.

“Alhamdulillah, saat ini sesuai keinginan kita bersama, warga NU bakal memiliki gedung baru. Dana itu kami peroleh dari jihad amwal (harta, red.) warga NU,” jelas KH A. Ulinnuha Rozi, Ketua Pengurus Cabang NU Ngawi. Ia juga membuka kesempatan bagi siapa pun yang berkemauan membantu menyukseskan proyek ini.

PKB Kab Tegal

Dana yang sudah ada dan terkumpul oleh panitia pembangunan, langsung dibelikan tanah uruk berupa tanah padas sebab kondisi tanah menjorok ke bawah sedalam 1 meter.

Dari pantauan PKB Kab Tegal, pembangunan sedang pada tahap pengurukan dan pemerataan menggunakan tanah padas. Penggurukan dimulai pada tanggal 5 Maret 2016. Dan hampir setiap hari, tampak warga bergiliran di lokasi.

PKB Kab Tegal

Di tempat yang berbeda, Jum’at, (11/3), Ketua LP Ma’arif KH Istamar membenarkan perihal hajat besar dan i’tikad perjuangan Nahdliyyin Ngawi mengembangkan Ahlussunnah wal Jamaah.

“Pembangunan sedang dalam pengurukan. Kalau hendak lihat gotong royong warga NU, silahkan langsung datang ke lokasi, Banser sedang ro’an,“ katanya sembari menambahkan, “kita berharap pembangunan gedung baru tersebut lancar-lancar; baik secara visi maupun finansial,” katanya. (Ali Makhrus/Abadullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Warta, Pendidikan PKB Kab Tegal

Ini Aplikasi Doa di Android Milik NU

Jakarta, PKB Kab Tegal. Bagi umat muslim yang tak hafal doa, kini bisa memasang aplikasinya melalui ponsel android. Tinggal cari di Play Store, unduh, lalu dipasang. Hanya membutuhkan beberapa menit, kemudian bisa berdoa sesuai keperluan.

Pengurus  Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama mengupayakan layanan bernama "Kumpulan Doa Pilihan" itu  dengan alamat http://doa.duaiti.com/ atau bisa dicari di Play Store dengan kata kunci "lakpesdam".

Ini Aplikasi Doa di Android Milik NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Aplikasi Doa di Android Milik NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Aplikasi Doa di Android Milik NU

Direktur Eksekutif PP Lakpesdam NU, Muhammad Hasyim, mengatakan, aplikasi di android itu sudah dioperasikan seminggu lalu, “Baru ada 100 lebih doa, yang terkategori menjadi 9 doa utama,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (20/5).

PKB Kab Tegal

Hasyim merinci 9 kategori doa tersebut yaitu, doa harian, di luar ruangan, ibadah seperti shalat dan lain-lain, fenomena alam, kebahagian, haji dan qurban, keadaan galau, bulan hijriyah, macam-macam shalawat Nabi, doa anak, macam-macam Rawi Maulid, bacaan tahlil dan doa lainnya.

PKB Kab Tegal

“Doa-doa tersebut akan terus terus dilengkapi, dan layanan akan terus akan ada perbaikan-perbaikan,” katanya.

Hasyim meminta para pengguna adroid menyampaikan kritik dan saran untuk perbaikan layanan itu melalui surat elektronik office@lakpesdam.org. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kyai PKB Kab Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Innalillahi, KH Nurul Huda Nawawi Sidoarjo Berpulang

Sidoarjo, PKB Kab Tegal. Suasana duka menyelimuti kota Sidoarjo dan sekitarnya. Karena saat ini warga Sidoarjo telah kehilangan sosok ulama kharismatik, KH Nurul Huda Nawawi yang menjadi panutan warga Sidoarjo itu menghembuskan nafas terakhirnya, Senin (23/3) sekitar pukul 10.45 WIB.

Innalillahi, KH Nurul Huda Nawawi Sidoarjo Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Nurul Huda Nawawi Sidoarjo Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Nurul Huda Nawawi Sidoarjo Berpulang

Kiai yang juga pemangku Pondok Pesantren Al-Falah Siwalanpanji Buduran Sidoarjo itu wafat karena sakit diabet dan sudah komplikasi di usianya ke 56 tahun. Kiai nyentrik ini wafat di kediamannya pagi tadi. Almarhum telah disemayamkan di makam desa setempat di kawasan Siwalanpanji Buduran Sidoarjo hari itu juga sekitar pukul 16:00 WIB.

Ribuan pentakziah dari dalam dan luar Sidoarjo juga berdatangan di kediaman Kiai yang akrab disapa dengan Gus Huda itu. Nampak hadir Wakil Bupati Sidoarjo H MG Hadi Sutjipto, Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan, Ketua MUI Sidoarjo KH Usman Bachri, Ketua PCNU Sidoarjo KH Abdi Manaf, Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo Mustain Baladan, Ketua Dinas PU Bina Marga Sidoarjo Sigit Setiawan, Ketua KPUD Sidoarjo M Zainal Abidin, dan para santri di Sidoarjo.

PKB Kab Tegal

Salah satu pegawai di Pondok Pesantren Al-Falah Anip mengatakan, bahwa sebelumnya Gus Huda sempat berpesan kepada putra bungsunya kalau akan bepergian. "Jadi sebelumnya sudah ada tanda-tanda kalau Gus itu mau wafat. Saya sendiri yang tidak pernah mimpi beliau, tiba-tiba kemarin malam mimpi dengannya," ceritanya.

Sementara itu, menurut salah satu mahasiswa Institut Agama Islam Al-Khoziny Buduran Sidoarjo Samsul Arifin menjelaskan, dirinya tidak mendapatkan pesan dari Gus Huda yang menjadi dosen di kampus tersebut.

PKB Kab Tegal

"Kamis (19/3) lalu, Gus Huda tidak masuk mengajar, kabarnya beliau sakit. Tapi setelah itu tidak ada tanda-tanda lagi kalau beliau akan wafat. Semoga almarhum diterima disisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan Allah kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini," doanya penuh dengan harap. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kyai, Ulama, Pertandingan PKB Kab Tegal

Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU

Jakarta, PKB Kab Tegal. Sejumlah jajaran syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki, bertandang ke Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/7) malam. Mereka bermaksud meminta SK. dari PBNU atas kepengurusan PCI Turki yang baru terbentuk.

Sebelum mendatangi kantor sekretariat PBNU di lantai tiga, rombongan ini singgah di Kantor PKB Kab Tegal, lantai lima Gedung PBNU. Keempatnya aktif menceritakan kondisi sosial, akademik, dan keagamaan masyarakat Turki.

Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Syuriah PCINU Turki Urus SK dari PBNU

Jajaran pengurus PCINU Turki, terdiri dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang melanjutkan studi di Turki. Mereka berasal dari kampus berbeda. Bahkan kampus tiap pengurus terletak di kota yang berjauhan.

Para pengurus juga berasal dari latar belakang akademik yang berbeda. Sebagian mereka mengambil studi Sastra Arab, Politik, atau Teknik Sipil. Mereka tidak melulu berasal dari jurusan ‘Ilahiyat’, sebutan bagi studi ilmu-ilmu keislaman di Turki.

PKB Kab Tegal

“Pembentukan kepengurusan PCI kami, sesuai dengan keputusan Muktamar Makassar lalu; 40 anggota sebagai batas minimal,” kata Ahmad Faiz, Rois Syuriah PCI NU Turki kepada PKB Kab Tegal di Kantor redaksi lantai lima Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/7) malam.

Proses pembentukan PCINU Turki, cukup unik. Perkumpulan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Turki, berinisiatif membentuk kepengurusan setelah saling mengetahui bahwa mereka adalah warga NU, imbuh Faiz, yang tengah mengambil studi Sastra Arab di Universitas Konya, Turki.

PKB Kab Tegal

Menurut M. Syaukillah, Katib Syuriyah PCINU Turki, kepengurusan PCINU Turki didukung oleh tokoh masyarakat setempat. Mereka menyambut baik pembentukan kepengurusan Cabang Istimewa NU. Sejumlah tiga orang profesor di Turki, bersedia menjadi pengurus Mustasyar PCINU Turki.

 

Redaktur: Ulil Hadrawy

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sholawat PKB Kab Tegal

Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far

Riuh tepuk tangan menggema di gedung olah raga yang baru dua kali menjadi tempat perhelatan tahunan ini. Kiai Musthofa Aqil, seperti –entah sengaja atau tidak- menekan saklar bunyi tersebut, menggetarkan ribuan hati yang hadir, dan bagi para alumni,? menenggelamkan pada ingatan masing-masing.

“Jika saja tidak berkat Buya Ja’far, maka pesantren ini tidak akan seperti sekarang,” begitu, Kiai Musthofa, memberi penghargaan kepada kakaknya, Buya KH Ja’far Aqil Siroj.

Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far

Buya KH Ja’far Aqil Siroj -selanjutnya, Buya Ja’far-, merupakan nama paling sulung dari kelima putra KH Aqil Siroj, tokoh pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Secara berurutan, kelima putra tersebut disusul KH Said Aqil Siroj, KH Musthofa Aqil Siroj, KH Ahsin Syifa Aqil Siroj, serta paling akhir, KH Niamillah Aqil Siroj.

Kembali soal tepuk riuh penghargaan pada malam puncak peringatan Haul Almaghfurlah KH Aqil Siroj Ke-24 yang berlangsung hari Sabtu, 14 Desember 2013 yang lalu di Gedung Olah Raga (GOR) KHAS Kempek Cirebon itu, tentu tidak tanpa sebab. Selama 23 tahun, semenjak didaulat menggantikan ayahnya di tahun 1990, Buya Ja’far dikenal sebagai sosok yang gigih, istiqamah, penuh dedikasi dan semangat pengabdian yang tinggi.

PKB Kab Tegal

Banyak kenangan bersama Buya Ja’far, konon, komentar antar? alumni saat berkesempatan saling sapa di acara haul. Hampir sama, katanya, hari-hari bersama Buya Ja’far adalah hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi? buta.

PKB Kab Tegal

Bangun pagi, tak boleh telat, sudah siap setoran nazam? Atau, akankah namanya disebut untuk giliran membaca keterangan kitab Alfiyah Ibnu Malik yang njlimet itu? Seperti itulah rasanya menghabiskan dua tahun bersama Buya Ja’far, dari kelas Alfiyah Ula dan Alfiyah Tsani di pesantren yang terletak di wilayah Cirebon bagian barat ini.

Buya Ja’far tidak akrab dengan waktu senggang, selain sebagai seorang pengasuh pesantren, dua periode dipercaya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon membuat langkah dan nafasnya seolah sama-sama menjadi derap semangat, tak kenal lelah, apalagi putus asa. Pukul 3 pagi, kata seorang putranya, Buya Ja’far sudah bangun untuk sembahyang barang dua rakaat. Subuh pun tiba, memimpin jamaah, mengajari santri kelas sorogan Al-Quran, disambung dengan pengajian Alfiyah Ibnu Malik mulai pukul enam.

Jika matahari sudah sedikit terangkat, usai sarapan, Buya Ja’far langsung berangkat memenuhi undangan masyarakat, atau siapa pun yang membutuhkan kehadirannya. Bukan sekadar urusan-urusan besar, Buya Ja’far tak sungkan menjadi wali nikah bagi siapa pun yang pernah mengaji kepadanya, atau saat? diminta menghadiri acara selametan, tahlil, begitu pun kendurian, di kampung-kampung sekitarnya.

Jelang sore hari, Buya Ja’far kembali ke kediaman, selalu begitu, tepat waktu, terkecuali saat terpaksa berada di luar kota untuk mengikuti agenda-agenda tertentu.

Boleh di bilang, pesantren Kempek Cirebon merupakan pesantren dengan basis pengajaran Al-Quran serta sepasang fan yang dikenal dengan istilah ilmu alat, Nahwu dan Sharaf. Maka di setiap jenjang kelasnya, para santri selalu disajikan pelajaran? dengan bingkai yang serupa. Puncaknya, dua tahun sebelum usai, santri harus bersama Buya Ja’far untuk mengkhatamkan Al-Quran, juga melunasi sebanyak 1002 bait nazam Alfiyah dalam bentuk hafalan.

Boleh dibilang juga, -di mata santri- Buya Ja’far adalah sosok yang galak, terlebih bagi kelas pengajian Alfiyah. Dalam mengaji, pertama-tama, paling tidak Buya Ja’far membacakan 2 sampai 5 nazam perhari, berikut keterangannya, besoknya, 2 sampai 3 nama akan disebut untuk membacakan nazam dan keterangan sesuai dengan apa yang Buya Ja’far berikan sebelumnya.

Yang menarik adalah, Buya Ja’far masih menggunakan kitab yang ia afsahi semasa menempuh pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur puluhan tahun lalu, juga, santrinya, tidak diperkenankan untuk menganggap remeh dalam hal mengafsahi makna kitab, harus lengkap, tak boleh asal rujukan, jika hal-hal itu diabaikan, maka bersiaplah untuk menerima hukuman mencabuti rumput di lapangan asrama putri, berdiri 3 jam lebih, atau jika terlampau salah, tangkai kipas bambu mendarat di punggung telapak tangan, setidaknya, dua kali pukulan.

Tak sebatas itu, di mata Buya Ja’far, ilmu, berikut kemanfaatannya tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan ingatan dan daya nalar. Kebersihan adalah utama, hati, badan dan pakaian. Tak jarang, santri yang diketahuinya tak sempat mandi saat mengaji, akan dipaksa keluar dan pulang ke kamar. Maka wajar, jika hari-hari bersama Buya Ja’far dianggap sebagai hari-hari menegangkan, hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi? buta.

Lalu apa yang menjadikan alumni Kempek terasa begitu tersekap rindu untuk selalu bertemu Buya Ja’far? Entahlah. Selain banyak hal yang tak bisa diungkapkan, paling tidak, ada beberapa poin yang karenanya bisa dianggap sebagai manfaat;

1.? ? ? Buya Ja’far pernah berkata; “Jangan berharap jadi orang sukses jika tidak mau capek dan lelah,”

2.? ? ? Mengaji kepada Buya Ja’far berarti menelusuri jalan panjang tentang pengabdian, kedisiplinan, keistiqamahan, dan kebersihan. Sesuatu yang kerap dibutuhkan santri sebagai modal dan tanggung jawab di tengah masyarakat.

3.? ? ? Kecintaan terhadap shalawat digambarkan dalam perkataan Buya Ja’far; “Dengan rajin bershalawat kepada Nabi, apapun yang dicita-citakan oleh kita, Insyaallah tercapai. Itulah sebabnya mengapa saya menekankan kepada para santri untuk rajin-rajin bershalawat,” [PKB Kab Tegal, 19/1/2013]

Dan masih banyak lagi yang oleh penulis sendiri layak dianggap sebagai kurikulum Buya Ja’far dalam mendidik dan mencita-citakan santrinya sebagai sosok yang tangguh, tahan banting, pekerja keras, tidak malas, namun tetap santun. []

?

SOBIH ADNAN, pernah nyantri di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon.?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Humor Islam, Pesantren, Amalan PKB Kab Tegal

FKB Ancam Duduki Istana

Jakarta, PKB Kab Tegal. Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI mulai geram atas penganan kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, yang hingga kini belum tuntas. FKB memberikan batas waktu dua minggu kepada pemerintah untuk menetapkan sebagai bencana nasional. Jika tidak, mereka mengancam akan menduduki Istana Negara.

"Jika dalam dua minggu pemerintah tidak mengambil langkah-langkah tersebut, kami dari FKB akan memimpin langsung demo ke Istana bersama korban Lapindo," ujar Wakil Ketua FKB Marwan Jafar di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (6/3).

Ketua FKB Ida Fauziah menegaskan, penetapan kasus semburan lumpur Lapindo sebagai bencana nasional tidak akan menghilangkan tanggung jawab Lapindo untuk membayar ganti rugi kepada warga.

FKB Ancam Duduki Istana (Sumber Gambar : Nu Online)
FKB Ancam Duduki Istana (Sumber Gambar : Nu Online)

FKB Ancam Duduki Istana

Penetapan semata-mata dimaksudkan agar penyelesaian kasus lumpur itu lebih cepat dan efektif. "Usulan agar bencana Lapindo menjadi bencana nasional tidak akan sedikit pun memberikan ruang kepada Lapindo lari dari tanggung jawab tapi kita lihat Timnas tidak efektif karena itu pemerintah harus ambil alih," urainya.

Sementara itu, Sekreteris FKB Helmy Faisal Zaini meminta agar kasus ini juga ditangani secara hukum. Jika kasus tersebut terus dibiarkan, Lapindo tidak akan bertanggung jawab atas kelalaiannya dalam pengeboran.

PKB Kab Tegal

"Maling ayam di kampung saja dihukum, masa ada orang yang nyata-nyata telah melanggar prosedur pengeboran tapi dibiarkan saja," kata Helmy.

Sekretaris Tim Pemantau Lumpur Lapindo FKB Aryo Widjanarko meminta pemerintah merelokasi korban lumpur ke tempat yang layak. Selain itu juga merelokasi infrastruktur yang rusak akibat luapan lumpur Lapindo. "Pemerintah harus melihat sisi sosial masyarakat Lapindo. Jangan dibiarkan terbengkalai," tandasnya.

Di tempat terpisah, Khofifah Indar Parawansa menyatakan siap mendukung upaya yang ditempuh warga untuk menuntut ganti rugi yang dibayarkan secara cash and carry.

"Saya rasa masyarakat inilah yang lebih tahu di mana mencari tempat yang lebih nyaman bagi kehidupan mereka. Resettlement (pemukiman kembali) bukan solusi yang solutif," ujar Khofifah yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.

Menurut Khofifah, masyarakat lebih baik diberi keleluasaan di mana mereka akan berdomisili sesuai dengan sumber nafkah mereka selama ini. "Saya rasa itu akan lebih wise, karena ada tradisi masyarakat kita berpola rumah terbuka. Petani, misalnya, butuh rumah yang dekat dengan lahan pertanian. Petambak juga butuh yang dekat tambak," urainya.

PKB Kab Tegal

Mengenai persyaratan sertifikat tanah yang diperlukan untuk memperoleh ganti rugi, Khofifah menganggap perlu diberikan kebijakan khusus yakni tidak harus mempunyai sertifikat. Sebab, katanya, banyak masyarakat Indonesia yang belum akrab dengan sertifikat tanah.

"Solusinya boleh petok D (surat tanah warga yang diarsip di kantor desa), boleh juga kesaksian. Mungkin bisa dilokalisir oleh Bupati dengan melibatkan RT/RW setempat bahwa ini milik si A, luas sekian, sehingga kalau dikompensasikan ganti ruginya sekian," terang Khofifah. (dtc/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal RMI NU, Tegal, Anti Hoax PKB Kab Tegal

Selasa, 24 Oktober 2017

Registrasi Baru Selesai, Ini Penjelasan Panitia

Jombang, PKB Kab Tegal. Ketua OC Muktamar ke-33 NU H Imam Azis mengatakan, bahwa registrasi peserta baru selesai siang ini Ahad (2/8). Menurut dia, hal itu disebabkan verifikasi ulang dari panitia kepada peserta muktamar dari cabang dan wilayah. ?

Registrasi Baru Selesai, Ini Penjelasan Panitia (Sumber Gambar : Nu Online)
Registrasi Baru Selesai, Ini Penjelasan Panitia (Sumber Gambar : Nu Online)

Registrasi Baru Selesai, Ini Penjelasan Panitia

Verifikasi dilakukan dengan menempatkan dari masing-masing di tempat tersendiri. “Sekarang sudah selesai,” katanya di hadapan wartawan didampingi panitia lain, H Syaifullah Yusuf di Media Center Muktamar ke-33 NU. Kemudian, lanjut dia, peserta muktamar siang ini akan melakukan sidang tata tertib muktamar.

Sementara Syaifullah Yusuf menjelaskan keterlambatan tersebut karena registrasi yang seharusnya selesai sebelum pembukaan muktamar, malah molor. Sehingga registrasi dilanjutkan hari ini.

PKB Kab Tegal

Penyebab molor, lanjut dia, karena ada kejanggalan jumlah peserta. Kedua, adanya kesalahan teknis di kartu peserta sehingga syarat menjadi peserta tak bisa diterapkan.

Ia juga memohon maaf atas keterlambatan petugas kebersihan di muktamar ini. (Abdullah Alawi)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kajian Islam, AlaNu, Lomba PKB Kab Tegal