Jumat, 24 Maret 2017

Marhabanan Keliling Ala Pelajar NU

Brebes, PKB Kab Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ketanggungan Brebes menggelar marhabanan keliling. Tradisi sebagai ungkapan penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad tersebut digelar sebagai rangkaian gebyar Maulid Nabi 1438 Hijriyah pelajar NU.

“Memperingati Maulid Nabi, kami semarakan dengan marhabanan keliling ke mushola dan masjid,” ungkap Pembina PAC IPNU-IPPNU Ketanggungan Ahmad Fauzan El Azizi di sela kegiatan di Masjid Jami Darussalam Desa Baros Kec Ketanggungan Brebes, Ahad (4/12) kemarin. Marhabanan dikonsep dengan gelaran PAC IPNU-IPPNU Bersholawat yang dihadiri ribuan pelajar dan anak muda NU se-Kec Ketanggungan.?

Marhabanan Keliling Ala Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Marhabanan Keliling Ala Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Marhabanan Keliling Ala Pelajar NU

Fauzan berharap, dengan momentum? marhabanan, anak-anak muda NU akan bisa meneladani Nabi Muhammad SAW sebagai Uswatun Hasanah.?

Ketua PAC IPNU Ketanggungan Rekan Abdul Azid dalam sambutannya mengatakan kekompakan seluruh anggota IPNU-IPPNU dalam setiap kegiatan diharapkan bisa istiqomah. “Kemajuan organisasi, terletak pada kebersamaan atau kekompakan seluruh anggota,” tegas Azid.?

Marhabanan diawali dengan pembacaan Tahlil, Barzanzi dan shalawat serta mauidhotul hasanah oleh KH Hasan Amrozi dari Tegal.?

Kiai kondang tersebut berpesan hendaknya, anak-anak muda NU bisa menjadi suri tauladan yang baik di masyarakat sekitarnya. Selain itu untuk faham sejarah Wali Songo saat menyebarkan Islam di Indonesia. Pelajar NU harus meneruskan juga bagaimana para ulama berjuang untuk kemerdekaan NKRI. “Kalian IPNU-IPPNU adalah generasi muda aset bangsa yang kelak menjadi penerus para ulama serta nanti ada pula yg menjadi pejabat atau birokrat.

PKB Kab Tegal

Kiai Amrozi juga mengajak kepada seluruh orang tua yang hadir, untuk mendukung dan dorong anak-anaknya agar ikut IPNU-IPPNU. Jangan sampai, ikut IPNU IPPNU malah dimarahi. Kiai Amrozi menyakini, IPNU-IPPNU menjadi wadah yang benar bagi kalangan pelajar. “IPNU IPPNU bisa menjadi benteng anak muda untuk melawan maraknya penggunaan narkoba dan pergaulan bebas di kalangan anak muda,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilantik Pengurus Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Baros Kecamatan Ketanggungan. Kepengurusan PR IPNU-IPPNU desa Baros antara lain Ketua IPNU A Cecep Maulana, Sekretaris Agus Munawir. Bendahara Ahmad Noor Basor. Sedangkan untuk PR IPPNU Baros Ketua Nina Inayah, Sekretaris Siti Zulfatmah dan Bendahara Aidha Nurussyamsi. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Makam, IMNU PKB Kab Tegal

Rabu, 22 Maret 2017

Wakil Bupati Buleleng: Hanya NU yang Terdepan Bicara Toleransi

Buleleng, PKB Kab Tegal - Konferensi V Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng dilaksanakan cukup meriah pada Ahad (3/4). Selain dihadiri oleh PWNU Bali, kegiatan yang dilaksanakan di GOR MAN Patas ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Buleleng Nyoman? Sujitra.

Kehadiran Nyoman di Buleleng ini menegaskan bahwa keberadaan Jamiyah NU di daerah yang mayoritas beragama Hindu ini bisa menjaga hubungan toleransi yang selama ini selalu menampilkan wajah Islam yang ramah dan damai.

Wakil Bupati Buleleng: Hanya NU yang Terdepan Bicara Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Bupati Buleleng: Hanya NU yang Terdepan Bicara Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Bupati Buleleng: Hanya NU yang Terdepan Bicara Toleransi

Sujitra dalam sambutannya menyampaikan bahwa selama yang ia tahu, hanya ormas Islam NU yang paling berani mengangkat tema-tema kebhinekaan dan keutuhan NKRI.

“Oleh karenanya, saya sebagai pemerintah sangat berterima kasih kepada NU yang telah ikut serta menjaga keharmonisan di Buleleng” ungkapnya.

PKB Kab Tegal

Sementara itu, rangkaian sidang pleno dan komisi pada konferensi ini berjalan dengan tertib dan lancar. Beberapa rekomendasi yang diamanatkan pada kepengurusan selanjutnya antara lain menghidupkan semarak ke-NU-an dengan membangkitkan kembali banom-banom yang vakum, indoktrinasi ke-Aswaja-an, penulisan sejarah masuknya Islam di Gerokgak, mendata ulang keanggotaan NU yang dilanjutkan penerbitan Kartu Tanda Anggota NU (KARTANU), dan lain-lain.

PKB Kab Tegal

Peserta konferensi mengamanatkan Ustadz Harisuddin sebagai Rais Syuriyah NU dan H Ach Marzuqi sebagai Ketua NU periode 2016-2021. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kiai, Pertandingan, Nahdlatul PKB Kab Tegal

Selasa, 21 Maret 2017

Melacak Jejak Profesor Integratif

Judul Buku : KH Moh. Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan

Penulis : Caswiyono Rusydie Cakrawangsa, Zainul Arifin, Fahsin M. Fa’al

Pengantar : Prof Dr KH Moh. Tholhah Hasan & HM. Fajrul Falakh SH MA MSc

Epilog : Idy Muzayyad MSi

Melacak Jejak Profesor Integratif (Sumber Gambar : Nu Online)
Melacak Jejak Profesor Integratif (Sumber Gambar : Nu Online)

Melacak Jejak Profesor Integratif

Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Cetakan : I, Juni 2009 & II, Oktober 2009

Tebal : xxxvi + 290 Halaman

PKB Kab Tegal

Peresensi : Abdul Halim Fathani Yahya*


PKB Kab Tegal

Dibandingkan dengan tokoh-tokoh NU lainnya, nama Moh. Tolchah Mansoer barangkali tidak terlalu populer di mata masyarakat umum. Memang, beliau pernah menjadi pimpinan puncak dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Namun, faktanya tidak banyak literatur yang mendokumentasikan sepak terjang dalam kehidupannya. Ketidakhadirannya dalam berbagai literatur, bukan berarti sosok ini tidak memiliki arti penting dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia, khususnya bagi organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama’. Orang NU yang tercatat sebagai doktor hukum Tata Negara pertama dari Universitas Gadjah Mada ini telah banyak menelorkan karya-karya penting yang hingga kini menjadi rujukan utama dalam kajian dan pengembangan hukum ketatanegaraan di Indonesia.

Julukan sosok integratif (baca: ilmuwan sekaligus kiai) tampaknya sangat tepat untuk dilekatkan kepada Prof KH Tolchah Mansoer. Ia merupakan salah satu contoh “orang NU” yang “sukses”. KH Tolchah merupakan founding fathers terpenting dalam organisasi IPNU. Ia merupakan pelopor, pendiri, dan penggerak pada masa awal berdirinya. IPNU dicita-citakan olehnya menjadi wadah bagi pelajar umum dan pelajar pesantren. (hlm. 261). Selain ahli di bidang hukum tata negara, kealiman di bidang pengamalan ajaran Islam tidak dapat dipungkiri. Ia banyak menulis buku ketatanegaraan dan banyak menerjemahkan buku-buku agama dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tolchah Mansoer merupakan figur menarik dan penting dalam sejarah NU, sejak muda hingga masa tuanya. Ia merupakan aset berharga yang telah berjasa banyak dalam peletakan dasar-dasar gerakan dan kaderisasi NU hingga pembaharuan pemikiran dan arah organisasi NU.

Ada beberapa hal yang mendasari untuk “mendokumentasikan” lika-liku perjalanan hidup seorang ulama’ sekaligus ilmuwan, Prof Dr KH Moh. Tolchah Mansoer SH. Dalam pengantarnya, redaksi LKiS mengurai beberapa alasan dalam penerbitan buku ini.

Pertama, perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan, kegigihan, ketulusan, dan kerja keras setidaknya dapat menjadi inspirasi bagi generasi zaman sekarang.

Kedua, jika ungkapan “Orang besar dapat mati saat hidupnya; namun ia bangkit dan justru hidup abadi setelah kematiannya” dapat dibenarkan. Semasa hidupnya, karena keteguhannya mempertahankan prinsip; karena suara lantangnya mengatakan kebenaran dan melontarkan kritik, ia sempat dikucilkan oleh penguasa. Namun, setelah sang penguasa tumbang, harum namanya kian semerbak: ide-ide jeniusnya tentang hukum tata negara pun diadopsi dan diterapkan pasca reformasi (50 tahun setelah ia berpulang).

Ketiga, Tolchah adalah pakar hukum tata negara terkemuka pada masanya, sekaligus seorang kiai mumpuni yang berwibawa. Keempat, hasrat umat Islam untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dapat dikatakan sebagai ‘hasrat laten’.

Terlepas ada tidaknya pihak-pihak tak bertanggung jawab yang menunggangi mereka, sejarah telah membuktikan adanya usaha beberapa pihak untuk mewujudkan hasrat tersebut. Di era kontemporer ini, penghapusan tujuh kata dari Piagam Jakarta beberapa kali juga diangkat kembali menjadi isu yang hangat. Jika kita ‘membaca’ Tolchah, sang pakar hukum tata negara yang kiai ini, tentu hasrat semacam itu menjadi patut untuk disayangkan.(hlm. vii)

Hadirnya buku ini tentu menjadi sangat penting. Sebagaimana penuturan Idy Muzayyad dalam epilognya, ada dua hal yang sangat berseberangan berkaitan dengan lahirnya buku yang merekam jejak petualangan Profesor Tolchah. Pertama, ada rasa bangga, karena dengan buku ini, generasi muda (khususnya IPNU) mengetahui bahwa dalam sejarah awal organisasi pelajar ini terdapat seorang tokoh yang patut dibanggakan. Di sisi lain, dengan membaca buku ini kita juga patut merasa malu, karena sebagai pewarisnya kita belum mampu sepenuhnya meniru prestasi yang telah ditorehkan beliau. (hlm.259-260).

Melalui buku ini, pembaca akan diajak untuk menelusuri masa lalu kehidupan KH Tolchah yang penuh dengan keteladanan, pengalaman, dan cita-cita besar. Banyak hal yang tentunya patut dijadikan sebagai rujukan dalam mengarungi medan perjuangan yang dihadapi saat ini. Dengan terbitnya buku ini, seseorang bukan hanya dapat ‘membaca’ Tolchah secara lebih komprehensif, melainkan juga membaca dirinya sendiri. Sebab, membaca perjalanan hidupnya berarti memetik inspirasi; membaca sepak terjangnya bermakna menuai spirit; dan membaca percik pemikirannya adalah mencerahkan. Lebih dari itu semua, buku ini adalah sebuah usaha melawan alpa: sebuah upaya untuk tidak sekali-sekali melupakan sejarah!



* Alumnus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sedang Menempuh Program Magister di Universitas Negeri Malang
Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pesantren, Kiai, Lomba PKB Kab Tegal

Ikuti Walisongo, Muslim Banten Kuat Lurus dan Toleran

Serang, PKB Kab Tegal. Sebagai salah satu basis Islam yang memiliki sejarah panjang masa kejayaan Islam di Nusantara, Propinsi Banten dihuni oleh masyarakat muslim yang agamis. Masyarakat Banten juga terkenal memiliki budaya keislaman yang kuat.

Demikian dinyatakan tokoh adat banten H Embay Mulya Syarief dalam acara Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural antara Pemuka Agama Pusat dan Daerah di Serang, Rabu (11/9). Menurut Embay, selain kuat, masyarakat Muslim Banten juga dikenal sebagai masyarakat yang berbudaya Islam lurus dan toleran.

Ikuti Walisongo, Muslim Banten Kuat Lurus dan Toleran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikuti Walisongo, Muslim Banten Kuat Lurus dan Toleran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikuti Walisongo, Muslim Banten Kuat Lurus dan Toleran

"Budaya Muslim banten lurus dan toleran karena mewarisi ciri dakwah Walisongo yang sangat toleran dengan budaya dan adat istiadat masyarakat setempat. Masyarakat Muslim Banten juga sangat kuat beragama karena mewarisi tradisi Kesultanan Islam Banten," tutur Embay.

PKB Kab Tegal

Lebih lanjut Embay menjelaskan, di Banten misalnya, masyarakat sejak dulu tidak suka menyembelih hewan sapi. Untuk perayaan Idul Adha, Muslim Banten lebih suka menyembelih kerbau daripada sapi.

Hal ini adalah sebentuk toleransi masyarakat Muslim Banten kepada umat Hindu zaman dahulu yang menganggap sapi sebagai dewa. Jadi Muslim Banten tetap menghormati kepercayaan Hindu meskipun sudah berkuasa dan memiliki kerajaan yang kuat, terang Embay.

PKB Kab Tegal

Hal lain yang menjadi bukti toleransi dan akulturasi budaya di Banten adalah gapura-gapura pintu masuk milik warga dan pemerintah Banten yang bentuknya sangat mirip dengan candi Bentar. Bentuk gapura model Banten menunjukkan bahwa akulturasi budaya dari zaman sebelumnya menuju zaman Islam berlangsung dengan damai dan tanpa kekerasan.

"Contoh lain adalah adanya toleransi yang sangat indah di masyarakat Baduy di Banten Selatan yang hingga kini terus lestari dan dilindungi keberadaan dan eksistensinya hingga sekarang. Ini adalah bentuk dakwah Islam di Banten yang sangat toleran menghargai budaya dan keyakinan masyarakat beragama lain," tandas Embay. 

(Syaifullah Amin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Quote PKB Kab Tegal

Senin, 20 Maret 2017

IPPNU Garut Kerahkan Relawan di Lokasi Bencana Banjir

Garut, PKB Kab Tegal - Seluruh elemen warga Garut tengah ditimpa keprihatinan atas bencana banjir yang menerjang kawasan Garut Kota pada Selasa (20/9) malam. Berbagai bantuan berdatangan dari kelompok-kelompok masyarakat yang dikumpulkan dicberbagai posko bantuan. Para aktivis IPPNU Garut juga turut serta menggalang bantuan.

Tim relawan IPPNU bersama badan otonom NU lainnya membuat posko bantuan di SMK Ma’arif Garut.

IPPNU Garut Kerahkan Relawan di Lokasi Bencana Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Garut Kerahkan Relawan di Lokasi Bencana Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Garut Kerahkan Relawan di Lokasi Bencana Banjir

Ketua IPPNU Lilis Sa’adah mengungkapkan duka citanya atas bencana yang menenggelamkan ratusan rumah ini. Lilis berharap warga Garut senantiasa membantu korban banjir dalam bentuk apapun dan terus mendo’akan agar kondisi korban bisa lebih baik.

Menurutnya, bencana ini patut menjadi pelajaran tidak hanya bagi warga Garut. Semua masyarakat harus lebih memerhatikan kondisi lingkungan sekecil apapun, khususnya bagi pelajar sebagai generasi penerus dalam menjaga lingkungan.

PKB Kab Tegal

“Warga Garut, khususnya pelajar sebagai kawula muda harus lebih dini menyadari kondisi dan dampak lingkungan sekecil apapun itu, seperti halnya disiplin menerapkan buang sampah pada tempatnya,” tutur perempuan yang pernah menjuarai debat se-Priangan Timur ini.

PKB Kab Tegal

Selain menggalang bantuan bagi korban banjir, IPPNU Garut juga turun langung melakukan survei ke lapangan. Hal ini semakin mendorong IPPNU untuk lebih gigih mengalang bantuan dana. Saat ini pun pihaknya masih menunggu bantuan dari pimpinan pusat? dan pimpinan wilayah IPPNU Jabar.

“Kami masih menunggu bantuan dari IPPNU pusat dan wilayah, dari Pimpinan Wilayah sendiri berencana akan memberikan bantuan pada saat menghadiri acara pelantikan IPNU-IPPNU Garut 25 September mendatang,” pungkas Lilis. (Rohmah Nashruddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal AlaNu, Nasional, Olahraga PKB Kab Tegal

Minggu, 19 Maret 2017

Di Bali, Warga NU Cukup Banyak

Denpasar, PKB Kab Tegal. Dari 4 juta lebih penduduk Bali, umat Hindu merupakan jumlah terbanyak yang mencapai kurang lebih 90%. Disusul kemudian umat Islam  7% dan sisanya 3%.

Menurut Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bali H Mulyono Setiawan, sekitar 80% dari jumlah umat Islam ini adalah warga NU.

Di Bali, Warga NU Cukup Banyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Bali, Warga NU Cukup Banyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Bali, Warga NU Cukup Banyak

Populasi muslim terbesar terletak di Kabupaten Jembrana, Bali. Di banding daerah-daerah lain, masjid, madrasah dan pesantren lebih banyak dijumpai di ujung barat Pulau Dewata ini. Data RMI PCNU Jembrana mencatat sedikitnya 29 pesantren berbasis Nahdliyin aktif di kabupaten ini, antara lain Pesantren Miftahul Hikmah, Pesantren Manba’ul Ulum, Pondok Syamsul Huda, dan Pesantren Al-Bafaqihiyah.

“Ada juga, Sekolah Tinggi Islam Jembrana (STIJ) yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU,” ujar Setiawan kepada PKB Kab Tegal, Selasa (10/7), di Kantor PWNU Bali, Denpasar, Bali. Puluhan pesantren juga tersebar di kabupaten-kabupaten lain, seperti Buleleng, Tabanan, Karangasem, dan Gianyar.

PKB Kab Tegal

Ditambahkan, kultur NU di Bali sudah melekat di tengah kehidupan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan simbol-simbol yang tampak tatkala umat Islam menyelenggarakan ritual keseharian.

Pria yang akrab disapa Pak Wawan ini menyatakan, selama ini NU di Bali sanggup hidup rukun dengan sesama. Dalam kegiatan-kegiatan tertentu, NU bahkan melibatkan para Pecalang, semacam petugas keamanan tradisional Bali yang biasa membantu dan mengamankan acara ritual umat Hindu di Bali.

PKB Kab Tegal

“Hubungan kita baik-baik saja karena kita memberi pemahaman sama warga NU tentang hablum minanas (hubungan sesama manusia),” tandasnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pertandingan, Sholawat PKB Kab Tegal

Rabu, 15 Maret 2017

Semangatnya Bapak dan Anak Ini Ikuti Pembaretan Banser

Pringsewu, PKB Kab Tegal. Kekompakan bapak dan anak ini patut diacungi jempol. Kecintaan kepada NU dan semangat tinggi berorganisasilah yang menjadikan Sulaiman dan puteranya, Yovi ikut bergabung di Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Pringsewu, Lampung.

Semangatnya Bapak dan Anak Ini Ikuti Pembaretan Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangatnya Bapak dan Anak Ini Ikuti Pembaretan Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangatnya Bapak dan Anak Ini Ikuti Pembaretan Banser

Kekompakan mereka terlihat saat keduanya bersama-sama ikut prosesi pembaretan yang dilaksanakan Satkorcab Banser Pringsewu.

Umur yang sudah tidak muda lagi tidak menghalangi Sulaiman untuk ikut prosesi pembaretan yang membutuhkan kekuatan fisik dan mental ini. "Saya ingin berkhidmah di NU melalui Banser," kata pria yang akrab dipanggil Leman ini saat dihubungi PKB Kab Tegal, Selasa (10/10).

Ketika ditanya motivasi ikut pembaretan, Leman menjelaskan bahwa Ia ingin memberikan contoh kepada generasi muda untuk memiliki jiwa dan fisik yang tangguh dan digunakan untuk berkhidmah di NU. 

PKB Kab Tegal

"Kulo pengin nyukani wawasan kangge rencang-rencang (saya ingin memberikan wawasan untuk teman-teman)," katanya polos menggunakan bahasa jawa.

Semangat Leman ini ternyata sudah ia wariskan kepada putranya Yovi. Saat Prosesi Pembaretan mereka tidak canggung bersama-sama melewati test fisik dan mental. "Saya dari kecil pingin jadi TNI. Untuk menyalurkannya saya ikut Banser," kata Yovi yang memang suka berorganisasi ini.

Yovi menambahkan bahwa kekompakan Ia dengan Bapaknya di Banser memang sudah terjalin saat Ia mengikuti Diklatsar Banser angkatan III. "Saya ikut Diklatsar angkatan III dan Bapak ikut Diklatsar angkatan IV. Untuk pembaretannya kita kompak bersama-sama," katanya.

Pembaretan yang dilaksanakan di Gedung NU pada pada Ahad (8/10) lalu memang berbeda dari yang lain. Selain terlihat Bapak dan anak ikut pembaretan bersama, kegiatan tersebut juga diikuti oleh 20 pemudi Fatayat Serbaguna atau Fatser. Setelah melalui test fisik lintas alam, para peserta akhirnya mampu mendapatkan baret yang mereka impi-impikan

PKB Kab Tegal

Proses pemasangan baretpun sangat khidmah dan berkesan. Satu Persatu, 92 Anggota Banser dan Fatser merengkuh dan mencium Bendera Merah Putih dan Bendera NU. Aura khidmah semakin terasa saat hujan deras mengiringi prosesi pembaretan tersebut. 

Tenaga yang terforsir seharian setelah melakukan jelajah alam tidak mereka hiraukan. Yang ada hanya kecintaan terhadap NKRI dan Nahdlatul Ulama. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Amalan, Santri, Tokoh PKB Kab Tegal