Kamis, 22 Februari 2018

Stand Kemendikbud Pamerkan Peninggalan Islam Majapahit

Jombang, PKB Kab Tegal. Dalam memeriahkan Muktamar ke-33 NU, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Dirjen Kebudayaan dan Pelestarian Cagar Budaya membuka stand yang menampilkan pameran cagar budaya peninggalan Kerajaan Islam Majapahit di Jawa Timur.

Stand Kemendikbud Pamerkan Peninggalan Islam Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)
Stand Kemendikbud Pamerkan Peninggalan Islam Majapahit (Sumber Gambar : Nu Online)

Stand Kemendikbud Pamerkan Peninggalan Islam Majapahit

Ketua pameran cagar budaya Kuswanto (41), mengatakan dalam setiap pameran pihak Tim Pameran biasanya menyesuaikan dengan acara yang diikuti. "Kebetulan dalam kesempatan ini Muktamar NU mengangkat tema tentang Islam Nusantara, sehingga kami menampilkan tema yang sesuai dengan Islam Nusantara," katanya kepada PKB Kab Tegal, Sabtu (1/9) siang.

Kuswanto menjelaskan pameran kali ini ingin menyampaikan kepada masyarakat dengan menampilkan cagar budaya sebagai tanda masuknya Islam di Nusantara pada abad ke-11 dengan bukti batu nisan Fatimah binti Maimun yang ditemukan di Gresik.

PKB Kab Tegal

"Ada juga peninggalan kuno bekas ibu kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto yang banyak bertuliskan tahun dan gambar surya sebagai lambang Kerajaan Majapahit," jelasnya.

PKB Kab Tegal

"Nisan-nisan kuno itu menjadi bukti bahwa pada masa Majapahit sudah masuk," tambah arkeolog yang juga Koordinator Museum Majapahit Jawa Timur itu.

Tidak hanya memamerkan batu nisan Fatimah binti Maimun, ada juga batu Nisan Troloyo yang bertuliskan angka tahun Jawa kuno 1298 Saka (1378 Masehi), Figuran Terakota Muslim masa Majapahit, dan dokumentasi gapura-gapura makam Sunan-Sunan yang ada di Jawa Timur.

Dia berharap pameran tersebut dapat menjadi media sosialisasi kepada masyarakat agar mengetahui masuknya Islam di Nusantara. "Islam (di Nusantara) datang secara damai, tidak ada dengan kekerasan," tegasnya. (M. Zidni Nafi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Santri, Olahraga PKB Kab Tegal

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Negeri Maghrib (matahari terbenam), ketika kita mendengar kalimat ini pastinya akan tertuju ke Afrika Utara, tepatnya Kerajaan Maroko. Yah Maroko..., sebuah negara Islam yang bermadzhab Maliki tulen di ujung barat dunia Islam. Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau Walisongo ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Kini Maroko dikenal sebagai negara Arab yang gaul dengan nuansa Eropanya yang kuat, tetapi tak mau kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. 

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam. Wajar, jika berbagai aliran Islam banyak berkembang di negeri ini. 

PKB Kab Tegal

Maroko juga dijuluki dengan “Negeri Tiga Budaya”. Dikarenakan tercampurnya akulturasi tiga budaya yang kental, yaitu budaya Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Letak geografis Maroko yang berada di benua Afrika menjadikan Maroko berbudaya Afrika, Kebudayaan Arab Timur Tengah yang diadopsi di sini menjadikan Maroko bernuansa Negeri Timur Tengah dan letak Maroko yang berdekatan dengan Eropa, membuatnya sangat eksotis dengan nuansa Eropanya.

Dari sisi pariwisata, Maroko merupakan negeri eksotis yang kaya dengan obyek wisatanya, ada Gurun Sahara yang merupakan gurun terluas di Afrika, kemudian multaqol bahrain (pertemuan dua laut) antara laut Pasifik dan laut Mediterania, dimana tempat ini digambarkan dalam Firman Tuhan, Al-Qur’an Surat Al-Rahman ayat 19-20, ada juga kota bersejarah, Fez yang disebut kota budaya dan tentunya masih banyak yang lainnya. Maka tak heran, jika Maroko merupakan salah satu negara favorit wisatawan dunia yang sering mereka kunjungi.

PKB Kab Tegal

Buku yang ditulis oleh kader-kader muda NU ini, mengungkap keeksotisan Maroko dari berbagai sisi; kebudayaan, religiusitas keagamaan, sejarah ulama, pariwisata dan peluang beasiswa yang diberikan kepada pelajar-pelajar dunia, termasuk Indonesia. 

Selain versi cetak, terdapat versi ebook yang  dapat didownload di: wayangforce.co.id, getthescoop.com dan qbaca.com

Judul Buku : Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam

Penulis: Muannif Ridwan, Hafidzul Umam, Kusnadi El Ghezwa dkk.

Editor: Ardian Syam

Penerbit: Jentera Pustaka

Cetakan: I, Januari 2014

Tebal: 295 Halaman

ISBN: 978-602-14169-8-3

Peresensi: Muannif Ridwan

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pemurnian Aqidah, News, Nahdlatul PKB Kab Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Kang Said: Miss World Lebih Besar Mudharatnya

Jakarta, PKB Kab Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menilai pelaksanaan Miss Word di Bali hanyalah bentuk hura-hura, foya-foya dan menghamburkan uang. Ajang internasional ini tidak banyak mendatangkan manfaat untuk Indonesia.

"Kalaupun ada manfaat itu kecil sekali. Kalau Miss World ini bisa menurunkan harga kedelai dan daging sapi, atau bisa mempekuat negara atau bisa mencicil utang Indonesia, kami akan dukung. Kami menilai Miss World ini lebih besar mudharatnya," kata Kang Said di kantor PBNU Jakarta, Rabu (4/8).

Kang Said: Miss World Lebih Besar Mudharatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Miss World Lebih Besar Mudharatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Miss World Lebih Besar Mudharatnya

Kang Said menyampaikan pernyataan sikap yang dikeluargan oleh NU bersama 10 ormas Islam lainnya yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Umat Islam (LPUI). LPUI telah menggelar rapat pada 29 Agustus 2013 lalu terkait rencana digelarnya event Miss World ini.

PKB Kab Tegal

LPUI terdiri dari 11 ormas Islam yakni NU, Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad Islamiyah, Mathlaul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tioghoa Indonesia (PITI), Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Azzikr, Syarekat Islam Indonesia, Al-Washliyah dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

PKB Kab Tegal

Menurut Kang Said yang juga Ketua LPUI, 11 ormas Islam menyatakan menolak pelaksanaan Miss World di Indonesia. LPUI menilai, setiap event internasional harus dilihat sisin manfaat dan mudharatnya. Sementara Miss World dinilai lebih besar musharatnya dibanding manfaatnya.

Selain itu, LPUI menolak event ini karena tidak sesuai dengan adat ketimuran. "LPUI menolak adanya Miss World dengan alasan tidak sesuai dengan moral dan budaya bangsa serta bertentangan dengan Pancasila," demikian dalam pernyataan LPUI.

Dalam surat pernyataan itu juga ditegaskan, LPUI menolak pelaksanaan Miss World namun tetap menentang segala bentuk kekerasan terkait penolakan tersebut. LPUI tidak akan melakukan aksi pengerahan massa atau tindakan apapun terkait penolakan ini.

"Kami hanya menyampaikan suara umat Islam. Minimal warga kita tahu sikap kita," kata Kang Said didampingi para pimpinan ormas Islam yang tergabung dalam LPUI. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Daerah, Fragmen PKB Kab Tegal

Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan

Way Kanan, PKB Kab Tegal. Pj Bupati Way Kanan Provinsi Lampung, Albar Hasan Tanjung, di Blambangan Umpu, Jumat (25/12) mengaku bangga dengan pemuda Nahlatul Ulama (NU) di daerah yang dipimpinnya.

Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan

"Saya bangga Barisan Ansor Serbaguna atau Banser mengawal, menjaga, mempersatukan, menjadi perekat satu sama lain. Saya bangga Banser bergerak bukan hanya untuk NU dan Ansor," ujar Albar.

Sekecil apapun yang diperbuat manusia, lanjutnya, akan kembali pada diri sendiri. "Kita mau jadi apa asal fokus dan bersama, kita bisa. “Saya bangga ? Ansor dan NU setia berbuat untuk bangsa. Meningkatkan kualitas diri mereka untuk bisa dirasakan manfaatnya bagi orang disekitarnya," ujar dia lagi.

PKB Kab Tegal

Albar pada Kamis (24/5) membuka Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor IV dan Pendidikan serta Pelatihan Dasar (Diklatsar) IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Way Kanan yang digelar di Masjid Al Muhajirin, Kampung Bumi Baru, Kecamatan Blambangan Umpu yang saat ini sedang dirintis menjadi Pondok Pesantren Riyadlotut Thullab. Kegiatan digelar melalui Pimpinan Ranting Kampung Bumi Baru Kecamatan Blambangan Umpu itu diikuti 109 peserta.

PKB Kab Tegal

Berkaitan dengan kaderisasi, Ketua PC GP Ansor Way Kanan, Gatot Arifianto didampingi Kasatkorcab Banser, Alex Almukmin menyampaikan hormat pada kader muda NU di Kampung Bumi Baru yang hanya berjumlah sepuluh orang namun bisa mempersiapkan pra kegiatan dengan baik.

"Terima kasih juga untuk calon anggota Pemuda Ansor yang Insyaallah akan menjadi masa depan negara melalui NU," kata Gatot.

Hadir pada pembukaan kegiatan Ansor Wakapolres Kompol Henggar Teguh Wahono, Ketua Perbakin Way Kanan Radin Djambat, Shooting Club Merky Defrienc beserta jajaran, Ketua NU KH Nur Huda, Ketua MWCNU Blambangan Umpu Ustad Abdul Aziz, Ketua MWCNU Negeri Agung Ustad Muhajir, Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) Way Kanan Ustadz Abdul Rokhim, Sekretaris dan Wakil Ketua Dewan Penasehat PC GP Ansor Way Kanan, Supri Iswan dan Syahrul Munir.

"Terima kasih dan hormat juga kami sampaikan kepada Kiai Imam Murtadlo Pengasuh Pondok Pesantren Assidiqiyah 11 yang jauh-jauh berkenan hadir menengok kegiatan kami, kami kira ini penghargaan dan apresiasi dahsyat dari para pemangku kebijakan, ulama dan senior kepada PC GP Ansor Way Kanan," ujar Gatot lagi pada kegiatan yang didukung sejumlah pihak, seperti HIPSI Lampung, Pergunu, PGRI Way Kanan, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nasional PKB Kab Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

Ayo Kerja dalam Kitab “Cempaka Dilaga” Mama Sempur

KH Tubagus Ahmad Bakri Purwakarta, Jawa Barat terbilang produktif menulis kitab. Di antaranya adalah Cempaka Dilaga yang membahas dorongan bekerja. Kitab berjudul lengkap Cempaka Dilaga; Mertelakeun Perihal Wajib Usaha (Cempaka Dilaga; Menerangkan Perihal Wajib Usaha/Bekerja) dengan tebal 19 halaman.

Dari jumlah 10 kitab yang didapatkan, Kitab Cempaka Dilaga ini merupakan satu-satunya karya kiai yang akrab disapa Mama Sempur yang judulnya berbahasa Sunda. Sementara sembilan kitab lainnya menggunakan bahasa Arab.

Ayo Kerja dalam Kitab “Cempaka Dilaga” Mama Sempur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayo Kerja dalam Kitab “Cempaka Dilaga” Mama Sempur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayo Kerja dalam Kitab “Cempaka Dilaga” Mama Sempur

Kitab ini ditulis dengan huruf Arab Pegon ditulis pada tahun 1378 H (hal.6) dan selesai pada hari Senin tanggal 8 Dzulhijah (h.19). Jika dikonversi ke dalam tahun Masehi berarti tanggal 15 Juni 1959 M, selesai Nopember 1962.

Mama Sempur memberikan izin kepada Raden Haji Ma`mun Nawawi Cibogo, Cibarusah untuk memperbanyak kitab Cempaka Dilaga.

PKB Kab Tegal

Kitab ini terdiri dari lima pasal dan satu faidah, sebagaimana berikut: Pasal pertama membahas tentang dorongan bekerja kepada umat Islam. Dalam pasal ini disebutkan hadits Rasulullah dan pendapat para ulama tentang keutamaan bekerja serta kecaman bagi orang yang malas dan tidak mau bekerja.

PKB Kab Tegal

Di antara kecamannya adalah orang yang malas dan tidak mau bekerja diumpamakan seperti bangkai. Sebagaimana umumnya bangkai, keberadaannya tidak bermanfaat bahkan hanya memberikan bau yang tak sedap bagi orang-orang di sekelilingnya. Selain itu, orang yang malas dan tidak mau bekerja juga disebut orang bodoh/pandir (humqun) (h.3-4)

Pasal kedua membahas tentang larangan menjalani bisnis atau melakukan pekerjaan yang dilarang oleh agama Islam (haram). Dalam fasal ini disampaikan berbagai dalil yang melarang umat Islam untuk berbisnis barang haram, seperti bisnis narkoba, berbuat curang, mencuri dan sebagainya (h.5-6).

Pasal ketiga membahas tentang kewajiban menjalin hubungan baik dengan tetangga. Seperti pasal-pasal sebelumnya, dalam pasal ini pun disampaikan dalil-dalil tentang perintah dan anjuran kepada umat islam untuk berbuat baik kepada tetangga pada khususnya dan seluruh makhluk di muka bumi pada umumnya (h.6-10).

Pasal keempat membahas tentang kewajiban umat islam untuk berbakti dan taat kepada pemerintahan yang sah. Harus taat walaupun pemerintah tersebut secara fisik kurang sempurna seperti tidak punya tangan dan kepala tak ubahnya seperti buah anggur atau pun pemimpin tersebut berbuat dzalim. Namun demikian wajib hukumnya bagi umat Islam untuk membangkang kepada pemerintah apabila umat Islam diperintah untuk berbuat maksiat, Mama Sempur menandaskan rakyat hanya diperbolehkan untuk membangkang perintah maksiat saja dan dilarang memerangi pemerintah (h.10-14)

Pasal kelima membahas tentang kaidah ushul fiqh mencegah kemadaratan lebih baik dari pada mendatangkan kemaslahatan (akhafu darurain). Jika seorang muslim berada dalam kondisi dilematis karena harus memilih satu dari dua pilihan, maka yang harus dipilih adalah perkara yang tidak ada kemadaratannya atau perkara yang paling sedikit madaratnya. Contoh kasus yang digunakan untuk menerangkan kaidah ini adalah apabila seseorang melakukan suatu perkara tetapi dengan perkara itu nyawa atau hartanya akan hilang maka wajib baginya untuk meninggalkan perkara tersebut agar bisa terhindar dari kemadaratan (h.15-19).

Pasal selanjutnya adalah faidah, materi pembahasan dalam faidah ini adalah tentang keutamaan Imam Syafi`i dalam konteks kenegaraan. Secara implisit dalam pasal ini Mama Sempur mengungkapkan bahwa jika pulau Jawa ingin menjadi sebuah `negara` yang kuat dan rakyatnya juga makmur maka pemimpinnya harus bermazhab Syafi`i.

Menurut Mama Sempur ini lah salah satu karomah Imam Syafi`i karena beliau adalah keturunan Rasulullah. Dalam menempatkan bab faidah ini, Mama Sempur memposisikannya diantara bab empat dan bab lima (h.14-15).

Dalam kitab ini juga Mama Sempur menyebut tiga jenis pekerjaan, yaitu bertani, berdagang dan menjadi karyawan. Menurutnya, pekerjaan yang mesti dilakukan adalah di bidang pertanian karena terdapat keberkahan di dalamnya. Selain itu juga dalam bertani bisa memberikan manfaat kepada manusia dan binatang sehingga keseimbangan alam akan tetap terjaga dan kelak di akhirat apa yang dimakan oleh binatang dari hasil pertanian tersebut akan menjadi pahala sodaqah (h.2).

Menurut Mama Sempur, dengan bekerja dan mempunyai kekayaan harta akan mendapatkan paling tidak ada tiga keutamaan, yaitu pertama dapat memberi manfaat kepada saudara, sahabat dan orang-orang di sekelilingnya karena dengan mempunyai kekayaan bisa shadaqah atau pun memberikan upah kepada mereaka.

Kedua terselamatkan dari sikap inkar janji karena orang yang tidak punya uang ketika dalam kondisi terdesak akan berjanji namun janji itu kemudian diingkari karena belum mempunyai uang. Dan keutamaan yang ketiga adalah terhindar dari sikap meminta-minta kepada orang lain. perbuatan tersebut menurut Mama Sempur, merupakan perbuatan yang hina (h.3).

Mama Sempur mengingatkan, sebelum berangkat kerja, hendaknya mempunyai lima niat; affaf (melindungi diri dari mengkonsumsi barang haram), menjaga diri dari meminta-minta kepada orang lain, menjaga diri dari berharap harta orang lain (thoma) apalagi mencuri, dan terakhir adalah melaksanakan kewajiban mengurus keluarga (h.4-5). (Aiz Luthfi)

Keterangan. “Mama” berasal dari kata “rama” dalam bahasa Sunda yang berarti ayah. Hal itu sebagaimana di Jawa yang menyapa tokoh agama dengan “romo”.  . Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Syariah, Kajian Islam, Sunnah PKB Kab Tegal

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Jakarta, PKB Kab Tegal. Dua lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dan Lembaga Pusat Informasi Dakwah (LPID) yang semuanya dikelola oleh warga NU menyelenggarakan halal bi halal di Gd. PBNU, Kamis malam (15/11).

Acara halal bi halal yang diselenggarakan mulai pukul 19.00 WIB ini dipenuhi oleh para pengurus dan jamaah yang menjadi binaan kedua organisasi ini. Hadir dalam acara tersebut Ketua LDNU KH Nuril Huda dan Ketua LPID KH Syukron Makmur. Sementara PBNU diwakili oleh KH Tolhah Hasan.

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Sebelum memimpin LPID, KH Syukron Makmun sendiri merupakan mantan ketua LDNU selama tiga periode pada era Gus Dur sehingga pertemuan ini layaknya seperti kangen-kangenan dengan pengurus lama. Para pengurus LPID lainnya juga merupakan para kiai dan ulama dari kalangan nahdliyyin.

Ketua Panitia H Baden Badruzzaman menjelaskan bahwa upaya untuk mempererat silaturrahmi melalui halal bi halal ini salah satunya juga untuk mengantisipasi maraknya aliran sesat yang kini kerap kali muncul dan meresahkan masyarakat.

Sementara itu, H. Ahmad Jauhari yang mewakili LDNU mengungkapkan bahwa tantangan dakwah dimasa depan menjadi semakin berat. Jika saat ini umat Islam dengan gampang bisa sholat, tahlil dan sholawat dengan gampang, apakah hal yang sama bisa terjadi pada 50 tahun ke depan. Dibeberapa daerah yang umat Islamnya minoritas, seperti di Bali, NTT dan Manado, mereka kesulitan untuk menjalankan ibadah.

“Karena itu, rahmat Allah berupa penduduk beragama Islam yang mayoritas ini harus disyukuri dengan saling bekerjasama, mendukung dan mendorong pengembangan dakwah,” katanya.

PKB Kab Tegal

Sementara itu KH Syukron Makmun yang merupakan dai kawakan ini menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam seperti liberalisasi, sekulerisasi sampai dengan penanaman cara berfikir Barat pada umat Islam.

PKB Kab Tegal

Liberalisasi yang dilakukan dalam rangka memperlemah iman umat Islam ini disebarkan dengan kedok modernisasi, padahal tujuannya adalah untuk membunuh umat Islam. Menurutnya, kini sudah banyak umat Islam yang mengaku memiliki pemikiran baru, padahal sebenarnya mereka hanya mentransfer dari Barat.

“Kini seorang ustadz tidak boleh menegur perempuan yang membuka auratnya karena ini melanggar HAM,” katanya.

Untuk melawan ini, kini LPID telah menyiapkan penerbitan sejumlah buku seperti Apakah Bid’ah Itu, Pluralisme Menuju Pemurtadan, Sekularisme Membunuh Syariat Islam, Liberalisme dan Yahudi, dan lainnya.

Acara ini diakhiri dengan musafahah atau ramah tamah diantara hadirin. Undangan juga disuguhi musik gambus ala padang pasir untuk menghibur mereka dengan lagu-lagu Islami. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ulama, Budaya, Amalan PKB Kab Tegal

Aktivis Muda NU Lombok Galang Solidaritas untuk Penyintas Bom Samarinda

Mataram, PKB Kab Tegal - Lembaga Kajian Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Mataram dan Jaringan Gusdurian Lombok akan mengadakan diskusi pada Hari Toleransi yang rencananya dihelat di Kedai Arak-Arak Bae, Pagesangan Kota Mataram, Rabu (16/11). Mereka prihatin atas beberapa kejadian belakangan ini terutama pelemparan bom di Samarinda yang mencederai toleransi di Indonesia.

Hal ini disampaikan Ketua Lakpesdam NU Kota Mataram Muhamad Jayadi kepada PKB Kab Tegal, Selasa (15/11).

Aktivis Muda NU Lombok Galang Solidaritas untuk Penyintas Bom Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Muda NU Lombok Galang Solidaritas untuk Penyintas Bom Samarinda (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Muda NU Lombok Galang Solidaritas untuk Penyintas Bom Samarinda

Kegaduhan masyarakat karena tergiring opini-opini via medsos tentang penistaan agama akhir-akhir ini membuat kalangan masyarakat resah.

PKB Kab Tegal

Menurutnya, momentum Hari Toleransi sedunia mengingatkan publik bahwa situasi kebangsaan kita sedang dalam ancaman kelompok intoleran yang mengancam eksistensi lokalitas sebagai masyarakat yang cinta damai dan memegang teguh nilai-nilai ketuhanan.

Kelompok yang mengatasnamakan agama, menurutnya, justru merusak nilai-nilai ketuhanan yang penuh cinta kasih dan penghargaan terhadap sesama.

PKB Kab Tegal

"Gagasan ini juga sebagai simbol solidaritas atas meninggalnya Olivia akibat bom ke gereja Oikumene Samarinda," kata mantan Ketua PMII Kota Mataram ini.

Kegiatan ini akan menyajikan hasil pemantauan Lakpesdam NU Mataram terkait kasus kebebasan beragama di NTB. Menurut Jayadi, pihaknya telah konsen memantau dan melakukan riset selama dua tahun terkait kebebasan beragama di Nusa Tenggara Barat.

Dalam diskusi peserta ini juga akan menyalakan lilin sebagai simbol solidaritas dan mengutuk aksi bom gereja. Peserta nanti terdiri atas komunitas lintas iman, komunitas kearifal lokal, budayawan, pers, dan kelompok-kelompok yang konsen pada isu diskriminasi berbasis agama. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Doa, Hikmah PKB Kab Tegal