Sabtu, 20 Januari 2018

KH Nahduddin Royandi Abbas Jadi Pengasuh Ponpes Buntet

Jakarta, PKB Kab Tegal. Pondok pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat kini telah memiliki pengasuh baru setelah meninggalnya KH Abdullah Abbas. Adik kandungnya yang terakhir, KH Nahduddin Royandi Abbas kini menggantikan posisinya sebagai tokoh sentral di ponpes tersebut.



KH Nahduddin Royandi Abbas Jadi Pengasuh Ponpes Buntet (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Nahduddin Royandi Abbas Jadi Pengasuh Ponpes Buntet (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Nahduddin Royandi Abbas Jadi Pengasuh Ponpes Buntet

Putra ke tujuh dari tujuh bersaudara ini memang kurang dikenal karena perjalanan hidupnya lebih banyak dihabiskan di luar negeri. Sejak tahun 1954 saat usianya masih 18 tahun, ia sudah berangkat ke Arab Saudi untuk menimba ilmu agama. Diantara guru-gurunya adalah Syeikh Yasin Padang dan Syeikh Hamid al Banjari. Di negeri kaya minyak itu, ia tinggal selama lima tahun.

Selanjutnya, mulai tahun 1959 ketika usianya menginjak 23 tahun, ia pergi ke London Inggris untuk bekerja sebagai diplomat RI. Ia juga sempat bekerja di PT Aneka Tambang. Di kota yang dialiri sungai Thames ini, dakwah Islam tak pernah ditinggalkan, terutama kepada muslim warga negara Indonesia yang tinggal di sana. Ia juga menjadi rais syuriyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU United Kingdom (UK).

PKB Kab Tegal

“Seandainya masih ada yang lain, saya tak mau menduduki posisi kakak saya di pesantren ini,” katanya merendah ketika ditemui PKB Kab Tegal di Gd. PBNU seusai pertemuan alumni santri Buntet di Jakarta, Kamis (16/5).

Dengan penuh semangat ia menuturkan, pesantren Buntet akan terus dikembangkan, terutama pendidikan formalnya seperti sekolah tinggi ilmu kesehatan, yang sebelumnya hanya akademi keperawatan. Sekolah-sekolah yang bersifat kejuruan yang memberi bekal ketrampilan kepada siswa menjadi prioritas lainnya di masa mendatang.

PKB Kab Tegal

“Tapi tentunya tidak melupakan pengajian kitab kuning, ini tetap berjalan sebagaimana biasanya,” ujarnya.

Jumlah santri yang belajar di pesantren Buntet sekarang berkisar 5000 orang. Puluhan ribu alumninya saat ini sudah tersebar di seluruh Indonesia. Pertemuan alumni yang diselenggarakan di Gd. PBNU Kamis kemarin dihadiri oleh para alumni mulai dari tahun 1970-an sampai tahun 2000-an dengan berbagai latar belakang profesi.

Meskipun saat ini sudah berusia 72 tahun, ia masih terlihat sehat, enerjik dan penuh semangat. Penampilan yang rapi selalu menyertainya kemanapun ia pergi. “Saya ini masih muda lho, Presiden Mesir Husni Mubarok kemarin saja baru merayakan ulang tahun ke 80-nya. Saya juga masih ada kesempatan,” katanya dengan penuh canda.

Ia mengaku masih akan bolak balik London-Jakarta untuk menyelesaikan berbagai urusan. Kedatangannya ke Indonesia juga baru sekitar satu bulan. Saat ini ia tinggal di komplek pesantren Buntet. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul, Kajian Sunnah PKB Kab Tegal

PWNU DIY Adakan Pameran Foto Kegiatan NU

Yogyakarta, PKB Kab Tegal. Ada yang berbeda di Gedung PWNU DIY pada Ahad (5/5). Gedung berlantai dua yang terletak di jalan MT Haryono No. 40-42 Yogyakarta tersebut, dipenuhi dengan foto-foto kegiatan Lembaga/Lajnah PWNU DIY dan PCNU se-DIY. 

Lomba pameran foto kegiatan tersebut, merupakan salah satu rangkaian acara memeriahkan Harlah ke-90 NU. Masing-masing Lembaga/Lajnah PWNU dan PCNU se-DIY yang mengikuti lomba ini, hanya boleh mengirimkan satu foto kegiatan  yang dibingkai dengan gabus putih.

PWNU DIY Adakan Pameran Foto Kegiatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DIY Adakan Pameran Foto Kegiatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DIY Adakan Pameran Foto Kegiatan NU

Terhitung ada sekitar 20-an foto kegiatan Lembaga/Lajnah PWNU yang dipajang di dinding lantai satu maupun dua gedung PWNU DIY. Foto-foto tersebut memiliki karakter masing-masing, karena memang peserta diberikan kesempatan untuk berkreasi atas foto kegiatan yang diikutsertakan dalam perlombaan. Dengan catatan, tetap memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh panitia.

PKB Kab Tegal

HM Lutfhi Hamid, ketua LTN PWNU DIY, ketika dimintai pendapat tentang kegiatan tersebut, mengatakan bahwa acara pameran foto kegiatan NU memang selayaknya sering dilakukan, agar dunia luar itu tau, bahwa NU bukan hanya mengurusi hal-hal yang bersifat mahdhah saja. Orang di luar NU juga harus tau bahwa NU juga memiliki kontribusi besar dalam pembangunan di Indonesia.

PKB Kab Tegal

Senada dengan Luthfi Hamid, Muhammadun AS, Pimred di Majalah Bangkit PWNU DIY juga mengungkapkan bahwa acara pameran foto tersebut akan ikut membantu dalam pendokumentasian kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh NU. 

“Dengan adanya lomba foto kegiatan ini, akan berdampak besar bagi terjaganya database kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga/lajnah NU,” tegasnya.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kajian Sunnah, Pertandingan PKB Kab Tegal

KH Bisri Mustofa tentang Mencintai Pahlawan

Oleh M. Rikza Chamami

Indonesia memiliki banyak pahlawan yang berjuang gigih meraih kemerdekaan. Tentunya perjuangan itu bukan hal sederhana. Mereka rela mengorbankan nyawa, jiwa, raga dan harta demi untuk bangsanya. Maka, mencintai para pahlawan merupakan satu hal yang penting ditanamkan. Salah satu pemikiran yang disampaikan oleh KH Bisri Mustofa adalah tentang cinta kepada para pahlawan.

KH Bisri Mustofa (selanjutnya disebut Mbah Bisri) merupakan salah satu ulama Nusantara yang lahir di Kampung Sawahan Gang Palen Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915. Ayahnya adalah pedagang kaya bernama H Zainal Mustofa (Djojo Mustopo) bin H Yahya (Podjojo) yang dikenal tekun dalam beragama dan sangat mencintai Kiai. Ibunya bernama Hj. Chodijah binti E. Zajjadi bin E. Sjamsuddin yang berdarah Makassar.

KH Bisri Mustofa tentang Mencintai Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Bisri Mustofa tentang Mencintai Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Bisri Mustofa tentang Mencintai Pahlawan

Nama Bisri Mustofa dipakai sejak pulang dari ibadah haji. Sebelumnya ia bernama Mashadi. Pernikahan H Zainal Mustofa dengan Hj. Chodijah melahirkan empat anak: Mashadi (Bisri), Salamah (Aminah), Misbach dan Ma’shum.Pendidikan Mbah Bisri dimulai dengan mengaji kepada KH Cholil Kasingan dan H. Zuhdi (kakak tiri). Mbah Bisri juga menjalankan Sekolah Jawa (Sekolah Ongko 2) selama tiga tahun dan dinyatakan lulus dengan mendapat sertifikat.?

Mbah Bisri sempat mondok di Pesantren KH Chasbullah Kajen Pati. Waktu belajar banyak dihabiskan di Pondok Kasingan Rembang belajar dengan Kiai Suja’i (Kitab Alfiyyah) dan dan KH Cholil (Kitab Alfiyyah, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, Iqna’, Jam’ul Jawami’, Uqudun Juman dan lain lain). Mbah Bisri sempat berniat mengaji di Pondok Pesantren Termas dibawah asuhan KH Dimyati, tapi niat itu gagal karena tidak mendapat restu KH Cholil.

Mbah Bisri juga pernah mengikuti khataman Kitab Bukhori Muslim yang dimulai pada 21 Sya’ban 1354 H bersama KH Hasyim Asya’ri di Tebuireng Jombang. Di tengah pengajian itu, tepatnya 10 Ramadan 1354 H, KH Hasyim Asy’ari jatuh sakit dan digantikan oleh KH Ilyas (Kitab Muslim) dan KH Baidlawi (Kitab Tajrid Bukhari).

PKB Kab Tegal

Mbah Bisri juga memiliki dua guru dari sistem mengaji candak kulak(musyawarah kitab dan hasilnya dipakai mengajar) dengan Kyai Kamil dan Kyai Fadlali di Karanggeneng Rembang. Proses belajar tetap ia jalankan karena merasa haus ilmu, Mbah Bisri memilih mukim di Makkah setelah menunaikan ibadah haji tahun 1936. Di Makkah, Mbah Bisri berguru dengan: ? Syaikh Bakir, Syaikh Umar Chamdan Al Maghrabi, Syaikh Maliki, Sayyid Amin, Syaikh Hasan Masysyath, Sayyid Alawie dan Syaikh Abdul Muhaimin.

Berbekal keilmuan itulah, Mbah Bisri kemudian berkembang menjadi figur ulama Nusantara yang dikenal sangat ‘alim. Rasa sayangnya KH Cholil seorang guru dari Mbah Bisri ditunjukkan dengan menjadikannya sebagai menantu. Mbah Bisri dinikahkan dengan putri KH Cholil bernama Ma’rufah pada 17 Rajab 1354 H/Juni 1935 M. Dari pernikahannya ini, Mbah Bisri memiliki anak: Cholil (lahir 1941), Mustofa (dikenal dengan sebutan Gus Mus, lahir 1943), Adieb (lahir 1950), Faridah (lahir 1952), Najichah (lahir 1955), Labib (1956), Nihayah (lahir 1958) dan Atikah (lahir 1964). Pada tahun 1967, Mbah Bisri menikah dengan Hj Umi Atiyah yang berasal dari Tegal dan melahirkan satu anak bernama Maemun (Ahmad Zainal Huda: 2005).

PKB Kab Tegal

Ilmu yang dimiliki Mbah Bisri diajarkan di Pondok Kasingan dan Pondok Rembang yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (Taman Pelajar Islam). Mbah Bisri dikenal memiliki tiga kemampuan: articulation, documentation dan organizing. Artikulasi dikuasai Mbah Bisri dalam teknik orasi dan pidato dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Kemampuan dokumentasi ditunjukkan dengan hasil karya tulisnya yang sangat banyak (276 kitab dan buku). Dan semangat organisasi dijalankan sebagai wadah perjuangan, baik di tingkat lokal hingga nasional.

Diantara pokok pemikiran Mbah Bisri dalam mencintai pahlawan, ia abadikan dalam bentuk syi’iran Jawa “Ngudi Susilo” dengan menggunakan tulisan pegon, yaitu:

Ngagem blangkon serban sarung dadi gujeng * Jare ora kebangsaan ingkang majeng

Sawang iku Pangeran Diponegoro * Imam Bonjol Tengku Umar kang kuncoro

Kabeh podo belo bongso lan negoro * Podo ngagem destar pantes yen perwiro

Gujeng serban sasat gujeng Imam Bonjol * Sak kancane he anakku aja tolol

Timbang gundul apa ora luweh bagus * Ngagem tutup sirah koyo Raden Bagus

Memakai blangkon, surban dan sarung jadi pembicaraan. Dianggap tidak memiliki jiwa kebangsaan yang maju.

Lihatlah Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan Tengku Umar yang sudah terkenal.

Semuanya dari mereka nyata-nyata membela bangsa dan negara dengan menggunakan pakaian kebesaran, nampak seperti Perwira.

Memakai surban sebagaimana Imam Bonjol. Dan janganlah menjadi orang bodoh.

Daripada tidak memakai penutup kepala, nampak kurang bagus. Maka pakailah penutup kepala agar seperti Raden Bagus (priyayi).

Dari pemaknaan syi’ir Jawa ini dapat diambil pemahaman bahwa mencintai para pahlawan itu empat pola yang harus dilakukan: mengikuti jejak cinta bangsa dan negara, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa, berilmu pengetahuan dan tidak sombong. Empat makna cinta terhadap perjuangan para pahlawan bangsa ini menjadi sangat penting bagi generasi sekarang.

Pertama, mengikuti jejak cinta bangsa dan negara. Para pahlawan yang telah gugur dalam medan perang benar-benar merasakan perjuangan nyata. Berbeda dengan generasi sekarang yang sudah secara instan menikmati kemerdekaan dan kenyamanan hidup di Indonesia. Maka cinta terhadap tanah air menjadi salah satu bagian dari menghormati para pahlawan pendahulu.?

Kedua, memakai pakaian yang bagus dan berwibawa. Wibawa seseorang, salah satunya memang dapat dilihat dari cara berpakaian. Oleh sebab itu, nasehat Mbah Bisri yang ditulis ini menjadi tauladan bahwa orang yang berpakaian rapi, maka nampak gagah dan siap menjadi pemimpin. Termasuk jenis pakaian yang berbeda blangkong/surban/sarung atau lainnya tidak menjadi pemisah rasa persatuan. Keanekaragaman pakaian itu menandakan potensi lokal yang harus dihargai. Yang paling penting adalah tidak merendahkan pakaian kebesaran yang dimiliki oleh orang lain.

Ketiga, berilmu pengetahuan menjadi salah satu bagian dari mencintai para pahlawan. Sebab tanpa ilmu pengetahuan, maka manusia akan menjadi bodoh. Maka Mbah Bisri berpesan: “Jangan jadi orang tolol/bodoh”. Sebab dengan kebodohan, orang akan gampang ditipu. Dan salah satu alasan penjajah Indonesia mampu berkuasa ratusan tahun karena penduduknya saat itu tidak memiliki ilmu pengetahuan. Penderitaan bangsa kita jangan sampai terulang lagi hanya karena banyak orang bodoh di Indonesia.

Dan keempat, tidak sombong. Setelah mengenang para pahlawan dan menambah ilmu pengetahuan, maka rasa kebangsaan harusnya semakin kuat. Jangan sampai perilaku itu berubah menjadi sombong (tidak menutup kepala). Kesombongan yang dimiliki oleh bangsa ini juga akan melahirkan ego-sektoral dengan melemahkan kelompok lain. Maka pesan tidak sombong ini menjadi penting agar hidup bersama-sama dengan penuh kerukunan mudah tercapai.

Pesan-pesan ulama Nusantara yang demikian ini memang perlu sekali dipahami secara baik. Dengan kekuatan bahasa sastra yang indah dan dapat dilagukan ini, menjadikan kita paham siapa sebenarnya KH Bisri Mustofa. Ia tak lain adalah figur Kiai dengan multitalenta dengan segudang nasehat-nasehat bagi generasi muda. Keberadaan kitab Ngudi Susilo ini juga hingga sekarang masih dipelajari di Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah sebagai buku pegangan belajar akhlak. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dana Dosen UIN Walisongo.

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Anti Hoax, Kajian Sunnah, Khutbah PKB Kab Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

MINU Walisongo Bojonegoro Giatkan Khataman Al-Qur’an dengan Metode Kartu Juz

Bojonegoro, PKB Kab Tegal. Banyak jalan menjadikan anak didik berbudi pekerti mulia, salah satunya dengan menggiatkan dewan guru agar tirakat. Inilah salah satu wasilah yang perlu dilakukan oleh dewan guru dimana pun berada.?

Tak terkecuali oleh Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Bojonegoro, Jawa Timur. Madrasah yang bernaung dibawah LP Ma’arif NU ini menggiatkan aktivitas Khataman Al-Quran seminggu sekali dengan metode kartu juz.

MINU Walisongo Bojonegoro Giatkan Khataman Al-Qur’an dengan Metode Kartu Juz (Sumber Gambar : Nu Online)
MINU Walisongo Bojonegoro Giatkan Khataman Al-Qur’an dengan Metode Kartu Juz (Sumber Gambar : Nu Online)

MINU Walisongo Bojonegoro Giatkan Khataman Al-Qur’an dengan Metode Kartu Juz

Pemilihan model kartu juz ini dinilai lebih simple dan merekatkan ukhuwah antar dewan guru. Setiap dewan guru memiliki pilihan untuk mengambil kartu yang dikehendakinya.?

Kartu juz disediakan oleh madrasah dalam dua kotak kecil, yang pertama kotak kartu juz yang belum dibaca, yang kedua kotak yang diperuntukkan untuk kartu juz yang sudah dibaca.

PKB Kab Tegal

Dengan metode ini, diharapkan dewan guru sering berinteraksi sesama dewan guru. Karena pembagian membaca juz tidak melalui medsos (media sosial) yang notabene menjauhkan interaksi antar dewan guru.?

Selain itu setiap sebelum pembagian kartu juz dewan guru seluruhnya berkumpul dalam ruang khusus dengan dipimpin oleh salah satu guru yang juga kiai atau sesepuh dewan guru guna berkirim Al-Fatihah kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan para shahabat, para shalafusholih, ulama, pendiri NU dan pendiri madrasah serta yang paling khusus kepada seluruh anak didik MINU.

Pada prosesi khataman pun tidak jauh beda dengan pembukaan khataman yaitu dengan berkumpul dalam satu ruangan dan salah satu dewan guru membacakan doa khatam Al-Qur’an.?

Hanya uniknya setiap dewan guru pada proses ini menyediakan air bening dalam wadah. Air ini kata salah satu dewan guru berguna sebagai wasilah kepada anak-anak kita.?

PKB Kab Tegal

“Tergantung, mintanya kepada Allah apa? Insyaallah dengan wasilah air ini, hajat kita terkabul,” tutur Abdulloh Afif, yang memiliki gagasan cemerlang ini. (Ahsanul Amilin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pendidikan, AlaNu, Kyai PKB Kab Tegal

Pergunu Jabar Fasilitasi 125 Guru Sejarah Perdalam Implementasi Kurtilas

Bogor, PKB Kab Tegal. Sebanyak 125 guru sejarah setingkat SMA/MA mengikuti pelatihan inplementasi kurikulum 2013 yang diadakan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat dan Prodi Pendidikan Sejarah Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia di pesantren Al-Hidayah, Tajur, Bogor Sabtu (26/9). Wakil Sekretaris PP Pergunu H Hasan Ustadi membuka pelatihan ini.

Tampak hadir Ketua PCNU kabupaten Bogor KH Romdlon, Kasi Pendis Kemenag Bogor H Engkus Kusnadi, Ketua Pergunu kabupaten Bogor H Moch Yani.

Pergunu Jabar Fasilitasi 125 Guru Sejarah Perdalam Implementasi Kurtilas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jabar Fasilitasi 125 Guru Sejarah Perdalam Implementasi Kurtilas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jabar Fasilitasi 125 Guru Sejarah Perdalam Implementasi Kurtilas

Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi UPI Bandung seperti Prof DR H Dadang Supardan, DR Agus Mulyana, H Didin Syarifuddin, Wawan Darmawan.

PKB Kab Tegal

Menurut Sekretaris Pergunu Jawa Barat H Saepuloh, kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan kerja sama Pergunu Jabar dan UPI Bandung dalam peningkatan kualitas dan kompetensi guru-guru NU di Jawa Barat.

"Sebelumnya kita sudah melaksanakan kegiatan yang sama dengan beda tema di Kota Tasik, kabupaten Sukabumi dan kabupaten Cianjur," tutur Saepuloh.

PKB Kab Tegal

Ia berharap kegiatan pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensi dan kualitas guru dalam pembelajaran sejarah.

"Kebetulan di UPI Bandung banyak akademisi yang tergabung dalam Persatuan Guru NU Jawa Barat, sehingga kegiatan ini bisa dengan mudah di limpahkan ke Pergunu Jabar," tutur Agus Mulyana yang merupakan Dewan Penasehat Pergunu Jabar.

PCNU Bogor mengapresiasi dan mendukung kegiatan pelatihan implementasi kurikulum 2013 ini. ia berharap guru-guru NU lebih bisa menguasai metode pembelajaran sehingga pembelajaran terasa menyenangkan, sehingga tidak ada kesan guru-guru takut dengan pelaksanaan kurikulum 2013.

"Karena ketidaktahuaannya banyak guru yang takut dengan kurikulum 2013," tutur Ketua PCNU Bogor H Romdlon. (Awis Saepuloh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal AlaNu, Hadits, Pondok Pesantren PKB Kab Tegal

Chaerul Tanjung Ajak Pesantren Kembangkan Kewirausahaan

Cirebon, PKB Kab Tegal - Pengusaha Nasional Chaerul Tanjung mengajak kalangan pesantren untuk mengembangkan kewirausahaan sebagai upaya untuk mensejahterakan umat Islam. Saat ini, secara kuantitas umat Islam mayoritas, tetapi minoritas dalam kemampuan ekonomi karena yang menguasai sektor ekonomi kelompok non-Muslim.

Hal ini disampaikannya ketika memberi paparan dalam Rapat Pleno PBNU di Pesantren Khas Kempek, Ahad (24/7) yang memang mengambil tema pentingnya kemandirian ekonomi.

Chaerul Tanjung Ajak Pesantren Kembangkan Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Chaerul Tanjung Ajak Pesantren Kembangkan Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Chaerul Tanjung Ajak Pesantren Kembangkan Kewirausahaan

?

Dijelaskannya, dari 50 orang terkaya di Indonesia berdasarkan ranking yang dikeluarkan oleh majalah Forbes, hanya 8 yang beragama Islam. Demikian pula, perusahaan-perusahaan swasta besar Indonesia yang sudah go public, sebagian besar dipimpin oleh non-Muslim.

?

Yang menjadi penyebab rendahnya kompetisi ini adalah rendahnya pendidikan. Lebih dari 40 persen tenaga kerja Indonesia lulusan SD atau tidak tamat SD. Sementara itu, untuk lulusan perguruan tinggi, didominasi oleh ilmu-ilmu sosial dan agama. ?

PKB Kab Tegal

?

"Pesantren jika bikin universitas, fokus ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi bukan berarti meninggalkan ilmu agama," paparnya.

Ia menambahkan, untuk bisa berhasil sebagai seorang wirausaha, harus dimulai dari awal sebagaimana pengalaman dirinya yang sudah berjualan sejak SD saat ia sudah berjualan es mambo.

PKB Kab Tegal

Di sisi lain, juga banyak hal yang harus diperbaiki seperti anggapan bahwa miskin merupakan takdir, persoalan disiplin dan tepat waktu, budaya instant, hanya menyelesaikan persoalan di permukaan saja, dan budaya-budaya lain yang tidak mendukung kemajuan. Di negara-negara maju seperti Jepang dan Korea, budaya yang tidak baik tersebut sudah tidak ada.

"Kalau umat tidak mandiri, Islam Nusantara tidak jadi," tegasnya.

Selain itu,? ia juga menekankan pentingnya untuk mandiri. Budaya merengek-rengek dan minta bantuan tidak akan mendorong seseorang menjadi tangguh sebagaimana kupu-kupu yang dibantu keluar dari kepompongnya.

Ketidakpastian dunia

Pada kesempatan itu, ia juga menjelaskan dunia sekarang dipenuhi dengan sejumlah ketidakpastian. Seperti Brexit, yaitu Inggris yang ternyata keluar dari Uni Eropa, ancaman peluncuran nuklir oleh Korea Utara, berkembangnya partai nasionalis di Eropa, munculnya Donald Trump sebagai kandidat presiden AS, skandal keuangan di Malaysia yang melibatkan perdana menteri, presiden Brazil diturunkan, dan lainnya.

Ekonomi dunia juga sedang bermasalah di mana China hanya tumbuh 7 persen. Akibatnya, banyak negara yang menggantungkan ekspor ke China juga turun pendapatannya. Turunnya harga minyak juga menjadi masalah bagi negara-negara eksporter minyak yang akhirnya menjadi persoalan bagi APBN-nya. Indonesia, dalam hal ini termasuk negara yang pertumbuhan ekonominya turun.

Gelombang perubahan teknologi juga telah menyebabkan perubahan masyarakat. Kini, dengan teknologi, Uber menjadi perusahaan layanan taksi terbesar sedunia, walaupun tak punya taksi satupun. Amazon menjadi perusahaan retail terbesar sedunia tanpa perlu memiliki toko. Ia mengingatkan agar NU memberi perhatian soal ini karena perubahan ekonomi dikuasai oleh mereka yang memiliki teknologi. Baginya, tantangan terbesar bukanlah tantangan geopolitik, tetapi penguasaan teknologi yang mampu merubah dunia ini.

Untuk bisa menang dalam persaingan, tidak cukup dengan lebih produktif dan efisien, tetapi hal itu sudah menjadi syarat wajib untuk bisa bertahan. Untuk bisa menang dalam persaingan, perlu menjadi inovatif, kreatif, dan mengembangan jiwa kewirausahaan.

Ia juga mengingatkan, kemajuan teknologi ternyata juga membawa sisi negatif, yaitu menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi yang lebih besar. Yang menang adalah cerdas, pandai, inovatif, dan kreatif. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul, Quote, Sejarah PKB Kab Tegal

PBNU Siap Salurkan 24 Ribu Daging Kaleng Ke Aceh

Jakarta, PKB Kab Tegal
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama akan mengirimkan 24 ribu bantuan makanan berupa daging dalam kaleng siap saji kepada para korban gempa dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam. Bantuan tersebut akan dikirim pada 10 Februari mendatang, sekaligus bersamaan dengan 50 relawan NU yang akan bertugas menggantikan 50 rekannya yang sudah dua minggu di Aceh.

"Insya Allah pada tanggal 10 Februari PBNU juga akan mengirimkan 1 Mobil Ambulan untuk operasi kemanusiaan yang di lengkapi sarana medis berjalan. Bantuan ini berasal dari Lembaga Islamic Help asal Inggris, Moslem Charity dan dari PBNU," kata ketua umum Tanfidziah PBNU, KH. Hasyim Muzadi usai menerima kunjungan dari Vatikan, Roma, di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (1/2).

Menurut Hasyim Muzadi, pengiriman daging qurban siap saji tersebut didasarkan pada kondisi keadaan darurat. "Jika dikirim dalam bentuk daging segar, dikhawatirkan terjadi pembusukan karena adanya kesulitan transportasi ke Aceh, sebagaiman kita ketahui kondisi transportasi dari dan menuju Aceh sangat parah," katanya.

Pertimbangan lain mengirimkan daging siap saji menurut Hasyim adalah faktor sosial. Berdasarkan pemantauan PBNU, saat ini masyarakat korban bencana gempa dan tsunami kekurangan peralatan masak. Sehingga dikhawatirkan mereka kesulitan untuk memasak daging qurban ini. Dengan memberikan daging siap saji, masyarakat Aceh tak perlu repot memasak. "Bisa langsung dimakan, dengan atau tanpa dipanaskan" tutur Hasyim.

Faktor keadilan juga menjadi pertimbangan. Dengan memproses menjadi daging siap saji, PBNU mempunyai waktu untuk mendistribusikan daging kurban ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Sebagaimana diketahui masih banyak daerah-daerah di Aceh yang belum tersentuh bantuan, sehingga bantuan berupa daging yang siap saji dapat lebih mudah dinikmati dan praktis.

Sebelumnya PBNU juga sempat mengirimkan bantuan hewan qurban menjelang Hari Raya Idul Adha. Namun karena dalam jumlah yang banyak dan tidak dapat dikirmkan langsung pada Hari Raya PBNU mengirimkannya dalam makanan kaleng siap saji. Hal ini dilakukan sesuai pendapat hukum KH Ma’ruf Amin, salah seorang pengurus PBNU, pengiriman daging siap saji ini diperbolehkan, asalkan penyembelihan dilakukan pada masa hari tasyrik (tanggal 10 – 13 Dzulhijah). "Jika sudah melewati batas masa tasrik, namanya sodaqoh," ujar Hasyim.

Hasyim mengakui secara syariah, daging kurban memang seharusnya diberikan dalam bentuk daging segar. Untuk pemberian dalam bentuk daging matang baru boleh diberikan untuk keperluan Aqiqah. Tapi pengiriman daging qurban kalengan ini, menurut Hasyim, sudah dikonsultasikan dengan Pengurus Syuriah PBNU. Hasilnya, pengurus Syuriah membolehkan dengan syarat si penyumbang rela dikirim dalam betuk siap saji. Adapun penyumbang hewan qurban ini adalah Lembaga Islamic Help asal Inggris, Moslem Charity dan PBNU.

Daging kaleng siap saji ini, lanjut Hasyim diolah oleh PT Suryajaya Abadi Perkasa (SAP) Probolinggo, Jawa Timur. untuk tahap pertama ada 60 ekor sapi yang disembelih. Daging sapi tersebut kemudian dikemas dalam kaleng dengan berat 425 gram sebanyak 10 ribu kaleng. Dalam kemasan kaleng tertulis Daging Siap Saji PBNU dengan sertifikasi halal. Makanan kaleng siap saji tersebut dikemas dalam tiga rasa: semur, rendang dan kare, serta dalam bentuk kornet.

Ditambahkan Hasyim, daging siap saji ini, terutama akan didistribusikan ke pesantren-pesantren yang selama ini menjadi konsentrasi bantuan PBNU. Jumlahnya ada 15 pesantren yang mengasuh sekitar 330 santri korban tsunami. Selebihnya akan diberikan secara langsung di tenda-tenda pengungsi (cih)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pondok Pesantren, Humor Islam PKB Kab Tegal

PBNU Siap Salurkan 24 Ribu Daging Kaleng Ke Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siap Salurkan 24 Ribu Daging Kaleng Ke Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siap Salurkan 24 Ribu Daging Kaleng Ke Aceh