Jumat, 24 November 2017

Di Balik Mahbub Djunaidi, Ada Hasni

Siapa yang tidak kenal sang pendekar pena, Mahbub Djunaidi? Ya, dialah aktivis Nahdlatul Ulama yang sangat terus terang dalam bertutur dan bertindak. Ideologinya tercermin dalam kolom-kolom yang tersebar di berbagai media lokal dan nasional. 

Sebagai pendiri PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, april 1960), dia dipercaya menjabat Ketua Umum selama tujuh tahun. Kok lama betul? Karena di samping jago menulis, dia punya kemampuan ekstra mengatur gerak organisasi pada situasi sulit. Bung Mahbub punya keterampilan berorganisasi di atas rata-rata. Jangan tanya lagi apa perannya dalam pergerakan politik dan media massa jaman itu. Pokoknya dia sangat berpengaruh. Dalam tulisan ini, tidak lagi sanggup menceritankan karirnya, hingga Bung Mahbub tutup usia 1 oktober 1995 di Bandung.

Di Balik Mahbub Djunaidi, Ada Hasni (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Balik Mahbub Djunaidi, Ada Hasni (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Balik Mahbub Djunaidi, Ada Hasni

Namun adakah yang mengetahui seseorang di balik kemasyhuran Bung Mahbub di jagat perpolitikan, kewartawanan, dan kesusastraan? Dialah Hj. Hasni Asjmawi Djunaidi. Sang Istri yang baru saja wafat 18 September 2012, di usia 71 tahun.  

Mahbub mengenal Hasni di Bandung. Mereka saling kenal berkat Mustafa Mahdamy, paman Hasni yang juga sahabat Mahbub, dalam sebuah pertemuan inagurasi kader HMI 1958. Waktu itu Mahbub Ketua bidang Pendidikan PB HMI. Hasni Asjmawi adalah putri seorang anggota konstituante bernama Buya Asjmawi, asal Bukittinggi yang menetap di Bandung. Dan mereka menikah dua tahun kemudian, 24 September 1960, setelah mendirikan PMII. Pernikahan Mahbub dan Hasni dikaruniai lima orang anak, dua putera, tiga puteri. Fairuz, Tamara Hanum, Mirasari, Isfandiari dan Verdi Heikal.

PKB Kab Tegal

Mira Djunaidi, anak ketiga mengatakan, “Mama tidak pernah mengeluh terhadap apapun yang papa alami. Mama terima papa apa adanya. Papa jenaka, egaliter dan cerdas.”

Mira menambahkan dengan mengutip surat tahun 1978 yang ditulis Mahbub sewaktu dirawat di RSPAD dengan status tahanan politik, “Walaupun tidur berdesakan, walaupun tidur di lantai. Ketahuilah, kebahagiaan itu terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda mewah, pada rumah mentereng dan gemerlapan. Benda sama sekali tidak menjamin kebahagiaan hati. Cintaku kepadamu semualah yang membikin hatiku bahagia. Hati tidak bisa digantikan oleh apapun juga.” 

PKB Kab Tegal

“Sebelum tinggal di rumah ini, kami belum punya rumah sendiri. Hidup masih mengontrak di Jalan Nilem. Hingga 1978, penerbit Al-Ma’arif memberikan kesempatan pinjaman mencicil rumah di Jalan Kleningan II. Kesulitan hidup datang silih berganti dan harus membesarkan lima anak. Namun papa tetap kuat pada pendirian menyampaikan aspirasi masyarakat dengan menulis kolom di berbagai media dan menggerakan organisasi. Mama selalu mendukung, namun soal tulisan, terkadang mama memberikan masukan agar tulisan yang dibuat lebih hati-hati. Biasanya Mama memperhalus gaya bertutur tulisan papa,” Mira bercerita.

Hj. Hasni memperhalus tulisan karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, Mahbub pernah dijebloskan ke penjara tanpa diadili. Mira mengungkapkan, “ketika papa ditangkap karena tuduhan subversif, mama sempat shock tapi tetap berusaha tenang. Papa dipenjarakan rezim Orde Baru 1971 di Nirbaya tanpa proses pengadilan. Papa jadi tahanan politik selama 2 tahun dan selanjutnya jadi tahanan rumah. Tidak bisa melakukan aktivitas menulis seperti sediakala. Dan mulai saat itu kesehatannya terganggu, menderita darah tinggi, sakit jantung dan gangguan pernafasan.” 

Selama dipenjara, diam-diam Mahbub menerjemahkan buku dan menulis novel. Hj. Hasni mengambil naskah tulisan tangan yang diuntel-untel pakaian kotor ke luar penjara. Setiba di rumah, Hj. Hasni mengetik salinan tulisan terjemahan menjadi naskah lembar demi lembar. Hussein Badjerei, sahabat baik Mahbub sejak kecil kerap membantu mengerjakannya. 

Demi menghidupi keluarga, Hj. Hasni berjualan makanan kecil di rumah. Berdagang apa saja, mulai kebutuhan harian dan pakaian. Mendidik dan membesarkan kelima anak bukan tugas mudah, namun perjuangan sebagai istri yang ditinggal sang suami merupakan tugas mulia dan harus dipikul. 

Ketekunan dan kesetiaan sang istri menyebabkan buku yang diterjemahkan di penjara berhasil diterbitkan. Antara lain, Road to Ramadhan karya Husen Haikal dan Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah karya Michael H Hart diterbitkan Pustaka Jaya. Buku tersebut termasuk buku terjemahan terlaris masa itu karena menempatkan Nabi Muhammad sebagai manusia pertama paling berpengaruh di dunia. Gaya terjemahan yang jenaka, tidak berbelit-belit dan kontekstual. 

Tahun 1979, atas tekanan Amnesti Internasional, Mahbub dibebaskan bersamaan dengan diterbitkannya Road to Ramadhan, berjudul Di Kaki Langit Gurun Sinai. Novel yang dikerjakannya dalam penjara adalah Angin Musim, diterbitkan Idayu Press, 1985. Di balik karya-karya tersebut, di dalamnya mengandung peran besar Hj. Hasni.

Sebagian besar para sahabat Mahbub sangat perhatian kepada Hj. Hasni sekeluarga. Ketika situasi sulit, mereka datang membantu. Mira menyebutkan di antara sahabat yang dekat dengan keluarga adalah, almarhum Fahmi D Saifuddin, almarhum M. Said Budairy dan Istri, KH Asad Samsul Arifin rohimahullah, Hussein Badjerei, Kemas Madani Idroes, dan Tionghoa peranakan bernama Rahmanto. 

“Saya kira, kita akan sangat sulit jaman sekarang menemukan persahabatan yang penuh ketulusan. Mereka sahabat papa, tulus mencintai kami hingga tutup usia. Begitu juga Gus Dur. Meski mereka berselisih pendapat sangat tajam, namun tetap saling menjaga persaudaraan. Gus Dur kalau ke Bandung menginap di rumah, dan memanggil Mahbub dengan Kak Abo,” sebut Mira.

Mira menuturkan, kesehatan Hj. Hasni mulai menurun setelah anak pertama dan terakhirnya meninggal. Fairuz, puteri pertama, meninggal 2006 karena menderita darah tinggi. Satu tahun sebelumnya, Verdi Haikal selepas lulus kuliah di ITB, mengidap penyakit infeksi jantung dan meninggal 2005. Hj. Hasni tinggal sendiri dan hanya ditemani seorang pembantu. Semenjak itu kesehatannya merosot. Pengapuran tulang leher, katup jantung mengalami kebocoran. Kadang pusing, mual dan sesak nafas. Karena mulai sakit-sakitan, Hj. Hasni rutin berobat ke rumah sakit. 

“Sebelumnya, mama dirawat tiga malam di rumah terdekat. Karena perlu perawatan khusus, lalu keluarga membawa mama ke RS Hasan Sadikin. Selama tujuh hari justru kesehatannya tidak membaik, dan pukul 05.00 dini hari, mama menghembuskan nafas terakhir. Keluarga memakamkan mama di pemakaman Assalam, Jalan Soekarno Hatta, berdekatan dengan papa, Fairuz dan Verdi. Semoga mama tenang di sisiNya,” tandas Mira sambil mempersilakan minum.  

Hj. Hasni lahir di Bukittinggi, 2 Januari 1941 dari pasangan Buya K.H. Asjmawi dan Ummi Hj. Fathimah Amin. Semasa hidup aktif di organisasi perempuan sayap NU, Fatayat dan Muslimat, Jawa Barat. Nenek dari delapan cucu, hingga menjelang akhir hayat Hj. Hasni masih mengikuti pengajian bersama ibu-ibu di majelis taklim sekitar rumah. Tahlilan tujuh hari wafatnya Alm. Hj. Hasni , Djunaidi jatuh pada Selasa, 25 September 2012 di kediamannya, Jalan Kleningan II No 1, Turangga, Bandung Selatan. (Abi S Nugroho, Aktivis Muda NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Cerita, AlaNu, Warta PKB Kab Tegal

65 Anggota Banser Bintan Ikuti Pendidikan Dasar Keanggotaan

Bintan, PKB Kab Tegal. Pimpinan GP Ansor Bintan meningkatkan kapasitas organisasi anggota barunya. Pihak pengurus melibatkan sebanyak 65 anggota Banser dalam pendidikan dasar keorganisasian selama dua hari Sabtu-Ahad (10-11/10) di Bumi Perkemahan Ceruk Ijuk, Bintan, provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

65 Anggota Banser Bintan Ikuti Pendidikan Dasar Keanggotaan (Sumber Gambar : Nu Online)
65 Anggota Banser Bintan Ikuti Pendidikan Dasar Keanggotaan (Sumber Gambar : Nu Online)

65 Anggota Banser Bintan Ikuti Pendidikan Dasar Keanggotaan

Kegiatan ini dibuka oleh Kabid Pemuda dan Olahraga pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bintan Arnel. Ia berharap pendidikan ini mengarahkan para peserta menjadi kader loyal GP Ansor, berdedikasi, berintegritas tinggi, memiliki kualitas, dan berdisiplin organisasi.

Ketua GP Ansor Bintan Zaenal mengatakan, instruktur didatangkan dari PP GP Ansor Rahmad Hidayat Pulungan dan Wakil Ketua Bidang Kaderisasi Wilayah Sumatera.

PKB Kab Tegal

"Untuk materi kelas juga diisi dari instruktur Kasat Binmas Polres Bintan, AKP Tasriadi. Komandan Rayon Militer (Danramil) 03 Bintan Utara Kapten Kav Harioko, juga beberapa dari TNI AL," kata Zaenal.

PKB Kab Tegal

Selain materi baris-berbaris oleh pihak TNI AL dan TNI AD, materi yang disampaikan mencakup wawasan kebangsaan, Aswaja, ke-NUan, dan ke-Ansoran, ke-Banseran.

"Sebanyak 65 peserta ini berasal dari Bintan 30 orang, sedangkan 35 orang dari Batu Ampar," jelas Zaenal.

Terkait Pilkada Gubernur Kepri dan Pilkada Bupati Bintan, ia menekankan bahwa GP Ansor Bintan bersikap netral.

"Secara organisasi GP Ansor netral. Anggota dipersilakan memilih sesuai pilihan masing-masing, apakah kepada pilihan nomor satu maupun nomor dua, baik untuk Pilgub maupun Pilbup Bintan," ungkapnya.

Turut hadir pada pembukaan ini Ketua PCNU Bintan Supriyono, pengasuh pesantren Mambaus Sholihin Bintan Abdul Majid, Kepala Kankemenag Bintan Erizal Abdullah, Danramil Bintan Utara Kapten Kav Harioko, Kasat Binmas Polres Bintan AKP Tasriadi, Wakil Ketua DPRD Bintan Trijono, pembina GP Ansor Bintan Indra Setiawan, dan penasehat GP Ansor Bintan Dalmasri Syam. (M Rofik/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nasional PKB Kab Tegal

Siang Ini, LKSB Diskusikan Ide Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Jakarta, PKB Kab Tegal - Lembaga Kajian Strategis Bangsa mengundang para pemuda untuk terlibat aktif dalam diskusi kebangsaan di Gedung PBNU Lantai 5, Senin (28/8) siang. Pihak LKSB mengajak para pemuda mendiskusikan kembali konsep manusia Indonesia yang adil dan beradab dalam rangka merefleksikan 72 Tahun Indonesia Merdeka.

Taushiyah kebangsaan dalam diskusi ini rencananya akan disampaikan oleh pengurus harian PBNU. Pertemuan ini akan diikuti oleh perwakilan lembaga-lembaga kepemudaan dan kemahasiswaan, seniman, budayawan, serta akademisi muda.

Siang Ini, LKSB Diskusikan Ide Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)
Siang Ini, LKSB Diskusikan Ide Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)

Siang Ini, LKSB Diskusikan Ide Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Diskusi ini dilatarbelakangi oleh situasi Indonesia saat ini yang masih mengalami persoalan mendasar, yakni merosotnya nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang majemuk.

PKB Kab Tegal

Menurut Direktur Eksekutif LKSB Abdul Gophur, yang paling memprihatinkan, diakui atau tak diakui, ternyata bangsa Indonesia juga mengalami kemunduran moral, estetika, etika atau keadaban. Mengapa? masih saja ada upaya pengingkaran terhadap kemajemukan bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan.

Di saat yang bersamaan, sebagai sebuah bangsa yang ribuan tahun memiliki kearifan budaya yang adiluhung, nyatanya kita malah mengalami kemunduruan yang luar biasa.

PKB Kab Tegal

“Apa buktinya? Kasus penganiayaan dan pembakaran seorang pria muda di salah satu daerah di Indonesia adalah salah satu buktinya. Bagaimana mungkin, sebagai sebuah bangsa besar yang tinggi peradabannya, etikanya, ilmu pengetahuannya, norma-normanya, toleransinya, budi pekertinya, tega melakukan hal biadab seperti itu?” kata Ghpour.

Belum lagi, kata Ghopur, masalah kebangsaan lainnya, seperti korupsi yang tak ada habisnya, kesenjangan sosial-ekonomi yang terus melebarkan jurang di antara warga, akhlak guru dan murid sekolah yang terus merosot, etika pemimpin masyarakat yang tak dapat digugu dan ditiru lagi, bahkan moral rakyatnya sendiri pun kian mengalami degradasi.

Narasumber dalam pertemuan diskusi ini Ketua Umum Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Chrisman Damanik, Sekjen Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Alan Christian Singkali, Intelektual Muda NU-Direktur Eksekutif LKSB Abdul Ghopur, Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Angelo Wakekako, GEMA Perhimpunan Indonesia Tiong Hoa Candra, Mantan Aktifis 98/Social Enterpreneur Moses Latuihamalo, pegiat kebudayaan Slamet Tohirin, Arkeolog UI-Sekjend LKSB Rizky Afriono, Ketua Umum Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Septi Rahmawati, Ketua PMII DKI Jakarta Daud Gerung, KMHDI Wirayasa, dan Founder Youth Movement Institute (YMI) Penri Sitompul. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Olahraga, Quote PKB Kab Tegal

Adzan pun Terdengar Tanpa Pengeras Suara

Tunisia semakin banyak dikunjungi orang asing pasca terjadinya revolusi pada tahun 2011 kemarin. Pelajar asing  yang menimba ilmu di sini bertambah. Wisatawan pun semakin banyak, dan salah satu tempat yang sering dikunjungi adalah masjid Az Zaituna, masjid yang tertua kedua di Tunisia setelah Masjid Kiarowan.

Tidak seperti masjid-masjid lainnya yang sekarang semakin modern. Bahkan untuk memperindah bangunan tak segan-segan orang-orang di negeri Ibnu Kholdun mengeluarkan biaya yang cukup lumayan.

Namun berbeda dengan Masjid Az zaituna Tunisia. Masjid ini bisa cukup unik, sebab untuk adzan saja sang muadzin masih menggunakan "cara manual". 

Adzan pun Terdengar Tanpa Pengeras Suara (Sumber Gambar : Nu Online)
Adzan pun Terdengar Tanpa Pengeras Suara (Sumber Gambar : Nu Online)

Adzan pun Terdengar Tanpa Pengeras Suara

Setiap waktu shalat tiba, muadzin naik ke menara yang tingginya kurang lebih mencapai 15 sampai 20 meter. Ia pun mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara.

PKB Kab Tegal

Tradisi seperti ini dilakukan mulai dari dibangunnya Masjid ini sekitar tahun 79 H sampai sekarang. Tempatnya di tengah-tengah pasar, dan selalu selalu ramai pengunjung. Masjid ini pun  menjadi salah satu tempat wisata favorit bagi warga asing.

Walau pun tidak memakai pengeras suara, anehnya adzan masih terdengar sampai beberapa kilo meter. Unik memang.  

Konon, menurut warga setempat, menara masjid Az zaituna ini dulunya sebagai tempat dakwah imam Abu Hasan Assyadhili. Seorang ulama sufi yang terkenal yang lahir di Tunisia. Di Indonesia sendiri namanya cukup populer dengan Tarikhatnya Assyadiliyah. Disitulah ia berceramah sehingga bisa terdengar sampai ke tempat yang jauh dari lingkungan masijid.

PKB Kab Tegal

Untuk melestarikan kebiasaan ulama-ulama dulu dalam siar Islam, sampai sekarang  para tokoh-tokoh dan pengurus masjid enggan untuk memasang pengeras suara di menara masjid tersebut. Nuansa klasiknya masih begitu akrab kalau kita melihat secara langsung di masjid ini.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Sukirno ibn Tarwad (Mahasiswa S1 Az Zaituna Tunisia) 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul, Pesantren PKB Kab Tegal

Kamis, 23 November 2017

Hidupkan NU di Setiap Tingkatan untuk Tangkal Paham Sesat dan Radikal

Demak, PKB Kab Tegal

Akhir-akhir ini muncul berbagai aliran yang mengatasnamakam Islam. Padahal menanamkan paham sesat maupun paham keras atau radikal. Semua itu muncul dan hidup di daerah yang minim NU atau tidak ada kepengurusan NU, sehingga pesan dan ajaran Aswaja tidak bisa disampaikan kepada masyarakat di lingkungan tersebut.

Demikian disampaikan KH Musadad Syarif dalam rapat koordinasi pengurus cabang dengan pengurus MWCNU se-Kabupaten Demak di masjid Jami Baitul Muttaqin Pidodo Karang Tengah, Demak, Jawa Tengah, Ahad (13/3).

Hidupkan NU di Setiap Tingkatan untuk Tangkal Paham Sesat dan Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidupkan NU di Setiap Tingkatan untuk Tangkal Paham Sesat dan Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidupkan NU di Setiap Tingkatan untuk Tangkal Paham Sesat dan Radikal

Musadad menjelaskan, hidupnya kepengurusan NU di semua tingkatan menjadikan organisasi yang mengembangkan aliran sesat maupun radikal tidak mempunyai ruang untuk mengembangkan maupun menyebarkan ajarannya.

“Hidupnya NU otomatis menangkal aliran sesat, karena program dan ajaran NU bisa sampai ke umat,” tambah Musadad.

Senada dengan Musadad, Sekretaris PCNU Demak Khoirun Zain saat mendampingi ketua dalam memimpin rapat lebih ? menekankan pada menghidupkan kembali pengurus ranting dengan berbagai kegiatannya.

PKB Kab Tegal

Harapannya, intensitas kegiatan yang dilakukan organisasi akan bisa menyampaikan pesan pimpinan pada anggotanya sehingga konsolidasi organisasi bisa berjalan dengan baik.

“Kami mengharap pada seluruh pengurus MWCNU agar ranting-ranting yang selama ini agak kurang greget untuk diaktifkan kembali, dengan demikian semakin banyak silaturrahim, semakin banyak info yang kita dapat dan semakin cepat pula kita bertindak,” terang Khoirun Zain. (A Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Ulama, Cerita PKB Kab Tegal

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Jakarta, PKB Kab Tegal. Puluhan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia meramaikan acara malam apresiasi seni yang diselenggarakan oleh Omah Aksoro dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pijar STAINU Jakarta, Rabu malam (23/12) di Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Berbagai karya seni dipentaskan, seperti halnya puisi, cerpen, akustik, musikalisasi puisi, dan stand up comedy.

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Ketua panitia, Ibnu Athoillah mengatakan, diselenggarakannya kegiatan kali ini dimaksudkan sebagai tempat ekspresi mahasiswa mengembangkan bakat yang dimilikinya. “Mahasiswa memang membutuhkan banyak tempat berekspresi, tidak hanya menyoal tentang hiruk-pikuk akademik dan perkuliahan saja,” katanya.

Mengambil tema ‘Rabun Sastra, Buta Sejarah’ Athok mengatakan kepada seluruh yang hadir untuk tidak melupakan dunia sastra dalam belajar. Meskipun secara makna sastra memiliki banyak penafsiran yang berbeda, akan tetapi pada dasarnya sastra mampu membaca sejarah dengan kaca mata yang lain.

PKB Kab Tegal

“Ambil saja Pramoedya Ananta Toer yang menulis sejarah dalam bentuk sastra tetraloginya, kita disajikan epik sejarah yang enak dibaca alurnya,” tambahnya.

PKB Kab Tegal

Di kesempatan yang sama, Pembantu Ketua (Puka) III Bidang Kemahasiswaan STAINU Jakarta Ahmad Nurul Huda mengatakan, kegiatan malam apresiasi seni menjadi warna tersendiri kegiatan mahasiswa di luar perkuliahan. Kelompok kajian seperti Omah Aksoro mungkin bisa dicontoh mahasiswa untuk membentuk kelompok-kelompok kecil untuk melakukan kegiatan yang sama.

“Saya senang dengan kegiatan kali ini, dan saya dukung sepenuhnya sekaligus berharap bisa rutin digelar, kalau perlu tiap bulan,” katanya.

Lebih ramai lagi karena juga ada penampilan dari kampus di luar STAINU Jakarta dan UNU Indonesia. Acara ditutup dengan penampilan dari Kaprodi Psikologi Any Rufaedah yang menyanyikan lagu kemesraan dari Iwan Fals.

Turut memeriahkan dalam kegiatan ini wakil sekretaris LTN PBNU yang juga dosen STAINU Jakarta dan UNU Indonesia, Faris Alnizar; Ketua LP3M STAINU Jakarta, Fatkhu Yasik; dan civitas akademika, Amsar Dulmanan, Muhammad Nurul Huda, Ahmad Dzakirin serta para alumni STAINU Jakarta. (Faridurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kajian PKB Kab Tegal

Doa saat Mengenakan Pakaian Baru

Ketika mengenakan pakaian, baik serban, gamis, ataupun jubah baru, Rasulullah memberinya nama dengan namanya, lalu mengucapkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa saat Mengenakan Pakaian Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa saat Mengenakan Pakaian Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa saat Mengenakan Pakaian Baru

Allâhumma lakal hamdu anta kasautanîhi, as-aluka khairahu wa khaira mâ shni‘a lahû wa a‘ûdzu bika min syarrihi wa syarri mâ shuni‘a lahu



PKB Kab Tegal

Artinya: "Ya Allah bagi-Mu segala puji. Engkau telah memakaikannya untukku, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang ia dijadikan untuknya, dan aku berlindung dari keburukannya dan keburukan apa yang ia dijadikan untuknya.”

Dalam riwayat lain, pemilik baju baru saat hendak mengenakannya juga bisa membaca:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PKB Kab Tegal

Alhamdulillâhil ladzî kasânî mâ uwâriy bihi ‘aurâtî wa atajammalu bihi fî hayâtî



Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah memberiku pakaian sebagai penutup auratku dan penghias dalam hidupku."

Menurut hadits riyawat Abu Dawud dan at-Tirmidzi, barangsiapa yang membaca doa kedua tersebut, lantas ia mengambil pakaiannya yang lama dan menyedekahkannya, niscaya dia berada di dalam perlindungan dan penjagaan? Allah, hidup atau mati.

Doa ini dibaca untuk pakaian baru secara umum, tak hanya pakain badan (baju, gamis, jaket, mantel), tapi juga pakaian baru yang lain seperti sepatu, sandal, tas, dompet, kerudung, mukena, jam tangan, dan seterusnya. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

(Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Halaqoh, Fragmen, Lomba PKB Kab Tegal