Senin, 13 November 2017

Melawan Radikalisme

Oleh Nur Faizin Darain



Sikap intoleran, kekerasan warga, dan radikalisme adalah tiga mata rantai yang acap menghantui kesatuan kita sebagai bangsa. Tidak adanya sikap saling menghormati antarindividu dan kelompok semakin memicu sikap apatis. Indikasi tersebut semakin diperunyam munculnya beberapa kelompok yang membawa ajaran khilafah pada bangunan Indonesia yang sudah matang.

Melawan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Melawan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Melawan Radikalisme

Paham ekstrim kanan atau ekstrim kiri yang mulai merebak di negeri ini semakin berdampak sistemik pada perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Beberapa paham keagamaan radikal misalnya, semakin memperlebar jurang fundamentalisme agama. Mereka juga semakin merengsek ke dalam sendi-sendi kehidupan beragama dan ber-ahlussunnah wal jamaah yang mayoritas dijalankan umat Islam di Indonesia.?

Tidak hanya itu, pemahaman dangkal perihal Islam dan sunnah begitu mudah mengkafirkan golongan atau kelompok lain yang tidak sepaham. Kecenderungan ini semakin memperlebar jurang disintegrasi, pun juga konflik dan teror di beberapa daerah acap mengemuka. Rasa aman untuk menjalankan praktik keberagamaan dan praktik sosial-kemasyarakatan lainnya tentu menjadi entry point dalam merekatkan hubungan berbangsa dan bernegara. Ancaman disintegrasi tentu perlu disikapi serius oleh banyak kalangan, terutama para ulama yang menjadi soko guru praktik keberagamaan dan keberagaman ? di Indonesia?

Ahlussunnah wal jamaah sebagai landasan berpikir penting kiranya diketengahkan dalam situasi yang hampir turbulensi tersebut. Ahlussunnah atau kelompok yang cinta melakukan sunnah nabi dapat menjadi jawaban atas segala permasalahan di negeri ini, terutama dalam melawan ekstrimisme bermotif agama. Etika wal jamaah memberikan garansi tiap kelompok beriringan dan berirama dalam merawat keindonesiaan. Hasil pendidikan ala ahlussunah wal jamaah dapat dirasakan bahwa sangat jarang (atau tidak ada sama sekali) kita temui kelompok ahlussunnah wal jamaah melakukan tindakan fanatik dan atau radikal berdasarkan agama yang dapat merugikan orang lain.?

Refleksi GP Ansor

PKB Kab Tegal

Dalam merawat keindonesiaan, kebangsaan, dan keislaman, GP Ansor bersama-sama NU dan seluruh elemen masyarakat harus bergandengan tangan “melawan” segala bentuk intoleransi dan radikalisasi. Sebagai badan organisasi otonom dibawah naungan NU (Nahdlatul Ulama), GP Ansor tidak hanya harus berjibaku melakukan penguatan nilai-nilai ahlussunah wal jamaah di internal kader. Lebih dari itu, GP Ansor memiliki tanggung jawab dalam konteks kebangsaan memberikan rasa aman kepada seluruh elemen masyarakat sesuai semangat ber-ahlussunah wal jamaah. Dari sinilah GP Ansor yang memasuki usianya ke-83 tahun pada 24 April 2017 dapat merawat NKRI.?

Langkah praktis dalam upaya merawat NKRI dapat dilakukan di pelbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu dengan semangat ber-ahlussunnah wal jamaah sebagai landasan berpikir dan bergerak. Merawat NKRI dalam kehidupan berbangsa ala GP Ansor ialah melakukan pemberdayaan kepada masyarakat marjinal, terpinggirkan, kelompok minoritas yang teraniaya, dan memastikan sikap toleran dapat berjalan beriringan dengan keberagamaan dan keberagaman yang sudah mendarah daging di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Praktik bernegara ala GP Ansor tentu tidak hanya semata-mata mencintai negeri ini, pun juga merawat dan membela negeri ini dari segala bentuk imperialisme dan rongrongan dari kelompok tertentu yang hendak mengutak-atik bangunan NKRI.

Sebagai garda terdepan NU melawan segala bentuk tindakan intoleran dan paham radikal, GP Ansor secara bersamaan juga meruwat dan merawat kehidupan bermasyarakat, beragama, berpolitik, dan bernegara melalui konsep ahlussunnah wal jamaah. Doktrin ahlussunah wal jamaah ini, sebagaiamana dijelaskan KH. Said Aqil Siraoj (2009), menyandarkan diri pada beberapa prinsip yang tidak ke kanan dan tidak pula ke kiri. Beberapa prinsip tersebut antara lain; prinsip syura atau musyawarah, al-‘adl atau keadilan, al-hurriyyah atau kebebasan yang menjadi kebutuhan primer setiap manusia, dan prinsip al-musawah atau kesetaraan derajat. Semua prinsip tersebut menyatu pada satu elemen; merawat keindonesiaan.?

Islam ahlussunah wal jamaah bukan aliran. Ia hanya cara pandang melihat realitas dan merefleksikannya dalam tindakan nyata. Pengejewantahan konsep al-‘adl misalnya, GP Ansor membawa semangat persaudaraan dan kemanusiaan dalam setiap tindakannya. Tidak melulu segala bentuk anarkisme dan atau radikalisme dilawan dengan tindakan anarkis pula. Dengan semangat kemanusiaan pertama-tama yang dilakukan ialah pendekatan sosial-kemanusiaan. Walaupun GP Ansor dikenal dengan pasukan berani matinya tidak selalu kemungkaran di negeri ini dilawan dengan pentungan.?

PKB Kab Tegal

Hal yang patut diperhatikan dalam setiap gerakan ber-Ansor ialah memastikan bahwa bangunan yang bernama Indonesia adalah harga mati dan nilai-nilai Islam ahlsunnah wal jamaah menjadi penyangga sekaligus penyejuk di tengah-tengah maraknya konflik dan egosentrisme sektoral. Gerakan ahlussunah wal jamaah memiliki tujuan menggapai keislaman yang rahmatan lil alamin. Gerakan pemuda Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia.?





Penulisa adalah alumnus pascasarjana Sosiologi UGM dan Pengurus Pusat GP Ansor

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Habib, Pesantren, Hikmah PKB Kab Tegal

Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut

Pacitan, PKB Kab Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Pacitan, Jawa Timur, Ahad (18/12) menggelar rapat senat terbuka dalam rangka wisuda sarjana strata satu (S1) ke X. Sebanyak 110 mahasiswa program Pendidikan Agama Islam (PAI) dan 27 mahasiswa program Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).

Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut

Ketua STAINU Pacitan, KH Imam Faqih Sudjak, dalam sambutnya menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masayarakat Pacitan yang telah memilih STAINU Pacitan sebagai tempat menimba ilmu bagi putera-puterinya.

Sebagai wujud terima kasih atas kepercayaan dari masyarakat, katanya, tahun 2016 STAINU Pacitan terus mengembangkan diri dan tengah mengajukan alih status menjadi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama, yang saat ini masih berproses di Dirjen Pendidikan Tinggi Agama Islam. STAINU Pacitan telah memiliki tiga program studi, yaitu Pendidikan Agama Islam, Manajemen Pendidikan Islam dan Ekonomi Syariah.

“Kami melangkah sudah cukup jauh. Kami akan beralih status menjadi IAINU Pacitan dan setelah itu akan terus berupaya hingga menjadi Universitas Nahdaltul Ulama atau UNU Pacitan dan itu adalah cita-cita kami,” kata Kiai Faqih dihadapan ratusan undangan.

Kiai Faqih yang juga Rais Syuriyah PCNU Pacitan itu memohon dukungan dari seluruh masyarakat, agar niat dan usaha STAINU Pacitan tersebut dapat segera tercapai. ”Semoga upaya kita selalu mendapat kemudahan dan ridho dari Allah SWT,” harapanya.

PKB Kab Tegal

Dalam kesempatan itu, Kiai Faqih berpesan kepada seluruh wisudawan agar senantiasa memiliki kematangan aqidah ahlussunnah wal jamaah dan memiliki budi pekerti yang luhur. Para wisudawan diharap dapat mempraktekkan serta mengembangkan ilmu yang telah diperoleh dari bangku perkuliahan.

“Kami mengucapkan selamat, dan mudah-mudahan ilmu kalian berguna dan bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, fiddin wal akhirat,” tutupnya.

PKB Kab Tegal

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pacitan, Suko Wiyono, yang mewakili Bupati Pacitan H Indartato, dalam sambutnya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kontribusi STAINU Pacitan dalam mencetak sarjana pendidikan Islam. STAINU, katanya, merupakan salah satu kampus unggulan. “Jadi tidak keliru, kalau anda kuliah di kampus STAINU Pacitan,” tuturnya disambut tepuk tangan oleh seluruh wisudawan.

Sekda menyampaikan pesan dari Bupati Pacitan, agar para alumni STAINU tidak berhenti belajar dan diharap terus menimba ilmu serta mengembangkan keilmuanya. ”Masa depan kalian masih panjang dan luas. Jadi jangan pernah berhenti belajar,” pesanya.?

Hadir dalam acara wisuda yang digelar di Pendopo Kabupaten Pacitan itu, Alim Ulama dan para Kiai, pengurus PCNU Pacitan dan Banomnya, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Fokopimda) Kabupaten Pacitan, dan undangan lainya. (Zaenal Faizin/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul, Khutbah PKB Kab Tegal

Halal Bihalal, Ansor Bondowoso Pantau Kekompakan Kader

Bondowoso, PKB Kab Tegal. Pengurus Cabang GP Ansor Bondowoso menggelar Halal Bihalal di aula MWCNU Tenggarang jalan Pakisan Tengarang, kabupaten Bondowoso, Kamis (13/8). Pertemuan silaturahmi ini menampakkan kekompakan pengurus Ansor dari tingkat ranting hingga cabang.

Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil menegaskan, acara ini merupakan tindak lanjut untuk mengetahui seberapa eratnya kekompakan di tingkat bawah, baik tingkat anak cabang dan ranting.

Halal Bihalal, Ansor Bondowoso Pantau Kekompakan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal, Ansor Bondowoso Pantau Kekompakan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal, Ansor Bondowoso Pantau Kekompakan Kader

Pada kesempatan ini, Muzammil juga memberikan informasi bahwa di kantor PP GP Ansor telah diadakan kegiatan Majelis Zikir dan Sholawat Rijalul Ansor yang dilaksanakan dalam satu bulan sekali tepatnya di Ahad pertama.

PKB Kab Tegal

"Kegiatan Halal Bihalal ini melibatkan Pimpinan Anak Cabang, ranting dan kader di daerah pemilihan atau zona 1, yakni kecamatan Bondowoso, Wonosari, dan Tengarang," kata Muzammil.

PKB Kab Tegal

Selain Muzammil, turut hadir dalam acara berlangsung mulai pukul 14.00 WIB tersebut, Ketua MWCNU Tengarang Kiai Taufik dan Seketaris GP Ansor Bondowoso Ahmad Humaidi.

Kiai Taufik yang semasa muda bergiat di GP Ansor mengingatkan pemuda Ansor untuk waspada perihal banyaknya paham-paham keagamaan yang sudah masuk di daerah-daerah pinggiran. Ia mengajak jamaah untuk waspada.

"Dengan diadakan acara ini merupakan langkah awal untuk melihat kekompakan baik di tingkat PAC dan ranting supaya jalinan silaturahmi antarpengurus cabang ? ke bawah semakin baik dan berkembang," ujar Taufik. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Tokoh, Nusantara PKB Kab Tegal

Meski Diguyur Hujan, Pembukaan Pasar Rakyat NU di Malang Meriah

Malang, PKB Kab Tegal. Meski diguyur hujan, pembukaan Pasar Rakyat Indonesia di lapangan Wonomulyo Poncokusumo, Malang, Sabtu (22/12) berlangsung meriah. Pembukaan pasar rakyat tersebut ditandai dengan penabuhan gong oleh ketua Ketua PBNU  H Iqbal Sulam yang didampingi Muspida dan sejumlah pengurus NU kabupaten Malang.

Meski Diguyur Hujan, Pembukaan Pasar Rakyat NU di Malang Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Meski Diguyur Hujan, Pembukaan Pasar Rakyat NU di Malang Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Meski Diguyur Hujan, Pembukaan Pasar Rakyat NU di Malang Meriah

Dalam sambutannya, Iqbal menekankan akan pentingnya pemberdayaan perekonomian masyarakat, khususnya pada tingkat bawah. “Negara akan memiliki ekonomi yang kuat jika ditopang kekuatan perekonomian rakyatnya, bukan kekuatan konglomerat,” jelasnya.

Ketua PCNU Kabupaten Malang, H. Bibit Suprapto, SH dalam sambutannya menekankan akan kesiapan Kabupaten Malang dalam menjalankan tugas dan fungsi organisasi, bahkan kegiatan yang sekira cabang yang lain tidak siap, berikan saja pada PCNU Kabupaten Malang, kami siap mewujudkan dengan sebaik-baiknya, jelasnya.

PKB Kab Tegal

Bupati Malang menekankan pentingnya wira usaha, dunia membuktikan bahwa yang memiliki jiwa enterpreneur lebih tinggi memiliki ketahanan ekonomi lebih, dan Indonesia masih sangat jauh dari harapan. 

Warga NU yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia diharapkan dapat meningkatkan tingkat Enterpreneursipnya, salah satunya Bupati memberi apresiasi terhadap acara semacam Pasar Rakyat ini. 

PKB Kab Tegal

Disela kesibukannya, ketua Panitia H Abdul Mujib Syadzili menuturkan, Pasar rakyat ini bertujuan memberikan bantuan kepada masyarakat.

“Mereka berkesempatan membeli sembako murah dan menikmati hiburan-hiburan yang disuguhkan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan silaturrahim antara pengurus dengan masyarakat,” katanya.

Disamping agenda pasar rakyat, panitia juga menyelenggarakan workshop kewirausahaan yang digelar siang hingga sore di Aula SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo. Dua nara sumber yang mempresentasikan tentang entrepreneurship Gus Nur Shodiq Askandar dan Hari Panca yang sempat memukau yang sesekali diikuti gelak tawa para peserta dengan ”ger-ger-an”.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sunnah PKB Kab Tegal

Ziarah, Menag: KH Ahmad Syaikhu Tokoh Nasional

Depok, PKB Kab Tegal. Almaghfurlah KH Ahmad Syaikhu adalah tokoh besar, jasanya bagi bangsa ini luar biasa, tidak hanya bagi umat Islam tapi juga bagi nonmuslim. Kiai Syaikhu bukan sekadar tokoh NU pada zamannya. Mantan Ketua DPR-GR era Bung Karno ini juga merupakan tokoh nasional.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan hal tersebut kepada PKB Kab Tegal usai jamaah Maghrib yang disambung berziarah di makam KH Ahmad Syaikhu. Lukman diminta untuk berbicara pada kuliah umum "Pendidikan Islam dan Tantangan Pembentukan Karakter Bangsa di Era Globalisasi" di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hamidiyah Depok, Senin (15/9/14) petang.

Ziarah, Menag: KH Ahmad Syaikhu Tokoh Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarah, Menag: KH Ahmad Syaikhu Tokoh Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ziarah, Menag: KH Ahmad Syaikhu Tokoh Nasional

“Warisan beliau berupa lembaga pendidikan Pesantren Al-Hamidiyah ini sangat bermanfaat. Dan kita amat bersyukur karena ahli warisnya, para putra-putrinya, berhasil melanjutkan apa yang dulu diperjuangkan dan dicita-citakan Almaghfurlah. Tentunya, kita harus memberi support agar keberadaan pesantren tetap terjaga. Syukur-syukur bisa dikembangkan terus sesuai situasi dan kondisi,” ujarnya.

PKB Kab Tegal

Menteri yang mengaku pernah menjadi anggota dewan pengarah di Pesantren Al-Hamidiyah pada 1990-an ini merasa bangga karena capaian pesantren kini luar biasa. “Jadi, kita lagi-lagi harus bersyukur. Cara mensyukurinya adalah dengan tetap mengembangkannya sebisa mungkin,” harapnya.

Ditanya tentang kedekatan antara keluarga besar KH Ahmad Syaikhu dengan keluarga besar KH Saifuddin Zuhri, Menag mengatakan keduanya memiliki kedekatan emosional lantaran mereka berbesanan. “Putri tertua Kiai Syaikhu dengan putra pertama Kiai Saifuddin Zuhri membina rumah tangga. Jadi, sangat dekat hubungannya,” tuturnya sembari tersenyum.

PKB Kab Tegal

Pada wawancara singkat tersebut, menteri agama memberi semangat dan motivasi bagi para santri untuk tetap istiqamah di pesantren. Karena bagi alumnus Pesantren Gontor Ponorogo Jatim ini, hidup di pondok tidaklah gampang lantaran banyak cobaan dan tantangan.

“Para santri agar tetap kerasan di pondok. Karena hidup mondok itu tidak gampang. Banyak cobaan dan tantangannya. Mudah-mudahan tetap diberikan kekuatan dan kesabaran oleh Allah SWT. Terakhir, semoga ilmu yang didapat berkah dan manfaat dalam rangka menebar kemaslahatan bagi sesama,” harapnya yang langsung diaminkan para santri yang mengerubungi menteri agama ini. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pesantren, Hadits, Kajian PKB Kab Tegal

Pergunu Kraksaan Lengkapi Kepengurusan Anak Cabang

Probolinggo, PKB Kab Tegal - Dalam rangka menguatkan dan membesarkan organisasi, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kota Kraksaan berupaya keras melengkapi kepengurusan di semua pimpinan anak cabang. Hal ini dilakukan mempermudah komunikasi dan koordinasi guna menjalankan program organisasi.

Hingga saat ini, telah rampung dibentuk kepengurusan 14 PAC Pergunu di 13 kecamatan di wilayah kerja Pergunu Kota Kraksaan. Semuanya meliputi PAC Pergunu Gending, Maron, Banyuanyar, Tiris Timur, Tiris Barat, Krucil, Gading, Pajarakan, Kraksaan, Pakuniran, Besuk, Kotaanyar, Krejengan, dan Paiton.

Pergunu Kraksaan Lengkapi Kepengurusan Anak Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Kraksaan Lengkapi Kepengurusan Anak Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Kraksaan Lengkapi Kepengurusan Anak Cabang

Ketua Pergunu Kota Kraksaan Ishuddin mengatakan, sebuah kebanggaan ketika kehadiran Pergunu ternyata mampu menjadi magnet bagi para cerdik pandai di kalangan para ustadz di Probolinggo.

PKB Kab Tegal

“Mereka dengan ikhlas dan antusias mau bergabung dan mengikrarkan diri untuk bersama-sama berjuang membesarkan organisasi dan mengamalkan ilmu dalam membangun dan mencerdaskan masyarakat,” kata Ishuddin, Senin (25/1).

Menurutnya, dalam setiap agenda pertemuan para aktivis yang baru tergabung dalam wadah Pergunu ini selalu menyuarakan berbagai hal yang kesemuanya bermuara untuk mendorong terjadinya perubahan dan perbaikan, utamanya dalam peningkatan kualifikasi akademik dan kompetensi para guru, ustadz dan ustadzah yang berkiprah di lembaga-lembaga pendidikan ke-NU-an.

PKB Kab Tegal

“Mereka telah sepakat untuk menjadikan organisasi Pergunu sebagai wadah menempa diri agar menjadi lebih baik, lebih berkualitas dan juga lebih bermartabat,” jelasnya.

Kenyataan ini, jelas Ishuddin, tentu sejalan dengan semangat Pergunu secara umum untuk berjuang memperbaiki masyarakat melalui jalur pendidikan yang diawali dengan kesadaran untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kompetensi para pelaku pendidikan yang tidak lain adalah para guru atau ustadz tersebut.

“Kita akan memberikan dan memfasilitasi berbagai kegiatan yang mampu memberikan sesuatu yang lebih baik terhadap semua pelaku pendidikan. Bahkan tidak hanya terbatas pada anggota Pergunu. Semua akan mendapatkan manfaat dari kelahiran Pergunu ini,” tegasnya.

Ishuddin berharap semoga ke depan Pergunu bisa dan mampu menjadi wadah yang mampu menaungi para ustadz dalam mengembangkan diri agar lebih baik dan utamanya dalam ikut berkiprah memberikan warna lebih bagi kemajuan pendidikan, khususnya di Probolinggo. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Berita, Sejarah, Kajian Sunnah PKB Kab Tegal

Tarekat adalah Pilar dan Ruh NU

Bandung, PKB Kab Tegal. Dosen Pascasarjana Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung DR. Ajid Tohir mengatakan, salah satu pilar dan merupakan ruh Nahdlatul Ulama adalah thariqah (tarekat). NU kemudian menjam’iyahkan para pengamalnya dalam Jamiyah Ahli Thariqah Mutabarah An Nahdliyah (JATMAN).

Tarekat adalah Pilar dan Ruh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat adalah Pilar dan Ruh NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat adalah Pilar dan Ruh NU

Pendapat Ajid diperkuat dengan mengutip pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada sebuah pertemuan di Cihampelas. “Ruh-nya NU itu ada di Thariqah," kutipnya pada pembentukan Mahasiswa Ahli Thariqah Mutabarah An Nahdliyah (MATAN) Jawa Barat di Bandung Sabtu (14/2).

Menurut penulis buku “Gerakan Politik Kaum Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Pulau Jawa” ini, kontribusi penganut tarekat dalam perjuangan melawan kolonialisme sangat besar. Dalam temuannya, setiap ada pergerakan melawan penjajah selalu melibatkan penganut tarekat.

PKB Kab Tegal

Namun, perjuangan kalangan tarekat justru kurang dihargai pada masa kemerdekaan. Bahkan mereka dicap sebagai kalangan yang menjadi penyebab mundurnya dunia Islam, khususnya di Indonesia.

PKB Kab Tegal

"Dulu sekitar tahun 1970-an kelompok thariqah menjadi sasaran empuk kelompok reformis karena thariqah dianggap sebagai kemunduran Islam. Padahal sebenarnya thariqah punya peran besar dalam melawan penjajah," tambahnya.

Lain lagi dengan cara pandang orang pada kalangan tarekat pada zaman sekarang. Menurut Ajid, tarekat mulai digemari masyarakat. Bahkan di kalangan akademik.

Karena, sambung Ajid, di akademik yang selalu diisi adalah intelektual melulu, sementara ruhaniyahnya hampa. Sementara yang mengisi ruhaniyah itu adalah tasawuf yang dilakoni kalangan tarekat.

"Belajar dalam tasawuf itu tidak ada akhirnya, kita akan terus menjadi murid, menjadi salik sampai tutup usia," lanjutnya. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal News, Fragmen, Pemurnian Aqidah PKB Kab Tegal