Minggu, 04 Februari 2018

PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah

Kudus, PKB Kab Tegal. Pengurus Wilayah nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa tengah  menilai sertifikasi ulama dan dai sebagai bentuk sikap kebingungan pemerintah dalam penanganan aksi radikal maupun teroris Oleh karenanya, Nahdlatul Ulama secara tegas menolak sertifikasi ulama atau dai yang diwacanakan Badan nasional penanggulangan terorisme (BNPT) tersebut.  

PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah

"Bila yang menjadi kerisauan pemerintah adalah dai  yang menimbulkan keresahan dan mendorong terjadinya radikal atau teror, tangkap saja! Apalagi  jumlahnya tidak banyak dan orangnya itu-itu saja," kata Ketua PWNU Jateng KH Moh Adnan, dalam acara Halal bi halal Badan Pelaksana Pendidikan Hasyim Asyari Kudus, Selasa (11/9).

Ia mengatakan ide BNPT ini membingungkan berbagai kalangan karena di masyarakat banyak sebutan dan kategori tokoh ulama maupun juru dakwah seperti dai panggung, khotib, dai radio atau tv, dan lainnya 

PKB Kab Tegal

"Jika semua juru dakwah diseragamkan harus bersertifikasi, korbannya akan bertambah banyak dari pada target untuk mengawasi atau membatasi gerakan dakwah orang-orang yang memprovokasi," tandas KH Moh Adnan.

Di depan ratusan guru madrasah tersebut, KH Adnan menegaskan peranan dan posisi Nahdlatul Ulama terhadap nasib Bangsa. Dikatakan, NU dari masa ke masa selalu tampil di depan dalam menjawab persoalan bangsa.

PKB Kab Tegal

"Termasuk saat muncul radikalisme dan terorisme, Nahdlatul Ulama tampil dengan mengusung konsep Islam rahmatal lil alamin," tandasnya.

Tetapi. ketika bangsa menghadapi problem multi komplek belakangan ini, imbuhnya, posisi NU sepertinya mengalami pergeseran tidak memahami atau mengambil inisiatif memecahkan persoalan kecuali secara parsial.

"Kalau  indonesia ini tidak menyelesaikan masalahnya dan Nu tidak memiliki kemampuan sebagaiamana yang dicatat sejarah, saya tidak hanya khawatir nasib NU melainkan juga nasib bangsa ini,"tegasnya..

Usai berceramah pada acara yang bertempat di aula MANU Hasyim Asyari 2 Karangmalang Gebog Kudus ini, KH.Moh Adnan mengunjungi kampus Akademi Kebidanan Muslimat NU di jl Lambao Bae Kudus. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Warta PKB Kab Tegal

Peduli Keasrian, GP. Ansor Kencong Lakukan Penghijauan

Jember, PKB Kab Tegal

Musim hujan yang masih terus berlanjut dan kerap kali menimbulkan longsor, mendorong Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kencong, Jember, Jawa Timur  untuk melakukan penghijauan pada Ahad (29/1).

Penghijauan tersebut dilakukan di Dusun Wonoroto, Desa/Kecamatan Umbulsari, Jember dengan melibatkan 30 anggota Banser. Seribu lebih pohon yang terdiri dari mahoni, mangga, dan jambu ditanam di sisi kiri-kanan beberapa ruas jalan di dusun tersebut.

Menurut Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kencong Muhammad Yasin Yusuf Gahzali, penghijauan tersebut sebagai bentuk kepedulian Ansor terhadap keasrian, kelestarian dan juga keindahan jalan desa. “Selain itu, pohon-pohon itu bisa mencegah longsor dalam skala kecil. Lebih dari itu, buah pohon tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kelak,” ujarnya kepada PKB Kab Tegal.  

Peduli Keasrian, GP. Ansor Kencong Lakukan Penghijauan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Keasrian, GP. Ansor Kencong Lakukan Penghijauan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Keasrian, GP. Ansor Kencong Lakukan Penghijauan

Yasin menambahkan, pohon-pohon di pinggir jalan dewasa ini semakin langka. Padahal, banyak sekali gunanya. Selain untuk kesejukan, pohon di pinggir juga berfungsi sebagai pembatas kanan-kiri jalan.

Dulu, katanya, pohon-pohon di pinggir jalan menjadi ciri khas jalan desa, sebagaimana pohon asam yang kokoh menjadi “pagar” di berbagai ruas jalan perkotaan. “Sekarang pohon-pohon di pingir jalan, sudah mulai punah. Dan kami priahtin sekali, sehingga kami berharap ini (penghijauan) juga menginspirasi pihak lain untuk melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Dalam penghijauan tersebut, Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kencong juga melibatkan murid-murid MI Darul Huda, Dusun Wonoroto. Tujuanya adalah untuk menanamkan kecintaan mereka terhadap lingkungan. Sebab, mereka adalah calon pemilik dusun yang juga punya tanggung jawab terhadap  keasrian dan kelestarian lingkungannya. “Mereka kita ajak terlibat dalam dalam penanaman, agar tertanam kesadaran  sejak dini dalam diri mereka betapa pentingnya pohon, sebagai penyangga kehidupan manusia,” urainya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi) 

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Sunnah PKB Kab Tegal

Majelis Dzikir Hubbul Wathon Berkomitmen Kawal NKRI dan Pancasila

Jakarta, PKB Kab Tegal. Dalam konteks keindonesiaan, Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) ingin menjadi garda terdepan dalam dalam mengawal NKRI dan Pancasila, serta menjadi tempat berkumpulnya seluruh elemen bangsa. Untuk konteks global, MDHW ingin menjadi jembatan komunikasi dan silaturahim antarumat beragama.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum MDHW KH Musthofa Aqil Siroj dalam laporannya kepada Presiden Joko Widodo di halaman Istana Merdeka Jakarta, Selasa (1/8) malam.

Majelis Dzikir Hubbul Wathon Berkomitmen Kawal NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Dzikir Hubbul Wathon Berkomitmen Kawal NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Dzikir Hubbul Wathon Berkomitmen Kawal NKRI dan Pancasila

“Bapak Presiden dan peserta dzikir kebangsaan yang saya hormati. Kami ingin peran ulama dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan kembali dihidupkan dan mendapatkan ruang. Resolusi jihad yang pernah difatwakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari harus dikontekstualisasi dengan kondisi saat ini,” ujarnya disambut aplaus hadirin.

Menurut dia, memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Ke-72 Republik Indonesia, saat ini kita memiliki tugas untuk mengajak negerasi muda mencintai tanah airnya. 

PKB Kab Tegal

“Cinta agama itu iya, namun cinta Tanah Air juga iya. Jadi, antara cinta agama dan Tanah Air tidak boleh dipertentangkan,” tegas Kiai asal Cirebon ini.

Selain sebagai wujud syukur dan cinta Tanah Air, lanjut dia, melalui dzikir dan doa bersama berbagai masalah yang menghambat kemajuan bangsa segera dapat teratasi. 

“Melalui dzikir dan doa bersama ini semoga Indonesia menjadi negara yang tenteram, aman, damai,” harapnya.

PKB Kab Tegal

Rais Syuriah PBNU ini juga berharap, semoga ihktiar kita diridhoi Allah. Secara khusus ia menyampaikan ucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah memfasilitasi dan memberikan dukungan penuh terhadap terselenggaranya acara dzikir kebangsaan di halaman istana.

“Tak lupa ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada saudara Hery Haryanto Azumi, selaku Sekjen MDHW sekaligus ketua pelaksana dzikir kebangsaan, yang dengan gigih dan bekerja keras mensukseskan acara ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada semua pihak—baik dari pihak Istana maupun panitia—atas terselenggaranya acara ini,” paparnya.

MDHW, kata Kiai Musthofa Aqil, lahir dengan semangat ingin menjadi sarana atau jembatan terbangunnya aliansi strategis bagi segenap elemen bangsa untuk bersama-sama ikut mensukseskan berbagai agenda kebangsaan. Visi MDHW ingin mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang agamis dan nasionalis, berkeadilan dan demokratis.

“Sedangkan misinya ingin mengkonsolidasi semua elemen masyarakat dalam rangka mencari jalan keluar atas berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Internasional, Pertandingan PKB Kab Tegal

40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara

Tak bisa dipungkiri, pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia telah banyak mencetak generasi yang justru mampu merawat tradisi masyarakat lokal. Tak hanya itu, para lulusan lembaga pendidikan Islam klasik tersebut juga telah melahirkan banyak pejuang kemerdekaan Indonesia. Hal inilah yang menginisiasi masyarakat untuk mendirikan madrasah formal sebagai tindak lanjut pendidikan di pesantren.

Masyarakat di Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah misalnya. Diadvokasi oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU setempat, masyarakat di desa tersebut berhasil mendirikan madrasah pertama di pesisir pantai utara Kecamatan Losari pada tahun 1975 dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Al-Islamiyah Prapag Kidul, Losari. Selama 40 tahun, madrasah ini dipercaya oleh masyarakat di empat desa, yakni Desa Prapag Kidul, Prapag Lor, Karang Dempel, dan Limbangan untuk mengisi pendidikan agama kepada anak-anak di pesisir pantai utara.

40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara

Tak banyak juga yang mengetahui, bahwa MI Al-Islamiyah Prapag Kidul ini merupakan salah satu madrasah tertua di Kecamatan Losari. Meskipun di Desa Prapag Kidul saat ini terdapat 3 Sekolah Dasar (SD), masyarakat lebih memilih madrasah ini untuk pendidikan anak-anaknya karena sudah dipercaya masyarakat selama puluhan tahun.

PKB Kab Tegal

“Madrasah ini terus berusaha mengembangkan diri dari berbagai aspek dan keterampilan pendidikan untuk memenuhi aspirasi masyarakat juga, karena MI ini lahir dari masyarakat,” ujar Kepala MI Al-Islamiyah Prapag Kidul Losari, Burhanuddin, SPdI.

Setiap tahun, MI Al-Islamiyah Prapag Kidul selalu dipenuhi dengan pendaftar. Sehingga terkadang harus menolak calon siswa baru. Untuk menyikapi persoalan ini, MI Al-Islamiyah terus berusaha mengembangkan sarana dan prasarana berupa penambahan ruang belajar siswa. Perkembangan pesat ini bisa dikatakan dimulai sejak tahun 1995. Terhitung sejak tahun tersebut, MI Al-Islamiyah telah memperluas lahan untuk dibangun ruang kelas baru.

PKB Kab Tegal

Perkembangan sarana dan prasarana itulah yang bisa dikatakan, bahwa MI Al-Islamiyah lebih maju dibanding 3 sekolah umum setingkatnya di Desa Prapag Kidul. Jadi, jika di SD ruang kelas 1 hanya ada 1 kelas, di MI Al-Islamiyah telah menyediakan 2 kelas. Hingga 2015 sekarang, perkembangan madrasah yang menjadi primadona warga pesisir ini cukup representatif dalam memajukan pendidikan Islam di tengah masyarakat.

Iklim pengajaran berbasis lingkungan

Sarana yang semakin banyak membuat masyarakat juga tak perlu khawatir untuk memasukkan anaknya ke MI Al-Islamiyah Prapag Kidul. Kini, madrasah sedang mengembangkan lingkungan yang ramah anak untuk proses pengembangan pendidikannya. Lingkungan yang memadai menjadi salah satu perhatian utama madrasah untuk mewujudkan iklim pengajaran yang nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik.

Dengan lingkungan yang memadai, MI Al-Islamiyah memanfaatkan keragaman lingkungan seperti membuat taman dengan berbagai penghijauan. Selain itu, madrasah juga memanfaatkan lingkungan sekitar yang masih asri untuk sarana outdoor learning para siswanya dalam memahami keanekaragaman hayati. Khususnya karakter daerah pesisir pantai dengan khazanah historis yang melingkupinya. Untuk menunjang hal tersebut, madrasah juga menggunakan instrumen tradisi masyarakat lokal dalam rangka pemahaman budaya berbasis lingkungan, seperti sedekah bumi dan sedekah laut.

Sedekah bumi memiliki nilai-nilai luhur yang memberi pesan kepada peserta didik, bahwa bumi yang kaya harus dikelola dengan baik dan benar. Dari bumilah tumbuh berbagai macam tanaman, baik yang masyarakat tanam atau yang tumbuh secara alami di pekarangan atau kebun. Dari tradisi ini, peserta didik juga diajarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang dianugerahkan Tuhan dalam bentuk tanaman atau pepohonan yang menghasilkan bahan makanan sehari-hari. Hal tersebut menjadi media belajar siswa, bahwa menanam, menjaga, dan memelihara tumbuhan menjadi kewajiban manusia agar bumi selalu subur.

Demikian pula dengan tradisi sedekah laut, peserta didik juga dikenalkan dengan konsep pelestarian alam berbasis laut. Sehingga turut menjaga keanekaragaman laut untuk kehidupan di masa mendatang. Berangkat dari tradisi sedekah laut juga, para siswa diberikan pelajaran, bahwa mensyukuri anugerah Tuhan atas kekayaan melimpah di laut perlu dijaga, dilestarikan, dan disyukuri. 

Nilai-nilai pendidikan berbasis lingkungan tersebut sejalan dengan ajaran agama, ‘Kerusakan di laut dan di bumi merupakan ulah tangan para manusia.’ Sehingga generasi muda sebagai modal pembangunan perlu diberikan kesadaran sejak dini untuk melesatarikan lingkungan, baik di bumi maupun laut. Hal inilah yang mendorong MI Al-Islamiyah untuk mengembangkan pendidikan berbasis lingkungan. Apalagi sekarang, di tepi pantai, daratan semakin tergerus oleh laut yang berpotensi menggerus pemukiman sehingga masyarakat sudah harus sadar mengisi pesisir dengan penanaman pepohonan seperti mangrove.

Selain outdoor learning sebagai basis pengajaran, MI Al-Islamiyah juga mengembangkan keterampilan siswa dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Madrasah ini menerapkan sistem ngaji bareng hingga shalat berjamaah sebagai ekstrakurikuler agama. Selain itu, kecerdasan psikomotorik juga dikembangkan oleh MI Al-Islamiyah melalui berbagai kegiatan olahraga, seperti ekstrakurikuler bola voli. Selain itu, medan daerah pesisir juga sangat cocok untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang dilakukan oleh gerakan pramuka MI Al-Islamiyah.

Saat ini, MI Al-Islamiyah dikelola oleh Yayasan Al-Islah Prapag Kidul, Losari, Brebes. Madrasah ini juga salah satu madrasah yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Sebab itu, pola pengajaran paham keagamaan mengacu pada prinsip Aswaja NU yang konsisten dengan prinsip dan paham Islam yang ramah dan toleran. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Makam PKB Kab Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Lingkungan Global Perlu Dibaca Pesantren

Jakarta, PKB Kab Tegal. Perubahan lingkungan global yang berlangsung sangat cepat perlu dibaca dan diantisipasi oleh kalangan pesantren agar sadar akan keberadaan dirinya dan tidak bingung dalam menghadapi perubahan itu.

Hal tersebut dikemukakan oleh Katib Aam PBNU Prof Dr Nasaruddin Umar pada acara dialog dalam Rakernas Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, (18/5).

Lingkungan Global Perlu Dibaca Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Lingkungan Global Perlu Dibaca Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Lingkungan Global Perlu Dibaca Pesantren

Nasaruddin yang beberapa tahun lalu menyelesaikan doktornya di Amerika Serikat menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang paling cepat berkembang di AS. Buku-buku yang membahas tema keislaman dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi best seller.

“Orang beramai-ramai bersyahadat untuk masuk Islam tidak hanya satu dua, mereka bahkan sampai perlu menyewa stadion. Sejak peristiwa 9/11, keingintahuan tentang Islam juga meningkat luar biasa sehingga buku-buku keislaman sangat laris,” tandasnya.

“Disana banyak dibutuhkan guru ngaji dengan gaji 3000 dolar Amerika per bulan dengan kerja dari hari Jum’at sampai Minggu. Tapi TOEFL-nya harus 550 karena ngajarnya kan pakai bahasa Inggris,” tuturnya menjelaskan peluang yang terbuka bagi para santri.

Rektor Institut Ilmu Qur’an ini menjelaskan negara-negara Eropa saat ini merasa ketakutan terhadap perkembangan Islam disana. Pertumbuhan penduduk yang cepat dikalangan umat Islam yang tinggal disana dalam jangka panjang bisa mengancam keberadaan orang lokal karena mereka enggan punya anak akibat tanggung jawab yang harus dipikulnya.

PKB Kab Tegal

Islam Indonesia Alternatif Masa Depan

PKB Kab Tegal

Nasaruddin yang juga Guru Besar UIN Jakarta ini menambahkan bahwa Islam di Indonesia saat ini tengah menjadi perhatian dari komunitas internasional. Islam Indonesia selama ini dianggap berbeda dengan Islam dari Timur Tengah yang selama ini selalu mengalami konflik.

“Tugas Islam di Timur Tengah sudah selesai dengan melahirkan Islam, kini tugas Islam di Asia Tenggara untuk mengembangkannya,” imbuhnya.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar didunia, otomatis NU sebagai ormas Islam terbesar juga akan mempengaruhi kondisi Islam di Indonesia. Karena itu, ia berharap agar kalangan pesantren tidak menganggap kecil keberadaan dirinya dan harus sadar bahwa dirinya diperlukan.

“Saat ini banyak diperlukan para imam masjid, bukan sekedar imam, tapi pemimpin komunitas, di Australia karena Islam dari Indonesia dianggap lebih toleran daripada para imam yang berasal dari Timur Tengah,” katanya memberi contoh. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pemurnian Aqidah, Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Pesan Ketum PBNU Saat Serahkan Bantuan untuk Korban Gempa Aceh

Pidie Jaya, PKB Kab Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, warga Pidie Jaya yang terkena dampak bencana gempa bumi adalah warga yang beriman, tabah, dan sabar. Bencana gempa bumi yang melanda beberapa waktu lalu, adalah bukti Allah SWT sedang memilih hamba-Nya.

Kiai Said menyampaikan hal tersebut saat berkunjung ke lokasi pengungsi terdampak gempa Aceh, di Desa Mesjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Rabu (14/12) siang.

Pesan Ketum PBNU Saat Serahkan Bantuan untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Ketum PBNU Saat Serahkan Bantuan untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Ketum PBNU Saat Serahkan Bantuan untuk Korban Gempa Aceh

“Saya yakin, Allah sedang memilih hamba-Nya yang baik-baik, sholeh, yang beriman dan ikhlas di Pidie Jaya,” kata Kiai Said.

Ia juga mengatakan, bencana alam gempa bumi bisa terjadi di mana saja. Aljazair, Turki, Afganistan, adalah beberapa negara yang sering dilanda gempa bumi. Masyarakat di negara-negara tersebut mayoritas beragama Islam.

PKB Kab Tegal

“Dengan adanya gempa bumi, sesungguhnya Allah menunjukkan kebesaran dan kemutlakannya. Apapun dan siapa pun tidak bisa menghalanginya kalau Allah sudah menghendaki terjadinya sesuatu,” kata Kiai Said seraya menambahkan bahwa ranting yang gugur pun adalah atas kehendak Allah.?

Dikatakan pula bahwa warga di ? tempat lain belum tentu bisa setabah dan sesabar warga di Pidie. Ia pun berharap agar warga Pidie tetap optimis, tidak minder, dan tidak putus asa.

Seperti diberitakan sebelumnya, kedatangan Kiai Said adalah untuk memberikan bantuan secara simbolis berupa 1000 paket alat salat dan ? makanan. Selain itu juga bantuan kepada enam masjid dan lembaga pendidikan yang terdampak gempa Aceh senilai masing-masing Rp50.000.000.

PKB Kab Tegal

Kiai Said berkunjung ke Aceh bersama Wakil Rais Aam KH Miftachul Ahyar, Sekjen PBNU Ahamd Helmy Faishal Zaini dan sejumlah pengurus PBNU. Selama di Pidie Jaya, mereka didampingi pengurus NU di Aceh, diantaranya Ketua dan Rais PWNU Aceh serta Ketua PCNU Pidie Jaya, Tengku Marzuki M. Ali. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Santri, RMI NU, Nahdlatul Ulama PKB Kab Tegal

Pelatihan PRB LPBINU Tingkatkan Kapasitas Manajemen Bencana

Jepara, PKB Kab Tegal. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PCNU Jepara bekerja sama dengan PP LPBI NU menyelenggarakan Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Participatory Disaster Risk Assesment (PDRA) bertempat di gedung LPWP Undip Jepara, Kamis-Ahad (15-18/9).?

Kegiatan yang diikuti 40 peserta, 10 dari Kudus dan selebihnya dari Jepara secara resmi dibuka Kamis (15/09/16). Dalam kesempatan pembukaan hadir Ketua PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq, Kusdiyanto Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jepara dan Kabid I BPBD Jawa Tengah Heri Setiawan.?

Pelatihan PRB LPBINU Tingkatkan Kapasitas Manajemen Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan PRB LPBINU Tingkatkan Kapasitas Manajemen Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan PRB LPBINU Tingkatkan Kapasitas Manajemen Bencana

Selama pelatihan peserta menerima materi di antaranya Pandangan dan ajaran Islam tentang bencana, Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten dalam penanggulangan Bencana, Konsep dasar manajemen risiko bencana, Kebijakan dan sistem PB, Daur bencana dan tahapan dalam penyelenggaraan PB. ?

Juga materi tentang Perubahan Iklim, Kajian risiko partisipatif dan pengorganisian komunitas, Kajian Analisis Bencana (Ancaman, Kerentanan, Kapasitas, dan Risiko Bencana) dan Tindakan PRB, Pendekatan Kajian/Analisis Pengurangan Risiko Bencana dengan Metode PDRA (Participatory Disaster Risk Assessment), Praktek Lapangan dan penyusunan data Kajian Risiko Bencana, Penyusunan rencana aksi.?

Asyhadi, Ketua panitia program menyatakan sebelumnya kegiatan serupa juga dilaksanakan di Sekda Jepara belum lama ini. Bedanya, kegiatan itu lebih spesifik pada Pengurangan Risiko Bencana (PRB).?

PKB Kab Tegal

Sehingga peserta yang diajak ialah institusi terkait dengan penanggulangan bencana. Di antaranya LPBI, Banom NU, tokoh masyarakat, LSM perempuan dan anak, LSM kebencanaan, Karang Taruna, pelaku usaha dan lembaga pendidikan.?

“Setelah menerima materi di hari ketiga Sabtu peserta akan praktik langsung di lapangan di desa Sowan Kidul di mana desa ini beberapa waktu yang lalu adalah salah satu lokasi terjadi banjir,” terangnya yang juga Sekretaris LPBI PCNU Jepara.?

Asyhadi menambahkan kegiatan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam manajemen bencana. ? Di samping itu untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang konsep dan pengertian dasar penanggulangan bencana (PB) dan pengurangan risiko bencana (PRB).

“Tujuan kegiatan yang lain untuk meningkatkan kemampuan masyarakat ? dalam menyusun kajian risiko bencana dengan teknik PDRA (Participatory Disaster Risk Assessment). Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyusun rencana aksi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat,” lanjutnya.?

PKB Kab Tegal

Adapun harapannya kata dia agar peserta memiliki pemahaman tentang konsep dan pengertian dasar penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana, mampu menjelaskan upaya Pengurangan Risiko Bencana secara komprehensif.

“Mampu menyusun kajian risiko bencana dengan teknik PDRA (Participatory Disaster Risk Assessment). Memiliki kemampuan dasar dalam menyusun rencana aksi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kajian, Quote, Syariah PKB Kab Tegal