Senin, 20 November 2017

Habis UAS, STISNU Nusantara Ziarahi Wali-wali Banten

Tangerang, PKB Kab Tegal - Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten mentradisikan ziarah kubur ke wali-wali Allah di sekeliling Banten setelah ujian akhir semester (UAS).

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Bidang Akademik STISNU H. Muhamad Qustulani kepada nu.online. "Alhamdulillah, UAS di STISNU Nusantara telah selesai minggu kemarin. Hari ini (Sabtu, 23/01/2016) kita akan tutup dengan ziarah kubur keliling Banten," katanya.

Habis UAS, STISNU Nusantara Ziarahi Wali-wali Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis UAS, STISNU Nusantara Ziarahi Wali-wali Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis UAS, STISNU Nusantara Ziarahi Wali-wali Banten

Ia menambahkan, ziarah ke Banten sudah lazim di STISNU karena hal tersebut bagian dari ejawantah visi-misi STISNU yang konsisten dalam menjaga tradisi saleh ulama, dalam hal ini Islam dan budaya lokal. ?

PKB Kab Tegal

"Mahasiswa tidak boleh hanya bergulat pada tradisi intelektual, tapi juga harus mengembangkan spritualitas sebagai warisan dan ajaran ulama salafis salih," terangnya.

Ia juga mengabarkan, tidak hanya ziarah, sekira dua minggu ke depan mahasiswa akan ijazah asrar asmaul husna, kemudian mereka berpuasa. “Kami sudah agendakan itu. Harapannya, STISNU menjadi perguruan tinggi yang istiqomah mempertahankan tradisi dan budaya lokal nusantara, tetapi juga mampu bersaing meningkatkan kualitas dan intelektualitas serta spritualitas calon alumninya," ujarnya.

Rustanto, M. Dai, Presiden BEM STISNU Nusantara mengatakan, berpuasa dan ziarah kubur pasca UAS sudah menjadi bagian dari program selama kepengurusan BEM disamping program-program yang menunjang intelektual mahasiswa.

PKB Kab Tegal

"Sesuai agenda, kami akan berziarah ke Maulana Hasanudin, Gunung Santri, Syeikh Asnawi Caringin, Cikaduwen, dan Abuya Dimyathi. Diusahakan penutup ziarah, kita sowan ke Abuya Muhtadi Cadasari Pandegelang. Untuk refreshingnya, mampir ke pantai Anyer sejenak, melepas penat pasca UAS," ujarnya.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa mulai dari semua tingkatan semester. Mmereka didampingi H. Muhamad Qustulani, nuyang juga bertindak sebagai muzawwir (pimpinan ziarah) pada semester ganjil kali ini. (Red.Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Tegal, Nasional, Kiai PKB Kab Tegal

Cegah Radikalisme Harus Ada Bekal Antisipatif

Jombang, PKB Kab Tegal. Radikalisme, hingga kini menjadi perhatian penting bagi warga nahdliyin dalam mengantisipasi massifnya ideologi gerakan tersebut terhadap lapisan umat di tanah air Indonesia ini.

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, KH Isrofil Amar menegaskan bahwa untuk mencegah radikalisme terlebih dahulu harus menganalisa kelemahan serta kelebihan paham tersebut. "Warga NU tak boleh tergesa-gesa dalam mengantisipasi gerakan itu, namun harus memahami terlebih dahulu apa paham radikal dan bagaimana pengaruh paham radikal itu kepada masyarakat," katanya kepada PKB Kab Tegal saat ditemui di kediamannya, Kamis (15/9/2016).

Cegah Radikalisme Harus Ada Bekal Antisipatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Radikalisme Harus Ada Bekal Antisipatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Radikalisme Harus Ada Bekal Antisipatif

Sikap demikian menurut Kiai Isrofil akan lebih tepat sasaran daripada harus tergesa-gesa menyikapi gerakan tersebut tanpa ada bekal khusus dalam merumuskan sikap penolakan atau antisipatif makarnya radikalisme. "Masyarakat harus diajak pro aktif dan satu pemahaman tentang bahaya radikalisme kepada bangsa dan negara," ujar dia.

Penting juga mengetahui sejumlah tokoh paham radikal. Hal ini untuk lebih mewaspadai berbagai pola atau cara mereka dalam mengintervensi masyarakat. "Kalau sudah tahu maka otomatis mengetahui persamaan dan perbedaannya, juga berbagai pola yang diterapkan," lanjutnya.

Salah seorang dosen Unipdu itu menambahkan, setelah masyarakat sudah mengetahui berbagai pola, sejumlah tokoh, juga keunggulan paham radikal itu, maka perlu dipahamkan tentang akidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah. "Kita isi dengan akidah Aswaja, akidah itu tidak hanya ibadah namun juga muamalah dan akhlak, selama ini yang kita pelajari tentang akidah hanya dari sisi ubudiayah saja," tuturnya.

PKB Kab Tegal

Namun demikian perbandingan paham itu hendaknya juga diartikan sebagai media untuk membangun kekuatan di tubuh NU, baik secara struktural juga sisi kulturalnya. "Tapi perbandingan aliran itu perlu untuk kita, agar NU lebih kuat, orang NU harus tahu aliran-aliran yang lain," tandasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Aswaja PKB Kab Tegal

Penanggulangan Bencana Tanggung Jawab Bersama

Jepara, PKB Kab Tegal. Penanggulangan bencana tidak hanya menjadi urusan satu kelompok saja, tetapi badan usaha sekalipun kudu bertanggung jawab ketika bencana terjadi.?

Penanggulangan Bencana Tanggung Jawab Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Penanggulangan Bencana Tanggung Jawab Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Penanggulangan Bencana Tanggung Jawab Bersama

Pernyataan itu dilontarkan M. Ali Yusuf, Ketua Pimpinan Pusat ? Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) saat menyampaikan sambutan dalam Workshop Pengurangan Resiko Bencana (PRB) yang diadakan LPBI PCNU Jepara di Pringgitan Pendopo Jepara, Kamis (21/7).?

Karena itu dibutuhkan silaturrahim antar lembaga kebencanaan. Kegiatan yang berlangsung sehari itu hasil kerjasama LPBI PCNU dengan PP LPBI NU. Usai workshop kegiatan ditindaklanjuti selama 2 tahun, hingga Mei 2017 mendatang.?

“Sehingga akan banyak kegiatan tentang kebencanaan yang dilakukan di Jepara,” katanya.?

Hal senada disampaikan Adib Khoiruz Zaman. Wakil Ketua PCNU Jepara itu menyampaikan workshop merupakan kegiatan yang langka. Sebab biasanya soal kebencanaan maka yang hadir adalah relawan.?

PKB Kab Tegal

“Momen ini kami mengajak stake holder untuk sama-sama berbicara kebencanaan. Bencana adalah tanggung jawab bersama. Semua stake holder yang ada harus dilibatkan,” tambah lelaki yang kerap disapa Gus Adib ini.?

Ia menambahkan selain stakeholder masyarat juga perlu dilibatkan dalam antisipasi dan penanggulangan bencana. Lewat workshop bisa menggugah banyak pemikiran dan yang belum terpikirkan soal kebencanaan.?

“Selama ini ada euforia jika ada bencana maka semuanya turun. Tapi antisipasi dan rehabilitasi jarang terpikirkan,” tandasnya.?

Dalam workshop puluhan peserta menerima materi Penanggulangan Bencana di Jawa Tengah, Konsep dan Strategi Pengurangan Risiko Bencana dan Penguatan Kapasitas Pemangku Kepentingan dalam Pengurangan Risiko Bencana. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ubudiyah, Pahlawan, Daerah PKB Kab Tegal

Minggu, 19 November 2017

Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran

Subang, PKB Kab Tegal. Salah satu kegiatan tahunan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami Al-Huda, Pungangan, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat adalah ngabuburit yang diisi dengan ngaji pasaran untuk para orangtua dan pemuda.

Tahun ini, kitab yang dikaji dalam pengajian yang digelar bada ashar ini adalah Kitab Risalah al-Muawanah wal Mudzoharoh wal Muazaroh karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, adapun yang didaulat sebagai pembaca kitab adalah Kiai Adang Kosasih, Rais MWCNU Patokbeusi yang juga pengasuh pesantren Al-Huda.

Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran

"Biasanya yang ngawuruk (ngajar-red) ngaji itu ketua MWCNU, cuma beliau belum sembuh total dari sakitnya jadi diputuskan yang ngajinya Rais syuriyah, insya Allah pengajian ditutup pada H-3," kata Dedi Setiawan, salah seorang peserta pengajian yang juga Ketua Irmada (Ikatan Remaja Masjid Al-Huda) ini, Kamis (25/6).

PKB Kab Tegal

Dedi menambahkan, kegiatan ini sekaligus untuk mengakomodir kalangan bapak-bapak dan para  pemuda setempat yang masih haus akan ilmu agama Islam.

"Yang ikut ngaji tidak menentu tapi biasanya 30 sampai 50 orang,  Bapak-bapak disini usianya boleh tua, tapi semangat ngajinya tetap muda," tambahnya

PKB Kab Tegal

Pantauan PKB Kab Tegal, peserta pengajian itu didominasi oleh kalangan orangtua, sebagian peserta ada yang membawa kitab dan meloghatnya, sebagian lagi hanya jiping (ngaji kuping) yaitu peserta pengajian yang tidak membawa kitab dan hanya mendengarkan materi pengajian. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Meme Islam, Sejarah, AlaSantri PKB Kab Tegal

Tiga Hal Rapuhnya Konsep Khilafah

Jakarta, PKB Kab Tegal. Pada 19 Juli 2017 lalu, pemerintah secara resmi telah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melalui Perppu No 2 tahun 2017 tentang Ormas dan mencabut badan hukumnya karena terbukti berupaya merongrong dasar negara dan anti-Pancasila. Khilafah sebagai sistem politik yang diusung HTI menjadi polemik, ada yang pro, tidak sedikit pula yang kontra.

Tiga Hal  Rapuhnya Konsep Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hal Rapuhnya Konsep Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hal Rapuhnya Konsep Khilafah

Muhammad Sofi Mubarok mengurai tiga hal kerapuhan konsep khilafah pada diskusi yang digelar pada Rabu (9/8), di aula Gedung Joang, Menteng, Jakarta. Pertama, konstruk normatifnya.

 

Al-Qur’an dan hadis mengurai banyak varian sistem, tidak hanya satu. Jika dilihat dari maqashid-nya, Indonesia sudah sangat sesuai. Indonesia mengatur urusan keagamaan, semisal haji dan zakat. Agama tidak pernah mengkritik sistem, tetapi implikasinya.

“Kalau berbicara implikasi, berarti berbicara orangnya. Kenapa kita tidak mengkritik orangnya?” tegasnya. Kedua, sosio-kultural. Dalil khilafah sudah tidak inheren dengan kondisi Indonesia sekarang.

PKB Kab Tegal

“Konteks dalil-dalil khilafah yang sudah dijelaskan oleh HTI sesungguhnya tidak inheren dengan Indonesia saat ini,” ujar penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah itu.

Ketiga, sejarah. Yang dipraktikkan oleh orang masa lalu itu sangat dinamis. Sofi mencontohkan bahwa Nabi pernah kedatangan orang tua yang melaporkan bahwa dirinya melakukan hubungan suami istri di siang hari saat bulan puasa. Nabi pun memintanya untuk berpuasa dua bulan berturut-turut.

 

PKB Kab Tegal

Tetapi orang tua itu pun menjawab, bahwa dirinya sudah tidak lagi kuat berpuasa. Kemudian Nabi memintanya untuk bersedekah ke 60 orang miskin. Ia pun menjawab lagi, bagaimana mau sedekah, sementara ia sendiri juga miskin.

Akhirnya Nabi memberinya makanan yang harus ia bagikan ke 60 orang miskin tersebut di daerahnya. Ia masih juga menjawab, bahwa ia adalah orang paling miskin di daerahnya. Tetangganya adalah orang-orang kaya. Nabi pun meminta pada orang tua tersebut untuk membagi makanan tersebut ke anak dan istrinya.

Hal tersebut menunjukkan betapa dinamisnya Rasulullah SAW dalam menetapkan hukum. Tidak bisa terbayangkan bagaimana sistem syariat itu dibakukan.

“Bagaimana jika Indonesia menetapkan Alquran dan hadis sebagai konstitusi? Kekhawatirannya, mengutip Arroisuni, bahwa orang yang bukan mukallaf jadi terkena taklif,” kata kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Sementara itu, penulis buku Khilafah dalam Timbangan, Ainur Rofiq Al-Amin mengatakan, bahwa khilafah merupakan hasil ijtihad. Hal tersebut menunjukkan bahwa, khilafah tidak bisa dianggap sebagai suatu hal yang paling benar.

 

Sebab ijtihad bisa benar, bisa salah. terlebih dalam kitab al-Asybah wa al-Nadhair, Ainur Rofiq mengutip, terdapat kaidah al-ijtihad laa yunqadlu bi al-ijtihad, bahwa ijtihad tidak dapat membatalkan ijtihad lainnya.

“NKRI sebagai ijtihad para ulama tidak bisa digugurkan dengan ide dar  al-Islam Kartosurwiryo ataupun ide khilafah,” ujar dosen UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. (Syakirnf/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Syariah, Nasional PKB Kab Tegal

Hukum Aqiqah dengan Sapi

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail PKB Kab Tegal yang kami hormati. Sebelumnya mohon maaf apabila pertanyaan kami tidak berkenan di hati. Kami hendak menanyakan hal yang terkait dengan aqiqah. Kebiasaan yang berlaku aqiqah itu dengan kambing sebagaimana yang kami ketahui selama ini.

Hukum Aqiqah dengan Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Aqiqah dengan Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Aqiqah dengan Sapi

Yang ingin kami tanyakan bolehkah aqiqah dengan sapi? Yang kedua, jika boleh apakah satu sapi bisa untuk aqiqah tujuh anak? Bolehkah menyembelih sapi dengan niat aqiqah sebagian orang dan niat qurban sebagian lainnya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Fajri/Pemalang)

Jawaban

PKB Kab Tegal

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. aqiqah memang masalah yang tak akan lekang oleh waktu. Ia selalu berkait-kelindan dengan kelahiran anak. Sepanjang masih ada kelahiran seorang anak manusia, selama itu pula aqiqah akan tetap melekat dan tak terpisahkan.

PKB Kab Tegal

Ajaran tentang aqiqah sudah sangat terang-benderang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Dalam salah satu sabdanya beliau mengatakan, bahwa seorang bayi itu tergadakan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan dicukur rambutnya dan diberi nama.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seorang bayi itu tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur rambutnya, dan diberi nama,” (HR Tirmidzi).

Pesan penting yang ingin dikatakan dalam hadits tersebut adalah anjuran untuk mempublikasikan kebahagian, kenikmatan, dan nasab. Dengan demikian aqiqah adalah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah dan manifestasi rasa syukur kepada-Nya atas karunia yang telah dilimpahkan.

Sudah jamak diketahui bahwa aqiqah jika bayi yang lahir adalah laki-laki adalah disunahkan dengan menyembelih dua ekor kambing. Sedang apabila perempuan disunahkan dengan menyembelih seekor kambing. Tentunya dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam masalah ini.

Sampai di titik ini sebenarnya tidak ada persoalan serius. Namun persoalan kemudian muncul jika pihak yang mempunyai anak ingin mengganti aqiqah berupa kambing dengan hewan lain, sapi misalnya. Di sini kemudian muncul pertanyaan, bagaimana hukumnya aqiqah dengan sapi? Lantas, apakah sapi bisa dibuat aqiqah untuk tujuh orang bayi?

Untuk menjawab hal ini ada baiknya kita tengok keterangan dalam kitab Kifayatul Akhyar. Dalam kitab ini dikatakan bahwa menurut pendapat yang paling sahih (al-ashshah) aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing (al-ghanam). Namun pendapat lain menyatakan, yang paling utama adalah aqiqah dengan kambing sesuai bunyi hadits yang ada (li zhahiris sunah).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut pendapat yang paling sahih, aqiqah dengan unta gemuk (al-badanah) atau sapi lebih utama dibanding aqiqah dengan kambing. Namun dalam pendapat lain dikatakan bahwa aqiqah dengan kambing lebih utama, yang saya maksudkan adalah dengan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan, karena sesuai dengan bunyi sunah,” (Lihat Taqiyuddin Al-Hushni, Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar, Beirut, Darl Fikr, halaman 535).

Jika kita cermati penjelasan dalam kitab Kifayatul Akhyar itu, dengan jelas mengandaikan kebolehan beraqiqah dengan unta atau sapi. Bahkan dengan sangat gamblang dikatakan di situ, bahwa pendapat yang lebih sahih adalah yang menyatakan bahwa beraqiqah dengan unta atau sapi lebih utama dibanding dengan kambing.

Selanjutnya menanggapi pertanyaan kedua mengenai soal sapi yang dijadikan aqiqah untuk tujuh anak, apakah boleh? Dalam konteks ini diperbolehkan, bahkan jika ada beberapa pihak dengan niat yang berbeda sekalipun.

Misalnya ada tujuh orang yang patungan membeli sapi, dari ketujuh orang tersebut yang tiga berniat untuk aqiqah, sedang yang lainnya berniat untuk berkurban, atau hanya sekedar mengambil dagingnya untuk dimakan ramai-ramai atau mayoran.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jika seseorang menyembelih sapi atau unta yang gemuk untuk tujuh anak atau adanya keterlibatan (isytirak) sekelompok? orang dalam hal sapi atau unta tersebut maka boleh, baik semua maupun sebagian dari mereka berniat untuk aqiqah sementara sebagian yang lain berniat untuk mengambil dagingnya untuk pesta (makan besar/mayoran),” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz VIII, halaman 409).

Bagi orang tua yang anaknya belum diaqiqahi dan sudah memiliki rezeki yang lapang, sebaiknya segera diaqiqahi.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pahlawan, Kajian PKB Kab Tegal

Rais Aam PBNU Sambut Kirab Resolusi Jihad di Banten

Serang, PKB Kab Tegal. Perjalanan Kirab Resolusi Jihad NU 2016 memasuki Kabupaten Serang, Banten, Jumat (21/10) siang. Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang menjadi salah satu tempat tujuan kirab.

Pengasuh Pesantren An-Nawawi yang juga Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin mengatakan kegiatan kirab yang merupakan salah satu bentuk peringatan Hari Santri Nasional 2016, menunjukkan pengakuan bahwa santri juga berperan dalam membela, mempertahankan serta menjaga NKRI.

Rais Aam PBNU Sambut Kirab Resolusi Jihad di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Sambut Kirab Resolusi Jihad di Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Sambut Kirab Resolusi Jihad di Banten

Kewajiban membela negara kiranya wajar, karena para santri selain diajari oleh para ulama dengan pengetahuan dan ilmu agama, juga dididik menjadi Al-Mujahidin, yakni pejuang dalam membela negara dan agama. Oleh karena itu, membela negara adalah bagian dari iman (hubbul wathoni minal iman).

Selanjutnya, Kiai Maruf menyampaikan jihad di Indonesia saat ini bukan dalam bentuk peperangan dengan senjata fisik, berbeda dengan jihad merebut dan mempertahankan kemerdekaan tahun 1945.?

PKB Kab Tegal

“Jihad (perjuangan) pada masa sekarang adalah perbaikan-perbaikan dalam menjaga umat dari akidah menyimpang, dan menjaga negara dari kelompok radikal,” ujar Kiai Ma’ruf.

Menurutnya, salah satu radikalisme adalah sekuler. Pemahaman sekuler ini dapat menghilangkan nilai agama dari tata hidup dan jiwa kita. Hal itu pernah juga dikhawatirkan oleh KH Hasyim Asyari. Selain itu, pemahaman fundamentalisme juga menjadi akar radikalisme sehingga sikap moderat (wasathiyah) ala NU harus terus diteguhkan.

PKB Kab Tegal

Jangan sampai jiwa keagamaan mati dari diri dan hidup kita. Dalam upaya itu, kaum santri wajib belajar mempertahankan negara, sesuai dengan kondisi kekinian. Santri dapat berperan dalam berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Budaya PKB Kab Tegal