Senin, 30 Oktober 2017

Prihatin Kekerasan Anak, Khofifah Dorong Para Ibu Aktif Ngaji

Jepara, PKB Kab Tegal. Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa prihatin kasus pornografi yang merebak di bangsa ini. Salah satu penyebab dari laku pornografi ialah banyaknya foto, tulisan maupun video yang tidak senonoh yang di upaload di internet. Khofifah mengungkapkan bangsa Indonesia mencapai 70 % di seluruh dunia sebagai pemasang hal-hal yang tidak senonoh itu di internet.

Prihatin Kekerasan Anak, Khofifah Dorong Para Ibu Aktif Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Kekerasan Anak, Khofifah Dorong Para Ibu Aktif Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Kekerasan Anak, Khofifah Dorong Para Ibu Aktif Ngaji

Tidak hanya pornografi yang merebak. Kekerasan anak di sekolah maupun di rumah tangga menjadi sejumlah rentenan masalah yang di hadapi.

Karena itu, Khofifah yang juga menjabat Menteri Sosial (Mensos) itu mengajak orang tua yang sementara tidak aktif di organisasi untuk bareng-bareng ngaji dengan Muslimat. Untuk bareng-bareng istighotsah bareng Muslimat.

PKB Kab Tegal

“Ayo ngaji bareng-bareng Muslimat!” seru perempuan kelahiran Surabaya 1965 ini dalam Pelantikan Pengurus PC Muslimat NU Jepara berlangsung di Pendopo Kabupaten Jepara, Ahad (22/11) siang.

Seruan yang disampaikannnya itu bukan tanpa sebab. Informasi yang ia sitir dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), terkadang ibu kandung yang melakukan tindak kekerasan terhadap anak disebabkan karena faktor depresi dan setres.

PKB Kab Tegal

“Sehingga ini menjadi PR kita bersama. Kita membaca burdah dan qur’an tambah seneng apa tambah susah?” tanya Khofifah yang serentak dijawab “tambah senang” oleh ratusan kader Muslimat yang hadir.

Khofifah juga menyitir sebuah ayat, ala bidzikrillahi tathmainnul qulub. Meski kita tidak mampu membantu masalah saudara-saudara kita. Misalnya urusan utang-piutang, tambahnya, tetapi lewat spiritual harapannya bisa meringankan beban mereka.

Khofifah menambahkan dalam rangka membentengi kefakiran ia mengajak Muslimat untuk jihad bil maal. Agar ibu-ibu Muslimat tidak terlilit utang dengan meminjam rentenir, maka Muslimat perlu menguatkan sisi perekonomian. Jika jihad bil maal beres, jihad bil hal (tindakan) dan jihad bil lisan (ucapan) juga akan berjalan dengan baik.

Tugas berat

Di tangan perempuan, Muslimat NU mengemban tugas yang berat. Hal itu diutarakan KH Ubaidillah Noor Umar, Rais Syuriah PCNU Jepara, yang juga hadir dalam kesempatan tersebut. Dia berkata, almar’atu imadul bilad. Perempuan tiyang negara.

“Jika perempuan “reyot” maka negara gampang roboh,” terang Rais Syuriyah yang terpilih saat Konfercab Ke-31 PCNU Jepara baru-baru ini.

Ketua Muslimat NU Jepara, H Noor Aini dalam sambutannya perlu sinergi antara Muslimat dan stake holder sehingga menjadi organisasi amanah, berkualitas, dan cerdas serta mempunyai visi dan misi mengembangakan sayap NU.

Selama ini, dijelaskan Noor Aini Muslimat NU Jepara sudah berkiprah di berbagai bidang. Mulai advokasi, ekonomi, pendidikan, dan sosial serta masih banyak bidang lain.

Dalam kesempatan itu Hj Ismawati, Ketua PW Muslimat NU Jawa Tengah didaulat melantik pengurus PC Muslimat NU Jepara masa khidmah 2015-2020. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Doa, RMI NU PKB Kab Tegal

Minggu, 29 Oktober 2017

Pengurus NU Se-Sidoarjo Ziarahi Makam Pejuang NU

Sidoarjo, PKB Kab Tegal - Agar pelaksanaan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo berjalan lancar, sejumlah pengurus PCNU, lembaga, banom dan pengurus MWCNU se-Sidoarjo menziarahi makam pendiri dan masyayikh NU Sidoarjo, Ahad (9/10). Ziarah kubur ini merupakan serangkaian acara prakonfercab NU Sidoarjo ke-20.

Ketua panitia acara M Qosim Wirai menyatakan, selain mengenalkan para pejuang NU terdahulu khususnya yang ada di Sidoarjo, pihaknya juga ingin mengingatkan kembali masa perjuangan NU yang dibawa oleh para kiai dari Sidoarjo.

Pengurus NU Se-Sidoarjo Ziarahi Makam Pejuang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Se-Sidoarjo Ziarahi Makam Pejuang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Se-Sidoarjo Ziarahi Makam Pejuang NU

"Selain meminta restu untuk kesuksesan dan kelancaran Konferensi Cabang NU Sidoarjo, kami ingin menyusuri dan mengenalkan kepada seluruh pengurus NU siapa para pejuang NU dahulu," kata pria yang juga Ketua LDNU Sidoarjo ini.

Senada juga dikatakan Ketua PCNU Sidoarjo, KH Abdi Manaf, melalui ziarah kubur ke sejumlah ulama, kiai dan masyayikh di Sidoarjo diharapkan masa depan atau langkah NU Sidoarjo ke depan bisa lebih baik.

PKB Kab Tegal

Adapun makam yang diziarahi sejumlah pengurus PCNU, lembaga, banom dan pengurus MWCNU se-Sidoarjo yakni makam masyayikh di Desa Siwalanpanji tempat KH M Hasyim Asyari menimba ilmu, makam KH Ali Masud Pagerwojo Buduran, makam KH Hamzah, KH Imron Hamzah, dan Mbah Raden Ali di daerah Ngelom Sepanjang.

Setelah itu ke makam pendiri Yayasan Pendidikan dan Sosial Maarif KH M Hasyim Latif, makam KH Aruqot dan KH Siraj Kholil di Desa Kedungcangkring Jabon, makam KH Fadlil Desa Keboguyang dan terakhir ke makam Pendiri Pesantren Mambaul Hikam KH Khozin Mansyur. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Khutbah, AlaSantri PKB Kab Tegal

NU dan Kebangkitan Pemuda

Oleh Imam Nahrawi

Nahdlatul Ulama telah memasuki umur ke-91 pada 31 Januari 2017. Sebuah usia yang cukup sepuh dan tentu menyimpan banyak pengalaman dalam bentang perjuangan bangsa Indonesia selama ini. Sebagai ormas terbesar NU terbukti sudah memainkan peran-peran penting dalam usaha mewujudkan kedaulatan dan keutuhan negeri ini.

NU dan Kebangkitan Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Kebangkitan Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Kebangkitan Pemuda

Jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1916, KH Abdul Wahab Chasbullah bersama kiai-kiai lain mempelopori berdirinya Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air). Kala itu, salah satu pendiri NU yang dua tahun pulang dari Makkah ini tak tega menyaksikan bangsanya dijajah.

Pergerakan tersebut lalu ia topang dengan hadirnya organisasi baru bernama Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para saudagar) pada tahun 1918, yang menjadi basis gerakan perekonomian rakyat. Kiai Wahab menjadi sekretaris sekaligus bendaharanya. KH Hasyim Asy’ari memimpin gerakan ini dengan salah satu anggotanya KH Bisri Syansuri. Menyusul kemudian terbentuk Taswirul Afkar (konseptualisasi pemikiran), sebuah forum kajian keagamaan dan kebangsaan yang menyoroti isu-isu krusial dalam konteks itu.

PKB Kab Tegal

Melalui organisasi-organisasi tersebut para ulama Nusantara mengupayakan berbagai pemecahan masalah bangsanya yang tengah dicengkeram kolonialisme. Dalam suasana penjajahan yang menyengsarakan, langkah-langkah ini tergolong berani dan visioner. Para kiai bergerak dengan risiko akan berhadapan dengan para penjajah.

PKB Kab Tegal

Yang kerap terlupakan adalah para kiai itu berjuang dalam usia yang relatif sangat muda. Kiai Wahab yang lahir pada 31 Maret 1888 membentuk Nahdlatul Wathan saat masih berumur 26 tahun. Ketika itu Kiai Bisri menginjak usia 27 tahun, sedangkan Kiai Hasyim 41 tahun. Nahdlatul Wathan pun menjadi wahana penggembelengan kesadaraan cinta tanah air yang digerakkan para pemuda dan diperuntukkan bagi para pemuda pula.

Fakta tersebut sekadar contoh betapa atmosfir perjuangan bangsa Indonesia sangat diwarnai oleh jiwa-jiwa muda. Tampilnya para kiai muda pendiri Nahdlatul Ulama itu membantah bahwa NU selalu identik dengan kaum tua, sebagaimana persepsi masyarakat yang jamak kita temui. Kita mendapati mereka sebagai kiai sepuh yang mengendalikan NU ketika organisasi keagamaan terbesar ini sudah mapan belakangan.



Spirit Kaum Muda


Kaum muda sering dipandang spesial setidaknya karena dua hal. Pertama, kekuatan. Pemuda dinilai memiliki energi lebih dibanding kaum tua yang secara alami pasti mengalami penurunan kondisi fisik. Pemuda kerap diasosiasikan dengan kelincahan, kesegaran, dan semangat yang menyalah-nyala.

Kedua, progresivitas. Jiwa perubahan umumnya mengalir dalam darah muda. Karenanya tak heran jika mereka kerap diandaikan mampu menjadi agen sosial yang bisa diandalkan untuk melakukan transformasi ke arah yang lebih baik.

Keistimewaan para pendahulu kita adalah mampu mengaktualisasikan potensi kepemudaan mereka untuk kepentingan publik. Mereka bukan orang-orang picik. Kemampuan untuk membaca persoalan dan momobilisasi masa tidak mereka gunakan untuk kepentingan diri sendiri maupun golongan, melainkan bangsa dan negara secara umum.

Kiprah kiai muda Abdul Wahid Hasyim juga bisa menjadi contoh. Beliau tak hanya menyumbangkan pikiran-pikiran penting saat mewakili umat Islam pada sidang BPUPKI dan PPKI, tapi juga sanggup menahan egoismenya dalam forum perumusan dasar negara itu. Di tengah derasnya aspirasi untuk menegakkan negara teokrasi, Kiai Wahid secara ikhlas menerima Pancasila sebagai ideologi final Republik Indonesia.

Andai saja Kiai Wahid ketika itu ngotot menuruti kemauan mendirikan negara berideologi Islam, mungkin hingga kini bangsa kita yang bineka ini masih terpecah-pecah. Kiai Wahid adalah tokoh kharismatik dan sangat representatif bagi umat Islam. Sejak usia 24 tahun ia aktif di MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam pada zaman Belanda. Dan mengetuai organisasi ini ketika berubah nama menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada masa pendudukan Jepang.

Pada titik ini, terang sekali bahwa darah muda para kiai NU memberi kontribusi dominan bagi kelahiran dan pertumbuhan negara ini. Kita bisa menyebutnya semangat nahdlatus subban (kebangkitan kaum muda) selain juga nahdlatul ‘ulama (kebangkitan ulama). Teladan positif inilah yang seyogianya dihayati para generasi muda sekarang. Bentuk perjuangan era kini bisa sangat lain, tapi spiritnya tentu tetap sama: membangun kemaslahatan bersama.

Penulis adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Republik IndonesiaDari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Hadits, Olahraga, Cerita PKB Kab Tegal

“Risalah” Edisi Terbaru Bahas Peran NU Tangkal Radikalisme

Jakarta, PKB Kab Tegal

Majalah Risalah NU terbaru Edisi 58 tahun 2016 membahas peran NU selama ini dalam menangkal dan memerangi radikalisme dan terorisme. Selain kasus teror nasional, majalah dibawah naungan LTN PBNU ini juga mengupas berbagai aksi terorisme internasional.

Pemimpin Redaksi Majalah Risalah NU, Musthafa Helmy dalam pengantar redaksinya mengatakan, pergeseran masyarakat Indonesia berubah tajam dalam menyikapi aksi teror dewasa ini.

“Risalah” Edisi Terbaru Bahas Peran NU Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
“Risalah” Edisi Terbaru Bahas Peran NU Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

“Risalah” Edisi Terbaru Bahas Peran NU Tangkal Radikalisme

Dia menjelaskan, kasus teror di Paris membuat semua warga Prancis dan Eropa pada umumnya ketakutan. Mereka berlari, menutup toko, dan lain-lain. Sedangkan untuk kasus teror bom di Jl Thamrin Jakarta Pusat, masyarakat justru mendekat ketika terjadi dentuman bom dan baku tembak.

“Kejadian ini seperti semacam syuting sinteron aja. Polisi langsung olah TKP. Besoknya, aktivitas kembali normal seperti biasa. Bahkan masyarakat Indonesia membuat gerakan tidak takut pada teroris. Kondisi ini tidak disadari para teroris yang menginginkan Jakarta kelabu,” tulis Helmy.

Selain topik utama tentang gerakan radikal dan terorisme, majalah ini juga seperti biasa menyuguhkan tulisan dan informasi yang layak dibaca oleh publik. Seperti tulisan Gus Dur tentang terorisme dna ulasan tentang perilaku jahat (teror) dalam perspektif Psikologi Islam yang rutin diasuh oleh Guru Besar Psikologi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Mubarok.

PKB Kab Tegal

Selain itu, pengajian Kiai Said, Ketum PBNU juga siap menambah wawasan pembaca dengan membahas persoalan maulid secara mendalam. Dalam rubrik Fikrah, tulisan Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi juga layak disimak dengan mengulas seputar ibadah haji dengan berbagai problematikanya.

Selain tulisan-tulisan di atas, Kajian Tafsir yang diasuh oleh Mudir Madrasatul Qur’an Pesantren Tebuireng Jombang KH Mustain Syafi’i juga perlu disimak mengenai kisah Ashabul Kahfi yang terkurung di dalam gua selama 309 tahun. Kemudian, resensi tentang buku ‘Sejarah Islam Nusantara’ karya Michael Laffan yang ditulis Munawir Aziz juga penting untuk dibaca karena menyoroti peran Snouck Hurgronje dalam lipatan Islam Nusantara.

Di bagian akhir, ulasan tentang profil Ketua LTN PBNU, H Juri Ardiantoro akan menemani pembaca untuk memahami peran media di era digital seperti sekarang. Di dalam ulasan tersebut, Juri pria kelahiran Brebes, 6 April 1973 itu mendorong media untuk bahu-membahu menangkal gerakan radikalisme di dunia maya. (Fathoni)?

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kiai, Ubudiyah, Budaya PKB Kab Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

Ramadhan, Siswa Digembleng Ilmu Agama dan Akhlaq

Probolinggo, PKB Kab Tegal - Dinas pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Pesantren Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan. Selama 3 (tiga) hari mulai 15 hingga 17 Juni 2016, pesantren ini menjadi lokasi pelaksanaan Pondok Ramadhan Terpadu 1437 H.

Pondok Ramadhan Terpadu ini diikuti oleh 200 orang siswa dari sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK se-Kabupaten Probolinggo. Selama tiga hari tersebut, mereka diasramakan dan mendapat fasilitas makan minum untuk sahur dan buka puasa serta perlengkapan sholat.

Ramadhan, Siswa Digembleng Ilmu Agama dan Akhlaq (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Siswa Digembleng Ilmu Agama dan Akhlaq (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Siswa Digembleng Ilmu Agama dan Akhlaq

Rabu (15/6) sore, Pondok Ramadhan 1437 H ini dibuka oleh Bupati Probolinggo yang juga Ketua Dewan Penasehat Muslimat NU Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari. Pembukaan ini dihadiri oleh A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin, Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i dan sejumlah pejabat Pemkab Probolinggo.

Kepala Dispendik Probolinggo H Tutug Edi Utomo mengatakan Pondok Ramadhan Terpadu ini bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan masyarakat sekolah selama bulan suci Ramadhan.

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal

“Serta tali-temali antara proses dan hasil belajar dengan penilaian spiritual dan sosial peserta didik yang dilakukan oleh guru. Di samping juga sebagai wisata rohani dan wisata pendidikan di Pondok Pesantren Hati,” katanya.

Sementara Bupati Probolinggo Hj P Tantriana Sari mengungkapkan bahwa dalam Pondok Ramadhan Terpadu ini para siswa tidak hanya akan diberi materi agama dan mengaji saja, tapi juga ada narasumber dari unsur kepolisian yang akan menyampaikan tentang hukum dan kasus yang ditangani Polres Probolinggo.

“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat. Setelah selesai, apa yang didapat harus dibawa dan bagikan pada teman dan lingkungannya. Sebab kalian wajib menjadi agen-agen perubahan, khususnya yang berkaitan dengan kepemudaan,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ulama, Kyai PKB Kab Tegal

Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern

Dalam urusan tata kelola, Pesantren Al-Hamidiyah di daerah Sawangan Depok layak menjadi rujukan. Prinsip-prinsip manajemen modern dengan basis fungsi dan kompetensi diterapkan dengan baik. Dengan prinsip ini, pengasuh pesantren pun bukan berasal dari keluarga pendiri pesantren, tetapi merupakan orang lain yang benar-benar memiliki kompetensi dalam bidang agama dan pengelolaan pendidikan. Prinsip yang digunakan ini bagaikan sistem yang berlaku di perusahaan dimana CEO-nya tak harus selalu pemegang saham utama, tetapi bisa diserahkan kepada manajer yang kompeten.

Pesantren ini didirikan oleh KH Ahmad Saichu pada tahun 1988. Setelah ia meninggal pada 1995, kepemimpinan pesantren diserahkan pada KH Ali Mustofa Ya’kub, kemudian digantikan oleh KH Hamdan Rasyid, dan sejak tahun 1999 pengasuh pesantren diserahkan pada KH Zainuddin Maksum Ali. Tidak ada periodesasi pengasuh pesantren, mereka hanya mendapat SK pengangkatan. Selama pengasuhnya masih bersedia, tak akan ada penggantian. Seluruh unit pendidikan pesantren dikelola dibawah Yayasan Islam Al-Hamidiyah yang kini dipimpin oleh Imam Susanto Saichu, putra kia Saichu yang menjadi ahli bedak plastik di RSCM.

Pesantren Al-Hamidiyah didirikan oleh KH Ahmad Syaichu pada 17 Juli 1988. Pada awalnya hanya dibuka pendaftaran untuk pelajar Tsanawiyah yang waktu itu langsung penuh. Bahkan di tahun selanjutnya, sebagian santri harus tinggal di masyarakat sekitar pesantren karena asrama memang sudah tidak bisa menampung seluruh santri. Selanjutnya, seiring dengan perkembangan waktu, dikembangkan unit lainnya mulai dari TK, TPQ, dan STAI. Pada tahun 2000-an ini dikembangkan SDIT dan SMP. 

Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern

M Timmi Fauzan, humas Pesantren Al-Hamidiyah menjelaskan, dalam hal ini, keluarga KH Saichu membantu mengawasi jalannya pesantren dalam Dewan Pengasuh. Di Al-Hamidiyah, beberapa fungsi penting dipisah, seperti ada bidang SDM yang menangani kepegawaian, gaji, dan lainnya. Ada pula bidang pendidikan dan pengajaran yang mengelola berbagai hal terkait bidang tersebut, dan bidang keuangan. Di luar itu, ada lagi struktur pesantren, sekolah dan lainnya. 

PKB Kab Tegal

“Keluarga Kiai Saichu sudah memiliki planning soal itu. Beberapa pesantren, ketika pengasuhnya wafat, ada yang suka goyah. Alhamdulillah di sini tidak, manajemennya dibagi rata,” tuturnya. 

PKB Kab Tegal

Pembagian peran ini membuat transisi kepemimpinan bisa berlangsung dengan mulus jika satu orang yang bertugas berhalangan. Pada pesantren tradisional dengan kiai yang mengatur segalanya, mulai dari SDM-nya, keuangannya, dan lainnya, saat sosok tunggalnya wafat, proses transisi yang tidak mulus bisa menyebabkan eksistensi pesantren menjadi goyah sebagaimana banyak terjadi di beberapa pesantren. 

Kini, antara yang mendaftar dan yang diterima bisa berbanding 2:1. Jumlah santri hanya dibatasi sesuai dengan kapasitas asrama, yaitu 300 putra dan 300 putri. Sementara santri non-mukim sekitar 1200. Tingkat kenyamanan santri juga terus ditingkatkan. Pada awal berdirinya, santri tinggal di asrama hanya beralaskan tikar, tetapi kini sudah tidur di ranjang. Kapasitas santri per kamar juga semakin dikurangi. Awalnya satu kamar dihuni 24 santri, kemudian dikurangi menjadi 21, lalu menjadi 18, dan saat ini 16 santri. Timmi Fauzan menuturkan, pengelola pesantren menargetkan ke depan per kamar hanya dihuni 14 santri.  

“Yayasan berkeinginan, semakin ke sini, harus semakin nyaman,” paparnya. 

Pesantren ini juga dikenal sangat menjaga kebersihan. Ia menjelaskan, pengelolaan kebersihan diserahkan kepada tenaga outsourcing. Santri hanya bertugas menjaga kebersihan di kamarnya masing-masing.  

Untuk biaya, santri dikenakan biaya sebesar 1.450.000 per bulan untuk siswa Tsanawiyah sedangkan untuk siswa Aliyah 1.500.000 yang sudah mencakup seluruh kebutuhan santri di asrama. 

Saat ini, persentase terbesar santri berasal dari Depok dan wilayah terdekat Depok seperti Bogor dan Jakarta Selatan. Dari luar Jawa seperti Jambi dan Papua juga ada, tetapi persentasenya kecil. 

Dengan adanya fasilitas yang nyaman, maka para santri bisa belajar baik. Tak heran banyak santri yang masuk ke universitas negeri favorit seperti UGM, IPB, Unibraw dan lainnya. Bahkan tiga alumni pesantren ini menjadi lulusan terbaik. Ahmad Baihaqi lulus dengan prestasi cum laude di Universitas Diponegoro (2011), Fariz Badiuzzaman lulus cum laude Jurusan Teknik Arsitektur di UGM Yogyakarta (2014), dan Ahmad Bayhaqi, lulus cum laude jurusan Ilmu Kelautan Unibraw (2015). Sengaja nama-nama tersebut dipampang di pintu utama dekat masjid agar bisa menjadi suri tauladan bagi santri lainnya agar memiliki prestasi yang sama atau bahkan melebihi. Dari sejumlah piala yang ada, juga diketahui sejumlah prestasi lain seperti olimpiade matematika, lomba pidato bahasa dan lainnya. Tiga santri MA terbaiknya juga mendapat beasiswa penuh ke Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Bina Antar Budaya.

Sekolah berlangsung dari Senin sampai Jum’at sedangkan hari Sabtu khusus untuk kegiatan kepesantrenan sementara hari Ahad khusus untuk relaksasi atau kunjungan orang tua. Santri diizinkan pulang sebulan sekali. 

Di hari-hari biasa, santri belajar materi kepesantrenan pada malam hari. Kitab-kitab yang dikaji merupakan kitab standar yang diajarkan di pesantren seperti Arbain Nawawi, Bulughul Maram, Akhlak lil Banin/lil Banat, Ushfuriyyah, Nashoihul Ibad, Fathul Qarieb, Alfiyah Ibnu Malik, dan lainnya.

Pesantren memiliki koperasi simpan pinjam untuk guru serta memiliki minimarket yang menyediakan kebutuhan guru dan santri. 

Dengan tata kelola yang baik, pesantren Al-Hamidiyah mampu menjaga visinya untuk menghasilkan generasi penerus yang berprestasi sekaligus religius. Pesantren ini melangkah dengan yakin menjemput masa depan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Anti Hoax, Humor Islam, Syariah PKB Kab Tegal

Pencetak Banyak Hafidzah

Hari itu, langit dan bumi pesantren Babakan-Ciwaringin-Cirebon tiba-tiba ‘basah’. Bukan karena hujan lebat yang menimbulkan genangan banjir, melainkan karena para keluarga, santri, dan masyarakat meneteskan tangis air mata. Salah seorang ulama perempuan yang hafizhah itu wafat meninggalkan semuanya.

Sosok ulama perempuan hafizhah itu tak lain, Nyai Hj Izzah Syathori Fuad Amin, salah seorang pengasuh pesantren Bapenpori (Balai Pendidikan Pondok Putri) al-Istiqomah, putri dari al-Maghfurlah KH Abdullah Syathori (sesepuh pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun), dan istri mendiang KH Fuad Amin (sesepuh pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin). Beliau dipanggil oleh-Nya, 3 September 2013.

Nyai Izzah adalah sosok yang istiqomah dalam mencerdaskan umat, melalui pengajian rutin; pengajian kitab kuning maupun al-Qur’an. Tak mengenal kata lelah dan bosan dalam hal mengajar ngaji kepada para santri maupun masyarakat luas. Ini terbukti, salah satunya saat upacara pemakaman mendiang. Tak seperti biasanya, ribuan orang berjejalan dan sesak memenuhi areal maqbarah Raudlatut Tholibin.

Tak tahu ada berapa kali sesi shalat jenazah saat itu, baik yang berlangsung di pelataran masjid maupun saat sudah dimakamkan. Saya begitu yakin, ini karomah dan keistimewaan dari seorang hamba yang begitu mencintai dan mengabdikan sepenuh hidupnya demi dan untuk kelestarian al-Qur’an.

Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencetak Banyak Hafidzah

Pengajian yang istiqomah dilakukan Nyai Izzah pun sederhana. Untuk pengajian jami’iyah rutin mingguan, beliau hadir di hadapan para ibu-ibu menjelaskan berbagai macam ilmu. Pengajian seperti ini berlangsung di Babakan dan Arjawinangun. Jamaah pun menyimak dan berikutnya menampung banyak pertanyaan bernada keluh kesah seputar kehidupan agama, sosial, dan ekonomi rumah tangganya.

Nyai Maryam Abdullah, salah seorang menantu mendiang pernah bercerita: “Sering kali saya menyaksikan setiap malam Jum’at, beliau (al-Marhumah) hendak pergi mengajar pengajian ibu-ibu di Arjawinangun, walaupun dalam kondisi hujan, dan sekalipun harus naik becak tetap dilakoninya. Sebagai pemimpin jami’iyah di Babakan dan Arjawinangun beliau dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan memiliki karakter mobilisator.”

PKB Kab Tegal

Sementara saat di pesantren, Nyai Izzah akan setia membimbing para santriwati. Mengaji al-Qur’an misalnya, para santriwati berbaris rapi, bergiliran menyetorkan bacaan al-Qur’annya. Saking banyaknya santriwati yang ingin belajar mengaji al-Qur’an kepada beliau, setiap sesi setoran bacaan, beliau sanggup menyimak tidak kurang dari enam orang sekaligus secara bersamaan, masing-masing tiga orang santriwati di baris sebelah kanan dan kiri.

Tak hanya para santriwati, semua para Nyai yang ada di pesantren Babakan-Ciwaringin belajar mengaji al-Qur’an kepadanya. Beliaulah memang ulama perempuan paling otoritatif dalam bidang al-Qur’an baik di wilayah pesantren Babakan-Ciwaringin, pada khususnya, Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya.

Jika ditelusuri jejak intelektualnya, Nyai Izzah sendiri mesantren dan belajar mengaji langsung kepada al-Maghfurlah KH Mahfudh Mas’ud, pimpinan pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Ia pun mampu menghafal al-Qur’an (hafizhah) dalam waktu yang relatif singkat, hanya 9 bulan.

Demikianlah, maka pesantren Bapenpori al-Istiqomah, masyhur sebagai pesantren yang istiqomah mencetak para hafizhah, santriwati penghafal al-Qur’an. Putera-putrinya pun demikian, cerdas dan hafizh-hafizhah. Itu semua tak lain merupakan buah dari keberkahan, kecerdasan, dan keistiqomahan Nyai Izzah sebagai pengasuh dan pendidik di pesantren.

Yang sangat mengesankan, banyak di antara kaum ibu yang awalnya buta huruf al-Qur’an atau bahkan lidahnya susah untuk melafadzkan ayat-ayat al-Qur’an tetapi akhirnya fasih dan hafal surat-surat penting

PKB Kab Tegal

Saking istiqomahnya beliau dalam hal mengaji, saat hendak bepergian jauh pun beliau selalu mempertimbangkan agar tidak ketinggalan waktu mengaji. Setahu saya beliau juga orangnya ulet dan telaten dalam mengajar. Siapapun yang ingin mengaji kepada beliau mulai dari kalangan anak-anak sampai orang tua pasti dilayaninya dengan senang hati.

KH Thohari Shodiq, salah seorang pengasuh pesantren Raudlatut Tholibin, berkali-kali menegaskan bahwa Nyai Izzah adalah satu-satunya Nyai sepuh yang alim, terutama dalam hal kajian kitab kuning. Selain alim dalam kajian al-Qur’an.

Akhirnya, kita memanjatkan do’a, semoga Nyai Izzah berbahagia di bawah naungan surga-Nya. Demikian juga yang ditinggalkan, baik para santri, keluarga, dan masyarakat dapat tabah serta menimba keteladanan, keistiqomahan, dan keikhlasan dari seorang ulama perempuan yang hafizhah ini. Amin.

?

Mamang M. Haerudin

Ketua LP3M STID AL-Biruni Cirebon, khadim al-Ma’had pesantren Raudlatut Tholibin Babakan-Ciwaringin.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kiai PKB Kab Tegal