Senin, 20 Februari 2017

Wisuda SMK NU Tanon Ditandai Pergantian OSIS Jadi IPNU-IPPNU

Sragen, PKB Kab Tegal

Setelah berhasil menggiatkan kembali PAC di tiap kecamatan, para pengurus PC IPNU-IPPNU Kabupaten Sragen, Jawa Tengah kini juga mulai menyasar berdirinya ranting dan komisariat baik di desa maupun sekolah.

Tak butuh waktu lama untuk mewujudkan hal itu, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nahdlatul Ulama (NU) Tanon menjadi sekolah pertama yang berhasil didirikan Komisariat IPNU-IPPNU, menggantikan organisasi internal sebelumnya, OSIS.

Wisuda SMK NU Tanon Ditandai Pergantian OSIS Jadi IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda SMK NU Tanon Ditandai Pergantian OSIS Jadi IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda SMK NU Tanon Ditandai Pergantian OSIS Jadi IPNU-IPPNU

Berdirinya Komisariat IPNU di sekolah tersebut, ditandai dengan prosesi pelantikan pengurus PK SMK NU Tanon awal pekan kemarin. Prosesi pelantikan diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan perpisahan (wisuda, red) siswa Kelas XII.?

Ketua PC IPNU Sragen, Gigit Lystyanto, mengatakan masuknya IPNU di sekolah Ma’arif ini sebagai langkah maju bagi proses pengkaderan pelajar NU di Wilayah Bumi Sukowati.

“Kita sadari betul, karena dari pelajar lah awal pengkaderan. Semoga ke depan sekolah dan pesantren lain juga dapat kita dirikan komisariat di sana,” terang Gigit.

PKB Kab Tegal

Ketua PK IPPNU SMK NU Tanon, Husna Qotijah, menambahkan hadirnya organisasi pelajar NU di sekolahnya ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk membentuk generasi pelajar Aswaja.

PKB Kab Tegal

“Kami sebagai pengurus, akan berusaha mengemban amanah demi tegaknya Aswaja di kalangan pelajar NU di Sragen, khususnya di SMK NU Tanon,” ungkap dia.

Pada kesempatan tersebut, turut hadir sejumlah tamu undangan dari MWCNU beserta perwakilan Banom, para kiai, komite sekolah, dan para guru. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sejarah, Ahlussunnah, Quote PKB Kab Tegal

Minggu, 19 Februari 2017

Iman dan Kesalehan Sosial Jadi Ukuran Sukses Puasa Ramadhan

Jember, PKB Kab Tegal - Ibadah puasa Ramadhan idealnya bukan semata-mata untuk meningkatkan takwa diri sendiri, tapi juga berimplikasi pada perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sebab, ukuran keberhasilan puasa Ramadhan bukan hanya terletak pada peningkatan aktivitas ibadah mahdhah seorang Muslim, tapi juga kian kegairahan "ibadah" sosial yang bersangkutan setelah Ramadhan.

Iman dan Kesalehan Sosial Jadi Ukuran Sukses Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Iman dan Kesalehan Sosial Jadi Ukuran Sukses Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Iman dan Kesalehan Sosial Jadi Ukuran Sukses Puasa Ramadhan

Hal ini ditegaskan oleh Wakil Ketua PCNU Jember Ustadz HM Misbahus Salam saat menyampaikan khotbah Idul Fitri di Masjid Al-Hikmah, Universitas Jember, Ahad (25/6).

Menurutnya, selama ini masyarakat banyak salah persepsi mengartikan kesuksesan puasa Ramadhan dengan hanya meningkatnya ketakwaan kepada Allah yang diwujudkan dengan terdongkraknya kuantitas ibadah.

PKB Kab Tegal

"Ukuran sukses puasa Ramadan adalah takwa meningkat, dan amal baik meningkat," tukasnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Halaqoh PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal

Sabtu, 18 Februari 2017

Peduli Pendidikan Tinggi NU, Banser "Turun Tangan

Ponorogo, PKB Kab Tegal. Satkorcab Banser Ponorogo mengerahkan para alumni Diklatsar Banser di Pudak, Ponorogo, untuk mengikuti Kerja Bakti membuat taman di Akafarma-Insuri, Senin (14/1). Sekitar 50 orang alumni Diklatsar Banser dengan penuh semangat membersihkan rumput liar di sisi kanan dan kiri jalan masuk kampus Akafarma-Insuri, salah satu perguruan tinggi NU terkemuka di Ponorogo.

Tidak hanya itu, tanah yang tadinya ditumbuhi rumput digali lalu ditimbun sepanjang sisi kanan dan kiri jalan. Timbunan tanah itu nantinya akan ditanami tanaman bunga dan tali rafia. 

Peduli Pendidikan Tinggi NU, Banser Turun Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Pendidikan Tinggi NU, Banser Turun Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Pendidikan Tinggi NU, Banser "Turun Tangan

Menurut H Sugeng Hariyono, fungsionaris Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (Yapertimu) Batoro Katong Ponorogo yang menaungi Akafarma dan Insuri, pembuatan taman ini telah menjadi impian sejak lama. H. Sugeng mengaku risih jika jalan masuk kampus tampak kumuh dan gersang. Apalagi jalan masuk kampus merupakan wajah kampus, jika kumuh akan menimbulkan persepsi negatif pada masyarakat.

PKB Kab Tegal

“Jalan masuk kampus ini cukup panjang dan dapat dilihat langsung oleh pengguna jalan raya yang melintas depan area kampus. Jika tidak dipercantik dengan taman masyarakat akan memiliki persepsi bahwa kampus tidak terurus. Maka kami tidak mau berlama-lama lagi untuk membuat taman di sepanjang jalan ini,” Kata H. Sugeng yang juga dipercaya menjadi Komisaris Utama PT. Radio Aswaja FM ini.

Kegiatan kerja bakti semacam ini bukan hal baru lagi bagi Banser Ponorogo. Sebelumnya sudah tidak terhitung lagi Banser Ponorogo membantu Takmir Masjid, Madrasah, Pesantren dan masyarakat memperbaiki fasilitas yang mereka miliki. Bahkan kegiatan bedah rumah juga sering diadakan. Ahmad Subkhi alias Kalibek selaku Kasatkorcab Banser Ponorogo mengatakan, atas permintaan masyarakat khususnya warga NU dan keinginan sendiri Banser Ponorogo selalu ingin hadir mendarma baktikan tenaganya untuk aksi sosial.

PKB Kab Tegal

“Saya sampai lupa sudah berapa kali Banser Ponorogo terjun di masyarakat untuk kerja bakti baik sekedar membersihkan lingkungan fasilitas ibadah dan sekolah sampai bedah rumah warga NU yang tidak layak. Kami senantiasa menyadarkan anggota Banser untuk selalu siap mendarma baktikan tenaganya untuk kepentingan masyarakat terutama warga NU” ungkap Kalibek penuh kebanggaan,

Pernyataan Kalibek diamini oleh Idam Mustofa selaku Pjs Ketua PC GP Ansor Ponorogo. Lebih lanjut pria berkecamata minus ini menyatakan, program kerja bakti seperti di Akafarma-Insuri itu juga menjadi implementasi program bidang lingkungan hidup PC GP Ansor. Ke depan pihaknya ingin sekali membantu Pemda melestarikan lingkungan hidup lewat program penghijauan atau sejenisnya.

“Kami sangat berharap Pemda Ponorogo melalui Satker terkait bisa membantu menyediakan bibit tanaman produktif agar bisa ditanam melalui kegiatan penghijauan. Menilik output program bidang lingkungan hidup, PC GP Ansor Ponorogo menginginkan adanya kerjasama dengan Pemda. Pemda menyediakan bibitnya, kami yang menanamnya.” Kata Idam Mustofa penuh harap.

Untuk merealisasikan program penghijauan ini, PC GP Ansor Ponorogo sejauh ini tengah mengadakan pendekatan dengan Dinas Pertanian Pemda Ponorogo untuk membantu penyaluran bibit tanaman produktif senyampang musim hujan. Pihak Dinas Pertanian tampaknya menyambut baik, namun masih menunggu waktu yang tepat.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Noor Abidin

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sunnah, Kajian Islam, Kajian PKB Kab Tegal

Selasa, 14 Februari 2017

Pedagang Terlalu Banyak, Stan Kongres Fatayat NU Kewalahan

Surabaya, PKB Kab Tegal. Puluhan pedagang tidak bisa berbuat banyak ketika Wahyudi, panitia penanggung jawab stan di acara Konggres Fatayat NU XV di Asrama Haji Surabaya, Jawa Timur, Jumat (18/9), menjalakan tugasnya.

Panitia memang menyediakan lapak khusus bagi para pedagang yang hendak berjualan. Namun, karena terbatasnya persediaan ruang bagi pedagang yang ternyata sangat banyak membuat panitia terpaksa mengambil langkah penertiban.

Pedagang Terlalu Banyak, Stan Kongres Fatayat NU Kewalahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pedagang Terlalu Banyak, Stan Kongres Fatayat NU Kewalahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pedagang Terlalu Banyak, Stan Kongres Fatayat NU Kewalahan

"Kebanyakan para pedagang ini masuk ke stan yang sebenarnya sudah dipesan oleh orang yang sudah konfirmasi," ucap Wahyudi.

PKB Kab Tegal

Kemudian, lanjutnya, mereka dengan sengaja membuka lapak, tanpa menghiraukan imbauannya. “Padahal saya bisa memanggil Banser untuk menertibkanya,” katanya.

PKB Kab Tegal

Kejadian ini dimulai ketika para pedagang gelisah, karena dari pagi sampai malam ini tidak menemukan tempat untuk membuka daganganya. "Di acara nasional ini tidak diperbolehkan berjualan sembarang tempat, kita menyediakan tempatnya dengan membayar sewa 2 juta per stan," kata wahyudi.

Para pedagang hanya bisa pasrah atau mencari tempat alteratif untuk dapat berjualan. Apalagi, terkait ongkos sewa stan tersebut, sebagian dari mereka mengaku keberatan. "Waduh, bingung saya mas, 2 juta," keluh satrio pedagang gelang. (Ahmad Syaefudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal IMNU, News PKB Kab Tegal

Minggu, 12 Februari 2017

Guru Tohir Rohili Kampung Melayu

Basis NU Jakarta selain di Kuningan-Mampang Prapatan ialah perguruan At-Thahiriyah di Bukit Duri, Kampung Melayu. Keberadaan radio pemancar perguruan ini menjadi corong Ahlussunah wal Jamaah ala thariqatin nahdliyah. Di tempat inilah para kiai NU dari Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya berkumpul untuk melakukan konsolidasi.

Siapakah pendiri perguruan At-Thahiriyah ini? Ia tidak lain adalah Guru Tohir Rohili. Guru Tohir lahir pada 1920 M. Guru yang cukup populer di kalangan masyarakat beragama di Jakarta ini, sempat bermukim agak lama di Mekkah. Hampir setiap halaqah ilmu di Masjidil Haram, ia datangi semasa mukim di Mekkah.

Guru Tohir Rohili Kampung Melayu (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Tohir Rohili Kampung Melayu (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Tohir Rohili Kampung Melayu

Guru-gurunya antara lain Habib Ali bin Husein Al-Atthas (Cikini) atau sering dipanggil Habib Ali Bungur, Guru Marzuqi (Muara), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Guru Madjid (Pekojan), Syekh Yasin Al-Fadani (Mekkah), dan banyak guru lainnya.

PKB Kab Tegal

Pada 21 Januari 1951 (12 Rabiul Awal 1770 H), ia mendirikan lembaga pendidikan Islam dengan nama Madrasa Diniyyah At-Thahiriyah. Dalam perkembangannya madrasah ini telah menjadi Universitas Islam At-Thahiriyah.

Pada tahun 1967 lembaga pendidikan ini membuka radio dengan nama Radio At-Thahiriyah untuk kegiatan dakwah Islam. Sejak 1968, telah dibentuk Yayasan Ad-Diniyah At-Thahiriyah dengan pendiri utamanya Guru H Muhammad Tohir bin H Rohili, Salbiyah Ramli, Hj Suryani Tohir. Lembaga ini memunyai peran sangat besar dalam kegiatan dakwah Islam di Jakarta, (Tim Peneliti, Ulama-Ulama Betawi yang dikutip Fadhli HS).

Pada awalnya, Guru Tohir Rohili yang lama bermukim di Mekkah, mendirikan beberapa kamar untuk menampung beberapa pelajar sekolah. Kamar-kamar penampungan yang kemudian ditingkatkan menjadi asrama putra-putri itu, terletak bersebelahan dengan masjid tempat Guru Tohir menyelenggarakan majelis taklim, (Direktori Pesantren I diterbitkan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, 1986).

PKB Kab Tegal

Guru Tohir bersama menantunya HM Syatiri Ahmad dan putrinya Hj Suryani Tohir berusaha agar para pelajar yang menempati asrama memperoleh pendidikan agama. Maka kemudian diselenggarakan pengajian kitab secara sorogan. Dalam perkembangan selanjutnya Kiai Syatiri mencoba mengembangkan sistem madrasah yang kemudian menjelma menjadi madrasah tsanawiyah, aliyah, dan Universitas At-Thahiriyah. Sesudah itu menyusul madrasah ibtidaiyah.

Majelis taklim yang sudah ada tetap dipertahankan dan dikembangkan hingga menjadi salah satu majelis taklim terkenal di Jakarta. Melalui majelis taklim ini, pengajian kitab terbuka bukan hanya bagi pelajar, tetapi juga untuk umum.

Di bawah kepemimpinan Guru Tohir dan menantunya, perguruan At-Thahiriyah berkembang pesat. Keduanya memadukan model pengajaran tradisional dan klasikal. Artinya, pihak pengelola tetap menjalankan aktivitas pengajian dengan model pesantren. Pada saat yang sama, mereka juga memadukan model klasikal sekolah bagi para santrinya.

Pihak pengelola perguruan ini yang terletak dekat rel kereta Jakarta-Bogor ini, juga melakukan pemberdayaan santrinya di luar jam belajar. Misalnya mereka mengadakan pelatihan keputrian untuk para pelajar putri, lomba memasak, busana muslim, juga MTQ. Grup qasidah pesantren ini pernah mengukir juara dalam MTQ seprovinsi Jakarta. Bahkan sejumlah santri dikirim sebagai delegasi pesantren untuk mengikuti pelatihan sejumlah keterampilan mulai dari manajemen, mengelola perpustakaan, penataran juru dakwah, kependudukan.

Mata pelajaran yang diajarkan kepada santrinya antara lain kitab Matan Zubad, Jauhar Maknun, Fathul Qarib, Tanqihul Qaul, Minhajul Qawim, Nashaihul Ibad, Tafsir Jalalain, Nashaihud Diniyah, Alfiyah, Mukhtarul Ahadits. Materi-materi inilah yang diajarkan Guru Thahir pagi dan petang hari.

Selain sibuk di lapangan dakwah, Guru Tohir juga merambah aktivitas di lapangan lainnya seperti gerakan politik dan juga gerakan sosial. Tidak heran kalau Guru Tohir pernah mengemban amanah sebagai anggota DPR.

Dalam lapangan sosial keagamaan, Guru Tohir melibatkan diri dalam gerakan Nahdlatul Ulama (NU). “Perguruan At-Thahiriyah memang terkenal sebagai pusat gerakan NU. Ketika mengadakan pertemuan di Jakarta, para kiai teras PBNU akan berkumpul di majelis At-Thahiriyah. Syekh Yasin dari Mekkah juga tidak melewatkan Bukit Duri untuk disinggahi. Saya sering mengantar guru saya KH Shalihin Muhasyim untuk pertemuan di At-Thahiriyah,” kata Katib Syuriyah ranting Pondok Pinang 1950-an KH Hasbullah, Kebayoran Lama.

Guru Tohir wafat pada bulan Shafar 1420 H yang bertepatan dengan hari Kamis 27 Mei 1999. Ia dikebumikan di kompleks masjid At-Thahiriyah, Bukit Duri, Kampung Melayu. Kini kompleks masjid At-Thahiriyah tetap ramai oleh para pelajar di hari aktif belajar-mengajar. Di samping itu, kompleks masjid kerap menjadi lokasi pengungsian bagi korban banjir luapan kali Ciliwung yang melintasi kawasan rendah Kampung Melayu. (Alhafiz Kurniawan)

*Tulisan ini diambil dari buku 100 Ulama Nusantara dalam Lintas Sejarah Islam Nusantara yang diterbitkan LTM PBNU pada Oktober 2015.

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal IMNU, Humor Islam PKB Kab Tegal

Jumat, 10 Februari 2017

Tetaplah NU Jadi Penyejuk Islam yang Marah

Tanggal 31 Januari 2014 kemarin, NU-ku sudah genap berusia 88 tahun. Angka tersebut bukanlah sekedar angka. 88 bermakna 88 tahun pengabdian NU kepada Indonesia, tanah kelahiran ulama dan nahdliyyin. NU memiliki makna yang berbeda-beda di setiap hati nahdliyyin di seluruh Indonesia.

Bagi saya, mahasiswi yang telah dibesarkan NU selama 21 tahun, NU bermakna sebagai rumah yang senantiasa mengayomi dan menenteramkan hati. Di tengah-tengah merebaknya isu gesekan antara golongan keras Islam dan golongan agama Islam lainnya yang saling mengkafirkan satu sama lain, NU menjadi rumah yang menenangkan. Disaat golongan-golongan keras tersebut begitu mudah menyalahkan yang berbeda dengannya, NU dengan prinsip tasamuh dan tawasuthnya selalu menjadi air yang menyejukkan. Di saat golongan-golongan lain terlalu mudah marah dan tersinggung atas perbedaan, NU selalu sabar dan memaafkan perbedaan.

Saya selalu senang mendengarkan ulama NU berbicara di depan publik. Pembawaannya yang santai namun berwibawa membuat pendengarnya menikmati setiap ucapannya. Ketika saya sedang tidak berada di daerah Jawa Timur (karena memang di JawaTimur banyak nahdliyyin) dan mendengar seseorang berbicara, saya bisa merasakan kalau dia juga nahdliyyin tanpa harus diberitahu.

Hal sederhana itu membuat saya tersenyum dalam hati. Mengapa? Karena saya tidak perlu mikir dua kali atau bahkan suudzon tentang apa yang diucapkan. Bukannya saya selalu suudzon sama orang, tapi kalau yang diucapkan itu cenderung menuju ke pemikiran-pemikiran keras, saya otomatis mikir dulu bahkan menolak ucapannya. Itu berarti kemoderatan NU telah mengakar di otak saya.

Tetaplah NU Jadi Penyejuk Islam yang Marah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tetaplah NU Jadi Penyejuk Islam yang Marah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tetaplah NU Jadi Penyejuk Islam yang Marah

Saya mengagumi Kiai Said Aqil, karena suatu ketika pernah mendengar beliau berbicara. Pidato beliau yang sangat berisi dengan cara penyampaianya yang enak membuat saya bangga memiliki ulama yang fatwanya selalu menjadi patokan. Fatwa-fatwa yang merupakan ijtihad ulama yang menekankan kontekstualisasi terhadap sumber referensi utama, al-Quran dan Hadits, membuat nyaman warga nahdliyyin dalam menjalankan tugasnya sebagai Hamba Allah, baik fatwa dalam lingkup fiqh, hal-hal ubudiyah, uluhiyah dan lainnya. Hal sederhana tersebut hanyalah secuil dari makna istimewa NU bagi saya.

Di lihat dari sejarahnya, NU merupakan salah satu pendiri bangsa ini. Ulama NU turut berjuang melawan kolonialisme dan akhirnya berhasil meraih kemerdekaan. Kini, 88 tahun NU tetap berjuang, mengabdi dan mengawal bangsa ini bersama kelompok lainnya, saudara sesama. 21 tahun dididik oleh Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah secara mengakar membuat saya mencintai tradisi-tradisi NU diantaranya dibaan atau sholawatan. Berada diantara nahdliyyin yang cinta sholawat begitu berkesan dalam hati, terasa tenteram.

Saat ini, suatu hal yang begitu membanggakan mengetahui terciptanya sebuah republik sholawat, wadah bagi mereka pecinta sholawat dengan tali silaturahmi yang erat satu sama lain. Pemuda-pemudi Nahdliyyin luar biasa ? yang begitu aktif membangun bangsa melalui organisasi seperti PMII, IPPNU dan IPNU membuat saya bangga memiliki teman seperjuangan yang sangat potensial menjadi pemimpin bangsa masa depan.

PKB Kab Tegal

Tidak hanya pandai dalam berorganisasi, namun juga hebat dalam mengkaji kitab. Pemikiran-pemikiran mereka yang nyeleneh tapi asyik ini mewarnai perjalanan saya dalam usaha perwujudan impian untuk mampu menjadi generasi muda NU yang kompetitif dan membawa nama harum NU ke kancah internasional. Beberapa hari yang lalu NU kehilangan satu nyawanya, Mbah KH Sahal Mahfudh. Kesedihan mendalam kehilangan ulama ahli fiqih sosial dirasakan oleh seluruh warga nahdliyyin. Semoga segera akan muncul fuqaha penerus beliau. Mungkin beberapa dari kita? Siapa tahu. Aamiin.

Selamat Harlah NU ke 88, semoga tetap istiqomah mengawal umat di tengah hiruk pikuk kekacauan yang diderita bangsa ini. Tetaplah pada khittahmu, tetaplah menyejukkan kemarahan, menuju Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Kami, nahdliyyin, akan setia menjadi bansermu. (*)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Sholawat PKB Kab Tegal

Senin, 06 Februari 2017

Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme

Rembang, PKB Kab Tegal. Dalam upaya memerangi ekstrimisme dan radikalisme di Kabupaten Rembang, Satkorcab Banser Rembang kembali menggelar Pendidikan dan Pelatihan Kader Dasar (Diklatsar) ke-3 yang dilaksanakan di Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Rembang, Jumat (15/7).

Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Diklatsar Ke-3 Banser Rembang Komit Perangi Ekstrimisme

Dengan mengembil tema Membangun Militansi dan Meneguhkan Ideologi Aswaja Demi Menjaga NKRI, Diklatsar kali ini diikuti 150 peserta didik dari berbagai daerah yang ada di Kabupaten Rembang, diantaranya Kecamatan Kaliori, Sumber, Sulang, Sedan, dan juga Kragan.

Kasatkorcab Banser Rembang Zainal Arifin menjelaskan jika, level Diklatsar pada kesempatan kali ini ditingkatkan menjadi level 2. Dengan harapan mendapatkan calon Banser yang benar-benar militan.

"Level Diklatsar ini tidak seperti biasanya, kita tingkatkan ke level dua, sehingga melahirkan Banser yang benar-benar solid dan militan,” ujar Zainal.

PKB Kab Tegal

Pada mementum kali ini yang bertindak sebagai inspektur upacara pembukaan adalah Wakapolres Rembang Kompol Pranandya S yang mewakili Kapolres Rembang AKBP Sugiharto yang batal hadir dikarenakan ada kunjungan Kapolda Jateng ke Rembang. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Hadits PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal