Minggu, 24 Desember 2017

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren

Jakarta, PKB Kab Tegal - Menguatnya radikalisme dan intoleransi yang terjadi di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya menjadi persoalan yang perlu penanganan serius oleh berbagai pihak termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Indonesia sebagai negara yang sangat beragam, baik agama, suku, bahasa, budaya dan lainnya, patut bangga terhadap keberadaan NU yang mempunyai basis pesantren untuk terus menjaga Indonesia dari radikalisme dan intoleransi tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Sujiwo Tedjo saat ditemui PKB Kab Tegal di Jakarta. Menurut pria yang akrab dipanggil Mbah Tejo ini, santri dan pesantren merupakan potensi dalam hal toleransi di Indonesia.

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren

“Kalau di pesantren atau NU diajarkan bahwa toleransi itu dari dulu sudah tinggi,” katanya seusai mengisi acara pembacaan puisi Gedung Graha Bakti Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (16/10) malam.

PKB Kab Tegal

Oleh karena itu, pria yang berprofesi sebagai dalang ini pun menganggap bahwa keberadaan santri sangat dibutuhkan Indonesia.

“Santri sangat dibutuhkan untuk kecenderungan global yang makin mengekstremkan (dalam hal) agama,” jelas pria kelahiran Jember, Jawa Timur ini.

PKB Kab Tegal

Pria berumur 55 tahun ini menyebut bahwa cara beragama yang dijalankan pesantren itu luwes, dan menebar rahmat.

“Beragama dengan tersenyum itu pesantren saja,” katanya.

Acara pembacaan puisi sendiri diselenggarakan Kementerian Agama dalam rangka memperingati hari santri yang ke-2 dengan tema Merawat Keberagaman dan Memantapkan Keberagamaan.

Turut menjadi pembaca puisi pada malam tersebut, Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Kamaraudin Amin, Abidah El Kholiqie, Habiburrahman El Shirazy, Sosiawan Leak, KH Husein Muhammad, Jamal D. Ramah, Acpe Zam Zam Noor, Ahmad Tohari, Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Warta PKB Kab Tegal

Pergunu Bali Bahas Sejumlah Problem Pendidikan Nasional

Denpasar, PKB Kab Tegal. PW Pergunu Bali bersama seluruh PC Pergunu se-Bali di bawah dukungan PWNU Bali mengadakan kegiatan Seminar Nasional akhir pekan lalu di Denpasar. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara PP Pergunu dengan Direktorat Kesharlindung Kemendikbud RI.?

Seminar ini diikuti lebih dari 200 orang guru se-Bali yang merupakan pengurus dan anggota PW dan PC Pergunu. Kegiatan seminar berlangsung di Gedung PWNU Jl. Pulau Demak Denpasar dengan menghadirkan Narasumber Nasional.?

Pergunu Bali Bahas Sejumlah Problem Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Bali Bahas Sejumlah Problem Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Bali Bahas Sejumlah Problem Pendidikan Nasional

Diantara narasumber yang hadir adalah PP Pergunu yang diwakili oleh Wasekjen Akhsan Ustadi) Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh Anggota DPR RI Komisi X Bidang Pendidikan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga I Wayan Koster, Direktorat Bimbingan Masyarakat Polda Bali AKBP M. Nur Sholikhun dengan Moderator Korwil Pergunu Indonesia Timur Lewa Karma.

Kegiatan ini merupakan refleksi atas pelbagai kejadian yang berhubungan dengan kekerasan baik yang menimpa guru maupun siswa di sekolah/madrasah. Guru sebagai profesi mulai wajib dilindungi dan juga wajib memberikan rasa aman kepada anak didik atas kriminalisasi dan layanan pembelajaran yang baik dan adil.?

PKB Kab Tegal

Dengan menghadirkan narasumber nasional ini para peserta bisa mendapat informasi langsung dan sekaligus menyampaikan aspirasinya kepada anggota DPR RI untuk maksud dan segala persoalan pendidikan selama ini, seperti program TPG, CPNS, Pengabdian dan kasus-kasus di yang dip roses oleh kepolisian.?

Dalam penyampaiannya, I Wayan Koster berjanji akan mendampingi dan menyampaikan sekaligus mengakomodasi usulan, masukan dan permintaan para guru pada pemerintah. Demikian pula Ketua KPAI berharap melalui seminar ini aka nada penambahan wawasan dalam proses melayani siswa, sehingga guru dan sekolah menjaid bagian yang mendukung pendidikan yang ramah anak.?

Pihak Polda juga selalu menekankan bahwa semua sama di mata hukum dan profesi guru patut untuk dilindungi sekaligus diperhatikan agar tetap terjaga dari kriminalisasi pihak-pihak yang tidak faham dengan tugas guru.

Pada kesempatan itu pula Akhsan Ustadi juga menegaskan bahwa PP Pergunu memfasilitasi semua guru di lingkungan Pergunu untuk berkembang dan mendukung program nasional. Diantara program kerja yang sedang digalakkan oleh Pergunu adalah pemberian beasiswa guru dan santri se-Indonesia maupun mancanegara, pelatihan guru dan kegiatan pendampingan guru.?

PKB Kab Tegal

Seminar perlindungan guru ini diikuti dengan antusias oleh peserta yang berlangsung sehari yang juga diawalai dengan kegiatan Pengukuhan pengurus PW Pergunu Bali dan Pelantikan 9 PC Pergunu se-Bali. Adapun 9 PC Pergunu se-Bali adalah PC Pergunu Badung, Bangli, Buleleng, Denpasar, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Tabanan dengan disaksikan oleh pengurus PWNU dan pimpinan lembaga ? Banom se-Bali yang berlangsung khidmat. (Lewa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Meme Islam, Nahdlatul Ulama, Pendidikan PKB Kab Tegal

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

Karanganyar, PKB Kab Tegal. Menyongsong Ramadhan, GP Ansor Karanganyar mengadakan serangkaian kegiatan mulai dari silaturahmi akbar, pengajian,  ziarah, hingga penanaman pohon. Kegiatan yang berlangsung, Ahad (8/6), bertempat di pesantren Miftahul Ulum desa Pablengan Matesih, Karanganyar.

Kegiatan yang digelar keluarga besar GP Ansor Karanganyar ini, merupakan kegiatan rutin tahunan yang digelar menjelang bulan suci Ramadhan.

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Karanganyar Gelar Ziarah dan Tanam Pohon

“Kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kami harapkan ke depan bisa terus dilaksanakan secara istiqomah,” kata Ketua GP Ansor Karanganyar Jamaluddin saat memberikan sambutan.

PKB Kab Tegal

Silaturahmi dan pengajian ini yang diawali pembacaan maulid Simthud Duror, dilanjutkan dengan pengajian yang diisi Habib Hasan Al-Kaff dari Solo.

Sebelum penanaman pohon, para pengurus serta anggota Ansor berziarah ke makam Kiai Khusnan Rosyidi, pendiri pesantren Miftahul Ulum Matesih.  Kiai Khusnan tidak lain ialah tokoh dan penggerak NU di Karanganyar.

PKB Kab Tegal

Pesantren Miftahul Ulum sendiri merupakan salah satu pesantren tua di Karanganyar. Sampai saat ini, pesantren itu masih eksis dengan beberapa jenjang pendidikan yang dimiliki. GP Ansor Karanganyar tercatat sudah tiga kali menggelar acara yang sama di pesantren ini. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Bahtsul Masail, Kajian Sunnah, Anti Hoax PKB Kab Tegal

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU

Way Kanan, PKB Kab Tegal. Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda mengingatkan pengurus NU beserta lembaga dan banomnya untuk tetap bersemangat mengurus NU. Kendati bukan organisasi yang berorientasi profit, keberkahan di dunia dan di akhirat akan selalu memayungi kehidupan pengurus NU.

“Jangan berpikir uang dalam mengurus NU. Jalankan saja dengan ikhlas,” ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda, di Blambangan Umpu, sekitar 220 km sebelah utara Kota Bandarlampung, Jumat (7/11).

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU

Menurut Kiai Huda, pengurus NU mesti yakin akan ganjaran Allah. "Karena itu, saya mengingatkan kader NU di Way Kanan yang meyakini pilihan bergiat aktif di organisasi ini untuk mempercayakan segalanya kepada Allah.”

PKB Kab Tegal

Menjadi pengurus NU tidak ada gajinya. Mengurus NU itu berjuang, ujar Ketua PCNU Way Kanan periode 2011-2016.

KH Huda mengajak kader dan warga NU di daerah yang berabatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Sumsel itu untuk selalu menegakkan panji-panji Aswaja. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Berita, Fragmen PKB Kab Tegal

Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja

Pamekasan, PKB Kab Tegal - Saat mengisi acara Daurah Aswaja di Auditorium STAIN Pamekasan, Kiai Marzuqi Mustamar mengapresiasi semangat Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Pamekasan dalam menjalankan roda organisasi, Ahad (22/1). Kiai Marzuki mendoakan semoga para pelajar NU terus berkiprah dalam mencerdaskan diri dan bangsa ini.

"Kalian harus jadi generasi emas Aswaja, yaitu generasi yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemoderatan, toleransi, adil, dan selalu menebar kebaikan dengan cara yang santun,"? tegas Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Malang tersebut.

Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja

Menurutnya, NU insyaallah akan terus jaya mana kala para pelajarnya terus berada pada garis perjuangan ulama. Karenanya, pelajar NU harus fokus belajar keagamaan yang berhaluan Aswaja, tidak perlu nyelenih dengan aliran-aliran yang tidak jelas sanad keilmuannya.

PKB Kab Tegal

Dalam kesempatan itu, Kiai Marzuki membagikan ratusan kitab Muhtashor al-Muqtathofat li Ahlilbidayat kepada hadirin. Pihaknya berpesan agar kitab karangannya tersebut dikaji.

"Jika isinya baik, amalkanlah. Jika ada yang perlu diluruskan, kami selalu terbuka pada kritikan," tukas Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur tersebut.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Pamekasan Kadarisman mengungkapkan, peserta Dauroh Aswaja terdiri dari para pelajar NU se-Kabupaten Pamekasan. Selain itu, hadir pula para kiai, pimpinan kampus, sesepuh NU, dan petinggi NU di Kabupaten Pamekasan.

PKB Kab Tegal

"Alhamdulillah acara ini mendapat sambutan hangat dari seluruh elemen warga nahdliyin," ujar pemuda asal Desa Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan tersebut.

Usai acara, tambah Kadarisman, nanti pengurus akan menindaklanjutinya dengan melangsungkan kajian kitab yang diberikan oleh Kiai Marzuki. Itu dipandang perlu supaya kegiatan PC IPNU-IPPNU Pamekasan tidak berhenti di seremonialnya saja. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Olahraga, AlaSantri PKB Kab Tegal

Kader Prematur Tanpa Peran

Oleh Muhammad Aras Prabowo?



Radikalisme dan terorisme adalah sebuah permasalahan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, hal tersebut bisa mengancam kedaulatan negara. Apa lagi radikalisme yang telah berkamuflase menjadi kelompok terorisme. Betul, bahwa tidak semua radikalisme adalah terorisme, namun awal dari terorisme adalah radikalisme.?

Kader Prematur Tanpa Peran (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Prematur Tanpa Peran (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Prematur Tanpa Peran

Seperti yang diketahui bahwa aksi terorisme adalah perilaku melanggar undang-undang, oleh sebab itu terorisme adalah kelompok terlarang di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beberapa tahun terakhir kelompok yang merasa dirinya paling benar ini kadang mengusik ketentraman masyarakat Indonesia. Aksi terornya menimbulkan kepanikan, bahkan tidak jarang menimbulkan korban jiwa.

Aksinya yang brutal membuat terorisme manjadi kejahatan luar biasa yang harus diperangi oleh setiap elemen di dalam masyarakat. Peran aktif masyarakat akan mempersempit perkembangan kelompok tersebut. Keikutsertaan masyarakat dalam menghambat kelompok terorisme akan banyak membantu pemerintah dalam melakukan pencegahan radikal-terorisme di setiap wilayah.

Berdasarkan data dari riset terhadap 110 pelaku tindak pidana terorisme Research on Motivation and Root Causes of Terorism yang dilaksanakan oleh The Indonesian Research Team tahun 2012; Kementerian Luar Negeri, INSEP, dan Densus 88 menunjukkan profil pelaku aksi terorisme menurut usia sebagai berikut : di bawah 21 tahun 11,8%, 21 sampai dengan 30 tahun 47,3%, 31 sampai dengan 40 tahun 29,1% dan 40 tahu ke atas 11,8%. Data tersebut menunjukkan bahwa usia 21 sampai dengan 30 tahun yang mendominasi pelaku aksi terorisme. Berdasarkan usianya, pelaku ini banyak dari kalangan pemuda dan usia produktif dan sebagian dari mereka pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Disinyalir bahwa perguruan tinggi tidak lupuk dari virus radikalisme, termasuk organisasi yang akhir-akhir ini masih hangat dan menjadi pembicaraan atas pembubarannya dikarenakan menentang Pancasila serta ingin mengganti sistem pemerintahan menjadi khilafah.

Melihat fenomena tersebut, pemerintah lewat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) begitu massif menggalang peran dan pelibatan masyarakat dalam pencegahan radikal-terorisme. Salah satu program BNPT adalah pelibatan mahasiswa dalam menghambat perkembangan radikalisme dan terorisme di perguruan tinggi. Program ini diharapkan dapat memberikan kesadaran dan pengetahuan mahasiswa mengenai radikalisme dan terorisme. Pada akhirnya peran aktif mahasiswa di dalam kampus sangat dibutuhkan untuk menghambat dan mempersempit perkembangan kelompok tersebut.

PKB Kab Tegal

Mahasiwa sebagai kelompok intelektual kampus dengan jiwa nasionalisme bisa membantu peran pemerintah dalam melakukan pencegahan radikalisme di perguruan tinggi. Selain sikap nasionalisme, sikap toleransi menjadi salah satu sikap yang harus terus dijaga dan dihidupkan dalam setiap diskusi-diskusi dalam kampus. Beberapa organisasi kemahasiswan dalam kampus juga diharapkan perannya dalam malakukan pencegahan dan menghambat paham radikal dan intoleransi di dalam kampus.

PKB Kab Tegal

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah salah satu organisasi kemahasiwaan yang sangat diharapkan untuk mengemban peran tersebut. ? Mencegah radikalisme, terorisme dan kelompok-kelompok ekstrim yang berniat menggantikan Pancasila sebagai dasar negara adalah asas dan tertuang dalam tujuan PMII yaitu komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya itu, dalam asas PMII sangat jelas bahwa PMII berasaskan Pancasila. Oleh karenanya, PMII harus menjadi garda terdepan di perguruan tinggi dalam menghambat perkembangan radikalisme dan terorisme.

PMII harus menguatkan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ideologi untuk mengemban peran tersebut. ? Tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Itidal atau tegak lurus. Tasamuh atau toleransi, yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama.

Pemahaman kader PMII mengenai konsep Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) menjadi sangat penting, sebab ini dilakukan demi merajut ukhuwah kelompok Ahlussunnah, memantapkan dan meluruskan pemahaman, memadamkan fitnah, serta membentengi diri dari akidah di luar Ahlussunnah wal Jama’ah, termasuk dari kelompok radikalisme dan terorisme.

Kederisasi tanpa penguatan ideologi yang matang, PMII hanya akan menciptakan kader prematur tanpa peran. Bukan tidak mungkin, jika kader PMII juga terjangkit virus radikalisme dan terorisme. Saat ini bukan hanya kuantitas yang dibutuhkan dalam setiap kaderisasi PMII, tetapi kualitas adalah hal yang harus di kedepankan. Apa lagi PMII telah terkontaminasi dengan politik praktis, maka peran tersebut akan menjadi mustahil untuk diembannya. Mereka hanya sibuk mengurusi politisi dan pemenangan partai dan calon kepala daerah.

Fenomena tersebut diharapkan dapat menyadarkan PMII untuk kembali ke kampus dan mengemban perannya dalam membumikan aswaja, tidak memberikan ruang bagi paham radikal di kampus. Masjid kampus harus diambil alih dan diisi dengan paham moderat yang telah lama dikembangkan dan diajarkan oleh para ulama di Nahdatul Ulama (NU). Tabayyun kepada para ulama NU setempat di seluruh wilayah harus ditingkatkan oleh PMII, bukan justru menghadap kepada para politikus yang meracuni dengan pemikiran politik praktis.

Penulis adalah kader PMII Makassar (PMII RE UMI Makassar)?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Quote, Anti Hoax, Hikmah PKB Kab Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi

Bojonegoro, PKB Kab Tegal. Gejolak lintas agama di beberapa daerah yang santer diberitakan media massa belakangan ini mendorong para tokoh dari berbagai agama di Bojonegoro duduk bersama menyamakan kesepahaman tentang pentingnya menolak ekstremisme.

Mereka bertemu dalam seminar deradikalisasi agama bertema “Mengembalikan Nilai Suci Agama Berupa Kasih Sayang dan Perdamaian”, yang difasilitasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bojonegoro sebagai langkah antisipasi.

Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi

Ketua FKUB Bojonegoro, KH Alamul Huda berharap melalui yang berlangsung di ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro, Kamis (15/10), umat beragama di Bojonegoro bisa membangun sikap saling menghargai. Ia tidak ingin konflik yang terjadi di luar negeri, seperti Ukraina, dan di dalam negeri, semisal Kalimantan, Aceh, Tolikara maupun yang lain, tak dialami Bojonegoro.

PKB Kab Tegal

Menurutnya, daerah paling rawan konflik di Bojonegoro berada di wilayah barat, seperti Kecamatan Padangan. Selain pengurus FKUB Bojonegoro, tokoh dan pemuda lintas agama, pertemuan tersebut juga dihadiri anggota Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, organisasi masyarakat, mahasiswa, dan undangan lainnya.

PKB Kab Tegal

Hadir sebagai narasumber pengasuh Pondok Pesantren Alif Lam Mim dan dosen Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Imam Mawardi, Romo FX Eko Armada Riyanto dari Seminari Tinggi CM Malang dan Pdt. Simon Filantropa dari Surabaya.

Bupati Bojonegoro Suyoto yang turut hadir mengatakan sepakat menolak ekstemisme. Menurutnya, sikap merasa paling benar merupakan perilaku yang tida normal.

"Perasaan damai kuncinya. Apa yang diselenggarakan FKUB ini, usaha untuk merelaksasi, membikin suasana nyaman, tidak ekstrem, tidak ngotot untuk kebenaran. Damai dalam dirinya, lingkungan, alam dan tuhan," ungkapnya.

Sedangkan, salah seorang narasumber, Imam Mawardi menjelaskan, radikalisme yang mengatasnamakan agama merupakan hasil penafsiran sempit berdasarkan emosi, bukan rasionalisasi agama. "Jadi kalau ngomong agama, harus rasional holistik (utuh). Ketika ngomong agama secara parsial, akan terjadi letupan-letupan yang akan mengganggu," imbuhnya.

Ia mengingatkan, Bojonegoro mengandung potensi konflik ketika pembangunan Bojonegoro tidak merata, atau kepentingan-kepentingan kelompok dan kepartian yang mendominasi. Sehingga kesenjangan-kesenjangan yang menjadi dasar sampai munculnya radikalisme hars dihapus.

Ditambahkan, narasumber lainnya Pdt Simon Filantropa juga menceritakan, Provinsi Jawa Timur sudah belajar lebih dahulu soal aksi kelompok ekstrem. Karena peristiwa pada 1996, di Sidotopo Situbondo, sudah ada aksi perusakan gereja luar biasa, juga bom Natal tahun 2000.

Penyebab konflik lintas agama, menurutnya, lebih karena pemahaman yang tidak cukup. Tahunya hanya surga-neraka. “Kalau tidak sama mengikutinya masuk neraka. Selain itu karena jurang ketimpangan sosial sangat besar. Orang semakin nekat disebabkan problem sosial faktor ekonomi,” tuturnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul Ulama PKB Kab Tegal