Jumat, 17 November 2017

Belajar dari Hiruk-pikuk Pilkada DKI Jakarta

Pilkada DKI Jakarta kali ini merupakan momen politik paling hiruk-pikuk dan paling panas dalam sejarah pemilihan kepala daerah di Indonesia. Sekalipun hanya peristiwa politik lokal, tetapi daya jangkauannya bersifat nasional mengingat posisi Jakarta sebagai pusat informasi dan rujukan politik nasional. Sedemikian besar energi masyarakat yang digunakan untuk berdebat terkait dengan dukungan yang diberikan kepada masing-masing calon, sampai-sampai banyak urusan penting lainnya terabaikan.

Salah satu yang membuat daya getarnya merambat ke seluruh pelosok Indonesia adalah  keberadaan media sosial. Pada era media cetak masih menjadi andalan publik mencari informasi, sebaran berita sifatnya lokal sehingga pengaruhnya hanya melingkupi daerah di mana media tersebut diedarkan. Medsos mampu menembus batas lokalitas. Apa yang terjadi di satu tempat, dalam waktu sangat singkat, tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sayangnya, informasi yang beredar di medsos susah diverifikasi kebenarannya. Berita palsu atau hoax untuk mendiskreditkan lawan dari masing-masing kubu beredar secara viral  dari grup ke grup tanpa verifikasi kebenarannya yang mengakibatkan kegaduhan di mana-mana. Era posttruth di mana masyarakat mencari penegasan atas keyakinan yang dipeluknya menyebabkan mereka hanya menerima dan membagi informasi yang mendukung keyakinannya. Sifat kritis untuk memeriksa informasi dari dua belah pihak sudah hilang. Yang terjadi selanjutnya adalah, dukungan pada satu calon semakin militan.

Belajar dari Hiruk-pikuk Pilkada DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Hiruk-pikuk Pilkada DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Hiruk-pikuk Pilkada DKI Jakarta

Media sosial, dengan sifatnya yang anonim telah menjadi ajang caci-maki pada pihak lain yang  tidak sependapat dengannya. Siapa saja bisa melempar isu tanpa merasa perlu bertanggung jawab atau enggan kepada orang lain yang lebih dihormati sebagaimana terjadi di dunia nyata. Pernyataan-pernyataan yang tidak dibaca utuh, ditanggapi dengan komentar atau cacian sekenanya tanpa berpikir panjang. Dengan mudah dan tanpa pikir panjang, remaja tanggung tanpa ilmu pengetahuan memadai memberi komentar pedas pada kiai terhormat yang tidak sependapat dengannya. Teman yang sebelumnya baik-baik saja di-unfriend karena beda pendapat. Hubungan antarkeluarga besar bisa menjadi kaku, semua akibat ketidakdewasaan dalam mensikapi pilkada dan ketidakkritisan pada berita-berita palsu yang menyertainya.

PKB Kab Tegal

Politik memang kejam, di balik sikap santun yang ditunjukkan para calon di hadapan publik, para tim sukses bekerja dengan segala cara untuk meraih kemenangan. Para buzzer, menciptakan kegaduhan-kegaduhan di masyarakat melalui jaringan media sosial yang dikelolanya. Mereka tidak peduli soal efek sosial yang ditimbulkan dari status-status yang mereka unggah, yang penting, secara pribadi dapat bayaran, dan secara kelompok, target kemenangan dicapai. Fenomena ini bukan hanya di Indonesia, kejadian yang sama terjadi di Amerika Serikat di mana, banyak orang secara pribadi mengambil keuntungan dari mengunggah berita-berita palsu karena masyarakat suka atas informasi tersebut dan kemudian membaginya dengan sukarela. Dengan demikian, situs yang dikelolanya mendapat banyak kunjungan. Dari situlah uang dihasilkan. Faktor inilah yang dinilai oleh sebagian orang sebagai kunci kemenangan Donald Trump.

Jika tidak dikelola dengan baik dan diambil pelajaran atas kejadian seperti ini, maka ke depan metode-metode buruk untuk bersaing ini akan terus digunakan, bahkan dengan intensitas yang lebih tinggi dalam peristiwa politik selanjutnya seperti pada pemilihan legislatif dan pemilihan presiden pada 2019 mendatang.  Obor Rakyat, tabloid abal-abal yang dgunakan untuk menjatuhkan lawan dengan sejumlah berita palsu saat pilpres 2014 sudah cukup meresahkan. Kala itu, cara yang digunakan masih konvensional. Redaksi yang bertanggung jawab masih bisa diminta pertanggungjawabannya di depan hukum.  Informasi di media sosial dengan kecepatan persebaran yang luar biasa, dengan sumber yang tidak jelas, akan memiliki daya rusak yang dahsyat jika digunakan untuk kepentingan negatif.  

Pilkada DKI menjadi lampu kuning bagi pemerintah untuk segera menyiapkan perangkat hukum dan teknologi guna mengantisipasi meluasnya berita palsu pada peristiwa politik di masa mendatang. Sebagai contoh, pemerintah Jerman telah meminta facebook dan aplikasi media sosial lainnya untuk mengambil tindakan lebih guna mengantisipasi penyebaran berita palsu karena adanya anggapan bahwa selama ini perusahaan-perusahaan tersebut belum mengambil tindakan yang memadai atas beredarnya hoax. Jika tidak, maka akan ada denda sangat besar yang harus ditanggung perusahaan-perusahaan tersebut. Para pemimpin harus mendidik masyarakat bagaimana bersikap lebih rasional dalam menghadapi pilkada karena pilkada bukanlah segalanya, melainkan sesuatu yang rutin digelar. Pusat-pusat layanan untuk memverifiksi kebenaran berita harus ditambah. Sudah banyak komunitas yang peduli terhadap maraknya berita palsu, tetapi ini belum cukup. Semuanya demi menjaga tertib sosial.  

PKB Kab Tegal

Pilkada DKI Jakarta memang sempurna sebagai sebuah pertunjukan politik. Karakter msing-masing calon beserta kelebihan dan kelemahannya menjadi bahan pujian dan cacian pada kawan dan lawan, untuk menggerakkan dukungan dan mengintimidasi lawan. Menusia memang tidak ada yang sempurna, tapi bukan berarti boleh dicaci dengan semena-mena. Selamat kepada pemenang, pasangan Anies-Sandi. Semoga bisa menunaikan janji yang disampaikan selama masa kampanye. (Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Quote, Hikmah PKB Kab Tegal

Sumenep Jadi Tuan Rumah PKL GP Ansor Se-Jatim

Sumenep, PKB Kab Tegal. Kabupaten Sumenep menjadi tuan rumah Pelatihan Kepemimpan Lanjutan (PKL) yang dilangsungkan Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur. Bertempat di Aula SKB Sumenep, kegiatan tersebut diagendakan berlangsung dua hari, Sabtu-Ahad (8-9/4).

Pesertanya berasal dari kader Ansor Probolinggo, Surabaya, Malang, Kota dan Kabupaten Gresik, lamongan, Blitar, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, dan sebagainy.

Ketua Bidang Kaderisasi GP Ansor Jawa Timur Ruchman Bashori menegaskan, PKL kali ini dimaksudkan guna meningkatkan kemampuan organisasi kader Ansor yang militan dalam mengembangkan tugas. Diterangkan, nantinya peserta bakal dilatih menguasai serta mempraktikkan materi analisa politik dan intelejen, bela negara Hamkamrata, membangkitkan kewirausahaan pemuda, aswaja dan politik negara, dan lain sebagainya.

Sumenep Jadi Tuan Rumah PKL GP Ansor Se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Sumenep Jadi Tuan Rumah PKL GP Ansor Se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Sumenep Jadi Tuan Rumah PKL GP Ansor Se-Jatim

Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PW GP Ansor Jatim Andry Dewanto Ahmad menambahkan, untuk menjadi kader Ansor yang betul-betul memahami tentang kepimpinan, harus diadakan kegiatan semacam ini.

"Muaranya, guna menutup peluang Ansor bukan hanya digunakan tunggangan dalam merebut kepimpinan yang lebih dikenal Pilkada, tetapi bisa menjadi pemimpin yang benar-benar pemimpin sejati serta menumbuhkan kewirausahaan secara kolektif. Lebih dari itu, untuk mencatak kader NU yang milintan untuk mepertahankan ajaran Ahlusunnah wal Jamaah khususnya," terangnya.

PKB Kab Tegal

Sebagai tuan rumah, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Sumenep M Muhri Zaen berharap, kegiatan PKL kali ini betul-betul diikuti secara serius oleh kader Ansor yang menjadi peserta. Menurutnya, PKL merupakan momentum yang cukup efektif untuk menggali dan menumbuhkembangkan potensi kepemimpinan dalam diri kader Ansor. (Hairul Anam/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Hikmah PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal

Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial

Media sosial saat ini tak ubahnya seperti senjata tajam. Ia dapat digunakan untuk agenda kebaikan, seperti menyambung silaturahim dan berbagi ilmu pengetahuan, dan dapat pula diarahkan untuk menusuk dan membinasakan nyawa orang. Memang pada saat update status tidak ada darah yang tertumpah seperti halnya menusuk pedang ke perut orang. Tetapi coba perhatikan, tidak jarang status ujaran kebencian yang mengundang provokasi, konflik, bahkan bertumpahan darah.? ? ?

Maka dari itu, sejak dulu Islam menekankan pentingnya menjaga lisan. Andaikan dulu sudah ada medsos, kemungkinan besar Nabi juga meminta umatnya agar pandai menggunakan medsos. Gunakanlah untuk sesuatu yang bermanfaat dan jangan gunakan untuk pertikaian.

Dulu, sahabat Abu Musa al-‘Asy’ari pernah bertanya kepada Rasul: Wahai Rasul siapakah muslim terbaik? Rasul menjawab, “Muslim yang mampu menjaga orang lain dari ucapan dan perbuatannnya” (HR: al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)” (HR: al-Bukhari dan Muslim).

Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial

Kedua hadis ini menunjukan betapa pentingnya menjaga lisan bagi Rasulullah. Bahkan standar kebaikan, keutamaan, dan kesempurnaan Iman diukur berdasarkan sejauh mana ia mampu menjaga lisannya. Dalam konteks bermedia sosial, tentu kualitas iman dan islam seorang muslim dapat dilihat dari bagaimana cara mereka menggunakan media: apakah untuk kebaikan atau keburukan.

PKB Kab Tegal

? Status di media sosial, tentu seperti halnya kita bertutur kata sehari-hari. Mungkin pengaruh status yang kita ketik lebih besar ketimbang berbicara langsung. Karena pada saat bicara langsung pendengarnya sangat terbatas, sementara di media sosial siapapun dan dari belahan dunia manapun bisa membacanya.

? Terkait pentingnya menjaga lisan, Imam al-Nawawi dalam al-Azkar mengingatkan:? ?

PKB Kab Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hendaklah setiap orang menjaga lisannya pada pembicaraan apapun, kecuali bila dipastikan? ada kemaslahatannya. Namun jika bimbang, antara meninggalkan dan mengucapkannya sama-sama ada maslahahnya, disunnahkan tetap diam (tidak berkata apapun). Sebab terkadang perkataan biasa bisa berimplikasi pada keharaman dan makruh. Bahkan hal seperti ini banyak terjadi.”

? ? ?

Masih dalam kitab al-Azkar, Imam al-Nawawi mengutip pernyataan Imam al-Syafi’i terkait pentingnya menjaga kata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Apabila kalian hendak bicara, berpikirlah sebelumnya. Jika ada kemaslahatan pada ucapan tersebut, bicaralah. Andaikan kalian ragu, lebih baik tidak bicara sampai ditemukan kemaslahatannya”

Pikirlah sebelum bicara atau melontarkan kata di medsos. Timbang baik buruknya terlebih dahulu. Terkadang tidak semua pengetahuan dan informasi yang kita miliki mesti dipublikasikan. Adakalanya, informasi bagus tidak perlu disebarluaskan bila akan menganggu dan merusak ketenangan orang lain. Mari kita budayakan bermedia sosial yang sehat dan produktif. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sholawat, AlaNu, Internasional PKB Kab Tegal

Kamis, 16 November 2017

Ingin Tahu Kealiman Kiai Sahal, Baca “Thariqatul Hushul”

Jakarata, PKB Kab Tegal. Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh dikenal sebagai ulama yang memiliki dedikasi tinggi di bidang keilmuan. Kealiman Kiai Sahal di antaranya tercermin dari karya-karya ilmiah yang dihasilkan.

Ingin Tahu Kealiman Kiai Sahal, Baca “Thariqatul Hushul” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Tahu Kealiman Kiai Sahal, Baca “Thariqatul Hushul” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Tahu Kealiman Kiai Sahal, Baca “Thariqatul Hushul”

“Kita kehilangan tokoh, kiai yang alim. Kalau kita ingin tahu kealimannya, kita baca Thariqatul Hushul, syarah (penjelasan) Ghayatul Wushul karangan Abu Zakariyya al-Anshari, sehingga kita lebih mudah memahaminya,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Jumat (24/1).

Ghayatul Wushul yang merupakan kitab ushul fiqih karya ulama Syafiiyyah abad ke-9 H itu sebenarnya adalah syarah atas kitab Lubbul Ushul. Sehingga Thariqatul Hushul yang ditulis Kiai Sahal lebih tepat disebut hasyiyah (ulasan terhadap syarah) atas kitab Ghayatul Wushul.

PKB Kab Tegal

Dalam pengantar karyanya ini, Kiai Sahal bercerita bahwa sekitar tahun 1380 H (1961 M), ia diminta rekan-rekannya sesama santri untuk mengajarkan kitab Ghoyatul Wushul. Waktu itu Kiai Sahal sedang belajar di Pesantren Sarang, Jawa Tengah.

PKB Kab Tegal

Saat meminta izin kepada gurunya, Kiai Zubair bin Dahlan (ayah KH Maimun Zubair), ia tak hanya diberikan izin melainkan juga ijazah (sambungan sanad keilmuan). Kiai Sahal yang ketika itu berusia sekitar 24 tahun menuliskan banyak catatan penjelasan tentang isi kitab Ghayatul Wushul hingga akhirnya menjadi sebuah kitab setebal lebih dari 600 halaman seperti saat ini.

Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, mengakui kepakaran Rais Aam PBNU itu. Menurut dia, Kiai Sahal adalah ulama berbobot yang teguh dalam berprinsip.

“Beliau adalah orang yang lurus, bersih, yang laa yakhafu law mata laim, tidak gentar dikritik, tidak gentar dicaci, dan tidak sombong ketika dipuji. Dan beliau selalu (menerapkan pernyataan) qulil haqqa wa law kana murran, katakanlah kebenaran walaupun itu pahit,” katanya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Tegal, Syariah, AlaNu PKB Kab Tegal

Ilmu Pesantren Ditantang Respon Keadaan

Jepara,PKB Kab Tegal. Keilmuan pesantren ditantang untuk menjawab keadaan. Tantangan itu adalah munculnya kasus-kasus baru yang perlu segera direspon. Hal itu mengemuka pada diskusi yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, di Zumrotul Wildan, Senin (29/4) malam.

Dalam pembahasan tersebut, KH Ali Mukarom mengatakan, yang mesti direspon sekarang, misalnya persoalan hukum semisal muamalah, muncul adanya perbankan, bursa efek, pasar modal, asuransi, jual beli online, dan jual beli pulsa, “Maka, pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin harus terlibat dalam persoalan-persoalan tersebut,” katanya.  

Ilmu Pesantren Ditantang Respon Keadaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmu Pesantren Ditantang Respon Keadaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ilmu Pesantren Ditantang Respon Keadaan

Keampuhan” sekaligus “pengapesan” mayoritas pesantren adalah saat berhadapan dengan hal-hal kekinian. Tentu saja hal ini sudah bisa dicari, disadari, dianalisa penyebabnya, “Dan yang paling tepat sebagai muhasabah ialah karakter pesantren lebih dominan membahas fiqih furuiyyah,” terangnya.

PKB Kab Tegal

Menguasai qaul-qaul dan furuiyyah, lanjutnya, merupakan sampel suatu hukum itu diambil. Tetapi lanjut Kiai Ali, untuk menjawab problem masa kini masih memiliki keterbatasan masa lalu dan varian kejadiannya.

PKB Kab Tegal

Karenanya tantangan keilmuan pesantren, terang kiai asal desa Mantingan itu, bukan saja pada perkara furuiyyah saja melainkan harus lebih menghidupkan kembali khazanah keilmuan yang lebih mendasar, ushuliyyah, ilmu-ilmu ushul fiqh semisal kitab Al-Mutamad, Al-Burhan atau Al-Mushtasfa. Juga perlu lebih banyak mengkaji maqasidus syar’iyyah, maslahah mursalah, dan lainnya.   

“Pesantren juga perlu memiliki kepekaan dan keterbukaan terhadap perkembangan baru dan segala permasalahannya dan tidak terjebak dari sisi tekstualitas semata,” harapnya.

Kiai Ali juga menjelaskan, tujuan utama penetapan hukum Islam untuk mewujudkan kemaslahatan. Menurutnya, bisa dipastikan hukum Islam memberikan kemaslahatan bagi umat manusia.

Shohibul Ma’had Zumrotul Wildan, yang diwakili KH Hisyam Zamroni menyampaikan, melalui selapanan RMI kecamatan Tahunan, ia berharap agar pertemuan rutin bulanan tersebut bermanfaat untuk pesantren masing-masing, “Utamanya untuk pengembangan pondok pesantren Zumrotul Wildan,” ucapnya.

Hadir dalam kesempatan itu ketua RMI NU kecamatan Tahunan K Ali Masykur, Pengurus RMI-NU Cabang Jepara KH Abdul Baits Muchtar dan pengasuh pondok pesantren se-kecamatan Tahunan.

Redaktur        : Abdullah Alawi

Kontributor    : Syaiful Mustaqim

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ulama, Habib PKB Kab Tegal

Kiai Ali Maksum, Bibit Unggul dari Lasem

Bantul, PKB Kab Tegal. Banyak yang bertanya mengapa Agus Maftuh yang bukan alumni Pesantren Krapyak bisa dekat sekali dengan keluarga Krapyak. Bahkan sering pergi berdua dengan KH Attabik Ali ke Syiria, Yordania, Mesir, perbatasan Israel dan lain sebagainya.

Kiai Ali Maksum, Bibit Unggul dari Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ali Maksum, Bibit Unggul dari Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ali Maksum, Bibit Unggul dari Lasem

“Malam ini saya akan ungkap rahasia saya dengan keluarga Krapyak,” kata H. Agus Maftuh Abegebriel yang kini menjadi Duta Besar LBPP RI untuk Kerajaan Arab Saudi dalam acara Haul ke-27KH Ali Maksum Krapyak, Bantul, Yogyakarta, Rabu malam (17/2).

Ia mengaku pada usia empat tahun diajak ibunya yang bernama Siti Hidayah ke sebuah pesantren di Lasem. “Di sana saya disowankan kepada seorang kiai yang di kemudian hari saya ketahui bernama KH Maksum Lasem, ayah dari KH Ali Maksum. Jadi, saya tahu betul keluarga Lasem, ” ujar Agus Maftuh.

PKB Kab Tegal

Kiai Ali yang pernah menjabat Rais Aam PBNU, lanjutnya, adalah anak Kiai Maksum yang paling ganteng, dan memiliki kedalaman ilmu yang tinggi.

PKB Kab Tegal

“Kiai Ali Maksum itu orang yang alim, seorang ulama besar, meskipun telah wafat, sejatinya ia tidak pernah wafat. Itulah bedanya orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Agus Maftuh juga mengungkap rencana yang ia sebut sebagai konspirasi besar antara Kiai Munawwir dan Kiai Maksum Lasem.

“Jadi, Kiai Munawwir itu sadar kalau Pesantren Krapyak butuh seorang jago yang merupakan bibit unggul. Artinya bukan sembarang orang,” ungkapnya.

Kemudian Kiai Munawwir memilih Kiai Ali Maksum yang waktu itu masih muda dan terkenal alim.

Pada awalnya, Kiai Maksum keberatan, karena ia juga butuh Kiai Ali untuk membesarkan Pondok Pesantren miliknya. Akan tetapi, akhirnya Kiai Maksum merelakan Kiai Ali untuk ke Krapyak dengan satu syarat.

“Kiai Maksum merelakan Kiai Ali Maksum diboyong ke Krapyak dengan satu syarat. Syaratnya, jangan diungkit-ungkit,” tandas Agus Maftuh. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

? ? ?

? ? ?

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Syariah, Ulama PKB Kab Tegal

Badal Haji Dibutuhkan Calon Jemaah Uzur

Jakarta, PKB Kab Tegal. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir menyatakan haji diwajibkan bagi setiap muslim yang mampu mengadakan perjalanan ke tanah suci. Perintah itu ditemukan di dalam Al-Quran.

Badal Haji Dibutuhkan Calon Jemaah Uzur (Sumber Gambar : Nu Online)
Badal Haji Dibutuhkan Calon Jemaah Uzur (Sumber Gambar : Nu Online)

Badal Haji Dibutuhkan Calon Jemaah Uzur

Perihal kemampuan menurut keterangan ulama, sambung KH Saifuddin Amsir, meliputi kemampuan keuangan dan keamanan. Meskipun kondisi fisik yang terbatas dan terkendala usia, mereka yang mampu tetap wajib melaksanakan haji.

“Mereka yang uzur secara usia bisa menggunakan badal haji,” kata KH Saifuddin Amsir kepada PKB Kab Tegal di kediamannya di bilangan Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, Rabu (11/9) malam.

PKB Kab Tegal

Mereka yang memiliki kemampuan finansial tetapi telah memasuki usia senja dengan keterbatasan fisik, dapat menggunakan badal haji. Selain mereka, badal haji juga bisa digunakan oleh mereka yang memiliki uzur syar‘i seperti sakit, lumpuh, atau uzur lainnya, tambah KH Saifuddin Amsir.

PKB Kab Tegal

Badal haji, lanjut KH Saifuddin, merujuk pada praktik pengupahan tenaga seseorang untuk melaksanakan rukun dan wajib haji seseorang yang mempunyai uzur.

Untuk mereka yang uzur, agama memberikan keringanan melalui badal. Seandainya  memaksakan diri, mudharat yang tidak dikehendaki akan terjadi, tutup KH Saifuddin saat ditemui di rumahnya seusai pulang mengajar di salah satu majelis taklim.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kajian, Santri, Quote PKB Kab Tegal