Sabtu, 28 Oktober 2017

Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern

Dalam urusan tata kelola, Pesantren Al-Hamidiyah di daerah Sawangan Depok layak menjadi rujukan. Prinsip-prinsip manajemen modern dengan basis fungsi dan kompetensi diterapkan dengan baik. Dengan prinsip ini, pengasuh pesantren pun bukan berasal dari keluarga pendiri pesantren, tetapi merupakan orang lain yang benar-benar memiliki kompetensi dalam bidang agama dan pengelolaan pendidikan. Prinsip yang digunakan ini bagaikan sistem yang berlaku di perusahaan dimana CEO-nya tak harus selalu pemegang saham utama, tetapi bisa diserahkan kepada manajer yang kompeten.

Pesantren ini didirikan oleh KH Ahmad Saichu pada tahun 1988. Setelah ia meninggal pada 1995, kepemimpinan pesantren diserahkan pada KH Ali Mustofa Ya’kub, kemudian digantikan oleh KH Hamdan Rasyid, dan sejak tahun 1999 pengasuh pesantren diserahkan pada KH Zainuddin Maksum Ali. Tidak ada periodesasi pengasuh pesantren, mereka hanya mendapat SK pengangkatan. Selama pengasuhnya masih bersedia, tak akan ada penggantian. Seluruh unit pendidikan pesantren dikelola dibawah Yayasan Islam Al-Hamidiyah yang kini dipimpin oleh Imam Susanto Saichu, putra kia Saichu yang menjadi ahli bedak plastik di RSCM.

Pesantren Al-Hamidiyah didirikan oleh KH Ahmad Syaichu pada 17 Juli 1988. Pada awalnya hanya dibuka pendaftaran untuk pelajar Tsanawiyah yang waktu itu langsung penuh. Bahkan di tahun selanjutnya, sebagian santri harus tinggal di masyarakat sekitar pesantren karena asrama memang sudah tidak bisa menampung seluruh santri. Selanjutnya, seiring dengan perkembangan waktu, dikembangkan unit lainnya mulai dari TK, TPQ, dan STAI. Pada tahun 2000-an ini dikembangkan SDIT dan SMP. 

Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern

M Timmi Fauzan, humas Pesantren Al-Hamidiyah menjelaskan, dalam hal ini, keluarga KH Saichu membantu mengawasi jalannya pesantren dalam Dewan Pengasuh. Di Al-Hamidiyah, beberapa fungsi penting dipisah, seperti ada bidang SDM yang menangani kepegawaian, gaji, dan lainnya. Ada pula bidang pendidikan dan pengajaran yang mengelola berbagai hal terkait bidang tersebut, dan bidang keuangan. Di luar itu, ada lagi struktur pesantren, sekolah dan lainnya. 

PKB Kab Tegal

“Keluarga Kiai Saichu sudah memiliki planning soal itu. Beberapa pesantren, ketika pengasuhnya wafat, ada yang suka goyah. Alhamdulillah di sini tidak, manajemennya dibagi rata,” tuturnya. 

PKB Kab Tegal

Pembagian peran ini membuat transisi kepemimpinan bisa berlangsung dengan mulus jika satu orang yang bertugas berhalangan. Pada pesantren tradisional dengan kiai yang mengatur segalanya, mulai dari SDM-nya, keuangannya, dan lainnya, saat sosok tunggalnya wafat, proses transisi yang tidak mulus bisa menyebabkan eksistensi pesantren menjadi goyah sebagaimana banyak terjadi di beberapa pesantren. 

Kini, antara yang mendaftar dan yang diterima bisa berbanding 2:1. Jumlah santri hanya dibatasi sesuai dengan kapasitas asrama, yaitu 300 putra dan 300 putri. Sementara santri non-mukim sekitar 1200. Tingkat kenyamanan santri juga terus ditingkatkan. Pada awal berdirinya, santri tinggal di asrama hanya beralaskan tikar, tetapi kini sudah tidur di ranjang. Kapasitas santri per kamar juga semakin dikurangi. Awalnya satu kamar dihuni 24 santri, kemudian dikurangi menjadi 21, lalu menjadi 18, dan saat ini 16 santri. Timmi Fauzan menuturkan, pengelola pesantren menargetkan ke depan per kamar hanya dihuni 14 santri.  

“Yayasan berkeinginan, semakin ke sini, harus semakin nyaman,” paparnya. 

Pesantren ini juga dikenal sangat menjaga kebersihan. Ia menjelaskan, pengelolaan kebersihan diserahkan kepada tenaga outsourcing. Santri hanya bertugas menjaga kebersihan di kamarnya masing-masing.  

Untuk biaya, santri dikenakan biaya sebesar 1.450.000 per bulan untuk siswa Tsanawiyah sedangkan untuk siswa Aliyah 1.500.000 yang sudah mencakup seluruh kebutuhan santri di asrama. 

Saat ini, persentase terbesar santri berasal dari Depok dan wilayah terdekat Depok seperti Bogor dan Jakarta Selatan. Dari luar Jawa seperti Jambi dan Papua juga ada, tetapi persentasenya kecil. 

Dengan adanya fasilitas yang nyaman, maka para santri bisa belajar baik. Tak heran banyak santri yang masuk ke universitas negeri favorit seperti UGM, IPB, Unibraw dan lainnya. Bahkan tiga alumni pesantren ini menjadi lulusan terbaik. Ahmad Baihaqi lulus dengan prestasi cum laude di Universitas Diponegoro (2011), Fariz Badiuzzaman lulus cum laude Jurusan Teknik Arsitektur di UGM Yogyakarta (2014), dan Ahmad Bayhaqi, lulus cum laude jurusan Ilmu Kelautan Unibraw (2015). Sengaja nama-nama tersebut dipampang di pintu utama dekat masjid agar bisa menjadi suri tauladan bagi santri lainnya agar memiliki prestasi yang sama atau bahkan melebihi. Dari sejumlah piala yang ada, juga diketahui sejumlah prestasi lain seperti olimpiade matematika, lomba pidato bahasa dan lainnya. Tiga santri MA terbaiknya juga mendapat beasiswa penuh ke Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Bina Antar Budaya.

Sekolah berlangsung dari Senin sampai Jum’at sedangkan hari Sabtu khusus untuk kegiatan kepesantrenan sementara hari Ahad khusus untuk relaksasi atau kunjungan orang tua. Santri diizinkan pulang sebulan sekali. 

Di hari-hari biasa, santri belajar materi kepesantrenan pada malam hari. Kitab-kitab yang dikaji merupakan kitab standar yang diajarkan di pesantren seperti Arbain Nawawi, Bulughul Maram, Akhlak lil Banin/lil Banat, Ushfuriyyah, Nashoihul Ibad, Fathul Qarieb, Alfiyah Ibnu Malik, dan lainnya.

Pesantren memiliki koperasi simpan pinjam untuk guru serta memiliki minimarket yang menyediakan kebutuhan guru dan santri. 

Dengan tata kelola yang baik, pesantren Al-Hamidiyah mampu menjaga visinya untuk menghasilkan generasi penerus yang berprestasi sekaligus religius. Pesantren ini melangkah dengan yakin menjemput masa depan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Anti Hoax, Humor Islam, Syariah PKB Kab Tegal

Pencetak Banyak Hafidzah

Hari itu, langit dan bumi pesantren Babakan-Ciwaringin-Cirebon tiba-tiba ‘basah’. Bukan karena hujan lebat yang menimbulkan genangan banjir, melainkan karena para keluarga, santri, dan masyarakat meneteskan tangis air mata. Salah seorang ulama perempuan yang hafizhah itu wafat meninggalkan semuanya.

Sosok ulama perempuan hafizhah itu tak lain, Nyai Hj Izzah Syathori Fuad Amin, salah seorang pengasuh pesantren Bapenpori (Balai Pendidikan Pondok Putri) al-Istiqomah, putri dari al-Maghfurlah KH Abdullah Syathori (sesepuh pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun), dan istri mendiang KH Fuad Amin (sesepuh pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin). Beliau dipanggil oleh-Nya, 3 September 2013.

Nyai Izzah adalah sosok yang istiqomah dalam mencerdaskan umat, melalui pengajian rutin; pengajian kitab kuning maupun al-Qur’an. Tak mengenal kata lelah dan bosan dalam hal mengajar ngaji kepada para santri maupun masyarakat luas. Ini terbukti, salah satunya saat upacara pemakaman mendiang. Tak seperti biasanya, ribuan orang berjejalan dan sesak memenuhi areal maqbarah Raudlatut Tholibin.

Tak tahu ada berapa kali sesi shalat jenazah saat itu, baik yang berlangsung di pelataran masjid maupun saat sudah dimakamkan. Saya begitu yakin, ini karomah dan keistimewaan dari seorang hamba yang begitu mencintai dan mengabdikan sepenuh hidupnya demi dan untuk kelestarian al-Qur’an.

Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencetak Banyak Hafidzah

Pengajian yang istiqomah dilakukan Nyai Izzah pun sederhana. Untuk pengajian jami’iyah rutin mingguan, beliau hadir di hadapan para ibu-ibu menjelaskan berbagai macam ilmu. Pengajian seperti ini berlangsung di Babakan dan Arjawinangun. Jamaah pun menyimak dan berikutnya menampung banyak pertanyaan bernada keluh kesah seputar kehidupan agama, sosial, dan ekonomi rumah tangganya.

Nyai Maryam Abdullah, salah seorang menantu mendiang pernah bercerita: “Sering kali saya menyaksikan setiap malam Jum’at, beliau (al-Marhumah) hendak pergi mengajar pengajian ibu-ibu di Arjawinangun, walaupun dalam kondisi hujan, dan sekalipun harus naik becak tetap dilakoninya. Sebagai pemimpin jami’iyah di Babakan dan Arjawinangun beliau dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan memiliki karakter mobilisator.”

PKB Kab Tegal

Sementara saat di pesantren, Nyai Izzah akan setia membimbing para santriwati. Mengaji al-Qur’an misalnya, para santriwati berbaris rapi, bergiliran menyetorkan bacaan al-Qur’annya. Saking banyaknya santriwati yang ingin belajar mengaji al-Qur’an kepada beliau, setiap sesi setoran bacaan, beliau sanggup menyimak tidak kurang dari enam orang sekaligus secara bersamaan, masing-masing tiga orang santriwati di baris sebelah kanan dan kiri.

Tak hanya para santriwati, semua para Nyai yang ada di pesantren Babakan-Ciwaringin belajar mengaji al-Qur’an kepadanya. Beliaulah memang ulama perempuan paling otoritatif dalam bidang al-Qur’an baik di wilayah pesantren Babakan-Ciwaringin, pada khususnya, Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya.

Jika ditelusuri jejak intelektualnya, Nyai Izzah sendiri mesantren dan belajar mengaji langsung kepada al-Maghfurlah KH Mahfudh Mas’ud, pimpinan pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Ia pun mampu menghafal al-Qur’an (hafizhah) dalam waktu yang relatif singkat, hanya 9 bulan.

Demikianlah, maka pesantren Bapenpori al-Istiqomah, masyhur sebagai pesantren yang istiqomah mencetak para hafizhah, santriwati penghafal al-Qur’an. Putera-putrinya pun demikian, cerdas dan hafizh-hafizhah. Itu semua tak lain merupakan buah dari keberkahan, kecerdasan, dan keistiqomahan Nyai Izzah sebagai pengasuh dan pendidik di pesantren.

Yang sangat mengesankan, banyak di antara kaum ibu yang awalnya buta huruf al-Qur’an atau bahkan lidahnya susah untuk melafadzkan ayat-ayat al-Qur’an tetapi akhirnya fasih dan hafal surat-surat penting

PKB Kab Tegal

Saking istiqomahnya beliau dalam hal mengaji, saat hendak bepergian jauh pun beliau selalu mempertimbangkan agar tidak ketinggalan waktu mengaji. Setahu saya beliau juga orangnya ulet dan telaten dalam mengajar. Siapapun yang ingin mengaji kepada beliau mulai dari kalangan anak-anak sampai orang tua pasti dilayaninya dengan senang hati.

KH Thohari Shodiq, salah seorang pengasuh pesantren Raudlatut Tholibin, berkali-kali menegaskan bahwa Nyai Izzah adalah satu-satunya Nyai sepuh yang alim, terutama dalam hal kajian kitab kuning. Selain alim dalam kajian al-Qur’an.

Akhirnya, kita memanjatkan do’a, semoga Nyai Izzah berbahagia di bawah naungan surga-Nya. Demikian juga yang ditinggalkan, baik para santri, keluarga, dan masyarakat dapat tabah serta menimba keteladanan, keistiqomahan, dan keikhlasan dari seorang ulama perempuan yang hafizhah ini. Amin.

?

Mamang M. Haerudin

Ketua LP3M STID AL-Biruni Cirebon, khadim al-Ma’had pesantren Raudlatut Tholibin Babakan-Ciwaringin.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kiai PKB Kab Tegal

Tambatkan Hatimu pada Allah

Baru saja masyarakat Muslim melewati Idul Fitri setelah sebulan menjalani ibadah puasa. Momentum keagamaan secara semarak dirayakan di mana-mana, di desa di kota, di masjid, rumah-rumah, hingga di jalanan. Anak kecil, remaja hingga orang tua semua merasakan hari raya yang dalam bahasa Jawa disebut Bada. Bada berasalah dari bahasa Arab, ba’da yang berarti setelah. Idul fitri juga disebut dengan Lebaran, dari bahasa Jawa, lebar, artinya selesai.

Nah, apa yang dirasakan anak-anak hingga orang tua di saat lebaran? Apa yang ‘selesai’ setelah berpuasa sebulan penuh? Apa pula makna yang ingin dicapai Idul Fitri?

Hari Senin, 19 September 2011, Kontributor PKB Kab Tegal Magelang Sholahuddin al-Ahmed telah mewawancarai KH Yusuf Chudlori atau masyhur dikenal dengan Gus Yusuf Pengasuh Pondok Pesantren A.P.I Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah. Berikut hasil wawancaranya.

Tambatkan Hatimu pada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tambatkan Hatimu pada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tambatkan Hatimu pada Allah

Bagaimana Gus Yusuf memandang fenomena bulan puasa hingga tiba Idul Fitri?

Semua seperti balas dendam dan melampiaskannya pada hari Lebaran. Selama sebulan penuh umat Islam menjalani ujian menahan diri, nafsu makan amarah dan sebagainya. Pertanyaanya sekarang, ketika masuk Lebaran yakni hari lulus ujian itu, justru yang menjadi set back. Lebaran dimaknai sebagai hari kebebasan, dan hari balas dendam. Inilah yang membuat orang justru tidak berpikir prosesnya tetapi buru-buru kepingin Lebaran.

Seperti yang terjadi saat pertengahan Ramadhan. Seharusnya ini saat untuk tekun beribadah karena ada lailatul qadar, nuzulul quran dan sebagainya. Tetapi justru masyarakat justru sudah mikir kebutuhan Lebaran. Sudah mulai ribut ngurusi baju baru dan berbagai pernak-pernik lainnya, untuk keluarga. Bagi masyarakat yang tinggal di ibu kota seperti Jakarta apalagi berpenghasilan besar, tentu lebih heboh lagi mempersiapkan pulang kampung membawa segudang oleh-oleh untuk keluarga dan tetangganya. Jika dirinci satu bulan penuh waktunya habis untuk mempersiapan parcel, baju, angpau dan hidangan. Kemudian kapan beribadahnya?

Sebetulnya bagaimana kaitan Ramadhan dengan Idul Fitri?

PKB Kab Tegal

Yang dinamakan Id dalam Idul Fitri itu kembali kepada kemenangan. Laisal ied liman labisal jadid. Tidaklah dikatakan Idul Fitri bagi orang orang yang hanya berpakaian baru. Wa la kinnal ied liman taqwahu yazid, tapi orang-orang yang bisa meningkatkan ketaatannya kepada Allah.

PKB Kab Tegal

Efek puasa seharusnya membuat manusia semakin istiqomah dalam ibadah, dan jujur. Ketika puasa kita harus jujur kepada Allah. Puasa tidak puasa anak istrimu tidak akan tahu, tapi Allah akan tahu.

Kejujuran nilai spiritual yang terbangun selama bulan suci, membekas di bulan Syawal dan satu tahun mendatang. Baik itu kejujur pada Allah, dirinya sendiri, dan masyarakat. Setelah berpuasa orang juga diharapkan lebih manusiawi. Lebih punya empati kepada sesama. Karena puasa itu melatih merasakan lapar dahaga. Luwih nduwe perasaan, memanusiakan manusia. Sebelum melangkah atau bersikap, kita mesti berpikir, apakah perbuatan atau sikap itu merugikan orang lain.

Tapi sekarang kayanya terbalik, saat Lebaran justru manusia memikirkan dirinya sendiri. Sing penting iso tuku klambi anyar, sing penting pangananku enak-enak, sementara kanan kiri masih banyak orang yang susah. Itu berarti orang yang tidak lulus ujian.

Apa sih Gus, makna Syawal?

Rasulullah tanggal satu  Syawal shalat Id kemudian pulang, makan seadanya. Setelah itu tutup semua pintu. Tanggal dua syawal mulai puasa lagi sampai enam hari. Setelah itu baru dikatakan selesai penuh. Jadi ibaratnya, motong kambingnya di sana itu ya  tanggal 7 syawal.

Nah di tanggal dua Syawal hingga tanggal tujuh itu masih puasa, meski ya sunah. Karena sesungguhnya Rasulullah memberi penyadaran, saat Ramadhan iblis dan setan dibelenggu. Lalu tanggal satu Syawal pintu neraka dibuka kembali. Di situ, setan sedang semangat-semangatnya. Lagi nafsu-nafsunya setelah cuti satu bulan menggoda manusia. Bagi Rasulullah ini bahaya. Maka jangan berhenti kamu puasa. Jika kita tetap puasa tanggal dua Syawal setan-setan yang menggoda akan kecele.

Bukan orang Indonesia kalau tidak gemebyar dalam menyambut Syawal dengan sederet acara. Silahturahim itu memang baik itu forum untuk saling memaafkan, tapi dengan hidangan berlebihan dan menggelar pesta yang mewah. Jadi ada paradoks.  Kemudian Lebaran juga dijadikan momentum masyarakat mengunjungi tempat wisata. Hampir semua objek wisata selama libur Lebaran tak pernah sepi pengunjung, nilai lebaran telah bergeser ke ranah suka-suka.

Indonesia punya tradisi halal bi halal dan macam-macam upacara pasca Lebaran. Ini tradisi apa?

Indonesia memang unik, seperti saat Lebaran kita punya tradisi halal bi halal. Konsep halal bi halal itu memang bagus, karena puasa hanya menghapuskan dosa manusia kepada Allah. Sementara dosa-dosa terhadap manusia ini tidak akan dihapuskan oleh Allah manakala belum ada iqror, atau komunikasi saling memaafkan.

Esensi dari halal bi halal kan di situ sebenarnya. Tetapi ketika harus dipaksakan halal bi halal di restoran, hotel atau tempat tempat mewah, atau pamer, itu mengingkari makna dari halal bi halal itu sendiri. Berapa rupiah yang dihabiskan untuk hanya sebuah acara halal bi halal, padahal di sekeliling kita masih banyak orang miskin. Halal bi halal itu tujuannya untuk kembali suci, kembali bersih, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.

Bagaimanakah tradisi bermaaf-maafan zaman Rasullulah?

Sebenarnya kalau ajaran Rasulullah, untuk meminta maaf itu tidak harus menunggu Ramadhan. Begitu salah harus minta maaf. Bahkan sebelum masuk Ramadhan kita disunahkan untuk saling memaafkan. Tapi okelah tidak ada yang salah dengan halal bi halal, itu menyempurnakan puasa kita. Tapi sekarang tradisi itu kian bergeser. Zaman saya kecil, tanggal satu sampai tujuh Syawal itu tidak boleh main. Saya dikasih daftar, tanggal satu sowan mbahmu, tanggal dua sowan pak likmu Grabag, Muntilan, tanggal tiga sowan kyai A B C. Dikasih daftar absen. Baru setelah tanggal 7 Syawal selesai, kita bebas mau main ke mana.

Sekarang salaman cukup di masjid, tanggal 2 sudah sampai tempat wisata. Seiring dengan arus global dalam hal ini media juga ikut andil. Lebaran, puasa itu menjadi industri. Semua memanfaatkan momentum itu. Bagaimana semua berlomba-lomba memanfaatkan momentum itu untuk mendapatkan keuntungan material. Momen keagamaan dikapitalkan menjadi industri, ditata sedemikian rupa menawarkan produk untuk menjerat konsumen.

Pada awal puasa, di televisi para dai mempromosikan keagungan bulan Ramadhan, tetapi muncul selingan iklan dalam acara bersamaan menawarkan minum suplemen, obat maag, obat ini itu, semua lah, momen keagamaan bisa mereka pakai. Bagaimana masyarakat menyikapi semua ini agar tak terjebak pada pola hiduk konsumerisme. Menambatkan hati pada Allah sebagai penawar gebyarnya dunia.

Dunia industri masuk jauh ke ranah ibadah. Komentar Anda?

Komersialisasi momen Ramadhan dan Lebaran luar biasa, dan sudah bersaing ketat dengan ketaatan ibadah. Di akhir-akhir Ramadhan ini kan perang itu semakin tampak. Rasullulah sudah mengingatkan bahwa dalam Ramadahan ada lailatul qadar, yakni bulan yang lebih suci daripada seribu bulan. Qiyamul lail, di malam hari terjaga kamu akan mendapatkan pahala sebagaimana kamu ibadah selama seribu taun. Maka banyak-banyaklah beribadah malam.

Nah ini perang dengan diskon yang ditawarkan departement store. Paket Lebaran ini itu. Nah ini tinggal kita, mau tertarik tawaran promosinya Rasulullah atau promosinya pasar? Gitu kan? Terbukti kalau tengah Ramadhan ke atas itu kan masjid-masjid mulai maju. Maju shafnya maksudnya. Kemanakah mereka?

Mereka mulai thawaf ke mall, itikafnya ke pusat perbelanjaan. Ritual-ritual konsumerisme yang disambut suka cita. Dan sekarang pengelola mall juga pintar. Ada night sale, itu kan nyaingi lailatul qadar. Buka sampai jam 24.00-01.00, dan kalau mau belanja malam dikasih diskon yang lebih besar. Sama saja menyaingi ajaran Rasulullah, kalau kamu tengah malam ke masjid pahalamu bertambah. Sekarang kalau ada begini ini orang mau ke masjid jam berapa? Tarikan pasar itu luar biasa.

Jadi Ramadhan kita lebih marak secara badani ketimbang rohani?

Kita harus ingat catatan bahwa selama Ramadhan setan dan iblis dibelenggu. Kalau manusia lebih memilih ke mall daripada ke masjid itu bukan salah setan. Itu pribadi Anda sendiri, jangan salahkan setan. Maka Ramadhan dikatakan sebagai ajang untuk melihat sifat dan karakter asli manusia. Kalau Anda suka hedonis ya begitulah, kalau suka ibadah ya begitulah.

Maka satu bulan Ramadhan ini menjadi penentu dari satu bulan yang ada. Kalau satu bulan Ramadhan baik maka 11 bulan ke depan akan baik.

Sebaliknya, kalau sebulan ini rusak yo pancen aslimu kaya ngono kuwi. Puasa-puasa masih korupsi, masih selingkuh, ya memang itu aslimu. Maka orang sering bertanya kenapa kok Ramadhan masih ada kemaksiatan? Ya memang aslinya manusia begitu. 

Apa yang harus dilakukan santri menghadapi peristiwa keagamaan macam ini?

Menjaga tradisi silaturahim masyarakat. Kita jaga agar tidak lepas ke tempat hiburan-hiburan itu. Kalau di Tegalrejo kita punya satu Syawal. Saat itu masyarakat pulang dari masjid terus kumpul di pendapha setelah itu kita muter. Silaturahim dari rumah ke rumah, ada 140 rumah. Mulai dari pagi sampai sore. Dari orang kaya sampai orang miskin kita masuki. Maksudnya mengeratkan dan mendekatkan sesama. Dengan hidangan dan minuman pedesaan, ala kadarnya. Tak ada yang mewah seperti orang kota. Justru inilah sebagai satu pembelajaran bagi kita. Betapa sederhananya orang desa, apapun yang dipunya diberikan kepada tamunya.

***

Orang-orang kota perlu belajar dari orang desa, soal kesederhanaan dan kejujurannya. Jika di meja makan ada ayam opor, pastilah tamu yang datang itu makan sama seperti yang di makan tuan rumah, tak ada yang ditutupi dan disembunyikan. Itulah keramahan desa dalam menyambut lebaran dengan penuh kesederhaan.

Gus Yusuf lahir di Magelang pada 9 Juli 1973. Ia putra dari KH Chudlori (W 1977) pendiri pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Magelang yang didirikan pada tahun 1944. Saat ini, selain menjadi salah satu pengasuh lebih dari 3500 santri, ia aktif di masyarakat, memberikan pengajian pergi ke kampung-kampung atau lewat radio yang didirikannya, Fast FM.

Gus Yus dikenal sebagai pribadi yang bersahaja dan punya pededulian yang tinggi pada masyarakat dan segenap kebudayaannya. Tegalrejo, tiap tahunnya menjadi arena para seniman berkreasi, jadi Tegalrejo bukan hanya tempat santri mengaji.[]

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Daerah, Internasional, Doa PKB Kab Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Halal Bihalal, Muslimat NU Peduli Anak Nasional

Jakarta, PKB Kab Tegal. Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) menggelar Halal Bihalal, Sabtu (23/7) di Pusdiklat Kemensos, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Penyelenggaraan kegiatan bersamaan dengan Hari Anak Nasional yang jatuh pada hari ini.?

Oleh karena itu, Mulimat NU mengundang ratusan anak untuk menghadiri kegiatan ini. Tak lupa, Muslimat NU juga mengundang Arya Permana (10). Bocah asal Karawang yang terkena obesitas ekstrim. “Ada 200 anak yang kita undang sebagai apresiasi kepada mereka dalam memperingati Hari Anak Nasional,” ujar Ketua Panitia Hj Sri Mulyati kepada PKB Kab Tegal.

Halal Bihalal, Muslimat NU Peduli Anak Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal, Muslimat NU Peduli Anak Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal, Muslimat NU Peduli Anak Nasional

Dalam acara yang dipenuhi suasana baju merah muda yang dikenakan sebagai dresscode para ibu Muslimat NU, Sri Mulyati menyampaikan substansi kegiatan yang ditekankan pada perhatian lebih yang harus diberikan oleh para orang tua kepada anak-anaknya.

“Kami mengajak kepada para ibu Muslimat NU dan para orang tua di seluruh Indonesia agar memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya. Merekalah masa depan kita dan bangsa Indonesia,” tutur dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini yang juga menjelaskan sekitar 500 undangan hadir dalam acara ini yang terdiri dari pengurus wilayah dan cabang yang ada di wilayah Jabodetabek.

PKB Kab Tegal

Muslimat NU memberikan bantuan dan apresiasi kepada anak-anak yang diundang dalam kegiatan ini. Menurut keterangan Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa, ratusan anak-anak ini berasal dari Yayasan Dinamika Indonesia yang berada di sekitar TPA Bantar Gebang, Bekasi.

“Mereka adalah anak-anak yang luar biasa dengan kondisi dan keadaan yang tidak mendukung,” ujar Khofifah saat memberikan sambutan. Dalam acara ini, Muslimat NU juga menghadirkan Qori pembaca ayat Al-Qur’an dari seorang anak.?

PKB Kab Tegal

Oleh Muslimat NU, ratusan anak diberikan bantuan berupa tas dan alat belajar lainnya. Selain itu, Muslimat juga memberikan penghargaan khusus kepada sejumlah anak berprestasi disamping kepada para guru dan kepala sekolahnya.?

Kepada bocah Arya, Khofifah juga memberikan penghargaan atas prestasi Arya di sekolah. Sebelumnya, kedatangan Arya dalam acara ini menarik perhatian para undangan yang hadir. Semua terlihat prihatin melihat kondisi Arya yang menanggung berat badan yang tidak wajar disaat dirinya masih anak-anak. Arya Permana hadir didampingi kedua orang tuanya.

Dalam kegiatan ini hadir Dewan Penasihat PP Muslimat NU Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Hj Aisyah Hamid Baidlowi, Hj Mahfudzah Ali Ubaid. Hadir juga Dewan Pakar PP Muslimat NU Hj Huzaemah Tahido Yanggo, Hj Zaitunah Subhan, Hj Nabilah Lubis, serta para pengurus PP Muslimat NU. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Amalan, Pondok Pesantren PKB Kab Tegal

Dapat Dana Desa, Mensos Imbau Warga Tak Lakukan Urbanisasi

Jakarta, PKB Kab Tegal

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengimbau masyarakat di desa agar tidak ke kota (urbanisasi) pascalebaran karena saat ini pembangunan juga sudah mulai digiatkan di desa-desa terlebih lagi dengan adanya dana desa dari pemerintah.

Dapat Dana Desa, Mensos Imbau Warga Tak Lakukan Urbanisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dapat Dana Desa, Mensos Imbau Warga Tak Lakukan Urbanisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dapat Dana Desa, Mensos Imbau Warga Tak Lakukan Urbanisasi

"Hari ini sesungguhnya sentra-sentra ekonomi produktif sudah bisa dibangun di desa-desa," kata Mensos di sela-sela halal bi halal dengan keluarga besar Kementerian Sosial di Jakarta, Rabu.

Terlebih lagi, menurut Mensos dengan adanya dana desa dari pemerintah pusat bisa menjadi daya tarik untuk mereka membangun daerahnya.?

Setelah lebaran biasanya semakin banyak masyarakat desa yang pindah ke kota-kota besar karena daya tarik ekonomi dan harapan memperoleh kesejahteraan.?

Namun tidak semua warga melakukan urbanisasi memiliki keahlian yang dibutuhkan dunia kerja, karena itu saat mereka di kota tanpa pekerjaan yang layak akan menimbulkan masalah sosial seperti pengangguran, gelandangan, pengemis dan lainnya.

PKB Kab Tegal

Ditambah masalah kepadatan penduduk di kota-kota besar yang juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan perumahan, pangan sampai terjadi kemacetan.?

"Ini memang sudah tahunan. Dorongan mereka untuk keluar dari desanya adalah untuk menggapai kebahagiaan dan kesejahteraan yang lebih baik," ujar Khofifah.?

Di samping itu, daya tarik kota-kota besar seperti Jakarta begitu luar biasa, dimana menurut Khofifah 80 persen uang beredar di ibukota.

PKB Kab Tegal

"Mereka yang punya skill silahkan berjuang di ibukota. Yang belum punya kemampuan ikuti pelatihan keterampilan untuk bersaing untuk mendapatkan kesejahteraan," tambah dia. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Catatan Perjalanan Mahasiswa STAINU di Maroko

Rabat, PKB Kab Tegal. Bisa dibilang Maroko termasuk negara yang memiliki peradaban besar dalam sejarah perkembangan Islam di blantika Arab. Banyak ulama-ulama berpengaruh dunia yang muncul dari sana, sebut saja seperti Ibn Rusd, Ibn Khaldun, Ibn al Arabi, Ibn Batuta, Ibn Tofail, dan lain sebagainya. Maka menjadi suatu keharusan ketika berada di Maroko untuk sekedar “sowan dan ngalap berkah” terhadap ulama-ulama di negeri tersebut.

Catatan Perjalanan Mahasiswa STAINU di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Perjalanan Mahasiswa STAINU di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Perjalanan Mahasiswa STAINU di Maroko

Alhamdulillah kami mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang mengkuti program pendalaman bahasa Arab kelas internasional di Maroko telah mengadakan rihlah spiritual dan ilmiah ke beberapa tempat bersejarah di Maroko yang berada di kota Meknes dan Fes. Salah satu alasan pememilihan dua kota ini karna terkenal dengan kota peradaban dan ilmiah yang banyak mencetak ulama-ulama besar sejak puluhan abad silam semisal Ibn Rusd, Ibn al Arabi, Ibnu Khaldun, Ibn Asyir, Syekh as Sonhaji.

Selain itu terkenal juga dengan keasrian alamnya yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan menuju lokasi, mulai dari pemandangan yang sejuk di penuhi dengan hijau-hijauan pohon zaitun dan rumman (delima), sumber mata air bening nan jernih yang mengalir di sela-sela perkotaan dan tidak ketinggalan benteng-benteng coklat keabuan yang tinggi memanjang yang menjadi khas Maroko sehingga negeri ini akrab di sapa dengan “Negeri Seribu Benteng”. 

PKB Kab Tegal

Bermula dari seringnya mendengar nama-nama para tokoh terkenal dengan kemampuan spiritual-intelektualnya dalam beberapa diskusi ilmiah yang kami ikuti, yang ternyata banyak diantaranya berasal dari kota Fes. Tentu akan menjadi hal yang sangat nggregeti saat berada di Maroko tetapi tidak menyempatkan berkunjung ke tempat bersejarah tersebut. Niatan ingin kunjungan langsung ke tempat, menyaksikan dengan mata telanjang, serta ingin menjadikan kenangan terindah selama perkelanaan asing kami di bumi senja. 

Setelah mendiskusikan tentang rencana rihlah ini dengan teman-teman STAINU (Salaf Maroko) kami sepakat, dengan dibantu senior yang sudah lama di Maroko dan senantiasa membantu dari awal keberadaan di Maroko. Mereka membantu pengurusan dan penyewaan bus rihlah, penunjukkan jalan dan hal-hal penting lainnya maka rihlahpun bisa di berlangsungkan pada hari Sabtu 08/09/12 M yang diikuti sekitar 40 orang.

PKB Kab Tegal

Selain dari mahasiswa STAINU yang berjumlah 21 orang di Kenitra, ada juga dari beberapa mahasiswa luar kota Kenitra seperti Rabat, Fes dan Tangier yang ikut berpartisipasi dalam rihlah kami ini. 

Pada sekitar jam 10:00 BMT pak sopir mulai menancap gas meluncur ke dua kota tertuju dengan di mulai dari kota Meknes yang berada sebelum kota Fes sebagai penghujung rihlah ini. Perjalanan yang menegangkan penuh dengan jutaan tanya dan penasaran beraduk dengan rasa senang dan girang dalam benak kami membuat kami terefleksi untuk selalu melafadzkan subhanallah dalam lisan sepanjang perjalanan. Di tangah-tengah roda berputar dalam bus pariwisata berkapasitas 50 penumpang kami bisa menyaksikan bebarapa pemandangan kota di sepanjang jalan mulai dari kota Sidi Sulaiman, Sidi Qosim sebelum akhirnya sampai di tempat tujuan. 

Gurun luas  di pagari bukit-bukit bertitik hijau dengan pohon zaitun-nya dan bertitik putih dengan domba-domba gurun yang ikhlas dengan memakan rumput kering di gembalaanya menarik pikiran kami untuk mengakui kebesaran Allah dalam ciptaannya. Tak kalah menariknya saat kita dikejutkan dengan warna biru pekat di tengah warna gurun yang membuat mata ini layu melihatnya tiba-tiba menjadi segar dengan sebuah pemandangan danau dengan warna biru bening bak langit tak berawan, seakan mencerminkan langit dari dataran bumi yang gersang, menarik semua bola mata para penumpang untuk mengarah kesana, yang tentunya itu menarik hikmah tersndiri bagi yang mau bertafakkur akan keagungan ciptaan Allah. 

Alhamdulillah setelah kira-kira dua jam kita merintangi selat perbukitan panjang dan luas, setelah begitu lamanya kami memanjakan tatapan kita pada alam sekitar akhirnya sampai pada tujuan pertama dalam rihlah ini yaitu Volubilis atau dengan bahasa orang Marokonya Oualili. Kami bisa menyaksikan reruntuhan dan puing-puing bersejarah di lihat dari sisa-sisa reruntuhan bangunan yang tentunya sangat megah pada zamannya. sebut saja di antaranya Basilica, Capitol dll. Volubilis adalah salah satu peninggalan kerajaan Romawi yang dalam penelitian arkeolog kerajaan ini berdiri tiga abad sebelum masehi dalam kepemimpinan raja Youba II. Hal ini bisa di lihat dari bekas-bekas ukiran dan tulisan yang penuh dengan ciri dan kreasi yang sangat khas di papan-papan batu marmar yang sangat kokoh selama berabad-abad hingga bisa bertahan saat ini, yang dalam penelitian di ambil dari perbatuan gunung Zarhoun. Volubilis adalah tempat kuno bersejarah yang berada di belahan barat kota Zarhoun Maulay Idris, sekitar 40 KM dari kota Meknes.

Setelah cukup kami nikmati alam Volubilis, kami pun bergegas menuju rute rihlah berikutnya yaitu Dloreh Maulay Idris I yang berada di perbukitan yang tidak jauh dari Volubilis. Dloreh adalah berarti makam, sapaan untuk makam orang mulia dalam literatur bahasa Arab. Sangat layak dengan nama ini karena sosok yang kami kunjungi adalah pemuka dan penyebar agama Islam di maghribi, sebutan untuk Maroko, yang juga masih titisan darah suci baginda Rasulullah SAW (baca: ahlul bait). Beliau adalah sosok pejuang dari Masyrieq yang mempunyai saham besar dalam islamisasi di Maroko. Karna beliau-lah sebagai pendiri daulah Adarisah 788 M sebagai dinasti pertama di Maroko atas pembaiatan suku amazig yang ada di Oualili Zarhoun dan yang meresmikan kota Fes lama "Madinah baliah/ atiqoh" sebagai ibu kota pertama Maroko sebelum ibu kota Rabat.

Tempat yang sangat padat dengan pengunjung ini rupanya tidak di sia-siakan oleh para pebisnis. Kami pun disambut dengan  beraneka ragam pernak-pernik khas Maroko terlebih lilin dengan khas bentuk dan baunya yang harum hingga membuat kami bertanya-tanya dalam hati apa maksud dan tujuan tersebut. Kami beserta rombongan memasuki kawasan Dloreh yang bersebelahan dengan masjid. Dan setelah mengadakan pendekatan spiritual,kami pun menuju kunjungan berikutnya yaitu kota Fes sebagai kota terakhir dalam rute perjalanan kami. 

Dalam perjalanan kami di sambut dengan barisan pohon zaitun yang tertata rapi di sepanjang jalan memasuki kota Fes, seakan lambaian pohon-pohon itu adalah salam penghormatan bagi pengunjung kota tersebut. dalam benak kami, berdasarkan berbagai info yang kami dapat dari internet, Fes itu adalah surga dunia yang juga mempunyai 8 pintu layaknya surga di akhirat dan Fes selain unggul dari sisi ilmiahnya, juga di perkaya dengan kekayaan sumber alam, terlihat dari wana hijau yang menyelimuti kota fes di perbukitan serta bebarapa sumber mata air yang jernih dan sungai-sungai yang berada di sela-sela keramaian kota dan tentunya yang paling unik adalah motif ukirannya jauh lebih padat dan memikat dari ukiran Maroko secara umum. Dan info yang kami dapat tersebut tenyata cukup valid setelah kami bisa mebuktikan secara faktual bahwa Fes itu memang tidak jauh dari sanjungan seperti di atas. Kami menyaksikan pagar benteng yang tinggi dan panjang luar biasa saat pertama kali kami memasuki kota Fes. 

Setelah  rombongan tiba di lokasi kira-kira jam 04:00 GMT, sebagai pembukaan ziarah, kami segera menuju Dloreh Ibnu Al Aroby Al-Maafirie (468 H-543 H) salah satu ulama terkemuka pada zamannya. Ulama yang memiliki gelar Al Hafidz ini berasal dari penduduk Isybilia (Baca: Sevilla), Ibu kota Andalus yang berada di arah timur negara Spanyol. saat melakukan perantauan di masyriq, beliau berjumpa dengan bebarapa ulama terkenal di Baghdad, Damascus, Kufah dan Makkah, dan beliau sempat berguru kepada Abu Hamid Al Ghazali dan Abu Bakar Al Fihri. Setelah itu beliau melanjutkan rihlahnya ke Alexandria. Di tengah-tengah kepulangan beliau menuju Andalus, sempat juga berguru kepada Abu Bakar at Thurtusyie. Seteah banyak menimba ilmu dari Masyriq akhirnya beliau kembali tanah kelahiran menyebarkan pengtahuannya dengan Maroko menjadi ladang dakwahnya sampai beliau di Maroko tepatnya di kota Fes. 

Ada hal menarik saat kami ziarah ke Dloreh beliau yaitu kami bisa berjumpa dengan salah satu keturunan syekh Ibnu Al Aroby, seorang ibu yang setia mendoakan para peziaroh.Satu lagi yang menarik yaitu di tengah-tengah kita membaca tahlil dan surat-suratan dari ayat suci al-Quran, kepala kami disirami semacam air wangi dari botol khas Arab yang sempat sedikit mengganggu ke-khusyuan kami karna cukup menggagetkan. Setelah kami didoakan secara ikhlas oleh seorang ibu yang juga keturunan beliau tersebut, kami melanjutkan perjalanan rihlah menuju pasar tradisional Fes di kota lama. Kami mulai memusatkan pembelanjaan dengan membeli oleh-oleh untuk keluarga, saudara, dll, mumpung berada di kota Fes yang di kenal dengan berbagai jenis pernak pernik termasuk pakaian yang serba kulit dengan kualitas nomor satu yang layak dikoleksi. 

Setelah selesai berbelanja di pasar kami menuju masjid Al Qurawiyyin. Masjid ini merupakan masjid tertua dan bersejarah di dunia yang di bangun atas dana seorang perempuan yang menginfaq-kan semua hartanya  bernama Fathimah Al Fihriyyah. Dibangun pada tahun 245 H/ 859 M. Di Masjid ini kami melakukan sholat berjamaah sembari istirahat sejenak setelah cukup lelah mengelilingi pasar yang bergang-gang, panjang dan bercabang-cabang. setelah hati sudah mulai sejuk setelah melepas tanggung jawab sebagai orang Islam di masjid megah ini, kami kembali menyejukkan hati dengan berziarah ke Dloreh Sidi Ahmad At Tijani (1737 M - 1815 M) pendiri thoriqoh Tijaniah yang saat ini berkembang cukup pesat di Indonesia. 

Setelah cukup kami bernostalgia dengan Syekh At Tijani, kami pun harus meninggalkan kota surga ini menuju rumah kontrakan kami di Kenitra. Akhirnya kami kembali pulang menuju Kenitra setelah jam menunjukkan 09:00 GMT dengan lama perjalanan sekitar tiga jam. Semoga ini bukan perjumpaan terakhir kami dengan kota paling bersejarah ini, dan semoga Fes yang katanya surga dunia tersebut menjadi awal dan doa untuk kelak kita di akhirat menuju surga yang haqiqi nan abadi yang ma la ainun roat wala udzunun samiat wala khotoro ala qolbi basyar. Amin...

* Di tulis oleh tim kreatif Mahasiswa kelas internasional STAINU di Maroko atau yang menyebutkan dirinya dengan “Salaf Maroko”  



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Aswaja PKB Kab Tegal

Tahun Ajaran Baru, Puluhan Ribu Siswa Nyanyikan Ya Lal Wathan

Sidoarjo, PKB Kab Tegal - Upacara penutupan pengenalan lingkungan sekolah (PLS) dan pembukaan tahun ajaran baru yang dilakukan di halaman sekolah Yayasan Pendidikan Sosial Maarif (YPM) Hasyim Latif, Desa Ngelom, Kecamatan Taman Sidoarjo, Jalan Megare Ngelom Taman Sidoarjo, diikuti puluhan ribu siswa terdiri dari siswa MTs/MA dan SMK di bawah naungan YPM Hasyim Latief. Uparaca tersebut juga dihadiri Wakil Gubenrur Jawa Timur, H Saifullah Yusuf sebagai inspektur upacara.

?

Uniknya, dalam upacara PLS dan pembukaan tahun ajaran baru ini, para siswa menyanyikan lagu Ya Lal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah yang berisi seruan cinta tanah air. Selain itu, para guru dan siswa juga meneriakkan yel-yel semboyan Nahdlatul Ulama yang berdaulat Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Unduh Lagu "Ya Lal Wathan").
Tahun Ajaran Baru, Puluhan Ribu Siswa Nyanyikan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Ajaran Baru, Puluhan Ribu Siswa Nyanyikan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Ajaran Baru, Puluhan Ribu Siswa Nyanyikan Ya Lal Wathan

?

Menurut Ketua YPM Hasyim Latief, Ahmad Makki, kegiatan ini adalah penutupan kegiatan PLS yang sudah dilakukan selama satu minggu. Kegiatan PLS di YPM ini juga berbeda dari sekolah lainya. Karena para siswa diberikan pengajaran kecintaan kepada Nahdaltul Ulama dan mempunyai rasa nasionalisme terhadap NKRI serta berakhlak mulia.

PKB Kab Tegal

"Yang memang kita inginkan adalah menanamkan ke siswa untuk rasa nasionalisme dan rasa cinta kepada NU. Sehingga, pada pelaksanaan PLS banyak muatan seputar jati diri sebagai orang NU dan sebagai orang Indonesia kita berikan kepada para siswa. Mengingat, tema kita adalah Meneguhkan Keindonesiaan dan Ke-NU-an dalam Rangka Membina Akhlak Mulia," kata Ahmad Makki, Ahad (24/7).

Ia menjelaskan, masa orentasi siswa (MOS) saat ini diganti oleh Kementrian Pendidikan dengan nama pengenalan lingkungan sekolah atau PLS. Dengan diubahnya nama itu, diharapkan tidak ada aksi perploncoan terhadap siswa baru. Dalam hal ini, pendidikan yang berbasis akhlak nantinya bisa diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan terkait ajaran amaliyah An-Nahdliyah.

?

"Para siswa juga kita kenalkan NU melalui tokoh NU. Sehingga mereka bisa membaca peran NU dalam pendirian bangsa Indonesia. Dalam proses KBM nanti, kita juga akan memberikan mata pelajaran agama meliputi, fiqih, aqidah akhlak, aswaja dan Al-Quran hadits. Di dalamnya akan kita masukkan tentang jiwa nasionalisme dan jati diri seorang NU. Sehingga, mereka tidak mudah goyah apabila ada hal-hal yang berkaitan tentangan amalan An-Nahdliyah," jelasnya. (Moh Kholidun/Mahbib)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Fragmen PKB Kab Tegal