Jumat, 27 Oktober 2017

Dapat Dana Desa, Mensos Imbau Warga Tak Lakukan Urbanisasi

Jakarta, PKB Kab Tegal

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengimbau masyarakat di desa agar tidak ke kota (urbanisasi) pascalebaran karena saat ini pembangunan juga sudah mulai digiatkan di desa-desa terlebih lagi dengan adanya dana desa dari pemerintah.

Dapat Dana Desa, Mensos Imbau Warga Tak Lakukan Urbanisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dapat Dana Desa, Mensos Imbau Warga Tak Lakukan Urbanisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dapat Dana Desa, Mensos Imbau Warga Tak Lakukan Urbanisasi

"Hari ini sesungguhnya sentra-sentra ekonomi produktif sudah bisa dibangun di desa-desa," kata Mensos di sela-sela halal bi halal dengan keluarga besar Kementerian Sosial di Jakarta, Rabu.

Terlebih lagi, menurut Mensos dengan adanya dana desa dari pemerintah pusat bisa menjadi daya tarik untuk mereka membangun daerahnya.?

Setelah lebaran biasanya semakin banyak masyarakat desa yang pindah ke kota-kota besar karena daya tarik ekonomi dan harapan memperoleh kesejahteraan.?

Namun tidak semua warga melakukan urbanisasi memiliki keahlian yang dibutuhkan dunia kerja, karena itu saat mereka di kota tanpa pekerjaan yang layak akan menimbulkan masalah sosial seperti pengangguran, gelandangan, pengemis dan lainnya.

PKB Kab Tegal

Ditambah masalah kepadatan penduduk di kota-kota besar yang juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan perumahan, pangan sampai terjadi kemacetan.?

"Ini memang sudah tahunan. Dorongan mereka untuk keluar dari desanya adalah untuk menggapai kebahagiaan dan kesejahteraan yang lebih baik," ujar Khofifah.?

Di samping itu, daya tarik kota-kota besar seperti Jakarta begitu luar biasa, dimana menurut Khofifah 80 persen uang beredar di ibukota.

PKB Kab Tegal

"Mereka yang punya skill silahkan berjuang di ibukota. Yang belum punya kemampuan ikuti pelatihan keterampilan untuk bersaing untuk mendapatkan kesejahteraan," tambah dia. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Catatan Perjalanan Mahasiswa STAINU di Maroko

Rabat, PKB Kab Tegal. Bisa dibilang Maroko termasuk negara yang memiliki peradaban besar dalam sejarah perkembangan Islam di blantika Arab. Banyak ulama-ulama berpengaruh dunia yang muncul dari sana, sebut saja seperti Ibn Rusd, Ibn Khaldun, Ibn al Arabi, Ibn Batuta, Ibn Tofail, dan lain sebagainya. Maka menjadi suatu keharusan ketika berada di Maroko untuk sekedar “sowan dan ngalap berkah” terhadap ulama-ulama di negeri tersebut.

Catatan Perjalanan Mahasiswa STAINU di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Perjalanan Mahasiswa STAINU di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Perjalanan Mahasiswa STAINU di Maroko

Alhamdulillah kami mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang mengkuti program pendalaman bahasa Arab kelas internasional di Maroko telah mengadakan rihlah spiritual dan ilmiah ke beberapa tempat bersejarah di Maroko yang berada di kota Meknes dan Fes. Salah satu alasan pememilihan dua kota ini karna terkenal dengan kota peradaban dan ilmiah yang banyak mencetak ulama-ulama besar sejak puluhan abad silam semisal Ibn Rusd, Ibn al Arabi, Ibnu Khaldun, Ibn Asyir, Syekh as Sonhaji.

Selain itu terkenal juga dengan keasrian alamnya yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan menuju lokasi, mulai dari pemandangan yang sejuk di penuhi dengan hijau-hijauan pohon zaitun dan rumman (delima), sumber mata air bening nan jernih yang mengalir di sela-sela perkotaan dan tidak ketinggalan benteng-benteng coklat keabuan yang tinggi memanjang yang menjadi khas Maroko sehingga negeri ini akrab di sapa dengan “Negeri Seribu Benteng”. 

PKB Kab Tegal

Bermula dari seringnya mendengar nama-nama para tokoh terkenal dengan kemampuan spiritual-intelektualnya dalam beberapa diskusi ilmiah yang kami ikuti, yang ternyata banyak diantaranya berasal dari kota Fes. Tentu akan menjadi hal yang sangat nggregeti saat berada di Maroko tetapi tidak menyempatkan berkunjung ke tempat bersejarah tersebut. Niatan ingin kunjungan langsung ke tempat, menyaksikan dengan mata telanjang, serta ingin menjadikan kenangan terindah selama perkelanaan asing kami di bumi senja. 

Setelah mendiskusikan tentang rencana rihlah ini dengan teman-teman STAINU (Salaf Maroko) kami sepakat, dengan dibantu senior yang sudah lama di Maroko dan senantiasa membantu dari awal keberadaan di Maroko. Mereka membantu pengurusan dan penyewaan bus rihlah, penunjukkan jalan dan hal-hal penting lainnya maka rihlahpun bisa di berlangsungkan pada hari Sabtu 08/09/12 M yang diikuti sekitar 40 orang.

PKB Kab Tegal

Selain dari mahasiswa STAINU yang berjumlah 21 orang di Kenitra, ada juga dari beberapa mahasiswa luar kota Kenitra seperti Rabat, Fes dan Tangier yang ikut berpartisipasi dalam rihlah kami ini. 

Pada sekitar jam 10:00 BMT pak sopir mulai menancap gas meluncur ke dua kota tertuju dengan di mulai dari kota Meknes yang berada sebelum kota Fes sebagai penghujung rihlah ini. Perjalanan yang menegangkan penuh dengan jutaan tanya dan penasaran beraduk dengan rasa senang dan girang dalam benak kami membuat kami terefleksi untuk selalu melafadzkan subhanallah dalam lisan sepanjang perjalanan. Di tangah-tengah roda berputar dalam bus pariwisata berkapasitas 50 penumpang kami bisa menyaksikan bebarapa pemandangan kota di sepanjang jalan mulai dari kota Sidi Sulaiman, Sidi Qosim sebelum akhirnya sampai di tempat tujuan. 

Gurun luas  di pagari bukit-bukit bertitik hijau dengan pohon zaitun-nya dan bertitik putih dengan domba-domba gurun yang ikhlas dengan memakan rumput kering di gembalaanya menarik pikiran kami untuk mengakui kebesaran Allah dalam ciptaannya. Tak kalah menariknya saat kita dikejutkan dengan warna biru pekat di tengah warna gurun yang membuat mata ini layu melihatnya tiba-tiba menjadi segar dengan sebuah pemandangan danau dengan warna biru bening bak langit tak berawan, seakan mencerminkan langit dari dataran bumi yang gersang, menarik semua bola mata para penumpang untuk mengarah kesana, yang tentunya itu menarik hikmah tersndiri bagi yang mau bertafakkur akan keagungan ciptaan Allah. 

Alhamdulillah setelah kira-kira dua jam kita merintangi selat perbukitan panjang dan luas, setelah begitu lamanya kami memanjakan tatapan kita pada alam sekitar akhirnya sampai pada tujuan pertama dalam rihlah ini yaitu Volubilis atau dengan bahasa orang Marokonya Oualili. Kami bisa menyaksikan reruntuhan dan puing-puing bersejarah di lihat dari sisa-sisa reruntuhan bangunan yang tentunya sangat megah pada zamannya. sebut saja di antaranya Basilica, Capitol dll. Volubilis adalah salah satu peninggalan kerajaan Romawi yang dalam penelitian arkeolog kerajaan ini berdiri tiga abad sebelum masehi dalam kepemimpinan raja Youba II. Hal ini bisa di lihat dari bekas-bekas ukiran dan tulisan yang penuh dengan ciri dan kreasi yang sangat khas di papan-papan batu marmar yang sangat kokoh selama berabad-abad hingga bisa bertahan saat ini, yang dalam penelitian di ambil dari perbatuan gunung Zarhoun. Volubilis adalah tempat kuno bersejarah yang berada di belahan barat kota Zarhoun Maulay Idris, sekitar 40 KM dari kota Meknes.

Setelah cukup kami nikmati alam Volubilis, kami pun bergegas menuju rute rihlah berikutnya yaitu Dloreh Maulay Idris I yang berada di perbukitan yang tidak jauh dari Volubilis. Dloreh adalah berarti makam, sapaan untuk makam orang mulia dalam literatur bahasa Arab. Sangat layak dengan nama ini karena sosok yang kami kunjungi adalah pemuka dan penyebar agama Islam di maghribi, sebutan untuk Maroko, yang juga masih titisan darah suci baginda Rasulullah SAW (baca: ahlul bait). Beliau adalah sosok pejuang dari Masyrieq yang mempunyai saham besar dalam islamisasi di Maroko. Karna beliau-lah sebagai pendiri daulah Adarisah 788 M sebagai dinasti pertama di Maroko atas pembaiatan suku amazig yang ada di Oualili Zarhoun dan yang meresmikan kota Fes lama "Madinah baliah/ atiqoh" sebagai ibu kota pertama Maroko sebelum ibu kota Rabat.

Tempat yang sangat padat dengan pengunjung ini rupanya tidak di sia-siakan oleh para pebisnis. Kami pun disambut dengan  beraneka ragam pernak-pernik khas Maroko terlebih lilin dengan khas bentuk dan baunya yang harum hingga membuat kami bertanya-tanya dalam hati apa maksud dan tujuan tersebut. Kami beserta rombongan memasuki kawasan Dloreh yang bersebelahan dengan masjid. Dan setelah mengadakan pendekatan spiritual,kami pun menuju kunjungan berikutnya yaitu kota Fes sebagai kota terakhir dalam rute perjalanan kami. 

Dalam perjalanan kami di sambut dengan barisan pohon zaitun yang tertata rapi di sepanjang jalan memasuki kota Fes, seakan lambaian pohon-pohon itu adalah salam penghormatan bagi pengunjung kota tersebut. dalam benak kami, berdasarkan berbagai info yang kami dapat dari internet, Fes itu adalah surga dunia yang juga mempunyai 8 pintu layaknya surga di akhirat dan Fes selain unggul dari sisi ilmiahnya, juga di perkaya dengan kekayaan sumber alam, terlihat dari wana hijau yang menyelimuti kota fes di perbukitan serta bebarapa sumber mata air yang jernih dan sungai-sungai yang berada di sela-sela keramaian kota dan tentunya yang paling unik adalah motif ukirannya jauh lebih padat dan memikat dari ukiran Maroko secara umum. Dan info yang kami dapat tersebut tenyata cukup valid setelah kami bisa mebuktikan secara faktual bahwa Fes itu memang tidak jauh dari sanjungan seperti di atas. Kami menyaksikan pagar benteng yang tinggi dan panjang luar biasa saat pertama kali kami memasuki kota Fes. 

Setelah  rombongan tiba di lokasi kira-kira jam 04:00 GMT, sebagai pembukaan ziarah, kami segera menuju Dloreh Ibnu Al Aroby Al-Maafirie (468 H-543 H) salah satu ulama terkemuka pada zamannya. Ulama yang memiliki gelar Al Hafidz ini berasal dari penduduk Isybilia (Baca: Sevilla), Ibu kota Andalus yang berada di arah timur negara Spanyol. saat melakukan perantauan di masyriq, beliau berjumpa dengan bebarapa ulama terkenal di Baghdad, Damascus, Kufah dan Makkah, dan beliau sempat berguru kepada Abu Hamid Al Ghazali dan Abu Bakar Al Fihri. Setelah itu beliau melanjutkan rihlahnya ke Alexandria. Di tengah-tengah kepulangan beliau menuju Andalus, sempat juga berguru kepada Abu Bakar at Thurtusyie. Seteah banyak menimba ilmu dari Masyriq akhirnya beliau kembali tanah kelahiran menyebarkan pengtahuannya dengan Maroko menjadi ladang dakwahnya sampai beliau di Maroko tepatnya di kota Fes. 

Ada hal menarik saat kami ziarah ke Dloreh beliau yaitu kami bisa berjumpa dengan salah satu keturunan syekh Ibnu Al Aroby, seorang ibu yang setia mendoakan para peziaroh.Satu lagi yang menarik yaitu di tengah-tengah kita membaca tahlil dan surat-suratan dari ayat suci al-Quran, kepala kami disirami semacam air wangi dari botol khas Arab yang sempat sedikit mengganggu ke-khusyuan kami karna cukup menggagetkan. Setelah kami didoakan secara ikhlas oleh seorang ibu yang juga keturunan beliau tersebut, kami melanjutkan perjalanan rihlah menuju pasar tradisional Fes di kota lama. Kami mulai memusatkan pembelanjaan dengan membeli oleh-oleh untuk keluarga, saudara, dll, mumpung berada di kota Fes yang di kenal dengan berbagai jenis pernak pernik termasuk pakaian yang serba kulit dengan kualitas nomor satu yang layak dikoleksi. 

Setelah selesai berbelanja di pasar kami menuju masjid Al Qurawiyyin. Masjid ini merupakan masjid tertua dan bersejarah di dunia yang di bangun atas dana seorang perempuan yang menginfaq-kan semua hartanya  bernama Fathimah Al Fihriyyah. Dibangun pada tahun 245 H/ 859 M. Di Masjid ini kami melakukan sholat berjamaah sembari istirahat sejenak setelah cukup lelah mengelilingi pasar yang bergang-gang, panjang dan bercabang-cabang. setelah hati sudah mulai sejuk setelah melepas tanggung jawab sebagai orang Islam di masjid megah ini, kami kembali menyejukkan hati dengan berziarah ke Dloreh Sidi Ahmad At Tijani (1737 M - 1815 M) pendiri thoriqoh Tijaniah yang saat ini berkembang cukup pesat di Indonesia. 

Setelah cukup kami bernostalgia dengan Syekh At Tijani, kami pun harus meninggalkan kota surga ini menuju rumah kontrakan kami di Kenitra. Akhirnya kami kembali pulang menuju Kenitra setelah jam menunjukkan 09:00 GMT dengan lama perjalanan sekitar tiga jam. Semoga ini bukan perjumpaan terakhir kami dengan kota paling bersejarah ini, dan semoga Fes yang katanya surga dunia tersebut menjadi awal dan doa untuk kelak kita di akhirat menuju surga yang haqiqi nan abadi yang ma la ainun roat wala udzunun samiat wala khotoro ala qolbi basyar. Amin...

* Di tulis oleh tim kreatif Mahasiswa kelas internasional STAINU di Maroko atau yang menyebutkan dirinya dengan “Salaf Maroko”  



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Aswaja PKB Kab Tegal

Tahun Ajaran Baru, Puluhan Ribu Siswa Nyanyikan Ya Lal Wathan

Sidoarjo, PKB Kab Tegal - Upacara penutupan pengenalan lingkungan sekolah (PLS) dan pembukaan tahun ajaran baru yang dilakukan di halaman sekolah Yayasan Pendidikan Sosial Maarif (YPM) Hasyim Latif, Desa Ngelom, Kecamatan Taman Sidoarjo, Jalan Megare Ngelom Taman Sidoarjo, diikuti puluhan ribu siswa terdiri dari siswa MTs/MA dan SMK di bawah naungan YPM Hasyim Latief. Uparaca tersebut juga dihadiri Wakil Gubenrur Jawa Timur, H Saifullah Yusuf sebagai inspektur upacara.

?

Uniknya, dalam upacara PLS dan pembukaan tahun ajaran baru ini, para siswa menyanyikan lagu Ya Lal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah yang berisi seruan cinta tanah air. Selain itu, para guru dan siswa juga meneriakkan yel-yel semboyan Nahdlatul Ulama yang berdaulat Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Unduh Lagu "Ya Lal Wathan").
Tahun Ajaran Baru, Puluhan Ribu Siswa Nyanyikan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Ajaran Baru, Puluhan Ribu Siswa Nyanyikan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Ajaran Baru, Puluhan Ribu Siswa Nyanyikan Ya Lal Wathan

?

Menurut Ketua YPM Hasyim Latief, Ahmad Makki, kegiatan ini adalah penutupan kegiatan PLS yang sudah dilakukan selama satu minggu. Kegiatan PLS di YPM ini juga berbeda dari sekolah lainya. Karena para siswa diberikan pengajaran kecintaan kepada Nahdaltul Ulama dan mempunyai rasa nasionalisme terhadap NKRI serta berakhlak mulia.

PKB Kab Tegal

"Yang memang kita inginkan adalah menanamkan ke siswa untuk rasa nasionalisme dan rasa cinta kepada NU. Sehingga, pada pelaksanaan PLS banyak muatan seputar jati diri sebagai orang NU dan sebagai orang Indonesia kita berikan kepada para siswa. Mengingat, tema kita adalah Meneguhkan Keindonesiaan dan Ke-NU-an dalam Rangka Membina Akhlak Mulia," kata Ahmad Makki, Ahad (24/7).

Ia menjelaskan, masa orentasi siswa (MOS) saat ini diganti oleh Kementrian Pendidikan dengan nama pengenalan lingkungan sekolah atau PLS. Dengan diubahnya nama itu, diharapkan tidak ada aksi perploncoan terhadap siswa baru. Dalam hal ini, pendidikan yang berbasis akhlak nantinya bisa diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan terkait ajaran amaliyah An-Nahdliyah.

?

"Para siswa juga kita kenalkan NU melalui tokoh NU. Sehingga mereka bisa membaca peran NU dalam pendirian bangsa Indonesia. Dalam proses KBM nanti, kita juga akan memberikan mata pelajaran agama meliputi, fiqih, aqidah akhlak, aswaja dan Al-Quran hadits. Di dalamnya akan kita masukkan tentang jiwa nasionalisme dan jati diri seorang NU. Sehingga, mereka tidak mudah goyah apabila ada hal-hal yang berkaitan tentangan amalan An-Nahdliyah," jelasnya. (Moh Kholidun/Mahbib)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Fragmen PKB Kab Tegal

Mustolih: Kalau Tidak Transparan, Hentikan Pungutan Dana Publik

Jakarta, PKB Kab Tegal. Terkait keberatan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (SAT) disebut sebagai badan publik, Mustolih Siroj mengatakan tidak ada persoalan apakah Alfamart badan publik atau bukan. Menurutnya, menghimpun dana publik, harus memberikan transparansi dalam pelaporan dana yang dikumpulkan.

“Kalau Alfamart tidak mampu memberikan transparansi kepada publik, padahal Alfamart harus mempertanggungjawabkan itu, maka hentikan pungutan sumbangan kepada publik,” kata Mustolih, sesaat setelah menjadi pembicara dalam acara Ngobrol Filantropi (Ngopi) yang digelar NU Care Tangerang Selatan, di Saung Cendol Huis, Ciputat, Ahad (26/2).

(Baca:? Pengelola Jaringan Alfamart Tolak Disebut Badan Publik)

Mustolih: Kalau Tidak Transparan, Hentikan Pungutan Dana Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustolih: Kalau Tidak Transparan, Hentikan Pungutan Dana Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustolih: Kalau Tidak Transparan, Hentikan Pungutan Dana Publik

Mustolih menegaskan pihaknya tidak minta ketransparanan pada tata kelola Alfamart, misalnya terkait dengan transaksi bisnis, manajemen, gaji karyawan, maupun keuntungan.?

“Sejak awal saya tidak ingin mengotak-atik misalnya laba Alfamart berapa, gaji karyawan berapa, menajemen seperti apa. Itu kegiatan komersial Alfamart yang kita hargai dan tidak kita persoalkan,” ungkapnya.

PKB Kab Tegal

Hanya saja, lanjut Mustolih, Alfamart meminta sumbangan kepada setiap konsumen yang datang, walaupun itu hanya uang kembalian bernilai seratus rupiah. Menjadi sangat penting bagi Alfamart untuk melakukan transparansi.?

“Alfamart sudah melakukan pungutan seperti yang dilakukan lembaga zakat seperti NU Care LAZISNU, Dompet Duafa, Lazismu. Apakah Alfamart juga sudah melakukan pelaporan seperti lembaga-lembaga zakat, ini yang tidak pernah. Mestinya setiap akhir tahun ada laporan neraca keuangan, lalu dimuat di koran. Alfamart tidak melakukan itu,” terang Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mustolih juga menyampaikan tuntutannya ? agar Alfamart melakukan transparansi bukan menandakan bahwa ia antikedermawanan, tetapi justru mendorong profesionalisme. Sementara tindakan Alfamart yang melaporkannya ke pengadilan merupakan preseden buruk bagi konsumen dan kasus itu baru ada.?

PKB Kab Tegal

“Jadi ada resiko dengan menjadi donatur Alfamaret diseret ke pengadilan,” seloroh Mustolih.

Sebelumnya, beberapa pihak menyampaikan dukungan kepada Mustoloh atas perkara tersebut. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul Ulama PKB Kab Tegal

Kamis, 26 Oktober 2017

PMII FISIP UIN Gunung Jati Galang Dana untuk Banjir Bandung

Bandung, PKB Kab Tegal. Rayon PMII Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Sunan Gunung Jati Bandung tergerak untuk menggalang dana bagi korban banjir di wilayah khususnya Bandung Selatan. Mereka mengadakan aksi tanggap bencana banjir yang merendam beberapa kelurahan di kecamatan Bale Endah, kabupaten Bandung.

PMII FISIP UIN Gunung Jati Galang Dana untuk Banjir Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII FISIP UIN Gunung Jati Galang Dana untuk Banjir Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII FISIP UIN Gunung Jati Galang Dana untuk Banjir Bandung

Menurut salah seorang peserta aksi Anggra Nugraha, penggalangan dana untuk korban dinilai penting bagi PMII karena wujud aktualisasi semangat nilai pergerakan PMII.

“Menolong korban bencana merupakan salah satu bentuk aktualisasi NDP tersebut,” kata Anggra, bidang Kaderisasi Rayon PMII FISIP UIN Sunan Gunung Jati kepada PKB Kab Tegal, Kamis (1/1).

PKB Kab Tegal

Sebelumnya, kader-kader PMII FISIP memusatkan penggalangan dana di depan kampus UIN Sunan ? Gunung Jati dan dekat Samsat kota Bandung. Dana yang terkumpul mencapai 1,5 juta rupiah dan beberapa pakaian layak pakai.

PKB Kab Tegal

Dana tersebut lalu dibelanjakan sejumlah logistik yang dibutuhkan para pengungsi, seperti pakaian dalam, pembalut dan popok bayi serta multivitamin. Kemudian logistik-logistik ini diberikan langsung kepada lurah di daerah Baleendah dan Dayeuhkolot.

Bantuan tersebut, Anggra berharap, semoga dapat bermanfaat bagi korban bencana di sebagai bentuk kepedulian PMII terhadap sesama bangsa indonesia.

“Kami minta agar Pemerintah segera melakukan langkah-langkah strategis sehingga tidak terjadi bencana seperti ini lagi,” kata Anggra.

Untuk kader-kader PMII, lanjut Anggra, mereka harus dibimbing melalui pendidikan dan kegiatan yang bersifat formal, non formal maupun informal agar para kader senantiasa melek terhadap realita sosial di sekitarnya.

“Kita harus dorong kader PMII terhadap kegiatan pendidikan, pendampingan dan pemberdayaan masyarakat sehingga dapat menciptakan kader tidak sekedar doyan mengkritik, tapi dapat juga menjadi problem solver di lingkungannya,” tegas mahasiswa Sosiologi itu.

Banjir kali ini termasuk banjir paling besar dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Biasanya banjir hanya selutut orang dewasa. Tetapi, tahun ini banjir mencapai perut orang dewasa. Bahkan ada yang mencapai ketinggian 3 meter. Sehingga banyak warga yang rumahnya terendam banjir lantas mengungsi. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah, Olahraga, Pemurnian Aqidah PKB Kab Tegal

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan

Mayoran adalah istilah yang digunakan oleh para santri untuk menunjukkan satu kegiatan makan bersama-sama dalam satu wadah besar. Wadah itu bisa berupa pelepah daun pisang (seperti gambar di atas) bisa juga dengan nampan atau baki. Nampan atau baki merupakan salah satu wadah yang biasa digunakan untuk menyajikan makanan atau minuman, biasanya terbuat dari kayu, plastik, logam, atau bahan lainnya. Adapun bentuknya bisa bulat, atau persegi. Jika persegi kadang ada yang bertelinga di sisi kanan dan kiri sebagai pegangan tangan. Sebagian masyarakat menyebut nampan sebagai talam, dulang atau tapsi. Karena itulah mayoran di sebagian pesantren disebut dengan istilah nampanan atau tapsinan. Yakni makan bersama-sama dengan satu nampan atau tapsi sebagai piring besarnya.

Pada dasarnya mayoran merupakan ekspresi rasa syukur kepada Allah atas nikmatnya yang tidak pernah putus. Mayoran oleh para santri adalah momen spesial yang sengaja diadakan untuk merayakan sebuah keberhasilan. Seperti ketika khatam dari satu pengajian kitab tertentu, atau hatam Al-Quran, atau lulus ujian kitab, atau sekedar bersyukur atas nikmat sehat dan berkumpul bersama sahabat dan teman-teman. Tentang menu masakan sangatlah fariatif, tergantung kesepakatan bersama. Tidak harus mewah, tetapi tidak boleh meninggalkan sambel yang pedas dan harus disajikan dalam keadaan panas.

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan

Konsep makan bersama dalam satu piring besar ini tidak hanya ada di pesantren saja, tetapi juga hidup dilingkungan masyarakat Arab. Bahkan di beberapa restoran Arab menyediakan model hidangan nampanan seperti ini. Tentunya dengan menu yang juga khas arab dengan nasi kebuli kambing atau nasi mandhi, nasi kabsah dan lain sebagainya.

Tradisi makan bersama dengan banyak tangan dalam satu piring besar ini sesungguhnya merupakan ajaran Rasulullah. Dalam sebuah hadits yang datang dari sahabat Wahsyi bin Harb dan diriwayatkan oleh Abu Dawud disebutkan:

PKB Kab Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PKB Kab Tegal

Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "(Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang?" Rasulullah balik bertanya, "Apakah kalian makan sendiri-sendiri?" Mereka menjawab, "Ya (kami makan sendiri-sendiri)". Rasulullah pun menjawab, "Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua." (HR. Abu Dawud)

Demikianlah anjuran Rasulullah dipegang teguh oleh para sahabat dan keluarganya. Hingga kini para habaib dan kiai di pesantren yang tidak mau makan sehingga datang satu teman untuk makan bersama. Karena makan sendirian? bagi mereka adalah sebuah aib yang harus dihindarkan sebagaimana Rasulullah tidak pernah melakukannya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sahabat Anas radliyallahu anh berkata bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah makan sendirian. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik makanan adalah yang dimakan banyak tangan.

Artinya keberkahan sebuah makanan juga berhubungan dengan seberapa banyak orang yang ikut menikmatinya, semakin banyak tangan semakin berkah. Inilah kemudian yang oleh para santri dijadikan sebagai pedoman selalu makan dengan konsep mayoran.

Satu nampan banyak tangan merupakan pelajaran yang berharga. Pelajaran membangun karakter kebersamaan dan egaliterian dalam pesantren. Satu nasib satu sepenanggungan satu rasa satu masakan. Tidak ada beda pembagian antara mereka yang memberi banyak atau sedikit, antara pemiliki beras atau pemilik nampan, antara yang masak nasi dan yang menunggu tungku. Semua makan bersama-sama dalam waktu dan ruang yang sama. Hal ini juga menjadi latihan praktis untuk menghindarkan para santri dari sifat kikir dan bakhil.

Inilah yang di kemudian hari menjadi salah satu bahan pengawet kerukunan antar mereka. Perbedaan prinsip, pendapat dan pendapatan tidak akan mempu menggoyahkan rasa kekeluargaan antara mereka. Karena makan satu nampan dengan banyak tangan terlalu kokoh untuk sekedar menghadapi perbedaan prinsip dan pilihan.

Untuk mengenang kembali masa-masa di pesantren, dan untuk memperoleh banyak berkah tradisi makan bersama dalam satu nampan masih dipertahankan. Di beberapa daerah mayoran selalu dilaksanakan ketika memperingati hari-hari besar Islam, terutama setelah acara membaca maulid atau setelah shalat id. (Ulil Hadrawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Aswaja, Ubudiyah, Bahtsul Masail PKB Kab Tegal

Koruptor, NU Rekomendasikan Pemiskinan sampai Hukum Mati

Jombang, PKB Kab Tegal. Ketua Komisi F yang juga Wakil Sekjen PBNU Masduqi Baidlawi mengatakan, koruptor harus dihukum maksimal. Sebab, korupsi merupakan kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan yang menimbulkan mudharat dalam jangka panjang.

“Selain korupsi, pencucian uang (money laundry) juga masuk kategori ini,” ucap Masduqi kepada PKB Kab Tegal usai memimpin rapat komisi F yang di gedung KH M Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng Cukir, Diwek, Jombang, Selasa (4/8).

Koruptor, NU Rekomendasikan Pemiskinan sampai Hukum Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Koruptor, NU Rekomendasikan Pemiskinan sampai Hukum Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Koruptor, NU Rekomendasikan Pemiskinan sampai Hukum Mati

Para muktamirin bersikap, lanjut Masduqi, NU harus memperkuat garis perjuangan anti-korupsi untuk melindungi ulama, jamaah dan organisasinya. Selain itu, juga melindungi hak rakyat dari kezaliman koruptor. “Terpenting, NU musti mendidik para calon pejabat untuk tidak berdamai dengan korupsi dan pencucian uang,” tandasnya.

PKB Kab Tegal

Cak Duqi, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa para koruptor akan menerima sanksi meliputi sanksi moral, sosial, pemiskinan, ta’zir, dan hukuman mati sebagai hukuman maksimal. “Tapi, hukuman berat ini mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” jelasnya.

Anggota komisi F juga sepakat tentang pemberian hukuman yang lebih berat lagi bagi penyelenggara negara, terutama aparat penegak hukum, yang terlibat tindak pidana korupsi. Sebaliknya, negara  harus melindungi dan memperkuat semua pihak yang melaksanakan jihad melawan korupsi.

PKB Kab Tegal

Anggota Komisi F Alissa Wahid menambahkan, NU menolak praktek kriminalisasi terhadap seluruh pegiat anti-korupsi oleh aparat penegak hukum. Aparat penegak hukum harus dapat menegakkan keadilan dan tidak berlaku sewenang-wenang.

“Penegak hukum yang menangani terhadap kasus hukum, termasuk kasus korupsi dan tindak pidana pencucian uang, harus melakukannya secara tepat dan cepat, berkeadilan dan mempunyai kepastian hukum,” papar Alissa.

Putri sulung Gus Dur ini berharap alim ulama serta para pemuka agama dan tokoh masyarakat menjadi teladan dan penjaga moral melalui pendekatan nilai-nilai dan perilaku anti-korupsi. “Mari kita dukung pemberantasan korupsi yang membuat republik ini sakit,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pahlawan, Ahlussunnah, Kyai PKB Kab Tegal