Senin, 23 Oktober 2017

Juara OKP Berprestasi, Ini Program Unggulan IPPNU dan Kopri

Jakarta, PKB Kab Tegal. Setelah melalui empat tahapan penilaian mulai seleksi administrasi, program, visitasi lapangan dan penilaian organisasi, dua organisasi putri berbasis Nahdhatul Ulama (NU) menjuarai Lomba Pemilihan Organisasi Kepemudaan (OKP) Berprestasi tingkat Nasional. Keduanya yakni, Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) sebagai Juara 1 dan Korps PMII Putri (Kopri) meraih Juara Harapan 1.?

Juara OKP Berprestasi, Ini Program Unggulan IPPNU dan Kopri (Sumber Gambar : Nu Online)
Juara OKP Berprestasi, Ini Program Unggulan IPPNU dan Kopri (Sumber Gambar : Nu Online)

Juara OKP Berprestasi, Ini Program Unggulan IPPNU dan Kopri

IPPNU berhasil meyakinkan dewan juri dengan program andalan terkait rumah pelajar untuk perempuan dan anak pada presentasi yang dilaksanakan di Wisma Teather Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Ahad (24/10). Sementara, tak jauh berbeda, Kopri menyabet Juara Harapan 1 dengan program unggulan tentang advokasi nasional terhadap korban kekerasan perempuan dan anak.

Adapun dewan juri yang menilai lomba yang diselenggarakan oleh Kemenpora ini di antaranya MY Esti Wijayanti sebagai perwakilan DPR RI, Sanusi dari Kemenpora, Rachmat HS dari FBR, Yaqut Cholil Qoumas sebagai perwakilan organisasi pemuda dan Indra J. Piliang seorang pengamat.?

Saat konfrensi pers di Media Center Wisma Kemenpora, MY Esti Wijayanti menjelaskan, terdapat 26 OKP yang mendaftar program Pemilihan Organisasi Kepemudaan Berprestasi Tingkat Nasional 2016 kali ini.?

Organisasi yang lolos 10 besar adalah IPPNU, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), FORTANAS, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri PB PMII), Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI (PMKRI), Center for Indonesian Medical Student Activities (CIMSA), Korps HMI Wati (KOHATI) dan Indonesia Student and Youth Forum.

PKB Kab Tegal

"Proses pendaftaran lomba ini dilakukan secara terbuka. Kami juga bertanya-tanya kenapa yang daftar minim? Kemungkinan ada syarat yang belum bisa dipenuhi seperti organisasi terkait harus punya cabang di provinsi, kabupaten/kota. Juga usia kepengurusan sesuai UU kepemudaan (maksimal 30 tahun)," jelasnya.

Setelah memaparkan program satu persatu, IPPNU dinyatakan sebagai pemenang tahun ini setelah mengumpulkan 285 poin. Sedangkan peringkat kedua diraih PMKRI (280 poin), lalu posisi ketiga IPM (277 poin). Untuk juara harapan I dan harapan II disabet Kopri PMII (270 poin) dan CIMSA (266 poin). Perempuan yang akrab disapa Mbak Esti itu pun mengucapkan selamat kepada para jawara.?

Rencananya, para pemenang akan diundang hadir pada peringatan Hari Sumpah Pemuda di Palangkaraya, Kalimantan Tengah sekaligus untuk menerima hadiah. (Nidhomatum MR/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Makam, Nahdlatul Ulama, Hadits PKB Kab Tegal

Minggu, 22 Oktober 2017

Rais Aam PBNU Harap Wakil Rakyat “Move On”

Jakarta, PKB Kab Tegal. Pejabat Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri menyayangkan sikap kekanak-kanakan segenap anggota dewan belakangan ini. Kiai yang lazim disapa Gus Mus ini, mengamanahkan para wakil rakyat untuk menunjukkan sikap kenegarawanan. Pengalaman persaingan politik yang baru saja berlalu, biarlah menjadi pelajaran. Dengan demikian, tiada lagi istilah “berseberangan di antara kita”.

Demikian disampaikan Gus Mus dalam pidato iftitah Munas-Konbes NU 2014 di Jakarta, Sabtu (1/11) siang. Di hadapan ratusan warga NU, Gus Mus berharap berhentinya perpecahan di kalangan wakil rakyat.

Rais Aam PBNU Harap Wakil Rakyat “Move On” (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Harap Wakil Rakyat “Move On” (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Harap Wakil Rakyat “Move On”

“Kita mesti menjadikan pengalaman yang lalu itu sebagai pelajaran sikap kearifan di kemudian hari. Ini semua kita tujukan untuk para wakil kita yang kelihatannya menunjukkan-kalau kata anak gaul,-‘belum move on’,” ujar Gus Mus.

PKB Kab Tegal

Wakil Presiden HM Jusuf Kalla dan sejumlah menteri Kabinet Pemerintahan yang baru, tampak hadir di tengah musyawirin pada pidato iftitah Munas-Konbes NU 2014 oleh Pejabat Rais Aam PBNU.

PKB Kab Tegal

Dengan redanya sikap dukung-mendukung, Gus Mus berharap mereka bisa menekuni tugas masing-masing sebagai semula.

Kepada HM Yusuf Kalla yang juga anggota Mustasyar PBNU, Gus Mus berharap pemerintah melakukan upaya untuk menyudahi ketegangan di Senayan.

“Kita mengamanahkan kepada Wapres di sini untuk menjadikan parlemen layaknya tempat Dewan Perwakilan Rakyat,” tandas Gus Mus sebelum meminta ratusan hadirin mengirimkan surah Al-Fatihah untuk belasan Kiai NU yang wafat di tahun 2014. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Olahraga, Fragmen PKB Kab Tegal

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

Jepara, PKB Kab Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengimbau warga NU untuk memasyarakatkan cara beragama yang moderat. Kiai Said mengingatkan mereka untuk berjuang untuk itu. Karena, banyak pihak asing yang memprovokasi agar bangsa Indonesia terlibat dalam gerakan ekstrem.

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

“Bangsa Barat sangat mendambakan Indonesia menjadi radikal. Jika sudah radikal, mereka memiliki alasan untuk menggempur Nusantara,” kata Kang Said saat menyampaikan sambutan di Harlah ke-71 Yayasan Mathaliul Huda di desa Bugel kecamatan Kedung kabupaten Jepara, Rabu (17/9) malam.

Sebab itu, sikap ke-NUan tegasnya harus tetap dijaga. “Orang NU jangan mudah terpancing pada kelompok yang suka mengebom. Sebab NU cinta damai. Jangan sampai ikut-ikutan ISIS. Gerombolan garis keras itu sudah bukan Islam, karena suka membunuh saudaranya sendiri,” pesan Kang Said di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

PKB Kab Tegal

Kepada hadirin, pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini mengingatkan orang tua untuk benar-benar mengawasi anaknya dari pengaruh paham ekstrem. “Ciri lahiriahnya kelompk wahabi antara lain berjenggot panjang, bergamis, bercelana cingkrang, atau tanda hitam di jidat.”

Pengurus masjid juga lebih cermat. Jangan sampai wahabi menguasai kepengurusan masjid. Bogor, Tangerang, dan Bekasi merupakan kota yang dikuasai kelompok wahabi. “Untungnya LTM PBNU lekas bertindak sehingga masjid-masjid yang direbut kelompok tersebut bisa kembali,” imbuh Kang Said. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal PonPes, Budaya PKB Kab Tegal

Jumat, 20 Oktober 2017

Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur

Sleman, PKB Kab Tegal. Mahasiswa STAI Sunan Pandanaran (Staispa) ngaji Karakter Santri ala Gus Dur, Selasa (1/9) malam. Mereka mengangkat karya Greg Barton Autobiography of Abdurrahman Wahid sebagai rujukan diskusi. Mereka mengawalinya dengan tawasulan yang ditujukan kepada para ulama dan kiai-kiai Nusantara, terutama Gus Dur.

Pemandu Ngaji Gus Dur Dr. Suhadi Cholil mengatakan, dari karya Greg Barton ini kita hanya mengambil empat bab yang dirasa penting. Kegiatan ini juga menggunakan metode khas pesantren yakni model bandongan.

Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur

"Ngaji Gus Dur ini bisa juga disebut ngaji sirah (riwayat). Sebab, kita akan menyelami sosok Gus Dur melalui buku ini untuk menggali berbagai perilaku dan pemikiran Gus Dur sebagai teladan. Selain itu kita juga sekaligus dapat belajar bahasa Inggris melalui buku ini," terangnya.

PKB Kab Tegal

Dari seorang Gus Dur, lanjutnya, kita dapat melihat sosok yang dengan jerih payah serta teguh dalam mengabdikan ilmu dan masyarakat. Gus Dur juga merupakan seorang yang sangat mencintai ilmu dan masyarakat. Itu yang perlu kita tiru, sebagai generasi penerus bangsa.

Menurut dosen CRCS program pasca sarjana UGM ini, santri hari ini harus mampu berbahasa asing. Karena untuk menggaungkan Islam Nusantara, penguasaan bahasa asing merupakan komponen yang sangat penting.

PKB Kab Tegal

"Sebab, saya melihat karya-karya para Ulama Nusantara, sekarang banyak yang telah dialihbahasakan ke bahasa asing. Di antaranya, karya Syeikh Nawawi al-Bantani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, pada saat saya berkesempatan berkunjung ke sana. Karya Syeikh Ihsan Jampes juga telah ada terjemahannya dalam bahasa asing, dan lain sebagainya. Hal demikian baik, apalagi jika santri yang melakukan itu," pungkasnya. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Kamis, 19 Oktober 2017

Perpustakaan PBNU Siap Terima Dokumen Lembaga dan Banom NU

Jakarta, PKB Kab Tegal. Perpustakaan PBNU meminta kerjasama pengurus lajnah, lembaga, dan banom NU dalam pendokumentasian data-data mereka. Perpustakaan PBNU berkepentingan terhadap data-data semua lembaga dan banom NU.

Perpustakaan PBNU Siap Terima Dokumen Lembaga dan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpustakaan PBNU Siap Terima Dokumen Lembaga dan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpustakaan PBNU Siap Terima Dokumen Lembaga dan Banom NU

Syatiri Ahmad, Kepala Perpustakaan PBNU, saat tengah merapikan sejumlah berkas di mejanya, mengutarakan perihal tersebut kepada PKB Kab Tegal di Ruang 202, Perpustakaan PBNU, Kantor PBNU lantai dua, Jakarta Pusat, Kamis (13/12) sore.

“Kita juga pengen mengoleksi dokumen-dokumen terkait kegiatan atau program lajnah, lembaga, dan banom NU,” kata Syatiri Ahmad kepada PKB Kab Tegal yang tengah memotret ruang perpustakaan dari beberapa sudut, Kamis (13/12) sore.

PKB Kab Tegal

Menurut dia, data-data lembaga dan banom NU yang dibutuhkan perpustakaan PBNU, dapat beraneka bentuk. Syatiri menyebutkan bentuk data itu antara lain berkas program, profil lembaga, laporan tahunan, foto kegiatan, laporan kegiatan, hasil rapat organisasi, bulletin, terbitan berkala, dan bentuk data lainnya.

Berkas-berkas lembaga dan banom NU yang baru masuk akan diklasifikasikan ke dalam data primer dalam koleksi perpustakaan PBNU. Perpustakaan PBNU telah menyediakan folder dan lemari khusus untuk menyimpan data-data tersebut.

PKB Kab Tegal

“Karena itu, kita perlu perhatian dan kerjasama dari pengurus, minimal sekretaris lajnah dan banom NU yang ada untuk menyiapkan data-data tersebut dalam periode kepengurusannya,” tambah Syatiri.

Program pendokumentasian data mereka, tegas Syatiri, penting demi kelengkapan koleksi perpustakaan. Menurut dia, program ini dapat memudahkan siapa saja, termasuk pengurus lembaga dan banom NU itu sendiri ketika membutuhkannya pada suatu saat.

Pengunjung perpustakaan, tambah Syatiri, berasal dari latar belakang profesi mulai dari penulis, wartawan, peneliti, pengamat, dan akademisi. Selain mencari sumber-sumber primer ke-NU-an, ada di antara mereka yang mengejar data-data lajnah, lembaga, atau banom-banom NU, pungkas pria setengah baya yang merawat koleksi Perpustakaan PBNU.

?

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Budaya PKB Kab Tegal

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Bantul, PKB Kab Tegal. Lahan terbatas sama sekali bukan alasan untuk berani berkreasi atau berkarya. Tampak dalam foto, Pengasuh Pondok Pesantren Alimdad, KH M Habib A Syakur, sedang berusaha meluruskan batang tanaman lombok dan terong di media tanam polybag di terik sinar matahari.

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Beberapa puluh polybag berisi tanaman lombok dan terong memang sengaja ditata sedemikian rupa oleh Habib di pekarangan kediamannya, yang masih masuk dalam kawasan komplek Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul. Dalam keterangannya, Habib menyebutkan bahwa ia telah menyiapkan sekira 500 polybag untuk kedua jenis tanaman tersebut.

"Sejatinya, saya juga ingin mempersiapkan beberapa ratus polybag lagi untuk berbagai jenis tanaman lain, seperti tomat, timun, dan kacang panjang. Tapi, saya kira hal ini akan saya lakukan secara berjenjang dahulu," ujar Habib.

PKB Kab Tegal

Media tanam polybag yang dirawat oleh Habib ini terdiri dari campuran tanah dengan pupuk kandang dan kompos yang keduanya merupakan hasil dari pengolahan limbah di Pondok Limbah yang dimiliki PP Al-Imdad Bantul. Hal ini adalah ejawantah dari visi pesantren Al-Imdad sendiri, yaitu SANTRI SALIH--Santun, Agamis, Nasionalis, Terampil, Ramah, Inovatif dan SAdar LIngkungan Hidup.

"Saya gak punya pengetahuan apa-apa tentang tanaman polybag ini, tapi saya beranikan diri untuk mencobanya, sebab berdasarkan teori dan pengalaman sebagian orang, hal semacam ini mungkin saja dilakukan," jawab Habib saat ditanya perihal pengalamannya menekuni tanaman polybag ini.

PKB Kab Tegal

Habib lantas memungkasi, "Kalau usaha saya berhasil, ini akan meringankan anggaran belanja untuk makan santri dan kalaupun gagal, saya kira tak jadi masalah. Sebab, dalam prosesnya saja, saya sudah terhibur dengan merawatnya."(Yusuf Anas/Anam) Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Warta PKB Kab Tegal

Jurnal Pesantren

Nama sebuah berkala yang diterbitkan oleh P3M, sebuah LSM di Jakarta yang memiliki perhatian pada pengembangan pesantren. Dalam daftar pengelolanya, tertulis nama KH Sahal Mahfudz ? sebagai Pemimpin Umum dan sebagai wakilnya Abdurrahman Wahid. Bertindak sebagai pemimpin redaksi M. Nashihin Hasan.

Sementara itu duduk di dewan redaksi ada Abdurrahman Wahid, Abdulllah Syarwani, Adi Sasono, M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Said Budairy, Soetjipto Wirosardjono, Zamakhsyari Dhofier, Musfihin Dahlan. Staf redaksinya Muntaha Azhari dan Abdul Mun’im Shaleh H. Dan Masdar F. Mas’udi sebagai pPemimpin usaha. Berkala ini beralamat di Jalan Anggrek Nelimurni V/B.83, Slipi, Jakarta.

Pada kulit sampulnya di bagian dalam dikemukakan bahwa, “Berkala ini diterbitkan sebagai media informasi dan komunikasi serta wadah pengajian untuk membangkitkan kepedulian dan wawasan pengembangan melalui jalur pemikiran yang bertolak pada titik pandang keagamaan....”?

Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Pesantren

Dalam nomor perdana berkala ini, M. Nashihin Hasan sebagai Pemimpin Redaksi dalam rubrik “Assamualaikum” mengemukakan peran berkala ini sebagai media kajian dan dialog yang secara khusus ditujukan pada tiga bidang prioritas.

Pertama, kajian bidang sistem pendidikan Islam di Indonesia dengan proyeksi pada integrasi ke dalam sebuah sistem pendidikan nasional yang terpadu. Kedua, dialog di bidang pengabdian masyarakat dan pembentukan jaringan komunikasi. Dan ketiga, pembahasan bidang pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan dengan proyeksi khusus pada penumbuhan etos kemasyarakatan sesuai tuntutan keadaan.

PKB Kab Tegal

Dengan keinginan di atas, berkala ini menyajikan tulisan-tulisan ilmiah populer hasil penelitian, survei, hipotesis atau gagasan kratif yang menyangkut aspek pendidikan, pengembangan masyarakat, kepesantrenan, ilmu-ilmu keagamaan dan yang sejenisnya. Redaksi berkala ini secara terbuka mengundang para ahli, sarjana, kiai, praktisi, santri, maupun mahasiswa untuk menulis secara bebas di media ini, tetapi kebanyakan tulisan tampaknya hadir atas dasar permintaan redaksi secara khusus berkaitan dengan topik yang hendak dikemukakan.

PKB Kab Tegal

Nomor perdana Pesantren terbit pada Oktober-Desember 1984 dengan sampul depan lukisan seorang kiai. Berkala berukuran 17,5 x 24,5 dengan bahan isi kertas buram dan sampul kertas karton, dan tebal 80-an halaman ini dijual dengan harga Rp 1.000.?

Dalam edisi perdana yang bertopik tradisi keilmuan di pesantren, setelah rubrik “Mukaddimah” yang berisi semacam editorial redaksi, hadir rubrik “Artikel” yang diisi empat tulisan masing-masing dari Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Zamakhsyari Dhofier, dan Masdar F. Mas’udi. Semuanya membahas tradisi dan pengembangan keilmuan di pesantren.?

Kemudian rubrik “Wawasan” diisi wawancara dengan KH Aziz Mashuri, Tholhah Mansur, Habib Chirzin, dan A. Syafii Ma’arif. Lalu rubrik “Profil Tokoh” diisi tulisan mengenai sosok KH Bisri Sansuri, rubrik “Sosok Pesantren” diisi ulasan mengenai pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, dan terakhir, rubrik “Tinjauan Buku” yang diisi dengan tulisan mengenai sebuah kitab hadits Itman al-Dirayah.

Edisi-edisi Pesantren selanjutnya diisi dengan susunan rubrik seperti di atas. Hanya sesekali ditambah dengan rubrik “Komentar” yang berisi tanggapan pembaca terhadap suatu tulisan pada edisi sebelumnya. Yang menarik, halaman-halaman sisa yang kosong pada awal-awal edisi diisi lukisan vignet oleh Mustofa Bisri, seorang pelukis, penyair, dan kiai, serta belakangan disi oleh Mufid Aziz.?

Berkala Pesantren memiliki kedudukan penting pada pertengahan hingga akhir 1980-an, terutama dalam mewadahi pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru mengenai pengembangan pendidikan pesantren dan pendidikan Islam khususnya, serta pemikiran keagamaan secara umum.

Melalui berkala ini di antaranya sejumlah gagasan seperti kontekstualisasi kitab kuning, kesalehan sosial, pembaruan fiqih, kedudukan perempuan, dan lain-lain dikemukakan dengan berani serta penuh semangat.

Para penulisnya yang berusia 20-an akhir hingga 40-an awal pada saat itu kelak menjadi pemimpin dan intelektual terkemuka di kemudian hari, baik di lingkungan NU dan pesantren maupun di tataran nasional secara umum, seperti Abdurrahman Wahid, Mustofa Bisri, Tholhah Mansur, Masdar F. Mas’udi, A. Malik Madany, dan lain-lain. Dari keanggotaan redaksinya, para penyumbang tulisan, dan topik-topik yang diangkat, jelas sekali kalau berkala ini menjadi media dialog kalangan pesantren dengan kalangan di luarnya.

Pada 1989 terjadi pergeseran dalam susunan pengelola keredaksian. Nama Abdurrahman Wahid tidak lagi menjadi Wakil Pemimpin Umum, posisinya digantikan M. Nashihin Hasan yang sebelumnya menjabat Pemimpin Redaksi. Sedangkan posisi Pemimpin Redaksi diduduki oleh Masdar Farid Mas’udi yang sebelumnya menjabat Pemimpin Usaha sekaligus Redaktur Pelaksana. Abdurrahman Wahid sendiri kemudian duduk di jajaran Staf Ahli bersama KH Ali Yafie, Soetjipto Wirasardjono, Abdullah Syarwani, Dawam Rahardjo, dan Adi Sasono.?

Berkala Pesantren terbit rutin tiga bulan sekali atau empat edisi dalam setahun hingga tahun 1988. Tapi, sejak 1989, karena faktor pendanaan dan keterbatasan tulisan, jumlah edisi ? menjadi menurun. Pada 1989 hanya terbit tiga edisi, tahun 1990 dua edisi, tahun 1991 tiga edisi, dan tahun 1992 hanya satu edisi, bahkan sejak itu berkala Pesantren tidak pernah muncul lagi.?

Edisi terakhir No. 1/Vol IX/1992 berisi laporan mengenai “Tarekat dan Gerakan Rakyat”. (Hairus Salim HS)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal News, Anti Hoax, Kajian Islam PKB Kab Tegal