Rabu, 13 September 2017

Kuasa Perempuan Pesantren

Oleh Abdul Malik Mughni

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat berakar dari pesantren, kerap ‘ditinggalkan dalam diskursus modernisme di Indonesia. Stigma pesantren sebagai subkultur feodal di Indonesia, menjadi dalih untuk meminggirkan peran NU dari sejarah dan peta politik Orde Baru (Orba), selama dua dasawarsa. Para peneliti masa itu, seperti Clifford Greetz dan Deliar Noer (keduanya lahir tahun 1926 dan menjadi rujukan para Indonesianis pada tahun 1960 sampai 1980-an) serta sejumlah penulis terkenal di masa awal Orba, menggambarkan NU dan pesantren sebagai kaum kusam yang antimodernisme.

Mereka berhasil menggiring opini masyarakat dunia, untuk menstigmatisasi NU. Framing tersebut kemudian berubah seiring hadirnya para penulis NU, seperti Mahbub Djunaedi, Abdurrahman Wahid, Musthofa Bisri, juga Saifuddin Zuhri. Disamping penulis muda Masdar F Masudi, dan Said Budairi? yang berhasil membawa pesantren dalam pelbagai wacana kontemporer di media utama (mainstream). Stigma NU yang kusam, oportunis dan lemah dalam mengejar tuntutan zaman pun berganti menjadi NU yang unik, seksi dan mampu melampaui zaman berkat kehadiran para penulis dan aktivis muda pesantren di akhir tahun 1980-an.

Kuasa Perempuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuasa Perempuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuasa Perempuan Pesantren

Penihilan peran NU dan pesantren juga terjadi dalam wacana feminisme dan gerakan kesetaraan gender di Indonesia.? Terlambatnya pembentukan organisasi Muslimat, Fatayat, Korps Peregerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) seolah menguatkan anggapan bahwa pesantren adalah subkultur yang sangat kuat dalam mempertahankan tradisi patriarkal.

Perempuan Pesantren, Memimpin Ranah Publik

Jika dirunut dari sejarah, Pesantren sebagai subkultur di Nusantara, justru telah membantu menyelaraskan gerakan kesetaraan gender; dari wacana elit ke gerakan afirmatif yang diterima hingga ke desa-desa. Meski secara organisasi, pembentukan sayap perempuan di NU dan badan otonomnya terbilang lambat, namun secara kultural, gerakan kesetaraan gender di kalangan pesantren telah dimulai sejak lama. Berdirinya pondok pesantren khusus putri di tahun 1917, di Jombang, adalah salahsatu sumbangsih ulama, khususnya KH Bisri Syansuri terhadap akselerasi gerakan feminisme di pesantren.

Jauh sebelum itu, seperti diungkapkan sejarawan Universitas Brawijaya, KH Agus Sunyoto, sejatinya kultur Nusantara, khususnya di kawasan pesisir –bersama kultur pesantren,- adalah matriarkal. Kultur matriarkal tersebut, menurut Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) ini, justru dihancurkan oleh negara-negara Eropa, seperti Portugis dan Belanda yang menjajah Nusantara seabad lampau.

PKB Kab Tegal

Agus Sunyoto menyodorkan fakta tentang Ratu Kalinyamat yang memimpin pasukan, menyerang? Portugis di Malaka di tahun 1560. Kemudian ada Laksamana Kemala Hayati, Cirebon, Nyimas Gandasari, Nyi Ageng Serang dan lainnya. “Kultur pesisir itu kultur matriarki, perempuanlah yang? berkuasa, tak hanya dalam fakta sejarah, tapi juga dalam legendanya,” kata penulis Atlas Walisongo ini.

Di pesisir juga, kata Agus, semua dongeng berpijak pada kultur matriarki. Agus lalu mencontohkan bahwa di Surabaya ada kisah Sawunggaling yang sukses karena taat pada ibunya. Ada juga Syarif Tambakyoso dari Sidoarjo, kesaktian yang dimiliki dari ibunya. “Malingkundang dan Sangkuriang pun berpusat pada tokoh perempuan,” paparnya. Mitos-mitos penguasa lautan di Indonesia, juga perempuan, seperti Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, Ratu Laut Utara dan lainnya.

Kehidupan di pesisir itu menghormati perempuan. Kuasa perempuan di Nusantara itu dihancurkan? kolonialisme, karena Eropa sejak era Yunani sudah patriarki,” tandas Agus seraya mengurai fakta tentang dongeng Eropa yang penuh maskulinitas. Ia menyebut dongeng Dewa Zeus versus Hera, dewi yang jahat, hingga penyebutan istilah Founding Father dan Fatherland, di negara-negara Eropa dan Amerika.

PKB Kab Tegal

Bagaimana dengan Indonesia? “Kita menyebutnya Ibu Pertiwi, Persia pakai istilah Meehan, Turki juga menggunakan Anavatan semua maknanya motherland. Jadi wajar dalam penulisan sejarah pascakolonialisasi, peran-peran perempuan banyak dinihilkan,” imbuhnya.

Perempuan pesisir Nusantara ternyata juga sangat berperan dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Enam tokoh perempuan yang tercatat dalam dokumentasi Sumpah Pemuda juga berasal dari daerah pesisir. Di antaranya, Siti Sundari dari Semarang, Emma Poeradiredja dari Cirebon.

Pendapat senada diungkapkan Aisyah Hamid Baidowi.? Adik Gus Dur itu mengungkap, kalangan pesantren turut mendorong ‘kemapanan’ feminisme di Indonesia, baik melalui gerakan afirmatif yang melahirkan sejumlah regulasi pro perempuan, maupun secara kultural, mengubah peran nyai, dari sekedar pendamping kiai, menjadi sosok yang menjadi pemimpin.

Tak heran, jika saat ini, banyak nyai, maupun puteri kiai serta aktivis perempuan NU, menjadi pemimpin di ranah publik. Kini para perempuan pesantren banyak berkiprah di ranah politik. Menjadi legislator, kepala daerah, menteri dan (mungkin) kelak menjadi Wakil Presiden atau bahkan Presiden.

Para perempuan pesantren, kata Aisyah, kini juga banyak menjadi pemimpin di ranah agama. “Sekarang banyak kemajuan di pesantren. Ibu-ibunya kebanyakan sarjana. S2, S3, malah di Purwoasri Kediri, ibu nyainya Profesor. Almusadaddiyah juga ibu nyainya profesor. Hasil Produk pesantren ketika keluar dari kepompongnya, itu luar biasa. Di MUI misalnya ada Ibu Chuzaimah Tanggo, Ibu Mursidah mereka tangguh dan alim. Khofifah juga produk pesantren,”tandasnya.

Tantangan Perempuan Pesantren ?

Nama-nama yang diabsen oleh Agus Sunyoto maupun Aisyah Hamid Baidowi adalah para aktivis pesantren yang tumbuh di era Orba yang represif. Mereka pernah berkiprah di IPPNU, Kopri, Fatayat maupun Muslimat. Kini para penerusnya di organisasi sayap perempuan di NU dan badan otonomnya, tentu punya kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kualitas diri dan gerakan organisasinya agar lebih inovatif dan kreatif.?

Di era serba kompetitif sekarang ini, para perempuan pesantren punya peluang lebih besar untuk berkiprah di banyak bidang. Tak melulu di ranah politik. Tapi juga perlu mengisi ranah ekonomi kreatif, IT, birokrasi dan ranah profesional lain perlu diisi oleh para perempuan pesantren.

Riset McKinsey Global Institute (2012) memprediksi Indonesia, dengan kultur negara kepulauan memiliki prospek menjanjikan pada tahun 2020-2030. Sampai saat ini, Indonesia menjadi pangsa pasar terbesar bagi banyak industri di dunia. Indonesia yang saat ini berada di peringkat ke-16 sebagai negara perekonomian terbesar, akan meningkat ke peringkat ke-7 pada tahun-tahun tersebut. Perempuan, seperti saat ini, tentu akan menjadi pangsa pasar terbesar.

Perkembangan tersebut tentu perlu disikapi dengan bijak oleh para aktivis perempuan pesantren. Sebagai calon pemimpin masa depan, persiapan matang harus digerakkan secara sistematis. Terlebih, perempuan di Indonesia menghadapi tantangan berlipat ganda. Tak hanya bakal menjadi tulang punggung ekonomi, para perempuan Indonesia juga masih harus berperang mengeliminir maraknya kasus kekerasan dan perdagangan orang. Sehingga, aktivis perempuan pesantren kini, bukan lagi saatnya berkutat di wilayah wacana feminisme, tetapi sudah bergerak ke ranah aksi. Khususnya mempersiapkan kader-kader unggulan.

Ke depan, mungkin organisasi silat Pagar Nusa dan barisan semi militer semacam Banser Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU juga perlu dipersiapkan oleh sayap perempuan NU. TNI dan Kepolisian yang kini sedang meningkatkan jumlah keterwakilan perempuan di dalam rekrutmen, juga perlu diisi oleh para pelajar puteri NU. Sehingga perempuan pesantren masa depan, tak hanya unggul dalam berdebat, dan menjadi pelengkap di ranah politik, tetapi juga mampu berkompetisi di pelbagi bidang.

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Website perempuanparlemen.org, Ketua Lembaga Pers Penerbitan dan Kajian Strategis PB PMII dan Wakil Bendahara Lajnah Ta’lif Wa Nasyr PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Santri, Syariah PKB Kab Tegal

Senin, 11 September 2017

PMII Makin Diminati Mahasiswa di Kota Pariaman

Padangpariaman, PKB Kab Tegal. Eksistensi organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman semakin mendapat perhatian mahasiswa di kota Tabuik ini. Hal ini terbukti makin banyak mahasiswa yang mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) PMII yang digelar Komisariat Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin Kota Pariaman, Sumatera Barat.

PMII Makin Diminati Mahasiswa di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Makin Diminati Mahasiswa di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Makin Diminati Mahasiswa di Kota Pariaman

Ketua Umum PMII Kota Pariaman Jupmaidi Ilham mengungkapkan hal itu ketika membuka Mapaba PMII, Rabu (6/1) di surau Tangah Padang, Pauhkambar, Padangpariaman. Menurut Jupmaidi, PMII sebagai organisasi mahasiswa terus berupaya menyiapkan mahasiswa yang kuliah di Kota Pariaman sebagai calon pemimpin masa depan.

"Di tengah lesunya minat generasi muda untuk mengembangkan potensi dirinya melalui organisasi, PMII Kota Pariaman terus berupaya mendorong mahasiswa agar berkreativitas melalui organisasi PMII ini. Sebagai mahasiswa, kita harus meraih sukses di kampus dengan menyelesaikan studi, namun sekaligus harus menempa diri dengan berproses di organisasi PMII ini," kata Jupmaidi yang sebelumnya? menjabat Sekretaris PMII Pariaman.

PKB Kab Tegal

Ditambahkan Jupmaidi, sebagai mahasiswa aktivis, dibutuhkan kreativitas, inovasi dan pemikiran baru terhadap masalah-masalah yang ada di sekitar mahasiswa. Kader PMII tentu dituntut untuk terus menempa diri dengan meningkatkan wawasan dan cakrawala berpikir yang lebih luas. Hanya dengan wawasan yang luas kader PMII bisa jadi pemimpin.

"Untuk meningkatkan wawasan kader, PMII Kota Pariaman beberapa waktu lalu sudah meresmikan perpustakaan di sekretariat. Diharapkan dengan adanya perpustakaan tersebut dapat dimanfaatkan kader PMII dalam meningkatkan wawasan. Selain itu, bagaimana kader PMII meningkatkan minat membaca buku untuk memperluas cakrawala pengetahuan," kata Jupmaidi.

PKB Kab Tegal

Ketua Komisariat PMII STIT Syekh Burhanuddin Paisal Amri Tanjung menyebutkan, Mapaba diikuti 25 orang peserta dari mahasiswa STIT Syekh Burhanuddin? yang berlangsung hingga Kamis (7/1) malam. Dari lima kali Mapaba yang sudah diadakan di masa kepemimpinannya, Mapaba kali ini yang terbanyak pesertanya. Peserta ini bertempat tinggal di Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman.

"Pelaksanaan Mapaba sengaja di hari libur kuliah. Sehingga dapat menyaring mahasiswa untuk lebih banyak mengikuti Mapaba," kata Paisal Amri, alumni Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Padangpariaman.(armaidi tanjung/abdullah alawi)

?

Keterangan Foto:

Ketum PC PMII Pariaman Jupmaidi Ilham berfoto bersama dengan peserta Mapaba usai pembukaan, Rabu (6/1).

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal IMNU, Amalan PKB Kab Tegal

Minggu, 10 September 2017

Pesantren Raudlatul Mubtadiin Pupuk Semangat Kebangsaan Santri

Majalengka, PKB Kab Tegal. Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadiin  Cisambeng, Palasah, Majalengka, Jawa Barat, memperingati hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan RI ang ke-69 dengan menggelar upacara bendera di halaman pesantren setempat, Ahad (17/8).

Pesantren Raudlatul Mubtadiin  Pupuk Semangat Kebangsaan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Raudlatul Mubtadiin Pupuk Semangat Kebangsaan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Raudlatul Mubtadiin Pupuk Semangat Kebangsaan Santri

Upacara pengibaran sang Saka Merah Putih ini berlangsung khidmat, diikuti seluruh santri dan ustadz pondok. Hj Atun Minatul Maula, pengasuh Pesantren Raudlatul Mubtadiin, menjadi pembina dalam acara tersebut. Upacara bendera dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kemerdekaan dan penumbuhan semangat rasa cinta Tanah Air di kalangan santri.

Rais Am Pesantren Raudhlatul Mubtadiin Agus Rofii mengatakan, jika dahulu pesantren merespon realitas sosial dalam atmosfer perjuangan melawan penjajahan, maka respon pesantren pasca kemerdekaan tentu lebih condong kepada segala macam upaya untuk mengisi kemerdekaan.

PKB Kab Tegal

“Nah, dalam proses mengisi kemerdekaan inilah, peradaban Nusantara – dalam hal ini menyempit menjadi Indonesia-tidak bisa menghindar dari arus modernisasi dalam banyak bidang, berbaurnya pergaulan dengan masyarakat dunia global dengan berbagai macam latar belakang budayanya sehingga upaya memupuk semangat kebangsaan dan menumbuhkan jiwa patriotisme di kalangan generasi muda harus terus dilakukan,” katanya melalui rilis yang dikirim Ahad.

PKB Kab Tegal

Lebih lanjut Agus yang mendapat penghargaan sebagai pemuda pelopor ini berharap, generasi muda masa kini mesti mengenal dunia pesantren. Menurutnya, sumbangsih pesantren yangbegitu besar dalam mempertahankan kemerdekaan membuat negeri ini berhutang pada para ulama dan santri. Tanpa itu, katanya, Indonesia akan dijajah terus oleh negara asing.

Ia juga berujar untuk tak secara berlebihan membanggakan produk asing yang sampai hari ini dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. “Santri masa kini harus menjawab tantangan di masa kini dan yang akan datang sehingga makna mencintai negeri dan menghargai bangsa ini dengan menjunjung nilai kebersamaan untuk terciptanya rasa persatuan dan kesatuan Indonesia,” tuturnya. (Aris Prayuda/Mahbib)





Foto: Prosesi upacara bendera dalam rangka HUT RI ke-69 di Pesantren Raudhlatul Mubtadiin

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Tokoh, Pahlawan, Internasional PKB Kab Tegal

Angka Perceraian Tinggi, Muslimat NU Jatim Dirikan Layanan Konsultasi Maslahah

Sidoarjo, PKB Kab Tegal 

Tingginya angka perceraian di Jawa Timur melandasi Pengurus Wilayah Muslimat NU Jawa Timur membuat layanan lembaga konsultasi keluarga maslahah. Angka perceraian di Jawa Timur masuk kategori nomor satu di Indonesia, disusul Jawa Barat serta Jawa Tengah. 

Hal itu disampaikan Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa kepada awak media usia workshop Layanan Lembaga Konsultasi Keluarga Maslahah yang digelar PW Muslimat NU Jawa Timur, di ruang Darun Naim lantai 3 Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo.

Angka Perceraian Tinggi, Muslimat NU Jatim Dirikan Layanan Konsultasi Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)
Angka Perceraian Tinggi, Muslimat NU Jatim Dirikan Layanan Konsultasi Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)

Angka Perceraian Tinggi, Muslimat NU Jatim Dirikan Layanan Konsultasi Maslahah

"Saya ingin mengajak Muslimat menjadi bagian untuk mencari solusi dan bergandeng tangan mengatasi permasalan tersebut. Kita melihat perceraian di Jatim cukup tinggi. Oleh karena itu mari kita cari penyebabnya," kata Khofifah, Sabtu (30/9).

Menurutnya, perceraian sering kali disebabkan adanya kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan dini, dan trafficking. Pada posisi seperti itu, pihaknya berharap ketika di pengadilan agama dan keputusannya itu tidak harus gugat cerai, disetujui diketok dan seterusnya.

"Marilah kita lihat implikasi dari perceraian sebuah keluarga. Itu bisa menimbulkan yang broken home, anak-anaknya akan menjadi terdampak dan bisa mendapatkan masalah baru,” ujar Khofifah. 

Khofifah meminta perlunya melihat karakter anak.

PKB Kab Tegal

“Akhlak terbangun ketika mereka tidak punya referensi di keluarga mereka," ujar Menteri Sosial ini.

PKB Kab Tegal

Khofifah menegaskan, apabila ada layanan konsultasi keluarga maslahah, harapannya jangan sedikit-sedikit ke pengadilan agama. Pihaknya meminta untuk mencari solusinya. 

“Saat ini Kementerian Sosial juga menyediakan mobil anti galau. Sehingga bisa ketemu dengan konselor, psikolog, dan dapat konseling,” imbuhnya.

Ia mendorong agar setiap ada permasalahan keluarga dapat dicari solusinya. Keluarga bisa memberikan pertimbangan bagaimana kebaikan bisa terbangun. Salah satu yang harus terbangun dalam keluarga adalah komunikasi. 

“Biasanya kalau komunikasi tidak terbangun dengan baik, yang terjadi nuklir family saja keluarga inti, dan keluarga terkait tidak ikut menyelesaikan maka solusinya ke pengadilan agama dan dampaknya ke anak-anak mereka," pungkasnya. (Moh Kholidun/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal IMNU, Pertandingan, Nahdlatul Ulama PKB Kab Tegal

STISNU Kukuhkan Prof Wan Jamaluddin sebagai Guru Besar Kehormatan

Tangerang, PKB Kab Tegal

Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten, mengukuhkan Prof Dr H Wan Jamaluddin Z, MA sebagai guru besar kehormatan di kampus setempat.

Pengukuhan tersebut berlangsung di sela Direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) itu mengisi kuliah umum yang digelar STISNU Nusantara di Aula Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, kampus setempat, Tangerang, Sabtu (12/3).

STISNU Kukuhkan Prof Wan Jamaluddin sebagai Guru Besar Kehormatan (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Kukuhkan Prof Wan Jamaluddin sebagai Guru Besar Kehormatan (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Kukuhkan Prof Wan Jamaluddin sebagai Guru Besar Kehormatan

Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan STISNU Nusantara Bahruddin menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya kuliah umum tentang Islam dan Peradaban Dunia di Rusia dan Eropa, tetapi juga sekaligus pengukuhan dosen kehormatan guru besar.

PKB Kab Tegal

"Iyah, kami civitas akademik STISNU mengapresiasi kesediaan beliau menjadi salah satu dosen kehormatan di STISNU. Tentunya, kami berharap kepada beliau turut aktif mencurahkan keilmuan dan tenaganya untuk memajukan dan membesarkan STISNU Nusantara yang masih seumur jagung ini. Melalui wasilah beliau, insyaallah STISNU akan menjalin kerja sama dengan instansi di luar negeri, dalam hal ini Rusia dan Eropa," ujarnya.

PKB Kab Tegal

Profesor Wan yang juga A’wan Pengurus Wilayah NU (PWNU) Lampung ini dalam pembukaan penyampaian materi seminar mengaku bangga dikukuhkan para kiai untuk menjadi dosen kehormatan di STISNU Nusantara Tangerang.

"Insyaallah dengan kebersamaan dan istiqamah dalam pengabdian kita terhadap Nahdlatul Ulama, STISNU akan lebih maju lagi. Kemudian, jalinan komunikasi dan kerja sama dengan instansi di luar negeri di Rusia dan Eropa akan kita persiapkan secara matang mulai dari kesiapan internal STISNU sendiri. Mudah-mudahan, mahasiswa STISNU bisa studi di Rusia atau sebaliknya mahasiswa Rusia bisa belajar di STISNU," paparnya.

Kuliah umum membahas tentang perkembangan Islam di Rusia dari masa ke masa. Tampak hadir pada acara tersebut anggota DPRD Provinsi Banten H Ade Awaluddin, Wakil Ketua Bidang Akademik H. Muhamad Qustulani, serta Wakil Ketua Bidang Kerja Sama dan Kelembagaan Nurulloh. Acara juga diikuti oleh seluruh dosen dan mahasiswa di lingkungan STISNU Nusantara Tangerang. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Berita, Makam, Kyai PKB Kab Tegal

Rawan Penyelewengan, Pengamat Sarankan Lobi Anggaran di DPR Dihapus

Jakarta, PKB Kab Tegal. Peneliti Lanskap Indonesia Agung Wasono menjelaskan administrasi merupakan hal penting yang harus dijadikan panduan dalam melaksankan tugas dan fungsi suatu badan atau pemerintahan karena dengan administrasi, akan terlaksana program-program atau kerja yang sesuai dengan tupoksi tugas dan wewenangnya. Pemerintah tidak akan bisa berjalan dengan teratur untuk itu pemerintah harus wajib mentaati hukum administrasi yang sudah ditetapkan.

Rawan Penyelewengan, Pengamat Sarankan Lobi Anggaran di DPR Dihapus (Sumber Gambar : Nu Online)
Rawan Penyelewengan, Pengamat Sarankan Lobi Anggaran di DPR Dihapus (Sumber Gambar : Nu Online)

Rawan Penyelewengan, Pengamat Sarankan Lobi Anggaran di DPR Dihapus

“Penyelewengan anggaran yang tidak sesuai dengan kebijakan yang sudah ditentukan bukanlah hal yang aneh karena sejak perencanaannya memang sudah banyak masalah, apalagi dalam proses penentuannya yang banyak menggunakan model lobi di gedung DPR, oleh karena itu sejak awal perencanaan harus dimaksimalkan dan model lobi harus dihapus,” ungkap Agung Wasono.

Hal ini disampaikannya dalam diskusi yang berlangsung di Kampus Unusia Jakarta, Rabu (8/3).

Kepatuhan penyelenggara negara terhadap peraturan dan administrasi masih dipertanyakan komitmennya karena masih banyak temuan-temuan terhadap ketidakpatuhan aparat penyelenggara negara terhadap kode administrasi yang berlaku.

PKB Kab Tegal

Peneliti Pusat Pendidikan dan Kajian Anti Korupsi (Pusdak) Fakultas Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (FH Unusia), Muhtar Said mengatakan pada tahun 2016 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan ada 451 (empat ratus lima puluh satu) penyimpangan administrasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat, 2.402 (dua ribu empat ratus dua) penyimpangan adminitrasi di Pemerintah Daerah & Badan Usaha Milik Daerah, sedangkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan badan lainnya bersih tidak ada temuan.?

Anggota Ombudsmen RI Ahmad Suaedy menjelaskan tata kelola pemerintahan yang baik tidak mungkin tercapai ketika hanya mengandalkan tata aturan yang ketat namun juga harus dibarengi dengan perencanaan yang matang dari hulu sehingga ada sinkronisasi antara perencanaan, peraturan dan pelaksanaannya.

“Daerah yang banyak eksploitasi sumber daya seharusnya menjadi daerah yang sejahtera, Papua, NTB, dan Aceh adalah daerah yang wilayah eksploitasinya banyak namun masih tetap saja menjadi wilayah miskin. Ini membuktikan prinsip good governance belum berjalan dengan baik” terang Ahmad Suaedy. Red: Mukafi Niam

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Habib, Kyai PKB Kab Tegal

Sabtu, 09 September 2017

Hukum Urunan Kurban Anak-anak Sekolah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail PKB Kab Tegal yang saya hormati. Anak saya belajar di salah satu sekolah menengah pertama di Blitar. Pihak sekolah menggalang dana dari para siswa untuk membeli hewan kurban. Padahal setahu saya, ibadah kurban itu adalah masing-masing orang. Pertanyaan saya, apa status kurban anak-anak di sekolah? Mohon penjelasannya. Kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdullah/Blitar)

Jawaban

Hukum Urunan Kurban Anak-anak Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Urunan Kurban Anak-anak Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Urunan Kurban Anak-anak Sekolah

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Inisiatif sekolah untuk mengadakan penyembelihan kurban pada Hari Raya Idul Adha itu baik sekali. Hal ini sangat baik sebagai pendidikan dini untuk belajar berkurban.

PKB Kab Tegal

Hanya saja apakah status hewan yang disembelih itu adalah ibadah kurban atau bukan? Hal ini membutuhkan data di lapangan. Kalau hewan yang disembelih itu berasal dari penggalangan dana siswa, tentu pembagian dagingnya kepada orang-orang di sekitar sekolah hanya bernilai sedekah biasa.

PKB Kab Tegal

Sedangkan kalau hewan yang disembelih adalah titipan wali murid yang meniatkannya sebagai kurban, maka pembagian daging kurban itu dinilai sebagai ibadah sunah kurban. Pasalnya ibadah kurban merupakan anjuran agama yang bersifat individual. Hal ini tampak dalam penjelasan Imam An-Nawawi sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Seekor kambing bisa disembelih hanya untuk ibadah kurban satu orang. Kalau salah seorang dari seisi rumah telah berkurban, maka sudah nyatalah syar Islam dan sunah bagi seisi rumah itu... Sebagaimana fardu itu terbagi pada fardu ‘ain dan fardu kifayah, para ulama juga menyebut hukum sunah kurban juga demikian. Ibadah kurban disunahkan bagi setiap rumah,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftiyin, Beirut, Darul Fikr, Tahun 2005 M/1425-1426 H, Juz 2, Halaman 466).

Keterangan di atas menegaskan bahwa ibadah kurban itu bersifat individual. Artinya satu hewan kurban kambing hanya diperuntukkan bagi satu orang, tidak bisa lebih dari itu. Karenanya ibadah kurban itu ditujukan bagi mereka yang mampu. Demikian dijelaskan An-Nawawi sebagai berikut.

? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Ibadah kurban itu sunah muakkad dan syiar yang nyata. Orang yang mampu seyogianya menjaga kesunahan ini,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftiyin, Beirut, Darul Fikr, Tahun 2005 M/1425-1426 H, Juz 2, Halaman 462).

Dari pelbagai keterangan itu, kita dapat menyimpulkan bahwa satu hewan kurban kambing hanya berlaku untuk satu orang. Kalau kurban seekor sapi, unta, atau kerbau, hanya bisa diperuntukkan bagi tujuh orang.

Adapun penggalangan dana pihak sekolah dari para murid untuk membeli hewan kurban adalah baik saja untuk mendidik anak-anak berbagi kepada sesama. Sedangkan mereka memperoleh pahala sedekah atas pembagian daging kepada warga sekitar sekolah.

Memang ibadah kurban ini istimewa. Jangankan perihal hewan dan orang yang berkurban, masalah waktu pun bisa menjadi masalah. Orang yang menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat dan khotbah Idul Adha selesai, itu tidak bisa disebut ibadah kurban, tetapi sedekah sunah biasa. Itu pun kalau dagingnya dibagikan kepada orang lain.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Santri, Bahtsul Masail, Nahdlatul PKB Kab Tegal