Sabtu, 02 September 2017

Buka Kongres, Pelajar NU Menari Gending Sriwijaya

Palembang, PKB Kab Tegal. Pembukaan Kogres XVII Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Kongres XVI Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Sabtu (1/12), berlangsung meriah. Perhelatan diawali dengan tarian adat Sumsel Gending Sriwijaya.

Dengan gemulai sembilan pelajar putri NU berlenggak-lenggok di atas panggung menyambut kedatangan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan dan sejumlah pejabat lainnya. Sembilan dara cantik ini merupakan penari inti yang dikawal dua orang pria di belakang pembawa tombak dan payung.

Buka Kongres, Pelajar NU Menari Gending Sriwijaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Kongres, Pelajar NU Menari Gending Sriwijaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Kongres, Pelajar NU Menari Gending Sriwijaya

Tari Gending Sriwijaya termasuk kesenian tradisional Sumsel sebagai wujud ungkapan selamat datang. Selain tarian, semarak pembukaan kongres juga dilengkapi dengan musik drumben dan sejumlah atraksi para pendekar pencak silat.

PKB Kab Tegal

Salah seorang penari Rusdiana tampak senang berpartisipasi dalam pembukaan kongres. Anggota IPPNU ini mengaku ia dan rekan-rekannya belajar Tari Gending Sriwijaya dari sanggar seni yang ada di Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang.

PKB Kab Tegal

Secara resmi Kongres IPNU-IPPNU dibuka oleh Dahlan Iskan dengan ditandai pemukulan beduk beberapa kali. Turut mendampingi, Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali, Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa, Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi, dan Ketua Umum IPPNU Margaret Aliyatul M.

Kongres IPNU-IPPNU diikuti sedikitnya 4000 peserta secara nasional dari unsur pimpinan pusat, wilayah, dan cabang. Di luar agenda inti kongres, kegiatan bertema “Pendidikan untuk Semua, Menuju Kemandirian Bangsa” ini diramaikan pula oleh sejumlah pameran kreativitas pelajar NU, bazar, jamboree pelajar-santri, dan beberapa acara bakti sosial.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Mahbib Khorion

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Bahtsul Masail PKB Kab Tegal

Dini Hari di Jemursari

Malam memang sudah larut. Hari baru saja berganti seiring melangkahnya jarum jam dari angka ke angka. Namun Surabaya seakan tak pernah tidur. Nadi kehidupan di kota pahlawan seakan selalu berdenyut tanpa mengenal waktu. Jalan raya dan fasilitas umum lainnya tak pernah sepi, termasuk di Rumah Sakit Islam Jemursari. Di sinilah peristiwa besar itu terjadi.

Seorang pria sepuh duduk terbaring di salah satu rung rawat inap. Beberapa hari lamanya ia dirawat disini. Lelaki yang terkenal enerjik itu kini berbaring dengan wajah lesu, resah dan gelisah. Dari raut mukanya tampak ia sedang memikirkan sesuatu. Namun sulit diterka kemana kini pikirannya sedang bekerja. Kegiatannya tetap padat sekakipun belakangan ini kesehatannya tak lagi bersahabat. Pikiran dan wawasannya juga tetap luas meski usianya telah hampir satu abad.  

Dini Hari di Jemursari (Sumber Gambar : Nu Online)
Dini Hari di Jemursari (Sumber Gambar : Nu Online)

Dini Hari di Jemursari

 

Sehari-harinya ia adalah seorang guru dengan santri yang beribu-ribu. Pesantren yang dirintis abahnya itu kini sudah berkembang pesat. Sarana fisik terus dibenahi, proses pembelajaran untuk para santripun kian ditingkatkan mengikuti arus perkembangan zaman. Meski begitu, modernitas zaman seakan juga menjadi boomerang bagi pesantren yang ia asuh. Degradasi dan dekansi moral pun tak terelakkan.



PKB Kab Tegal

Kondisi masyarakat pun juga tak kalah ruwet. Kemodernan zaman telah mengikis spiritualitas keimanan mereka secara cepat ataupun perlahan. Akibatnya, moral dan tingkahlaku yang dimiliki semakin jauh dari yang telah digariskan agama. Belum lagi kalau bicara kesejahteraan hidup. Tak bisa ditutupi kalau sebagian besar rakyat masih ada dalam kemiskinan. Kondisi inilah yang kadang membuat mereka berpikir realistis dan materialistis sehingga lupa akan kehidupan ukhrawi.



PKB Kab Tegal

Urusan kemasyarakatan juga bertambah pelik ketika belakangan jam’iyah yang ia pimpin sedang berurusan dengan persoalan agrarian. Tanah berhektar-hektar milik rakyat kecil itu kini telah beralih kepemilikan. Prosesnyapun begitu mengherankan karena terjadi secara massif hingga patut dicurigai. 

Selentingan kabar terdengar bahwa pembelinya adalah investor asing untuk dibangun tambak udang. Yang menjadi perhatian beliau dan jam’iyah-nya, bagaimana nasib rakyat kecil nanti bila semua tanah sudah dikuasai asing? Akankah mereka menjadi terpinggirkan dan asing di negerinya sendiri?



Belum lagi bila berbincang soal kondisi bangsa dan Negara. Sekalipun telah lama merdeka, masih banyak tantangan dan persoalan yang harus diselesaikan. Negara diserang problema dari segala arah. Birokrasinya belum benar-benar bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Demokrasi sudah tercoreng akibat maraknya praktik transaksional yang sering dilakukan politisinya. Pilihan tak lagi didasarkan pada nurani, tapi pada siapa yang memberi.



Selain itu, ancaman juga datang dari rasa nasionalisme yang kian menipis. Serangan dari kelompok yang ingin mengubah dasar Negara makin gencar. Mereka sekarang tak lagi malu untuk menampakkan dirinya di tempat-tempat umum. Gerakannya juga semakin beringas tak kenal ampun dengan mengatasnamakan jihad. 

Padahal ideologi negeri ini sudah dibangun berdasarkan konseus yang melibatkan berbagai pihak dan golongan. Mengubah dasar Negara seperti yang mereka inginkan justru akan menimbulkan masalah baru seperti yang kini terjadi pada bangsa-bangsa Arab.



“Apa yang kau risaukan wahai Abah?” salah seorang putranya mendekat. Tak kuasa melihat sang ayah berada dalam kegelisahan.



Ruangan menjadi hening. Waktu seakan berhenti berdetak. Tak mendapat jawaban, si anak lalu berkata lagi, “Urusan Madrasah Diniyah, biarlah kami bersaudara yang akan membantu mengurusnya.” 



Memang tetap tak ada jawabannya dari pria sepuh ini. Tapi raut wajahnya yang semula resah dan gelisah kini mulai mencair perlahan. Senyumnya kembali mengembang. Bahkan kalau diperhatikan, wajahnya tampak begitu cerah bersinar. Rupanya, perkataan puteranya seolah memberikan angin segar pada pikirannya yang tengah berkecamuk.



Ia memang sangat cinta pada ilmu agama. Semua santrinya diharapkan bisa menguasai ilmu agama sebagai bekal hidup dunia dan akhirat. Maka iapun menjadikan Madrasah Diniyah sebagai program wajib untuk seluruh santri tanpa kenal tingkatan sekolah formal. Bahkan di usianya yang sudah lanjut, semangatnya masih membara untuk membangun pesantren salaf yang saat ini masih dalam proses pembangunan.



Dan ternyata inilah yang menjadi beban pikirannya terus saja gelisah meski telah dini hari. Barangkali ia khawatir tak akan ada yang mau melanjutkan perjuangannya untuk mencetak generasi faqih dalam agama. Sebab salahsatu keinginannya adalah terus bersama dengan para santri hingga di surga nanti. Dan tentu hanya santri yang alimlah yang akan tetap bisa bersama dengannya.



Esok harinya, di pagi yang masih buta, tangispun pecah. Lelaki sepuh yang di akhir hayatnya tetap bersemangat menghidupkan ilmu agama itu telah tiada. Malaikat Maut baru saja menggoreskan sebuah lukisan terindah kepergian sang manusia mulia. Air mata kehilangan menetes dari semua orang yang pernah berguru padanya.



Ya ayyatuhan nafsu al-muthmainnah. Irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyah. Fadkhuli fi ‘ibadi. Wadkhuli jannati.



Selamat jalan Kiai! Akui kami sebagai santrimu, dunia dan akhirat.

Ahka, santri Pondok Pesantren Annuqayah dan Mahasiswa Instika Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Syariah, IMNU PKB Kab Tegal

Jumat, 01 September 2017

Innalillahi, Hj Siti Fatma Gus Mus Berpulang ke Rahmatullah

Jakarta, PKB Kab Tegal - Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Nyai Hajjah Siti Fatma wafat pada hari ini Kamis, (30/6) siang. Istri dari Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustofa Bisri (Gus Mus) berpulang ke rahmatullah di RSUD Rembang sekira pukul 14.30 WIB. Warga NU kembali kehilangan ibu nyai teladannya.

“Jenazah rencananya akan dimakamkan Jumat 13.30 di Pemakaman Kabongan Kidul, Rembang,” kata Hanna, salah seorang keponakan almarhumah kepada PKB Kab Tegal, Kamis (30/6) siang.

Hanna juga memohon doa untuk kepulangan almarhumah.

Innalillahi, Hj Siti Fatma Gus Mus Berpulang ke Rahmatullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, Hj Siti Fatma Gus Mus Berpulang ke Rahmatullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, Hj Siti Fatma Gus Mus Berpulang ke Rahmatullah

Sementara segenap pengurus NU dan nahdliyin diharapkan mengirimkan suratul Fatihah untuk almarhumah. Semoga almarhumah diterima di sisi Allah.

PKB Kab Tegal

Semoga keluarga dan mereka yang ditinggalkan dapat mengambil pelajaran dan diberikan ketabahan. Amin. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Doa, Pendidikan PKB Kab Tegal

KBRI Damaskus Buka Kursus Bahasa Indonesia untuk Penutur Suriah

Damaskus, PKB Kab Tegal. Setelah terhenti selama lebih dari satu dekade, Dubes Suriah, Djoko Harjanto meresmikan kembali kursus bahasa Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus, Senin (19/6) waktu setempat. Angkatan pertama kursus bahasa Indonesia ini terdiri dari 16 orang WN Suriah.

Dubes Djoko menyampaikan bahwa di tengah himpitan konflik berkepanjangan yang melanda Suriah, KBRI Damaskus terus berupaya mempromosikan Indonesia, salah satunya melalui bahasa Indonesia. Diharapkan melalui kursus ini dapat mengeratkan hubungan antara Indonesia-Suriah terutama pada bidang pendidikan, kebudayaan, penerangan dan pariwisata.

KBRI Damaskus Buka Kursus Bahasa Indonesia untuk Penutur Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
KBRI Damaskus Buka Kursus Bahasa Indonesia untuk Penutur Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

KBRI Damaskus Buka Kursus Bahasa Indonesia untuk Penutur Suriah

“Bahasa Indonesia tidak hanya dituturkan lebih dari 250 juta manusia,” ujar Dubes Djoko.?

“Tetapi juga dapat dimengerti oleh sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand bagian Selatan, Timor Timur, bahkan sebagian Afrika Selatan,” sambungnya.

Angkatan pertama dibagi dua kelas, yaitu kelas pagi dan sore. Kelas sore diikuti WN Suriah yang bekerja sebagai staf di KBRI, sementara kelas pagi diikuti oleh warga Suriah dari luar KBRI. Salah satu peserta yang terlihat cukup antusian adalah calon Kepala Perwakilan Suriah di Jakarta, Ziad Zahruddin.

Ziad Zahruddin dalam kesempatan itu menyampaikan rasa kagum dan kebanggaanya dengan negara Indonesia. Walaupun banyaknya suku bangsa dan bahasa daerah di Indonesia, tetapi masih dapat terus berada dalam satu persatuan, yaitu persatuan Indonesia.?

PKB Kab Tegal

“Saya berjanji akan berbicara dengan Dubes Djoko menggunakan bahasa Indonesia tidak lama lagi,” tutur Ziad Zahruddin.

Koordinator kursus bahasa, AM Sidqi mengungkapkan, para peserta memiliki kepentingan besar untuk menguasai bahasa Indonesia karena dalam waktu dekat ini akan bekerja dan belajar di Indonesia.

Para peserta terdiri dari penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Kemristekdikti RI, penerima beasiswa Darmasiswa Kemdikbud RI, akan bekerja di Kedutaan Suriah di Jakarta, dan para staf Suriah di KBRI Damaskus. Pengajar kursus merupakan para staf KBRI Damaskus. Kursus akan berakhir pada 19 Juli mendatang. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Kamis, 31 Agustus 2017

Selalu Cek Kebenaran Sebelum Membagikan Berita di Medsos

Boyolali, PKB Kab Tegal. Kewaspadaan terhadap berita yang beredar melalui media sosial juga perlu dilakukan anggota Ansor maupun Banser. Upaya tabayyun (klarifikasi/cek) atau mencari tahu fakta dari kebenaran berita tersebut, merupakan langkah yang paling tepat.

“Kita mesti hati-hati untuk membagikan informasi atau berita di media sosial. Sering kali hal itu justru bersifat provokatif dan bahkan menjurus pada ujaran kebencian,” papar Ketua PC GP Ansor Boyolali Choiruddin Ahmad pada silaturahim GP Ansor dan Fatayat NU se-Boyolali di Slembi, Mojosongo, Boyolali, Ahad (25/12).

Selalu Cek Kebenaran Sebelum Membagikan Berita di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Selalu Cek Kebenaran Sebelum Membagikan Berita di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Selalu Cek Kebenaran Sebelum Membagikan Berita di Medsos

Senada dengan itu, Kiai Jundan dari Pesantren Dawar Boyolali, yang juga hadir dalam kesempatan itu mengingatkan kepada para kader GP Ansor Boyolali untuk senantiasa menjunjung tinggi para ulama. “Kita jangan mudah terbawa berita dengan menjelek-jelekkan para ulama,” tuturnya.

Sementara itu, Choirudin menambahkan kegiatan silaturahim atau turba ini menjadi media untuk menjalin kedekatan Ansor-Fatayat dengan masyarakat.

“Kegiatan ini sudah beberapa kali berjalan. Kita harapkan dapat menjadi wahana silaturahmi, tidak hanya sesama kader Ansor, akan tetapi juga kepada masyarakat, pengurus NU setempat, Banom, dan para kiai,” ungkap Choiruddin.

PKB Kab Tegal

Pengasuh Pesantren Mifathul Huda itu menambahkan, kegiatan turba semacam ini juga bermanfaat untuk lebih memahami kebutuhan kader di tingkatan bawah.

“Boyolali ini wilayahnya cukup luas, kesempatan pertemuan ini kita efektifkan untuk menjalin sinergitas pengurus cabang dengan pengurus PAC,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Lomba, Nasional PKB Kab Tegal

Ini Tiga Badan Khusus NU yang Diusulkan di Komisi Program

Jombang, PKB Kab Tegal. Sidang Komisi Program Muktamar Ke-33 NU yang berlangsung di Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang mengusulkan perangkat organisasi yang diberi nama Badan Khusus.

Tiga badan khusus yang dimaksud yaitu Badan Pelaksana Bidang Kesehatan NU (BPKB-NU), Badan Penyelenggara Pendidikan Ma’arif NU (BP2M-NU), dan Badan Perekonomian NU (BPNU).

Ini Tiga Badan Khusus NU yang Diusulkan di Komisi Program (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tiga Badan Khusus NU yang Diusulkan di Komisi Program (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tiga Badan Khusus NU yang Diusulkan di Komisi Program

Adapun kelembagaan Badan khusus terdiri dari Dewan Pengurus dan dan Pelaksana (eksekutif). Dewan Pengurus ditunjuk (berdasarkan keahlian dibidangnya), disahkan PBNU, Tingkat Provinsi ditunjuk oleh PWNU, di Kabupaten/Kota oleh PCNU dan disahkan oleh Dewan Pengurus.

PKB Kab Tegal

“Satu periode kepengurusan selama lima tahun, masa jabatannya bersamaan dengan PBNU,” ujar Ketua Sidang Komisi Program, H Yahya Ma’shum, Selasa (4/8) di Aula Pesantren Darul Ulum Rejoso, tempat sidang berlangsung.

PKB Kab Tegal

Kemudian, lanjut Yahya, struktur bdan terdiri dari tingkat pusat, provinsi, dan Kabupaten/Kota. Ditingkat Provinsi/Wilayah ditunjuk oleh PWNU, disahkan oleh Dewan Pengurus Pusat. Sedangkan di tingkat Kabupaten/Kota ditunjuk oleh PCNU disahkan Dewan Pengurus Pusat.

Lalu, tambahnya, tugas dan tanggung jawan badan khusus yaitu, pertama, bertanggung jawab langsung kepada PBNU, hubungan koordinatif dan konsultatif dalam menjalankan mandat yang diberikan oleh PBNU. 

Pimpinan sidang dipimpin oleh H Yahya Ma’shum, H Arifin Djunaidi, dan H Iqbal Sulam. Sampai berita ini ditulis, sidang masih berlangsung dan masuk ke dalam pandangan-pandangan dari setiap PCNU dan PWNU seluruh Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal News PKB Kab Tegal

Rabu, 30 Agustus 2017

Walikota Kupang Kucurkan Rp 30 Juta untuk Bangun Madrasah Ibtidaiyah

Kupang, PKB Kab Tegal. Walikota Kupang Jonas Salean melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Hijrah Madani BTN Kelurahan Kolhua Kecamatan Maulafa Kota Kupang, Sabtu (12/12). Ia juga memberikan bantuan sebesar Rp 30 juta untuk melanjutkan pembangunan awal MI Darul Hijrah.

Walikota Kupang Kucurkan Rp 30 Juta untuk Bangun Madrasah Ibtidaiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Walikota Kupang Kucurkan Rp 30 Juta untuk Bangun Madrasah Ibtidaiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Walikota Kupang Kucurkan Rp 30 Juta untuk Bangun Madrasah Ibtidaiyah

Gedung tiga lantai ini menelan anggaran sebesar Rp 4,4 miliar sesuai yang direncanakan panitia pembangunan MI Darul Hijrah Madani. Gedung ini dibangun bertahap sesuai maked yang dipaparkan saat peletakan batu pertama.

"Saya minta panitia tolong atur yang baik pembangunan gedung ini. Kalau bisa jangan lebih dari dua tahun pembangunannya. Saya kira 1.000 lebih umat yang ada di sini saling bahu membahu. Misalnya satu keluarga menyumbang satu dos keramik," kata Jonas.

PKB Kab Tegal

Jonas mengatakan, pembangunan MI ini menjadi contoh kerukunan antarumat beragama di Kota Kupang. "Ini salah satu upaya kita untuk menciptakan kader-kader bangsa untuk belajar bagaimana hidup di antara seluruh umat beragama di kota ini," kata Jonas.

Ketua Panitia Pembangunan MI Darul Hijrah Madani Haji Mahfud mengatakan, jumlah umat muslim di kelurahan Kolhua sekitar 400 keluarga. "Dengan pertimbangan jumlah jamaah sebesar itu madrasah dibangun," ujar Mahfud.

PKB Kab Tegal

Gedung ini dibangun di atas lahan seluas 1.500 meter persegi dengan luas bangunan 1.352 meter persegi. Lahan ini adalah milik Yayasan Darul Hijrah Madani yang terdiri atas 12 ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, tata usaha, perpustakan, laboratorium, dan aula. Sesuai rencana pembangunan gedung ini akan selesai dalam waktu tiga tahun. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pesantren, Quote, Humor Islam PKB Kab Tegal