Minggu, 23 Juli 2017

Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang

Brebes, PKB Kab Tegal. Para ikhwan tarekat Tijaniyah memperingati Idul Khotmi lil Qutbil Maktum Syeikh Ahmad Tijani RA yang ke-222 di Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah pada tanggal 12 sampai 14 Desember. Perayaan serupa pernah digelar dengan sukses di tempat tersebut pada tahun 1984 dan 2008.

Muqaddam Tijaniyah KH Syekh Soleh Basalamah menjelaskan, Idul Khotmi lil Qutbil Maktum Syeikh Ahmad At-Tijani adalah tradisi tahunan yang biasa diadakan sebagai perayaan murid Tijaniyah. Tradisi tersebut dilaksanakan dalam rangka hari pengangkatan Syekh Tijani sebagai wali khatm atau al-quthb al-maktum.

Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang

Kegiatan yang diadakan setiap tanggal 18 Shafar tersebut, kata dia, merupakan puncak ijtima’ kaum Tijaniyah seluruh Indonesia. Dilaksanakan bersifat nasional berdasar restu sesepuh muqaddam tingkat nasional. Sementara tempatnya bergiliran di tempat-tempat yang ada di Indonesia.

PKB Kab Tegal

Tradisi ini untuk pertama kalinya secara berturut-turut diadakan di Desa Betoyo, Kecamatan Mayar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada tahun 1979, 1980, 1981 M. Selanjutnya dilaksanakan secara bergiliran di kota-kota Jawa Tengah Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Bali.

PKB Kab Tegal

Menurut Ketua Panitia Idul Khotmi, Afifullah, kegiatan tersebut dihadiri lebih kurang 20 ribu orang perwakilan dari seluruh penjuru Nusantara. “Bahkan peserta dari luar negeri juga sudah berdatangan antara lain dari Prancis, Inggris, India, Maroko, Saudi Arabia, Tunisia, Al Zajair, Malaysia dan Brunei Darussalam,” ungkapnya di sela kegiatan Jumat (12/12).

Selama tiga hari, kata dia, peserta bakal mengikuti agenda utama berupa Halalah (dzikir rutin Tarekat Tijaniyah pada Jumat sore? di Masjid Mujahidin Jatibarang Kidul, Mushola Baitussaadah di Jatibarang Lord, dan di Zawiyah Kemiriamba.

Pada Sabtu (13/12) ada halaqah (seminar) Muqodam di gedung Serbaguna Al Ittihad, seminar penanggulangan ISIS bagi pengikut Attijaniyah di Pesantren Darrusalam Jatibarang Kidul. Terus khalwat (dzikir), Manaqib Qubro dan istighosah di Masjid Al Ittihad di Jatibarang Lor. Juga digelar Parade Rebana 23 grup dan atraksi Ikatan Motor Banser Indonesia (IMBI).

Puncak kegiatan berupa pengajian akbar pada Ahad di Pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, dengan pembicara dari PBNU KH Mustafa Aqil Siroj, Rois Am JATMAN Habib Lutfie bin Ali Yahya, Sayid Tohir At Tijani dari Maroko dan Dr Redigenun Muqodam dari Al Zajair.

1200 rumah warga untuk menginap

Menurut Afif, untuk mensukseskan kegiatan tersebut, panitia menyediaksn 1200 rumah warga sebagai home stay (tempat tinggal sementara) para bagi ikhwan (peserta) luar daerah. Rumah tersebut disediakan untuk penginapan sekaligus menyediakan konsumsi gratis bagi ikhwan. “Warga sangat antusias walau hanya diberi subsidi Rp 10 ribu per ikhwan,” terangnya. (12/12).

Dari 1200 rumah tersebut, lanjutnya, berada di seluruh wilayah Kecamatan Jatibarang, sehingga tidak memberatkan panitia dalam hal transportasi. Sedangkan untuk para Muqadam dan Masayih di Hotel Anggraeni Jatibarang.

Afif menambahkan, warga sendiri mengaku sangat senang ditempati para tamu dari seluruh penjuru Nusantara. Mereka menganggap hal itu bisa mendatangkan barokah dikemudian hari. “Mereka yang ditempati, mayoritas sangat bangga bahkan sebagian banyak yang minta rumahnya dijadikan home stay karena dipercaya bakal mendapat barokah dari Allah SWT,” tutur Afif. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Syariah, Habib, Daerah PKB Kab Tegal

Sabtu, 22 Juli 2017

Menteri Pendidikan Singapura Isi Seminar IPNU-IPPNU

Jakarta, PKB Kab Tegal. Menteri Pendidikan, Perdagangan, dan Industri Singapura S Iswaran dijadwalkan akan menjadi narasumber pada Kongres XVII IPNU dan Kongres XVI IPPNU di Palembang, Sumsel, Sabtu (1/12).

Iswaran akan berdampingan dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhammad Nuh, M Jusuf Kalla, dan Gubernur Provinsi Sumatera Selatan Alex Noerdin. Menurut Ketua Panitia Kongres XVII IPNU Nurudin, keempat narasumber itu sudah positif menyanggupi undangan panitia.

Menteri Pendidikan Singapura Isi Seminar IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Pendidikan Singapura Isi Seminar IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Pendidikan Singapura Isi Seminar IPNU-IPPNU

Dalam kesempatan itu, tema yang dibahas adalah “Rekonstruksi Pendidikan Nasional Menuju Peningkatan Kualitas Pendidikan Indonesia yang Berdaya Saing Global”. 

PKB Kab Tegal

Pembahasan ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan lain, seperti Seminar Pendidikan Karakter, Seminar Ke-IPNU-an dan Ke-IPPNU-an, serta Seminar Media dan Demokrasi.

Rabu kemarin, Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi juga menemui Menteri Pemuda dan Olahraga RI Andi Mallarangeng untuk menyampaikan visi kongres dan aspirasi pelajar NU terhadap pemerintah. Rencananya, Andi juga ikut mengisi kongres yang berakhir pada 4 Desember ini.

PKB Kab Tegal

 

Redaktur  : Hamzah Sahal

Penulis     : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Berita, Cerita, Olahraga PKB Kab Tegal

Cara Memulihkan Gairah Seksual

Di Hari Raya Idul Adha ini daging kambing menjadi perhatian masyarakat. Selain membatasi porsi konsumsi karena takut darah tinggi, sebagian dari masyarakat juga kerap menjadikan daging kambing sebagai penambah gairah seksual dalam guyonan mereka.

Sebagaimana diketahui, banyak obat dan tips yang ditawarkan untuk meningkatkan gairah seksual. Sebagian obat dan tips itu cocok untuk sebagian orang. Tetapi sebagian lagi tidak cocok.

Cara Memulihkan Gairah Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Memulihkan Gairah Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Memulihkan Gairah Seksual

Mereka sering menyebutnya sebagai “obat kuat”. Ada obat kuat dikonsumsi, tetapi ada juga yang dioles. Hanya saja pada beberapa kasus obat kuat itu membahayakan terutama tanpa arahan dokter.

Lazimnya orang yang sudah memenuhi hajat seksual tidak lagi berhajat dalam tempo singkat. Hal ini biasanya terjadi pada perkawinan suami-istri lebih dari 20 tahun atau mereka yang lanjut usia. Mereka membutuhkan stimulus. Lain soal pengantin baru apalagi pengantin muda yang tengah bersemangat karena merasa mempunyai “mainan” baru. Pengantin baru ini biasanya tidak perlu stimulus untuk melakukan hubungan seksual bahkan untuk kedua kalinya dalam jeda yang singkat.

PKB Kab Tegal

Untuk pasangan suami-istri yang perlu memulihkan gairah seksual setelah berhubungan badan dan belum sempat mandi atau pasangan muda sekalipun yang tidak perlu rangsangan, Syekh Wahbah Az-Zuhayli menganjurkan mereka untuk berwudhu.

PKB Kab Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Siapa saja yang ingin berhubungan seksual untuk kedua kalinya dengan istri, hendaknya ia membasuh kemaluannya, kemudian ia berwudhu. Pasalnya, wudhu dapat menambah semangat dan kesucian,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz 3 halaman 556).

Kesegaran badan itu sendiri menambah gairah atau meningkatkan mood. Wudhu diharapkan dapat membantu menghadirkan itu di samping wudhu itu sendiri merupakan ibadah penyucian. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Habib, Tegal, Anti Hoax PKB Kab Tegal

Jumat, 21 Juli 2017

STISNU Tangerang Gelar Ngaji Pancasila ke Sekolah-sekolah

Tangerang, PKB Kab Tegal - Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang menggelar kegiatan "Ngaji Pancasila" ke sekolah-sekolah di Kota dan Kabupaten Tangerang, serta Kota Tangerang Selatan.

H Mohammad Mahrusillah, ketua tim "Ngaji Pancasila" menjelaskan bahwa kegiatan ini digagas berawal dari keperihatian civitas akademika STISNU atas isu-isu nasional belakangan ini yang menjurus pada disintegrasi bangsa akibat dari perbedaan cara pandang dalam berpolitik, intoleransi dan masifnya gerakan ideologi radikal.

STISNU Tangerang Gelar Ngaji Pancasila ke Sekolah-sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Tangerang Gelar Ngaji Pancasila ke Sekolah-sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Tangerang Gelar Ngaji Pancasila ke Sekolah-sekolah

Radikalisme dinilai telah mempengaruhi pemikiran generasi muda untuk menyalahkan atau bahkan mengafirkan konsep berbangsa dan beragama yang sudah dirumuskan oleh para pendiri bangsa Indonesia.

Forum "Ngaji Pancasila", kata Mahrusillah, bertujuan membentengi generasi muda kalangan pelajar dari prilaku intoleransi yang menjurus pada perusakan nilai nilai luhur Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945. Tidak hanya itu, juga memberikan wawasan bahaya pemikiran atau ideologi radikal atas nama agama yang dapat menyebabkan perpecahan sebagai warga bangsa.

PKB Kab Tegal

Sebab, itu ia mengajak kepada seluruh elemen bangsa tanpa melihat status sosial, suku dan agama untuk mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila yang sudah terbukti memupuk rasa kebersamaan, kebangsaan, dan kecintaan terhadap tanah tanah air.

PKB Kab Tegal

"Para pelajar (generasi muda di sekolah) akan diberikan pemahaman tentang pentingnya mengamalkan Pancasila dalam keseharian. Pengamalan Pancasila berarti juga mengamalkan ajaran agama, termasuk ajaran Islam," tambahnya.

Herman Jampang, koordinator mahasiswa dalam kegiatan ini menambahkan, pihaknya akan mengunjungi sekolah, madrasah, dan pesantren di Tangerang Raya untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya Pancasila untuk Indonesia.

"Kami mahasiswa NU siap mengawal Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Itu (semua) adalah harga mati bagi kami," tegasnya.

H. Muhamad Qustulani, Waka Akademik STISNU berharap sekolah, madrasah, pesantren, atau lembaga pendidikan lainnya dapat menerima kehadiran para mahasiswa STISNU yang ingin mengenalkan Pancasila kepada siswa dan santri.

"Harapannya, untuk suksesi kegiatan ini pemerintah membantu dan mensuport mahasiswa. Setidaknya, bisa terjun bareng ke lapangan sembari menelaah dan meneliti perilaku dan pandangan generasi muda tengah Pancasila di sekolah-sekolah, madrasah dan pesantren atau lembaga pendidikan lainnya," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa dari setiap kegiatan akan disebarkan angket penelitian yang nantinya akan dipublikasi sebagai bahan evaluasi dan untuk mengetahui pandangan pelajar tentang Pancasila. Kegiatan Ngaji Pancasila akan diselenggarakan mulai dari bulan Februari sampai sepetember 2017 .

Peluncuran perdana kegiatan tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Mifathul Khaer Curug Kabupaten Tangerang yang dihadiri sekitar 150 santri siswa -siswi yang akan lulus sekolah tingkat SMA / MA . (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Syariah PKB Kab Tegal

Kamis, 20 Juli 2017

Pesantren Fathul Ulum Jombang Terapkan Sistem Penjurusan

Jombang, PKB Kab Tegal. Pondok Pesantren Fathul Ulum, Desa Gardu Laut, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur menyiapkan tiga jurusan utama dalam membina para santrinya. Jurusan tersebut di antaranya adalah ilmu fiqih, ilmu tafsir al-Qur’an hadis dan ilmu tashawuf.

Habibul Amin, pengasuh pondok pesantren ini, mengatakan bahwa pesantren saat ini sudah harus mulai merancang kurikulum-kurikulum yang bisa mengarahkan santrinya lebih terdidik, setidaknya pesantren juga bisa memperhatikan serta mewadahi berbagai kemampuan dan keterampilan santri ke dalam jurusan-jurusan tertentu supaya lebih fokus.

Pesantren Fathul Ulum Jombang Terapkan Sistem Penjurusan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Fathul Ulum Jombang Terapkan Sistem Penjurusan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Fathul Ulum Jombang Terapkan Sistem Penjurusan

“Tiga jurusan (fiqih, ilmu tafsir al-Qur’an hadis dan ilmu tashawuf) itu kita masukkan pada kurikulum pondok pesantren ini, agar apa? Supaya mereka lebih bisa menekuni kemampuan mereka masing-masing. Dan ini, saya rasa lebih efektif daripada hanya ikut alur salaf? seperti biasanya itu,” katanya kepada PKB Kab Tegal saat ditemui di kediamannya. Senin (2/11).

PKB Kab Tegal

Dalam pandangan Amin, sapaan akrabnya, mayoritas pondok pesantren berdiri kokoh karena sosok figur bukan disebabkan oleh sistem, termasuk kurikulum yang ada di pesantren itu sendiri. “Maka mulai rapuh. Dengan demikian saya dan para santri mengajak, mari kita membuat pesantren yang salaf kokoh katrena sistem bukan karena figur dan sistem kurikulum yang tepat guna,” ujarnya.

Sementara penerapan sistem penjurusan di pesantren ini setelah enam tahun menekuni belajar ilmu nahwu, sharof? dan ngaji beberapa kitab salaf yang lain. Masing-masing jurusan tersebut ditargetkan selesai selama tiga tahun. “Kalau S1 kan empat tahun, di sini tiga tahun para santri sudah bisa dikatakan sarjana ilmu fiqih, sarjana di bidang tafsir dan sarjana tashwuf,” ujarnya.

PKB Kab Tegal

Pondok pesantren ini berdiri sejak tahun 2007. Saat ini Pesantren Fathul Ulum menampung kurang lebih dari 300 santri. Mereka datang dari asal yang berbeda hingga kepulauan dan luar jawa. Setiap santri juga diwajibkan riyadhah puasa hari senin dan kamis. “Riyadhah juga masuk kurikulum, jadi kelas 1 2 3 SD mereka wajib puasa Senin Kamis,” tuturnya. (Syamsul/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sejarah, Aswaja PKB Kab Tegal

Selasa, 18 Juli 2017

Pengembangan Pemikiran NU Harus Sejalan dengan Khithah

Jember, PKB Kab Tegal. Agar kader Nahdlatul Ulama (NU) menjadi kreatif maka pengembangan pemikiran di kalangan kader NU harus terus dikembangkan. Demikian keterangan Kiai Muchith Muzadi kepada PKB Kab Tegal, Jum’at (3/11).

Namun pengembangan tersebut haruslah tetap berada pada jalur khithah. Dengan demikian para kader NU tidak terjerumus pada cara berpikir liberal, sebuah cara berpikir yang tidak memiliki patokan.

Pernyataan itu sekaligus sebagai dukungan atas berkembangnya usaha sekelompok generasi muda yang ingin  mengembangkan fikrah nahdliyah sesuai dengan tradisi NU. Kelompok ini menilai bahwa NU akan mampu mengembangkan pemikiran kreatif dan orisinal bila berangkat dari tardisi dan sejarahnya sendiri.

Pengembangan Pemikiran NU Harus Sejalan dengan Khithah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengembangan Pemikiran NU Harus Sejalan dengan Khithah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengembangan Pemikiran NU Harus Sejalan dengan Khithah

Sementara pemikiran yang hanya berpijak pada tradisi luar akan mengalami kemandegan bahkan kebuntuan, sebab tidak meiliki akar.

“Hal itulah yang melahirkan liberalisme yang akhirnya menemui jalan buntu dan akhirnya bersikap sangat oportuinistik dalam berpikr, sehingga bisanya hanya menjalankan agenda orang lain,” kata Kiai Muchith.

PKB Kab Tegal

Kiai Muchid juga menyambut sangat baik terbitnya buku “NU Studies” karya Ahmad Baso yang menurutnya bisa dijadikan landasan bagi kajian NU. Hanya saja menurut Kiai kelana itu, buku tersebut perlu dibuatkan ringkasaannya yang sederhana, sehingga bisa menjadi semacam tuntunan praktis bagi siapa saja yang melakukan kajian NU.

Menurut kakak kandung KH. Hasyim Muzadi itu buku “NU Studies” sangat berat terutama dari segi bahasa sehingga tidak banyak yang mampu memahaminya. “Rata-rata pengurus NU akan kesulitan memahami buku tebal tersebut,” katanya.

“Kalau saya masih sehat seperti dulu, tentu saya akan membuat khasiah atau iskhtisar buku tersebut biar bisa dibaca semua kalangan. Dengan adanya pedoman berpikir lurus dan sekaligus kritis itu pemikiran NU bisa terus berkembang, dalam alur perkembangan yang sesuai dengan NU dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam,” kata kiai Muchith.

Hal itu akan terjadi bila kader NU percaya diri dengan khazanah keilmuan dan tradisi yang dimiliki. Ketika para kader muda telah berani mengembangkan pemikiran berdasarkan sejarah dan tradisinya sendiri berarti para kader NU telah memiliki keprcayaan diri. Itu berarti mereka telah menemukan jati diri, menemukan identitas pemikiran dan berani menyampaikan kepada siapa saja.

PKB Kab Tegal

Satu-satunya murid Hadratus Syeikh Kiai Hasyim Asyary yang masih hidup itu juga mengingatkan agar landasan berpikir seperti yang telah diletakkan oleh Kiai Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi maupun Kiai Ahmad Shiddiq dalam Fikrah Nahdliyah nya perlu tetap dijadikan landasan utama. Dari situ perlu dikembangkan lebih rinci dan lebih mendalam sesuai dengan perkembangan saat ini. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nasional, Sholawat PKB Kab Tegal

Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru

Yogyakarta, PKB Kab Tegal. Guru besar sejarah Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Bambang Purwanto mengatakan, penerbitan buku putih “Benturan NU-PKI: 1948-1965” oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mempunyai tempat tersendiri dalam penulisan sejarah atau historiografi Indonesia. Dan sebagai sebuah sejarah, buku putih itu tentu memuat subyektifitas.

“Sejarah tidak pernah obyektif. Historiografi selalu memuat subyektifitas. Bagi kami sejarawan, buku putih yang ditulis oleh NU ini sangat berarti sebagai sumber historiografi,” kata Prof Bambang dalam bedah buku putih itu di kampus UIN Sunan Kalijaga, Kamis (3/4). Kegiatan yang digelar PWNU Yogyakarta dihadiri oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali dan tim penulis dari Jakarta.

Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru

Sebelumnya ketua tim penulis buku putih Abdul Mun’im DZ mengatakan, buku putih itu ditulis sebagai bahan pegangan atau panduan bagi warga NU sendiri, terutama generasi muda yang tidak terlibat dalam peristiwa penting yang melibatkan NU di masa lalu. “Buku ini lebih tepat disebut sebagai buku politik, bukan buku ilmiah,” kata Wakil Sekjen PBNU itu.

PKB Kab Tegal

Bambang Purwanto mengatakan, jika buku “Benturan NU-PKI” itu dimaksudkan sebagai buku panduan bagi kader NU atau menjadi buku politik, maka berbagai pertanyaan yang menyangkut persoalan historiografi telah selesai. Dalam konteks itu, buku putih yang ditulis oleh NU sudah berhasil.

PKB Kab Tegal

“Sebagai buku pegangan bagi kader NU, buku ini sudah berhasil menyampaikan apa yang ingin disampaikan dan layak untuk dibaca. Buku ini telah berhasil betul mengatakan bahwa NU itu hebat betul. Bahwa NU hampir tidak ada cacat,” katanya.

Namun, ia memberikan catatan, buku putih NU itu sangat monolitik. “Tidak ada yang berperan selain NU. Yang lain hanya pelengkap. Bahwa NU kemudian menjadi superhero, sangat terasa dalam buku ini,”katanya.

Namun menurutnya, membaca buku putih itu sama seperti membaca Babad Tanah Jawi, atau babad dan hikayat lainnya. Dengan menulis buku itu, lanjutnya, NU itu telah mengembalikan tradisi penulisan sejarah yang dilakukan orang-orang terdahulu.

“Buku putih ini merupakan produk narasi NU yang menjadi bahan baru untuk menulis historiografi baru,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal