Selasa, 18 Juli 2017

Pengembangan Pemikiran NU Harus Sejalan dengan Khithah

Jember, PKB Kab Tegal. Agar kader Nahdlatul Ulama (NU) menjadi kreatif maka pengembangan pemikiran di kalangan kader NU harus terus dikembangkan. Demikian keterangan Kiai Muchith Muzadi kepada PKB Kab Tegal, Jum’at (3/11).

Namun pengembangan tersebut haruslah tetap berada pada jalur khithah. Dengan demikian para kader NU tidak terjerumus pada cara berpikir liberal, sebuah cara berpikir yang tidak memiliki patokan.

Pernyataan itu sekaligus sebagai dukungan atas berkembangnya usaha sekelompok generasi muda yang ingin  mengembangkan fikrah nahdliyah sesuai dengan tradisi NU. Kelompok ini menilai bahwa NU akan mampu mengembangkan pemikiran kreatif dan orisinal bila berangkat dari tardisi dan sejarahnya sendiri.

Pengembangan Pemikiran NU Harus Sejalan dengan Khithah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengembangan Pemikiran NU Harus Sejalan dengan Khithah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengembangan Pemikiran NU Harus Sejalan dengan Khithah

Sementara pemikiran yang hanya berpijak pada tradisi luar akan mengalami kemandegan bahkan kebuntuan, sebab tidak meiliki akar.

“Hal itulah yang melahirkan liberalisme yang akhirnya menemui jalan buntu dan akhirnya bersikap sangat oportuinistik dalam berpikr, sehingga bisanya hanya menjalankan agenda orang lain,” kata Kiai Muchith.

PKB Kab Tegal

Kiai Muchid juga menyambut sangat baik terbitnya buku “NU Studies” karya Ahmad Baso yang menurutnya bisa dijadikan landasan bagi kajian NU. Hanya saja menurut Kiai kelana itu, buku tersebut perlu dibuatkan ringkasaannya yang sederhana, sehingga bisa menjadi semacam tuntunan praktis bagi siapa saja yang melakukan kajian NU.

Menurut kakak kandung KH. Hasyim Muzadi itu buku “NU Studies” sangat berat terutama dari segi bahasa sehingga tidak banyak yang mampu memahaminya. “Rata-rata pengurus NU akan kesulitan memahami buku tebal tersebut,” katanya.

“Kalau saya masih sehat seperti dulu, tentu saya akan membuat khasiah atau iskhtisar buku tersebut biar bisa dibaca semua kalangan. Dengan adanya pedoman berpikir lurus dan sekaligus kritis itu pemikiran NU bisa terus berkembang, dalam alur perkembangan yang sesuai dengan NU dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam,” kata kiai Muchith.

Hal itu akan terjadi bila kader NU percaya diri dengan khazanah keilmuan dan tradisi yang dimiliki. Ketika para kader muda telah berani mengembangkan pemikiran berdasarkan sejarah dan tradisinya sendiri berarti para kader NU telah memiliki keprcayaan diri. Itu berarti mereka telah menemukan jati diri, menemukan identitas pemikiran dan berani menyampaikan kepada siapa saja.

PKB Kab Tegal

Satu-satunya murid Hadratus Syeikh Kiai Hasyim Asyary yang masih hidup itu juga mengingatkan agar landasan berpikir seperti yang telah diletakkan oleh Kiai Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi maupun Kiai Ahmad Shiddiq dalam Fikrah Nahdliyah nya perlu tetap dijadikan landasan utama. Dari situ perlu dikembangkan lebih rinci dan lebih mendalam sesuai dengan perkembangan saat ini. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nasional, Sholawat PKB Kab Tegal

Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru

Yogyakarta, PKB Kab Tegal. Guru besar sejarah Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Bambang Purwanto mengatakan, penerbitan buku putih “Benturan NU-PKI: 1948-1965” oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mempunyai tempat tersendiri dalam penulisan sejarah atau historiografi Indonesia. Dan sebagai sebuah sejarah, buku putih itu tentu memuat subyektifitas.

“Sejarah tidak pernah obyektif. Historiografi selalu memuat subyektifitas. Bagi kami sejarawan, buku putih yang ditulis oleh NU ini sangat berarti sebagai sumber historiografi,” kata Prof Bambang dalam bedah buku putih itu di kampus UIN Sunan Kalijaga, Kamis (3/4). Kegiatan yang digelar PWNU Yogyakarta dihadiri oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali dan tim penulis dari Jakarta.

Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarawan: Buku Putih NU Menjadi Bahan Historiografi Baru

Sebelumnya ketua tim penulis buku putih Abdul Mun’im DZ mengatakan, buku putih itu ditulis sebagai bahan pegangan atau panduan bagi warga NU sendiri, terutama generasi muda yang tidak terlibat dalam peristiwa penting yang melibatkan NU di masa lalu. “Buku ini lebih tepat disebut sebagai buku politik, bukan buku ilmiah,” kata Wakil Sekjen PBNU itu.

PKB Kab Tegal

Bambang Purwanto mengatakan, jika buku “Benturan NU-PKI” itu dimaksudkan sebagai buku panduan bagi kader NU atau menjadi buku politik, maka berbagai pertanyaan yang menyangkut persoalan historiografi telah selesai. Dalam konteks itu, buku putih yang ditulis oleh NU sudah berhasil.

PKB Kab Tegal

“Sebagai buku pegangan bagi kader NU, buku ini sudah berhasil menyampaikan apa yang ingin disampaikan dan layak untuk dibaca. Buku ini telah berhasil betul mengatakan bahwa NU itu hebat betul. Bahwa NU hampir tidak ada cacat,” katanya.

Namun, ia memberikan catatan, buku putih NU itu sangat monolitik. “Tidak ada yang berperan selain NU. Yang lain hanya pelengkap. Bahwa NU kemudian menjadi superhero, sangat terasa dalam buku ini,”katanya.

Namun menurutnya, membaca buku putih itu sama seperti membaca Babad Tanah Jawi, atau babad dan hikayat lainnya. Dengan menulis buku itu, lanjutnya, NU itu telah mengembalikan tradisi penulisan sejarah yang dilakukan orang-orang terdahulu.

“Buku putih ini merupakan produk narasi NU yang menjadi bahan baru untuk menulis historiografi baru,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Senin, 17 Juli 2017

Harlah NU, Ansor, Sekaligus Isra Mi’raj di Ponogoro

Ponorogo, PKB Kab Tegal



Sebagai bagian dari kontribusi warga NU untuk kehidupan kebangsaan dan keberagamaan yang damai dan berkeadilan dan demi keutuhan NKRI, warga NU Ponorogo mengikuti apel akbar yang dipimpin Katib Syuriyah PBNU KH Lukman Harist Dimyathi pada Senin malam (24/4).

Dalam amanatnya, Kiai Luqman yang merupakan pengasuh pesantren Tremas Pacitan itu mengajak kepada warga NU untuk bersama-sama mewaspadai pergerakan organisasi yang anti-Pancasila.

Harlah NU, Ansor, Sekaligus Isra Mi’raj di Ponogoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah NU, Ansor, Sekaligus Isra Mi’raj di Ponogoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah NU, Ansor, Sekaligus Isra Mi’raj di Ponogoro

"Kita dukung pemerintah untuk segera membubarkan organisasi-organisasi yang anti-Pancasila! Banser harus siap lahir batin bersama Kiai jaga NKRI," tegasnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan atraksi dari pencak silat NU Pagar Nusa, Banser, Fatser, dan kesenian Reog Ponorogo.

Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Ponorogo menggelar acara hari lahir ke-94 NU yang dipusatkan di alun-alun Ponorogo, bertepatan dengan hari lahir ke-83 Gerakan Pemuda Ansor dan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

PKB Kab Tegal

Sebanyak 30 ribu warga NU Ponorogo dan sekitarnya, dengan khusyu mengikuti Istighotsah Kubro di Alun-alun Ponorogo. Istighotsah digelar dalam rangka memohon kepada Allah agar Indonesia senantiasa diberikan rasa aman dan damai.

Istighatsah diawali dengan shalat Magrib berjamaah, kemudian dilanjut dengan majlis dzikir dan shalawat Rijalul Ansor, shalat tolak bala dan shalat Isya berjamaah, diteruskan istighotsah kubro yang dipimpin oleh KH Abdul Matin Jawahir (Rais Syuriyah PWNU Jatim).

Istighatsah dihadiri oleh para ulama, seperti KH Abdus Sami Hasyim Mayak, KH Fathurrodji Tantowi, KH Husein Aly, KH Sholichan Al Hafidz, KH Maruf Muchtar Bajang dan KH Luqman Harits Dimyathi (Katib Syuriyah PBNU).

Selain para ulama, hadir pula Bupati Ponorogo H Ipong Muchlissoni dan segenap jajaran Forkopimda Ponorogo. Red: Mukafi Niam

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Fragmen, Doa PKB Kab Tegal

Muslimat NU Probolinggo Santuni Masyarakat Minoritas

Probolinggo, PKB Kab Tegal. Bertepatan dengan memontum peringatan Hari Lahir Pancasila ke-72, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo bersinergi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Probolinggo dan Tim Penggerak PKK Kecamatan Wonomerto mengadakan silaturahim dan memberikan santunan kepada masyarakat minoritas penganut agama suci di Desa Sumberkare Kecamatan Wonomerto, Kamis (1/6) sore.

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurhayati mengungkapkan, kegiatan ini merupakan salah satu momentum kepedulian dan mengamalkan nilai nilai butir Pancasila sebagai aplikasi langsung pada masyarakat serta nilai kesetiakawanan sosial kepada sesama umat Islam.

Muslimat NU Probolinggo Santuni Masyarakat Minoritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Santuni Masyarakat Minoritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Santuni Masyarakat Minoritas

“Alhamdulillah kami diterima dengan baik oleh mereka sesama umat Islam penganut agama suci. Ini merupakan bagian dari syiar dari Muslimat NU. Karena merek? perlu ? pendekatan sec? ra kekeluargaan bukan mengintrogasinya. Sebab mereka masih trauma ketika menerima tamu,” katanya.

Menurut Nurhayati, memang ada beberapa orang yang tinggal di salah satu dusun di Desa Sumberkare beranggapan agama yang dianutnya Agama Suci yang menggunakan bahasa Jawa. Kurang lebih ada 5 KK dengan jumlah sekitar 13 orang dan hanya dianut oleh tokoh yang ada disana anak cucu mantu.

“Memang menarik perhatian tapi itulah bangsa Indonesia dengan aneka ragam agama dan kepercayaan yang dianutnya. Konsep pemikiran serta ajaran agama Islam yang perlu diluruskan dari kebiasaan yang mereka lakukan dan itu butuh proses,” jelasnya.

PKB Kab Tegal

Nurhayati menyampaikan tujuan kegiatan ini sebagai bentuk nilai-nilai kesetiakawanan sosial terhadap sesama. Sekaligus sebagai salah satu upaya mengajak perbaikan dan meluruskan kembali ajaran Islam yang benar sesuai syariah Islam dan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Serta, hikmah Ramadhan dan aplikasi langsung wujud pengamalan nilai-nilai Pancasila. Dengan berbagi Insya Allah paling tidak meringankan beban sesama yang membutukkan,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini Nurhayati berharap agar nantinya berdampak pada perubahan dari sistem ajaran agama Suci dan perubahan pola pikir dan kebiasaan yang salah. Demi mewujudkan hal tersebut perlu proses dengan melibatkan banyak peran semua pihak agar tidak terjadi konsep pemahaman ajaran Islam yang kurang benar supaya diluruskan.

“Dengan sentuhan semua komponen tokoh masyarakat dan tokoh agama serta semua yang peduli, InsyaAllah semua pasti bisa. Mereka butuh media komunikasi, informasi serta perlu diajak musyawarah serta berkumpul yang sifatnya membangun karakter, menjadikan mereka sahabat karena mereka butuhkan pencerahan kita semua,” tegasnya.

PKB Kab Tegal

Nurhayati menambahkan bahwa hidup sejatinya adalah perbedaan. Yang menyatukan hatinya perbedaan. Perbedaan yang menumbuhkan kita menjadikan persaudaraan. “Persaudaraan dengan perbedaan suku, agama, budaya dan kepercayaan itulah Indonesia,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Anti Hoax, Pendidikan, Tokoh PKB Kab Tegal

Jumat, 14 Juli 2017

Penampilan Perdana Ahmad Tohari Membaca Puisi

Jakarta, PKB Kab Tegal. Kepiawaian Ahmad Tohari dalam menulis karya prosa sudah tak rigaukan lagi. Salah satu pembuktiannya adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk yang melambungkan dan bahkan menguatkan namanya sebagai salah satu sastrawan terkemuka.

Lalu bagaimana bila Ahamd Tohari diminta menulis puisi danmembacakannya di depan publik?

Penampilan Perdana Ahmad Tohari Membaca Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Penampilan Perdana Ahmad Tohari Membaca Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Penampilan Perdana Ahmad Tohari Membaca Puisi

Penampilannya pada Malam Pembacaan Puisi Hari Santri; Ketika Kiai Nyai Santrri Berpuisi; Pesantren tanpa Tanda Titik, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (17/10) malam, menjadi jawabannya.

“Saya susah tidur untuk menulis puisi ini,” kata Tohari tentang proses kreatifnya.

"Ini pertama kali saya menulis puisi dan akan membacakannya, justru di usia hampir tujuh puluh tahun," lanjutnya.

PKB Kab Tegal

Gaya Tohari yang sederhana dan tampak ndeso membuat penonton malam itu tertawa. Apalagi saat pembacaan puisi, sesekali ia menjelaskan maksud dari kata-kata atau istilah dalam puisinya. Karena puisi karangan Tohari teryata berisi semacam dialog dua tokoh, ia member jeda dan menjelaskan siapa tokoh yang sedang berbicara pada bagian tertentu dari puisinya. 

“Mungkin puisi ini bukan puisi, lebih tepat cerita pendek yang dipadatkan,” kata Tohari. 

Berikut puisi lengkap yang dibuat dan dibacakan Tohari.

Kiai Asngari dan Dulkodir

di surau yang lantainya baru dikeramik,

PKB Kab Tegal

dan  corongnya dibikin lirih karena diprotes tetangga,

yang bilang, Tuhan tidak menyukai apa yang berlebihan,

malah ada yang membidahkan.

Kiai Asngari bersila memangku tasbih dan telepon pintar

di depannya duduk Kang Dulkodir yang lalu berkata





Kiai pernah bilang,  apa pun yang telah, sedang, dan akan terjadi

sudah tertulis di papan yang terjaga?

Tentang kapan sebutir telur semut akan  menetas

Tentang kapan sebuah gunung akan meletus

Dan  tentang apa saja?

Ya betul

Juga tentang datangnya zaman kurang waras saat ini?

Ya betul. Ini sungguh sudah tertulis di papan yang terjaga 

maka itu tetap terjadi 

meski kita telah berikhtiar untuk menjadi selalu waras :

rumusan mengenai tujuan  kemerdekaan sudah lama dipancangkan

dasar negara sudah digelar, undang-undang disusun

polisi yang tangkas 

jaksa yang berkumis

hakim yang cerdas, sudah diangkat dan digaji

oleh rakyat

DPR yang ketua dan anggotanya bisa mengahafal Pancasila

sambil nungging sekali pun

para pemimpin sering kita doakan 

semua itu ikhtiar membangun sarana untuk kehidupan waras 

tapi ternyata tatanan malah makin tidak waras

karena semua memang sudah tertulis di papan yang terjaga

bukan karena mutu ikhtiar yang rendah, tidak ikhlas

dan tidak istikamah?

mutu ikhtiar  yang rendah

tidak istikamah

tidak ikhlas

juga sudah tertulis di papan yang terjaga

Kiai, saya pusing



saya malah lega dan merasa ringan



tahu mengapa sulit mendatangkan pikiran dan perilaku waras

tahu dan sadar mengapa Yang Maha Berkehendak

tak sudi mengubah tulisan tentang nasib  kita di papan yang terjaga.

Subhanallah

(Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Tegal PKB Kab Tegal

Kamis, 13 Juli 2017

Mahbub Djunaidi: Jangan Jadi Wartawan Penakut!

Dek, kalau ingin kaya, jangan jadi wartawan, jadilah pengusaha. Kalau penakut jangan jadi wartawan, jadilah tukang mie bakso. 

Ungkapan itu dikemukakan oleh sang pendekar pena, kolomnis ternama, H. Mahbud Djunaidi, pada suatu kesempatan di kantor perwakilan Harian Umum Pelita Jawa Barat, Gedung Milamar, Jalan Asia Afrika, Bandung.

Pada hari-hari tertentu, bisa bertemu dengan Mahbub di kantor perwakilan Harian Umum Pelita (1980 – 1982), karena ia yang tinggal di Jalan Turangga 1, Bandung itu, merupakan penasihat perwakilan Harian Umum Pelita Jawa Barat, sedangkan kepala perwakilannya, Agus Suflihat Manaf atau Agus SM.

Mahbub Djunaidi: Jangan Jadi Wartawan Penakut! (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahbub Djunaidi: Jangan Jadi Wartawan Penakut! (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahbub Djunaidi: Jangan Jadi Wartawan Penakut!

Mahbub berpenampilan sangat sederhana. Terkadang kepergok mengenakan pakaian olahraga (baju dan celana singlet). Jika bertemu selalu memberi nasihat-nasihat tentang kewartawanan, tentang tulis menulis, ya termasuk nasihatnya, "Dek kalau ingin kaya, jangan jadi wartawan, jadilah pengusaha. Kalau penakut jangan jadi wartawan, jadilah tukang mie bakso."

Memang, jadi wartawan jangan berharap kaya. Memang jadi wartawan bukan untuk mengerjar kekayaan. Pada masa-masa itu, orang jadi wartawan, karena tuntutan nurani, sehingga dikenal dan lahir sebutan wartawan idealis. Artinya wartawan yang benar-benar menjalankan tugas dan fungsinya tanpa pamrih, wartawan hakikatnya pejuang. Apalagi pada masa-masa perjuangan sebelum Indonesia merdeka, wartawan berjuang dengan kekuatan penanya untuk kemerdekaan negeri ini.

PKB Kab Tegal

Wajarlah jika pada masa-masa itu, jadi wartawan jangan berharap kaya sebagaimana dikemukakan mantan Ketua PWI, dan mantan Ketua NU periode tahun itu. Pada masa-masa itu, wartawan yang memiliki kendaraan beroda dua, dan empat sangat jarang. Mahbub pun memiliki kendaraan sedan VW berwarna biru telur asin, mungkin bukan dari hasil jadi wartawan, karena ayahnya Pak Djunaidi, merupakan tuan tanah, orang kaya Betawi.

Walaupun pada masa-masa itu, sebut saja pada masa Orde Baru, kebebasan wartawan dikekang, tetapi harkat derajat wartawan sangat tinggi, dihormati oleh pejabat maupun masyarakat. Pejabat, masyarakat sangat segan terhadap yang namanya wartawan. Wartawan terutama di daerah jumlahnya sangat sedikit. Dapat dihitung dengan jari. Di satu kabupaten paling banyak rata-rata sembilan atau 11 orang.

PKB Kab Tegal

Kondisi seperti itu, tentunya jauh berbeda dengan kondisi sekarang, terutama sejak era reformasi. Ketika kran kebebasan dibuka, jumlah wartawan di daerah, di salah satu kabupaten, wow, bisa mencapai 300 orang, bahkan lebih.

Pers masa sekarang pun adalah pers industri, walaupun tidak dapat menjamin wartawannya hidup kaya, tetapi paling tidak hidupnya mapan terutama yang bekerja pada penerbitan-penerbitan media tertentu. Namun, boleh jadi, lebih banyak wartawan yang hidupnya tidak kaya.

Jangan Penakut

Kalau penakut, jangan jadi wartawan, itu ditunjukan oleh Mahbub Djunaidi, bagaimana keberaniannya menulis sehingga beliau sering disebut sang pendekar pena. Tulisan-tulisannya ringan, asyik dibaca, berani mengkritik keras pemerintahan, kadang-kadang dengan gaya bahasa yang halus dan santun.

Suatu hari,saya menulis berita di tempat saya bekerja tentang acara seremonial pelantikan kepala PGA Negeri 6 Tahun. Kepala Departemen Agama setempat dalam pidatonya mengatakan"......tingkatkan pembangunan garis miring Golkar." Waktu itu, saya pun mengkonfirmasi kepala Depag, mempertanyakan ucapannya apa yang dimaksud dengan "tingkatkan pembangunan garis miring Golkar."

Dua hari kemudian, berita itu dimuat tanggal 26 Desember 1980 (karena waktu itu mengirim berita ke redaksi di Jakarta melalui pos, sampainya dua hari, karena belum ada fax, apalagi email seperti sekarang). Mahbub, mengapresiasi berita tersebut, pada tulisan kaki halaman pertama dengan judul "Orang Depag Cianjur Mesti Ditertibkan."

Tulisan itu, sungguh menghebohkan banyak pihak baik di pemerintahan, maupun masyarakat. Pagi itu, koran terjual habis di agen dan pengcer. Dampak dari tulisan sang Pendekar Pena, H. Mahbub Djunaidi, semakin bertambah kental kecurigaan dan julukan yang dialamatkan kepada saya sebagai wartawan "hijau (Islam), wartawan PPP (Partai Persatuan Pembangunan), karena pada masa itu, Islam identik dengan PPP sebagai partai yang berasaskan Islam. Padahal mereka sendiri yang berada di partai lain, sama-sama pemeluk Islam, bahkan, saya sendiri sering disebut wartawan "hijau" ekstrem.

Tidak hanya itu, hari-hari berikutnya koran tempat saya bekerja dilarang masuk desa. Dengan begitu, semakin banyak orang yang penasaran sehingga membeli dan berlanganan koran tersebut. Banyak PNS yang membeli koran kemudian dilipat di saku belakang atau diselipkan di bagian bokong, untuk dibaca di rumah, karena kalau dibaca di kantor takut dicurigai atau disebut orang PPP, karena membaca koran tersebut, identik dengan PPP, identik dengan Islam.

Itulah secuil kenangan dengan Almarhum Mahbub Djunaidi, yang lahir tanggal 27 Juli 1933 di Jakarta, kini telah tiada. Beliau meninggal dunia di Bandung pada tanggal 1 Oktober 1995. Semasa hidupnya, pernah jadi Ketua Umum PB PMII tiga periode. Pernah menjabat sebagai Ketua Umum PWI Pusat, (1979 – 1983), anggota DPR GR (1967-1971), Wakil Ketua PBNU (1984-1989), Wakil Sekjen DPP PPP, anggota DPR/MPR RI (1971-1982), Ketua Majelis Pendidikan Soekarno dan anggota mustasyar PBNU (1989-1994).

Beliau adalah penulis yang sangat terkenal pada zamannya, banyak menulis di harian Kompas pada kolom Asal-Usul, di Harian Umum Pelita dan Pelita Edisi Minggu pada kolom Sekapur Sirih, Koran Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Tempo, Koran Gala Bandung, dan lainnya. Banyak sudah tulisannya yang dibukukan. (Man Suparman)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Rabu, 12 Juli 2017

Ansor Rawat Kerukunan di Tolikara

Jakarta, PKB Kab Tegal. Momentum perayaan Idul Adha, Kamis (24/9) dimanfaatkan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) untuk merawat kerukunan beragama di Tolikara, Papua.?

"Kami telah mengirimkan 23 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) ke Tolikara, Sejak Rabu (23/9) sore mereka tiba di ? Papua dan disambut Bupati serta para Pemuda Kristen setempat untuk bersama-sama menjaga kenyamanan dalam perayaan Idul Adha," ujar Wakil Sekjen GP Ansor yang juga Korwil Banser untuk daerah Maluku dan Papua, Faisal Saimima.

Ansor Rawat Kerukunan di Tolikara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Rawat Kerukunan di Tolikara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Rawat Kerukunan di Tolikara

Dikatakan Faisal, kehadiran Banser di Tolikara juga untuk memastikan terjaganya komitmen toleransi beribadah. "Mereka yang dikirim adalah yang selama ini sudah terjun langsung menjaga gereja-gereja di daerah minoritas Kristen. Jadi bukan untuk gagah-gagahan, melainkan untuk bersinergi dengan pemuda Kristiani dan pihak-pihak terkait demi menjaga ibadah umat Islam di Tolikara yang menjadi minoritas," tandasnya.?

PKB Kab Tegal

Faisal menjelaskan, menjaga ibadah dalam arti untuk memastikan kerukunan beribadah dan beragama merupakan program rutin GP Ansor. Tidak hanya saat Idul Adha maupun Idul Fitri di daerah yang umat muslimnya minoritas, tetapi juga di setiap hari keagamaan lain.?

Apa yang dilakukan GP Ansor ini, kata dia, sekaligus juga sebagai ajakan bagi pemuda-pemuda agama lain bahwa di negara ini tidak ada satu daerah pun yang boleh menerapkan tirani mayoritas.

PKB Kab Tegal

"Kita selama ini juga menjaga gereja di Jawa saat hari besar keagamaan umat kristiani maupun menjaga tempat ibadah ketika umat Hindu dan Buddha merayakan hari besarnya. Jadi, yang ingin kami pastikan dengan hadir di Tolikara juga sama, yaitu memastikan bahwa umat Muslim di sana yang minoritas bebas menjalankan ibadahnya," ungkap Faisal.

Oleh karena itu, lanjut Faisal, silaturahmi Banser mendapat sambutan yang positif dari bupati setempat. Pemuda Kristen di sana, kata dia, juga sudah berkomitmen agar bersama-sama dengan Banser menjaga umat muslim yang menjalankan ibadah Salat Idul Adha. (Malik/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Warta PKB Kab Tegal