Kamis, 01 September 2016

Mengapa Menggunakan Istilah Halal bi Halal?

Grobogan, PKB Kab Tegal - Salah satu ciri khas Idul Fitri di Indonesia adalah tradisi anjang sana ke sanak saudara atau biasa dijuluki dengan istilah “halal bi halal”. Namun, tahukah anda mengapa masyarakat pada umumnya menggunakan istilah tersebut. Padahal, inti dari tradisi tersebut adalah saling memohon maaf? Mengapa tidak memakai padanan kata maaf berbahasa Arab: Al-afwu bil afwi atau maghfirotan bi maghfirotin, misalnya?

Terkait hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Kabupaten Gobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al Mubarok menjelaskan, ulama terdahulu memilih istilah halal bi halal karena kalimat tersebut lebih pas dan fleksibel.

Mengapa Menggunakan Istilah Halal bi Halal? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Menggunakan Istilah Halal bi Halal? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Menggunakan Istilah Halal bi Halal?

Menurutnya, kalimat halal bi halal tidak hanya terkhusus pada urusan maaf memaafkan. Melainkan juga saling menghalalkan. Artinya, benar-benar memaafkan baik secara lahiriah maupun batiniah.

PKB Kab Tegal

"Ibarat najis kalau pakai kata al afwu bil afwi itu masih najis, tapi di-mafu (dimaafkan). Tapi kalau pakai istilah halal bi halal itu ibarat najis, sudah benar-benar disucikan. Thahirun muthahhirun," tuturnya, Ahad (25/6).

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi berpendapat, penggagas istilah "halal bi halal" adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU. Kisahnya dimulai ketika Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara pada pertengahan bulan Ramadhan, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat.

Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, di antaranya DI/TII, PKI Madiun.

PKB Kab Tegal

Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturrahim sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri. Namun Bung Karno ingin istilah berbeda dari silaturahim yang menurutnya sudah biasa. Kiai Wahab pun mencetuskan halal bi halal. (Ulin Nuha Karim/Mahbib)



(Baca: KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal”)


Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pertandingan, Quote PKB Kab Tegal

Selasa, 30 Agustus 2016

Alissa Wahid: KMNU Harus Lanjutkan Perjuangan Para Ulama

Yogyakarta, PKB Kab Tegal. Saat ini bangsa Indonesia butuh kebangkitan mahasiswa, karena dunia ini berubah terus dan semakin lama semakin cepat berubahnya. Dunia saat ini sudah menjadi desa global (global village), apa yang terjadi di sudut dunia, kita tahu. Pertukaran kultur mudah terjadi sehingga terjadi tarik-menarik ? tentang siapa yang dipengaruhi dan siapa yang mempengaruhi. Oleh karen itu, KMNU harus melanjutkan perjuangan yang telah dibangun oleh para ulama.

Demikian dikatakan Alissa Wahid dalam Musyawarah Nasional (Munas) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) se-Indonesia yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, Jum’at, (23/1).?

Alissa Wahid: KMNU Harus Lanjutkan Perjuangan Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid: KMNU Harus Lanjutkan Perjuangan Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid: KMNU Harus Lanjutkan Perjuangan Para Ulama

Dalam kesempatan tersebut Alissa mengatakan, saat ini banyak gerakan ‘Islam anyaran’ yang mempengaruhi gerakan Islam di Indonesia. Islam anyaran, ucap Alissa mengutip kata-kata Gus Mus, adalah kelompok Islam yang tidak ikut berinfestasi membentuk Negara Indonesia.?

PKB Kab Tegal

“Islam anyaran ini berbeda dengan NU yang sudah terlibat dalam perjuangan bangsa selama ini,” tutur Alissa.?

Alissa melanjutkan, dari dulu ulama NU bersentuhan dengan masyarakat bawah, tidak berdiri di menara gading. Cara seperti, tambah putri sulung Gus Dur ini, merupakan warisan terbesar dari Walisongo. Hasilnya, lanjut Alissa, jumlah umat Islam di Indonesia saat ini lebih banyak daripada jumlah seluruh umat Islam di Timur Tengah.?

PKB Kab Tegal

“Hal ini karena pendekatan yang dilakukan ulama adalah pendekatan kultural,” terangnya.

Menurutnya, ulama juga menentukan status negara Indonesia sebagai dar al-salam (negara damai), mengingat kondisi Negara ini beragam. Kalau bicara Indonesia, urai Alissa, maka disana ada ras melayu dan lain-lain. “Ndak ada yang tunggal dan kondisi inilah yang disikapi ulama dengan memberi status dar al-salam,” ujar Kakak dari Yenny, Inayah dan Anita Wahid ini.

Seminar dengan tema ‘Sinergi Mahasiswa Nahdlatul Ulama Melalui Nilai Spiritual dan Intelektual Mewujudkan Islam Yang Rahmatan Lil Alamin’ ini merupakan salah satu rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) KMNU yang dilaksanakan selama tiga hari, Jum’at-Ahad, (23-25/1). (Anas/Fathoni) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal News, Syariah PKB Kab Tegal

Rabu, 24 Agustus 2016

Peringati Harlah Ke-90 NU, PCINU Turki Napak Tilas Jejak Sejarah Islam

Konya, PKB Kab Tegal

Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCINU) Turki mengadakan rangkaian kegiatan di Kota Konya, Turki dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) Ke-90 Nahdhatul Ulama, Selasa (2/2/2016). Dalam peringatan Harlah NU kali ini, Konya menjadi pilihan warga Nahdliyin Turki sebagai tempat refleksi dan napak tilas jejak dan nilai-nilai sejarah Islam sejak zaman Bani Saljuk (1077–1307).

Ziarah ke makam Maulana Jalaluddin Rumi mengawali kegiatan bertajuk ‘Cinta dari Konya untuk Nusantara’ ini. Nahdhiyin dari beberapa kota di Turki hadir, salah satunya Deo A Pramadhan yang menyempatkan hadir dari Kota Malatya.?

Peringati Harlah Ke-90 NU, PCINU Turki Napak Tilas Jejak Sejarah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah Ke-90 NU, PCINU Turki Napak Tilas Jejak Sejarah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah Ke-90 NU, PCINU Turki Napak Tilas Jejak Sejarah Islam

“Pesan-pesan Rumi tentang cinta dan perdamaian yang disampaikan dalam konteks konflik dan perpecahan antargolongan pada zamannya, sangat relevan dengan kondisi saat ini,” tutur Deo ? yang sedang menyelesaikan Studi Teologi Islam di Universitas Inonu Turki.?

Di samping itu, pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah PCINU Turki (2016-2018) ikut menyemarakkan kegiatan ini.?

PKB Kab Tegal

“Pesan cinta dan toleransi Rumi melalui puisi-puisinya, sangat sesuai dengan ajaran yang menjadi ciri NU sejak dilahirkan 90 tahun lalu yaitu sikap tasamuh (toleran) dan tawazun (seimbang). Menapaktilasi Maulana Rumi dan merawat pesan-pesannya sangat penting dan cocok dalam acara Peringatan Harlah 90 Tahun NU di tengah situasi potensi perpecahan umat Islam saat ini,” papar Katib Syuriyah Agung Anggoro, mahasiswa doktoral Universitas Selcuk Konya Turki.

Dalam peringatan kali ini, Nahdhiyin Turki diajak untuk terus merawat warisan tradisi NU. Membaca yasin, tahlil dan doa bersama khas Nahdliyin melengkapi rangkaian kegiatan setelah ziarah. Untuk mengingat perjuangan pendiri dan tokoh-tokoh NU, rangkaian kegiatan Harlah NU di Turki ini ditutup dengan nonton bareng film dokumenter berjudul Nahdlatul Ulama dan Sejarah Kebangsaan. ?

“Kerinduan suasana tahlilan di Indonesia terobati dengan acara seperti ini. Kami ingin merawat tradisi-tradisi NU meski jauh dari Tanah Air,” kata ketua pantia kegiatan, Hari Pebriantok. (Bernando J Sujibto/Fathoni)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Humor Islam, Tokoh, Pemurnian Aqidah PKB Kab Tegal

Minggu, 21 Agustus 2016

Majalah NU Dukung Majalah Perti

SERIBU ULAMA Sumatera Barat berdatangan di sebuah surau, di Bukittinggi. Mereka bermusyawarah, menyikapi kelompok yang menyerang tarekat di tanah Minang: Naqsabandiyah. Setidaknya ulama dan jama’ah tarekat, oleh penyerang, divonis sesat dan bid’ah.

Kabar di atas disiarkan majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) Nomor 1 Tahun ke-10, terbit Nopember 1940. Sumbernya dari majalah Al-Mizan di Bukittinggi, majalah yang diterbitkan Persatuan Tarbiyatul Islamiyah (Perti).

Majalah NU Dukung Majalah Perti (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah NU Dukung Majalah Perti (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah NU Dukung Majalah Perti

Seribu ulama Minang amat menyesalkan atas sikap Haji Karim Amrullah yang telah memvonis sesat kaum tarikat dan para pemegang madzhab (al-mutamadzhibin). Pertentangan antara penganut tarekat, juga pemegang ajaran Aswaja dengan para pembaharu yang menolak tarekat serta madzhab telah berlangsung lama (sebelum Perang Padri tahun 1821-1837) dan keras. Konflik ini dikenal dengan Kaum Muda dan Kaum Tua. Kaum Tua sebutan untuk para pemegang madzhab dan pengamal tarekat. Sedangkan para penentang madzhab dan yang menyesatkan tarekat disebut Kaum Muda. 

Dalam sebuah keterangan, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (1871-1970), pemangku Surau Candung dan pendiri Persatuan Tarbiyatul Islamiyah (Perti), menulis berbait-bait puisi untuk menyindir tingkah Kaum Muda:

PKB Kab Tegal

Jangan dicari ke dalam Qur’an

Hadistnya nabi-pun demikian

Mujtahid mutlak punya bahagian

PKB Kab Tegal

Nasi yang masak hendaklah makan

Kita nan tidak tahu bertanak

Api dan kayu tungkupun tidak

Hendaklah makan nasi yang masak

Orang yang cerdik janganlah gagak

Dua penggal bait puisi di atas mengilustrasikan posisi orang bermadzhab. Al-Qur’an dan hadits itu bahan, para mujtahid sudah mengolahnya. Ijtihad para imam itu ibarat nasi yang sudah nanak, tinggal makan saja. Ar-Rasuli mengingatkan, orang yang pintar tidak boleh seperti burung gagak. Sementara Kaum Muda lantang bersuara jangan taqlid, ijtihadlah sendiri, tidak perlu tarekat-tarekatan. Semuanya tidak ada dalam Al-Qur’an. Nabi pun tidak mengajarkan.

Majalah yang diterbitkan Pengurus Besar NU mendukung posisi dan sikap Kaum Tua dan menolak vonis sesat yang dilontarkan Hamka dan golongan Kaum Muda. Majalah NU menyatakan tepat keputusan kaum tarekat untuk kunut nazilah selama sebulan sebagai sikap perlawanan. 

Meski demikian, awalnya NU menyerukan agar dilakukan dialog. “Tidakkah dapat diadakan permusyawaratan lebih dahulu antara mereka dan pihak yang mengatakan sesat?” begitu Berita Nahdlatul Oelama menulis.

Akan tetapi, tulisnya, sekiranya tidak bisa didamaikan pendirian yang berlainan itu, mestinya saling mengerti pendirian masing-masing. Tidak perlu dipertentangkan satu dengan yang lainnya.

Lana a’maluna wa lakum a’malukum la hujjata baynana wa baynakum. Bagi kami amal kami, bagi kalian amal kalian, tidak ada pertikaian antara kami dan kalian,” kutip Berita Nahldatul Oelama. “Kamoe djalanlah pada railmoe dan kami berdjalan atas rail kami, dengan tidak edjek-mengedjek dan hina-menghinakan antara kami dan kamoe.

Khusus untuk Hamka diberi peringatan tersendiri,”Perbanjaklah menggoenakan akal fikiran dan ilmoe, daripada menggenakan kemaoean.” (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal AlaSantri, Bahtsul Masail PKB Kab Tegal

Senin, 15 Agustus 2016

Quraish dan Najwa Shihab Bacakan Puisi Surat dari Penjara

Jakarta, PKB Kab Tegal?

Ulama tafsir terkemuka, Prof Quraish Shihab turut serta membaca puisi pada acara Gus Mus dan Kawan-kawan Mempersembahkan Malam Pembacaan Puisi-puisi Palestina di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (24 /8).?

Pada acara bertemakan Doa untuk Palestina ini, Quraish Shihab membaca satu puisi berkolabarasi dengan putri keduanya, Najwa Shihab.?

Sebelumnya, penulis tafsir Al Misbah ini menjelaskan dua alasan yang membuat dirinya mau terlibat dalam pagelaran ini. Pertama, karena kecintaannya terhadap Palestina. Kedua, ia tidak bisa menolak ajakan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). ?

Quraish dan Najwa Shihab Bacakan Puisi Surat dari Penjara (Sumber Gambar : Nu Online)
Quraish dan Najwa Shihab Bacakan Puisi Surat dari Penjara (Sumber Gambar : Nu Online)

Quraish dan Najwa Shihab Bacakan Puisi Surat dari Penjara

"Yang pertama, saya cinta Palestina, dan yang kedua, saya tidak bisa menolak permintaan saudara saya, sahabat saya, Gus Mus," katanya diikuti tepuk tangan hadirin.

Quraish Shihab membaca syair berjudul “Risalatun minal mu’taqol” karya Samih Al-Qasim. Puisi ini kemudian diterjemahkan Ulil Abshar Abdallah dengan judul “Surat dari Penjara” dan dibacakan Najwa Shihab. (Husni Sahal/Zunus)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Tokoh, Pahlawan, Budaya PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal

Jumat, 12 Agustus 2016

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil

Banyuwangi, PKB Kab Tegal. Banyak sekali berbagai amalan yang dapat dilakukan saat ibadah puasa. Mulai dari membaca Al-Qur’an, mengaji, berbakti kepada orang tua, atau bahkan membagi-bagikan takjil di pinggir jalan. Seperti agenda kegiatan puasa di hari ketiga yang dilakukan oleh PAC IPNU-IPPNU Rogojampi bersama MWC NU Kecamatan Rogojampi di kawasan Jalan Pangeran Diponegoro, No.211, depan kantor Kecamatan Banyuwangi. (29/05) menjelang waktu buka puasa.

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil

Gelaran bakti sosial ini selain dihadiri pengurus IPNU IPPNU dan MWC NU Kecamatan Rogojampi, nampak hadir pula banom-banom NU.

Ketua PAC IPNU Rogojampi Khoerul Insani mengatakan, gelaran kegiatan ini penting dilakukan guna memunculkan kepekaan sosial dalam masyarakat.

"Puluhan kader-kader saya libatkan di rentetan aksi bakti sosial ini sebagai upaya pengaktifan nilai-nilai sosial di dalam diri mereka. Meski mereka masih kader-kader baru, antusias mereka dengan kegiatan ini sangat luar biasa," jelas Insani.

Insani menilai kegiatan ini sangat luar bisa menginspirasi sekali bagi teman-teman yang belum tergabung dengan organisasi NU. "Selain bakti sosial ini adalah dakwah, sekaligus memberikan tauladan bahwa masih banyak di negeri ini pemuda-pemuda NU yang memberikan inspirasi perubahan bagi negerinya," tutup Insani.

PKB Kab Tegal

Sementara itu, Sekretaris MWC NU Kecamatan Rogojampi Heri Dwi Setiawan menyampaikan, ini adalah kegiatan bakti sosial yang mengandung arti memberikan nilai-nilai pendidikan kader di organisasi Nahdlatul Ulama untuk para generasinya.

"Saya harap nantinya mereka ketika benar-benar terjun di sosial masyarakat mereka mampu mewarnai kehidupan masyarakat ditengah-tengah ketimpangan sosial," harap Heri.

Acara tersebut juga menampilkan aksi live music yang diisi oleh NSC. Grop music yang mewadahi minat dan bakat kader PAC IPNU Rogojampi. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Lomba PKB Kab Tegal

Bupati dan Wabup Jombang Kompak Minta Doa Kiai

Jombang, PKB Kab Tegal. Menghadapi tahun baru 2015, Bupati Nyono Suharli dan Wakil Bupati Hj Mundjidah Wahab kompak mendatangi sejumlah kiai sepuh. Hal ini dilakukan untuk minta doa agar pemerintahan kota santri berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya.

"Silaturahim ini juga untuk menyongsong tahun 2015 yang optimis, serta agar mendapat keberkahan dan kelancaran dalam menjalankan roda pemerintahan di kota santri Jombang ini. Doa dan dukungan ulama sepuh modal untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat," tutur Bupati Nyono Suharli usai bertemu Ketua MUI, KH Cholil Dahlan Rejoso Peterongan Jombang, Jumat (2/1).

Bupati dan Wabup Jombang Kompak Minta Doa Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati dan Wabup Jombang Kompak Minta Doa Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati dan Wabup Jombang Kompak Minta Doa Kiai

Dalam kunjungannya, Bupati Nyono tidak sendiri, bersama wakil bupati Hj Mundjidah Wahab serta beberapa pejabat, bupati mendatangi satu persatu rumah para ulama kharismatik di Jombang ini. "Sudah selayaknya kami yang datang ke rumah beliau beliau untuk meminta doa dan dukungan dalam mengemban amanat rakyat selama 5 tahun ke depan," imbuhnya.

PKB Kab Tegal

Ulama yang pertama didatangi adalah kediaman pengasuh Ponpes Sunan Ampel, KH Taufiqurrahman. Selanjutnya  orang nomor satu di Jombang ini melanjutkan ke kunjungannya ke rumah KH Djamaludin Ahmad di Desa Sambong Dukuh. Pengasuh Pesantren Muhibbin yang juga dikenal sebagai ulama Thoriqot Syadziliyah ini memiliki santri ribuan dan sangat kharismatik.

Usai dari kediaman KH DjamaludinAhmad, selanjutnya rombongan menuju ke kediaman KH Dimyati Romli di Ponpes Rejoso Peterongan. KH Dimyati merupakan Mursyid Thoriqot Qodiriyah wan Naqsyabandiyah dengan jumlah pengikut puluhan ribu.

PKB Kab Tegal

Silaturahim berakhir di Kediaman KH Cholil Dahlan yang menjabat sebagai Ketua MUI Kabupaten Jombang yang juga di komplek Ponpes Rejoso Peterongan. "Semoga pemerintahan Jombang yang dipimpin bupati Nyono dan bu Mundjidah berjalan lancar, dan bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik," tutur KH Cholil mendoakan. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Berita PKB Kab Tegal