Selasa, 16 Januari 2018

Hariri dan Semiotika Sosial Ustadz

Beberapa waktu lalu masyarakat dikejutkan dengan video ngamuknya seorang Ustadz ketika sedang berceramah. Hariri, ya, ustadz jebolan akademi dai TPI ini terlihat di video media sosial maupun media elektronik marah-marah bukan kepalang kepada petugas sound sistem.

Di dalam video yang berdurasi 3 menit 1 detik itu terlihat Hariri Nampak kesal dengan bahasa sundanya memarahi tukang sound sistem yang belakangan bernama Entis Sutisna ketika sedang berceramah di daerah Nagrak, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Konon sang ustadz kesal ketika meminta Entis untuk memperbaiki suara mikrofon yang tidak bagus sehingga mengganggu ceramahnya.

Namun, tak tahu alasannya apa, menurut kabar, Entis justru marah-marah kepada sang ustadz sehingga membuat Ustadz Hariri pun sebaliknya. Di dalam video tersebut, Entis terlihat ketakutan dimarahi sang ustadz dengan hanya menunduk dan mengangguk-angguk. Ternyata betul, menurut wawancara yang datang kepadanya, Entis takut dengan marahnya ustadz Hariri ketika itu.

Di tengah jamaah, terlihat dalam video Hariri yang berada di atas panggung memarahi Entis yang seakan tak berdaya berdiri pas di hadapan Hariri di bawah panggung sambil menceramahi seolah Raja Amphitriyon sang penguasa lalim kepada Alcides dalam legenda Yunani kuno, Hercules. Klimaksnya, ketika Entis meminta maaf sambil berjabat tangan dengan Hariri sekaligus menunduk seakan hendak mencium kakinya, lutut Hariri ditekuk dan menekan leher bagian belakang Entis sehingga memaksa salah seorang temen Hariri melerainya di atas panggung.

Hariri dan Semiotika Sosial Ustadz (Sumber Gambar : Nu Online)
Hariri dan Semiotika Sosial Ustadz (Sumber Gambar : Nu Online)

Hariri dan Semiotika Sosial Ustadz

Setelah Entis beranjak dari ‘TKP’, gaya Hariri persis seperti ketika David Haye, petinju Inggris yang sombong memenangkan pertadingan, membusungkan dada, dan menegakkan badannya yang ketika mengenakan baju gamis terusan putih dan tutup kepala seperti Imam Bonjol.

Hujatan, makian, hinaan, terus-menerus muncul di video yang diunggah di Youtube tersebut. Intinya yaitu mengarah kepada Hariri yang seharusnya bisa lebih bersikap arif bijaksana sebagai seorang pendakwah.

PKB Kab Tegal

Kejadian ini pun mengundang reaksi institusi maupun pemuka agama, tak terkecuali KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Di akun Facebook pribadinya Simbah Kakung yang ditandai oleh Ahmad Saifudin Zuhri, Gus Mus mengatakan bahwa, ustadz dalam bahasa aslinya, Arab, berarti guru atau profesor. ‘Kesaktian’ pers-lah yang membuat siapa saja di negeri ini disebut ustadz. Termasuk badut, preman, atau anak gila.

Ya, Ustadz. Panggilan untuk seorang profesor di Universitas al-Azhar Mesir ini lekat kepada seseorang yang berprofesi sebagai penceramah atau guru ngaji di Indonesia. Sebagai seorang penceramah atau dai, seseorang kerap menyimbolkan dirinya dengan Jubah, gamis, peci ala Imam Bonjol, dan tak ketinggalan Jenggot, selain itu banyak hapal ayat-yat al-Quran serta Hadis. Untuk menopang sombol-simbol tersebut, bahkan seseorang memenuhinya dengan perilaku sopan, murah senyum, gaya tenang, halus, lembut dalam perkataan, dan lain sebagainya dalam kehidupan sosial mereka.

PKB Kab Tegal

Imbalan yang didapat dengan menyematkan dan menggerakkan simbol-simbol tersebut yaitu dihormati oleh orang lain sebagai seorang yang pandai dalam bidang agama. Ya, paradigma inilah yang tak jarang digunakan oleh seseorang agar cepat dapat dihormati bahkan ditakuti oleh orang lain dalam kehidupan sosial, yaitu dengan menampakkan simbol-simbol agama pada badannya, entah jenggot, gamis, jubah, peci ala Imam Bonjol, dan lain-lain.

Tentang Semiotika Sosial Ustadz

Tanda-tanda atau simbol-simbol ini dalam sebuah disiplin ilmu disebut semiotika atau ilmu tanda. Semiotik berasal dari bahasa Yunani semeion yang berarti tanda. Ahli filasafat dari Amerika yang juga berjasa dalam memunculkan semiotika modern, Charles Sanders Peirce, berpendapat bahwa kita hanya bisa berpikir dengan sarana tanda. Dengan demikian, sudah pasti bahwa menurut Peirce tanpa tanda kita tidak dapat berkomunikasi.

Pertanyaannya, apakah dengan tanda-tanda atau simbol-simbol yang melekat pada diri seseorang katakanlah simbol-simbol agama tadi membuktikan bahwa seseorang tersebut adalah ahli agama? Dengan kata lain, orang yang halus perkataannya, baik perilakunya, sabar dan tenang dalam bersikap dengan asumsi bahwa orang tersebut memang mengerti agama sebagai instrumen Tuhan dalam menunutun umatnya di jalan kebaikan.

Jawabannya belum tentu! Namun, tidak terpungkiri bahwa stigma yang disematkan oleh masyarakat yaitu karena tanda atau simbol-simbol yang tersemat kepada seseorang. Gayung bersambut, seseorang yang diberi gelar Ustadz pun menyimbolkan dirinya dengan memakai tanda-tanda yang memungkinkan bahwa dirinya memang benar-benar Ustadz. Artinya, dengan berpikir seperti itu, seorang Ustadz telah terjebak secara simbolistik tanpa berpikir esensi secara epistemologis apa makna Ustadz, bagaimana seharusnya mengendalikan perilaku yang mengarah pada keburukan, dan bagaimana pula penilaian masyarakat terhadap gelarnya itu dan tentu penilaian pada agamanya sebagai institusi jika semua itu terjadi. ? ?

Hariri mementaskan sikap layakanya bukan seorang ustadz. Ironisnya, perilaku mengumbar kemarahan ia lakukan ketika sedang berceramah di hadapan ratusan jamaah. Ketika itu juga, dia menyimbolkan dirinya dengan memakai gamis terusan berwarna putih dengan peci khas ala Imam Bonjol yang secara semiotik cukup untuk merepresentasikan bahwa dirinya adalah ustadz dalam pandangan dan penilaian masyarakat. Nampaknya dia tidak cukup untuk berpikir bahwa dengan tidak sedang berceramah pun, atau ketika itu tidak sedang mengenakan simbol-simbol Ustadz pun, tetapi berbuat semena-mena, masyarakat dipastikan tidak bisa menerima perilaku tersebut. Bahkan cacian, makian atau hinaan tidak saja tertuju kepada diri pribadinya, namun juga pada institusinya yaitu ustadz, bahkan institusi yang lebih tinggi lagi yaitu Islam.

Sebetulnya Hariri bukan yang pertama, banyak orang di negeri ini yang di katakan ustadz, rupanya Islami namun perilakunya jauh dari esensi seorang ustadz dan nilai-nilai Islam. Tak perlu dirinci di sini, beberapa orang yang dipanggil dengan sebutan ustadz terbukti melakukan tindakan korupsi yang merugikan masyarakat dan negara miliaran rupiah. Ada ustadz yang terdakwa sebagai makelar kasus yang melibatkan banyak orang bahkan dari kalangan artis.

Memang konteksnya berbeda, namun terlepas dari kepentingan apapun, seseorang yang menyimbolkan diri dengan tanda-tanda akan terjebak dengan tanda tersebut secara semiotik dalam kehidupan sosial ketika dirinya tidak mampu berbuat sesuai yang diharapkan tanda tersebut. Biasanya orang yang menyimbolkan diri akan bangga dengan simbolnya sehingga merasa perlu dihormati bahkan dicium tangannya sebagai seorang ustadz. Efek dominonya bukan hanya pada dirinya, namun juga pada institusi yang disandangnya. Dengan kata lain, masyarakat juga akan skeptis dengan orang-orang yang serupa yaitu Ustadz. ? ?

Berbeda dengan orang yang mengutamakan substansi. Orang seperti ini biasanya mempunyai paradigma berpikir iso rumangsa, sanes rumangsa iso (bisa merasa, bukan merasa bisa) sehingga tidak terlalu menyimbolkan diri, tidak terlalu perlu merasa dihormati bahkan perlu didengar nasihat-nasihatnya karena seperti Hariri atau ustad-ustad di atas, dapat membuatnya kehilangan akal sehat dengan tidak memahami ustadz secara substansi namun mengutamakan simbol secara semiotik, bukan?

?

Fathoni, Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal AlaNu, Internasional, Tegal PKB Kab Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Kisah Pemuda Ansor Membangun Pesantren

Desa Banjarsari terletak di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Orang-orang sering menyebutnya Desa Mboto. Di desa itu, seorang pemuda berumur 30 tahunan sering disebut-sebut orang. Namanya Ahmad Suyono. Ia kerap disapa Cak Yon.

Saya orang baru di desa itu sehingga belum tahu latar belakang pemuda itu. Barulah pada beberapa bulan lalu, saya berkesempatan mengunjunginya. Ia ternyata alumni pesantren Ploso Mojo Kediri asuhan KH Zainuddin Jazuli.

Kisah Pemuda Ansor Membangun Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pemuda Ansor Membangun Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pemuda Ansor Membangun Pesantren

Cukup lama juga ia nyantri, tidak kurang 10 tahun. Sekarang di kampung halamannya mengasuh pesantren kecil terbuat dari anyaman bambu (Jawa: gedhek). Pesantren bambu kecil itu diberi nama: ‘Al-Djazuli. Pesantren itu bermula pada tahun 2006, ketika ia baru saja pulang dari pesantren.

PKB Kab Tegal

Sepulang dari pesantren, teman-teman lama di kampungnya sering berkunjung ke rumahnya. Sebenarnya Cak Yon tak mempersoalkan kunjungan mereka, karena di pesantren sudah terbiasa dengan kehidupan kebersamaan-kesetaraan. Tapi masalahnya ia sungkan pada kedua orang tuanya, teman-temannya sering ngobrol dan bercanda sampai larut malam. Ia takut mengganggu ibunya yang sedang beristirahat.

Karena itulah, juga mungkin karena masih terbawa kebiasaan di pesantren, ia berinisiatif membuat guthekan’ dari bambu. Hanya satu kamar. Ia membangunnya di pekarangan belakang rumah. Tujuannya jika teman-temannya berkunjung sampai malam, tidak mengganggu orang tuanya.

PKB Kab Tegal

“Saya katakan pada teman-teman saya, ‘kalian kalau di sini, mau guyon, melekan sampai malam, terserah’,” katanya menceritakan.

Namun, siapa menyangka apa yang dilakukannya ternyata menarik perhatian para tetangganya. Pada waktu mengawali pembuatannya, para tetangga sering bertanya: "Buat apa Cak Yono?" Pemuda berpostur tinggi kurus itu hanya menjawab, "Bikin kandang ayam."

Ternyata masyarakat sekitar tak percaya jawaban itu. Setelah satu guthekan jadi, mereka bahkan bilang: "Kok ndak ngomong kalau mau bikin pesantren." 

Dan begitulah, meskipun sudah beberapa kali dijelaskan maksud sesungguhnya, tetanga tetap tidak percaya. Bahkan banyak diantara mereka yang malah membantu pembangunan, hingga sekarang sudah ada sekitar 3-4 guthekan. Juga satu tempat mirip aula yang juga terbuat dari bambu.

Cak Yono sendiri sempat meninggalkan rumahnya, kembali ke pesantren, dengan tujuan supaya masyarakat tidak lagi melanjutkan apa yang dikatakan mereka sebagai membangun pesantren.

“Kira-kira selama 3 (tiga bulan) sejak Muharram tahun itu saya kembali ke pesantren, biar terserah mereka mau apa, mau membangun atau apa, pokoknya saya ndak mau tanggung jawab,” kenangnya. “Tetapi, tak dinyana sekembali dari pesantren, justru pembangunannya sudah selesai,” katanya.

Tidak hanya itu, masyarakat memasrahkan anaknya untuk diajari mengaji. Dan sekarang, Cak Yon sudah memiliki sekitar 10 santri mukim dan seratusan santri yang berangkat dari rumah.

Kini sudah mulai dibuat pintu gerbang pesantren dengan tulisan ‘Ponpes. Al-Djazuli’. Nama itu diambil dari nama eyang gurunya: KH Djazuli Utsman. Gerbang itu, meskipun kecil, tapi terbuat dari baja cor, atas inisiatif masyarakat. Termasuk biaya sampai tenaga dan pengerjaannya mereka pula yang menanggung. Cak Yono sendiri tidak ambil pusing mau dibangunkan atau tidak.

Di ujung obrolan, ternyata ia Ketua Gerakan Pemuda Ansor Ranting desa itu. Ia alumni Pendidikan Kader Pemimpin Nahdlatul Ulama (PKPNU) Malang Raya angkatan pertama. Ia juga beberapa kali berdiskusi dengan saya mengenai bagaimana menggerakkan organisasi dan kaderisasi Ansor di desanya itu. (Ahmad Nur Kholis/Abdullah Alawi)

Ilustrasi: http://endibiaro.blogdetik.com/index.php/2011/10/16/sepuluh-hari-menjadi-santri/

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Khutbah, Halaqoh PKB Kab Tegal

Masjid Baiturrahman Akan Jadi Ikon Internasional

Banda Aceh, PKB Kab Tegal. Pemerintah Provinsi Aceh akan memperluas infrastruktur Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh untuk memberikan kenyamanan bagi jamaah sekaligus menjadikan rumah ibadah tersebut sebagai ikon internasional.

"Pemerintah Aceh merencanakan perluasan infrastruktur Baiturrahman bernuansa Masjid Nabawi di Madinah. Salah satunya penambahan payung raksasa di pekarangan berukuran 15 dan 25 meter," kata Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, di Banda Aceh, Rabu.

Masjid Baiturrahman Akan Jadi Ikon Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Baiturrahman Akan Jadi Ikon Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Baiturrahman Akan Jadi Ikon Internasional

Hal tersebut disampaikan gubernur saat membuka Rakor pimpinan daerah se-Provinsi Aceh tentang pengelolaan dan pengembangan Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh. 

PKB Kab Tegal

"Harapan kita semoga keinginan itu mendapat dukungan dari semua pihak, terutama masyarakat Aceh," katanya menambahkan.

PKB Kab Tegal

Gubernur menyebutkan, untuk jangka pendek dan jangka panjang direncanakan penambahan infrastruktur Masjid Raya Baiturahman akan menghabiskan dana sebesar Rp1,1 trilliun.

Diharapkan dukungan dari para ulama dan cendikiawan Aceh bukan hanya dalam bentuk ide dan gagasan tapi juga terlibat aktif serta saling bahu membahu menyatukan gerak dalam pengelolaan dan pengembangan Masjid Raya Baiturrahman kearah yang lebih baik. 

Direncanakan, masjid kebanggaan Aceh tersebut akan dilengkapi dengan baseman untuk tempat wudhu dan area parkir, selain itu juga tempat minum di beberapa sudut strategis masjid.

Untuk jangka panjang direncanakan perluasan pekarangan masjid hingga ke bantaran sungai Aceh, lengkap dengan dermaga yang dapat mengantarkan para pengunjung langsung ke masjid raya dengan kapal yang telah disiapkan. 

Masjid Raya Baiturrahman siap dijadikan sebagai pusat pendidikan agama, dengan menyediakan sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas, dan lokasinya di belakang masjid.

"Rencananya juga akan dibangun sebuah gedung untuk pertemuan yang dapat digunakan oleh para ulama dan acara pernikahan. Semoga keinginan ini dapat terwujud," kata Abdullah. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Daerah PKB Kab Tegal

Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah

Jombang, PKB Kab Tegal

Pondok Pesantren al-Urwatul Wutsqo, Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang mendorong para santrinya untuk berthariqah dengan rutin. Selain kepada santri, pesantren ini juga mengajak wali santri dan warga sekitar. Hal ini dilakukan setiap bulan sekali di halaman pesantren setempat.

Nama aliran thariqah tersebut adalah Syadziliyah al-Mas’udiyah yang dipelopori oleh Abul Hasan Asy Syadzili pada zamannya. Salah satu ajaran yang diterapkan dalam thariqah ini, para jamaah diimbau membaca fida’ sebagai usaha meminta ampunan kepada Allah SWT atas dosa yang telah diberbuat.

Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah

Seperti halnya yang dilakukan KH Muhammad Qoyim Ya’qub, Pengasuh Pondok Pesantren al-Urwatul Wutsqo yang sekalius sebagai Mursyid Thariqah ini dalam menerapkan fida’. Para jamaah diperintahkan untuk membaca surat Al Ikhlas sebanyak 100.000 di masa hidupnya. 

“Amalan fida’ ada beberapa versi tergantung mursyidnya dari masing-masing thariqah. Tetapi kalau di sini amalan fida’-nya membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 100.000 kali selama orang itu hidup,” kata Gus Qoyim, panggilan akrabnya saat memberikan arahan kepada para jamaah, Sabtu (17/1) lalu.

Berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, pada momentum bulan maulid Nabi Muhammad SAW ini sekaligus dijadikan media bertambahnya kecintaan para jamaah dengan membaca shalawat kepadanya. Mereka tampak antusias dan khusyuk dengan diiringi alat musik al-banjari.

PKB Kab Tegal

Selain mempelajari ilmu thariqah, pada keesokan harinya, Ahad (18/1/2016) di tempat yang sama, pondok pesantren ini juga mengajak para jamaahnya untuk mendalami ilmu-ilmu syari’at sebagai pemantapan dan penerapan langsung dari ibadah-ibadah syar’i.  “Sebab sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang digurukan kepada guru atau ulama,” ujar Sya’roni Hasan, salah satu pengurus pondok pesantren tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Syariah, Habib PKB Kab Tegal

Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat

Jakarta, PKB Kab Tegal. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Achmad Masduqi Machfudz wafat pada Sabtu, 1 Maret 2014 sekitar pukul 17.27 WIB di Rumash Sakit Syaiful Anwar Malang. Informasi diteruskan dari staf syuriyah PBNU H Mahbub Muafi. 



Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat

Dikutip dari website pesantren yang diasuhnya, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda, KH Masduqi Mahfudz dilahirkan di desa Saripan (Syarifan) Jepara Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. 

Mantan Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana. Ia memiliki prinsip hidup "Kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan teraih."

Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Chasinah putri dari KH Chamzawi Umar pada 7 Juli 1957 dalam usia 22 tahun, ia dikaruniai 9 orang anak. Sebelum memasuki dunia perkuliahan seluruh putra dan putrinya tanpa kecuali diharuskan mengenyam pendidikan di pesantren. Ini merupakan prinsip yang ditanamkan Kiai Masduqi para putra putrinya. Dari pengalaman mengaji di pesantren ini, meskipun lata belakang pendidikan putra putri beragam, mereka mampu menjalankan amanah dakwah di tengah-tengah masyarakat.

PKB Kab Tegal

Terlahir di tengah-tengah keluarga religius yang taat, sejak kecil ia sudah dihiasi dengan tingkah laku, sikap dan pandangan hidup ala santri. Ia dikenal sangat mencintai dunia keilmuan. Sejak kecil, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri dengan menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan yang lain tanpa sepengetahuan kiai atau orang tuanya sendiri.

Sambil menuntut ilmu di SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama) di Yogyakarta, ia mengaji di Pesantren Krapyak asuhan Yogyakarta KH Ali Maksum. Sejak 1957 ia mengajar di berbagai sekolah di Kalimantan, seperti di Tenggarong, Samarinda, dan Tarakan. Pada 1964 ia melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang, sekaligus sebagai dosen Tadribul Qiraah (bimbingan membaca kitab), bahasa Arab, akhlak, dan tasawuf. 

PKB Kab Tegal

Pemahamannya terhadap kitab gundul sangat dalam, baik ketika dalam pembahasan masalah di forum majlisul bahtsi wal muhadlaratud diniyyah, kodifikasi hukum Islam, bahtsul masail, maupun tanya jawab hukum Islam pada majalah Aula

Pesantren Nurul Huda yang dirintisnya bermula hanya sebuah mushalla kecil yang berada di Mergosono gang 3B. Mushalla yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah mulai digalakkan semenjak ia berdomisili di situ ketika meneruskan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Cabang Malang. Karena keahliannya dalam bidang agama, banyak mahasiswa yang nyantri kepadanya dan kemudian terus ia semakin dikenal dan semakin banyak orang belajar agama sampai akhirnya musholla kecil tersebut menjadi pesantren yang sesungguhnya. (mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Makam, Cerita, Berita PKB Kab Tegal

Bulan Rajab, Bukan Bulan Biasa

Khutbah I



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bulan Rajab, Bukan Bulan Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Rajab, Bukan Bulan Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Rajab, Bukan Bulan Biasa

Jamaah shalat Jumat hadâkumullah,

PKB Kab Tegal

Tak terasa kita kembali memasuki bulan Rajab. Entah karena kesibukan atau waktu kita yang kurang berkah, perjalanan hidup serasa semakin cepat. Tiba-tiba saja kita bertambah tua. Tiba-tiba saja kita menapaki kembali bulan Rajab. Tiba-tiba saja kita akan menghadapi bulan Sya’ban lalu bulan suci Ramadlan. Sejatinya, tidak ada istilah “tiba-tiba”, karena waktu berjalan linier seperti lazimnya, kecuali timbul dari perasaan pribadi lantaran sikap abai alias tidak peduli.

PKB Kab Tegal

Bulan Rajab adalah bulan istimewa. Dalam kitab I‘anatut Thalibin dijelaskan bahwa “Rajab" merupakan derivasi dari kata “tarjib” yang berarti mengagungkan atau memuliakan. Masyarakat Arab zaman dahulu memuliakan Rajab melebihi bulan lainnya. Rajab biasa juga disebut “Al-Ashabb” (?) yang berarti “yang mengucur” atau menetes”. Dijuluki demikian karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini.

Bulan Rajab bisa juga dikenal dengan sebutan “Al-Ashamm” (?) atau “yang tuli”, karena tidak terdengar gemerincing senjata pasukan perang pada bulan ini. Julukan lain untuk bulan Rajab adalah “Rajam” (?) yang berarti melempar. Dinamakan demikian karena musuh dan setan-setan pada bulan ini dikutuk dan dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh.

Allah memasukkan bulan Rajab sebagai salah satu bulan haram alias bulan yang dimuliakan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram. (QS. At-Taubah:36)

Bulan haram adalah empat bulan mulia di luar Ramadlan, yakni Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.? Disebut “bulan haram” (? ?) karena pada bulan-bulan tersebut umat Islam dilarang mengadakan peperangan.

Memang beberapa hadits dla’if, bahkan palsu, yang menjelaskan secara eksplisit tentang gambaran pahala amalan-amalan tertentu pada bulan Rajab. Namun demikian, bukan berarti tidak ada keutamaan menjalankan ibadah, misalnya puasa, dalam bulan Rajab. Justru puasa menjadi istimewa karena dilakukan pada bulan istimewa. Hanya saja, seberapa besar pahala yang akan didapat, Allahu a’lam. Hanya Allah yang tahu. Tugas hamba adalah menghamba kepada Allah dan seyogianya tak terikat dengan pamrih apa saja.

Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad dikatakan:

? ? ?

“Berpuasalah pada bulan-bulan haram.”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi kian bernilai bila dilakukan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan, dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab masuk dalam kategori al-asyhur al-fadhilah di samping Dzulhijjah, Muharram dan Sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum? di samping Dzulqa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram.

Jamaah shalat Jumat hadâkumullah,

Keitimewaan bulan Rajab juga terletak pada peristiwa ajaib isra’ dan mi’raj Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rajab tahun 10 kenabian (620 M). Itulah momen perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu menuju ke sidratul muntaha yang ditempuh hanya semalam. Dari peristiwa isra’ dan mi’raj ini, umat Islam menerima perintah shalat lima waktu. Begitu agungnya peristiwa ini hingga ia diperingati tiap tahun oleh kaum muslimin di berbagai belahan dunia.

Saat memasuki bulan Rajab, Rasulullah memberi contoh kita untuk membaca:

? ? ? ? ? ? ? ?

“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.”

Khatib mengajak diri sendiri dan jamaah sekalian agar tidak menyianyiakan bulan yang agung ini. Dari berbagai keterangan yang disebutkan tadi, sangat jelas bahwa bulan Rajab memiliki keutamaan lebih di atas bulan-bulan pada umumnya. Ia adalah momen untuk meningkatkan kualitas diri, baik tentang kedekatan kita kepada Allah (taqarrub ilallâh) maupun perbuatan baik (amal shâlih) kita kepada sesama. Belum tentu tahun berikutnya kita akan berjumpa dengan kesempatan merasakan kembali bulan Rajab. Saatnya menyisihkan fokus kita kepada bulan mulia ini di tengah kesibukan duniawi kita yang melengahkan. Wallahu a’lam.

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal News PKB Kab Tegal

IPPNU DKI Tolak Anggapan Anak Emas

Palembang, PKB Kab Tegal. Pimpinan Wilayah IPPNU DKI Jakarta menampik anggapan pengurus IPPNU di daerah-daerah bahwa Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Putri NU mengistimewakan PW IPPNU DKI Jakarta. PW IPPNU menilai kepemimpinan PP IPPNU memperlakukan PW IPPNU DKI Jakarta setara dengan IPPNU daerah lainnya.

“Kami ini independen dalam segala hal. Bahkan untuk kegiatan dan pengembangan program, kami bergerak sendiri,” kata utusan PW IPPNU DKI Jakarta saat LPJ PP IPPNU berlangsung di halaman parkir Asrama Haji Pondok Gede, jalan Kolonel H. Barlian KM.9, Kota Palembang, Ahad, (2/12) siang.

IPPNU DKI Tolak Anggapan Anak Emas (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU DKI Tolak Anggapan Anak Emas (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU DKI Tolak Anggapan Anak Emas

Utusan PW IPPNU DKI Jakarta merasa perlu menyampaikan hal demikian. Utusan DKI Jakarta mencoba meluruskan persoalan dugaan tidak berdasar tersebut di hadapan sidang LPJ. Hal itu diungkapkan ketika sejumlah utusan pengurus daerah IPPNU melontarkan kekecewaannya terhadap PP IPPNU.

PKB Kab Tegal

“Kehadiran sekretariat PP IPPNU di ibu kota Jakarta, bukan berarti memberikan akses istimewa bagi PW IPPNU DKI Jakarta,” tambahnya.

PKB Kab Tegal

Utusan PW IPPNU DKI Jakarta menunjuk sebuah contoh. Dalam mengadakan Makesta, masa kesetiaan anggota sebagai proses kaderisasi awal, PW IPPNU DKI menggelarnya secara mandiri tanpa bantuan PP IPPNU.

Dengan suara lantang, utusan PW IPPNU DKI Jakarta mengimbau semua peserta sidang LPJ untuk menghapus kecemburuan tidak beralasan. Menurutnya, kemandirian pengurus IPPNU daerah perlu dipertegas kembali.

Sidang LPJ sedikitnya dihadiri oleh semua jajaran PP IPPNU. Mereka duduk di atas panggung menghadapi semua pengurus wilayah dan cabang IPPNU se-Indonesia. Sementara ruang sidang dibatasi oleh tali panjang mengulur. Ruang sidang LPJ yang terbuka disterilkan dari pengunjung yang tidak mengenakan penanda peserta.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kajian Islam, Meme Islam PKB Kab Tegal