Senin, 04 Desember 2017

Gandeng UPI, Pergunu Latih Guru Menulis Karya Ilmiah

Bandung, PKB Kab Tegal. Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Bandung, Jawa Barat bekerja sama dengan Departemen Sejarah Fakultas Pendidikan IPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bandung menyelenggarakan wrokshop Pelatihan Karya Tulis Ilmiah dan Pengembangan Media Pembelajaran bagi guru-guru NU di Bandung.

Kegiatan dilaksanakan di Aula MTs YPP Darul Hikam Jalan Raya Pengalengan No.442 Banjaran Kabupaten Bandung pada Sabtu dan Ahad, (14-15/10).

Gandeng UPI, Pergunu Latih Guru Menulis Karya Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng UPI, Pergunu Latih Guru Menulis Karya Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng UPI, Pergunu Latih Guru Menulis Karya Ilmiah

Kegiatan wrokshop ini diikuti oleh 120 orang guru perwakilan dari 27 kecamatan. Turut hadir dalam kegitan tersebut, Sekretaris Pergunu Jawa Barat H Saepuloh, Dekan Fakultas Pendidikan IPS Agus Mulyana dan Ketua Departemen Sejarah Murdiyah Winarti.

Dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan wrokshop,, Kepala MTs YPP Darul Hikam KH Deden H Muzhofar menyambut dengan baik dan sangat antusias atas terselenggaranya kegiatan wrokshop di MTs YPP Darul Hikam.

"Selamat datang dan bertimakasih atas d beri kesempatam untuk menjadi tuan rumah dalam kegiatan wrokshop Penelitian Penulisan Karya tulis Ilmiah ini," tutur Kiai Deden.

PKB Kab Tegal

Lebih lanjut, dia berharap agar kegiatan ini senantiasa menjadi sarana bagi guru-guru untuk terus membaca dan belajar. Agar guru senantiasa kreatif dan inovatif dalam pengembangan media pembelajaran.

Sementara itu, Saepuloh menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan ini bertujun untuk meninngkatkan kemampuan guru dalam penulisan karya tulis ilmiah dalam hal ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Karya tulis ilmiah ini merupakan salah satu kompenen kewajiban guru dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB).

"Kita bersama UPI, ingin melatih guru dalam penulisan karya ilmiah, dalam hal ini penelitian tindakan kelas (PTK)," tutur Saepuloh.

Lebih lanjut, Saepuloh mengatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini merupakan salah satu komponen pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)  yang sangat sulit untuk dikerjakan oleh guru.

PKB Kab Tegal

"Kegiatan ini harus ada tindak lanjutnya, dengan pedampingan pembutan PTK bagi peserta oleh team narasumber secara online," tutur Saepuloh.

Sementara itu, Agus Mulyana menjelaskan kegitan ini merupakan ptogram pengabdian departemen sejarah FPIPS UPI yang dilaksanakan kerjasama dengan Pergunu. Karena pada umumnya  guru-guru sekolah/madrasah yang tergabung dalam Pergunu jarang tersentuh pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas terkait. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul Ulama, AlaNu PKB Kab Tegal

Shalat Gerhana, GP Ansor Jateng Baca Khotbah Mbah Maemun

Semarang, PKB Kab Tegal - Puluhan peserta workshop jurnalistik yang diselenggarakan oleh PW GP Ansor Jawa Tengah melakukan shalat gerhana di mushalla PWNU Jateng, Rabu (9/3) pagi. Pada kesempatan ini materi khotbah yang disampaikan kader GP Ansor Grobogan Habib diambil dari khotbah KH Maemun Zubair yang dirilis situs resmi PBNU PKB Kab Tegal.

Habib membaca khotbah gerhana dengan membuka HP android untuk menuju langsung website PKB Kab Tegal.

Shalat Gerhana, GP Ansor Jateng Baca Khotbah Mbah Maemun (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Gerhana, GP Ansor Jateng Baca Khotbah Mbah Maemun (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Gerhana, GP Ansor Jateng Baca Khotbah Mbah Maemun

Sedangkan yang bertindak sebagai bilal adalah Banser Magelang Lukman. Sementara? imam shalat gerhana ini adalah Ketua GP Ansor Boyolali Khoiruddin.

PKB Kab Tegal

Dari pantauan PKB Kab Tegal peserta yang mengikuti shalat gerhana sekitar 60-an. Mereka terdiri atas Ansor dan Banser se-Jawa Tengah. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal News, Olahraga PKB Kab Tegal

Buru Lailatul Qodar, PMII Gelar Sahur on The Road

Sidoarjo PKB Kab Tegal. Banyak cara yang bisa dilakukan warga Nahdliyin untuk mendapatkan pahala di bulan Ramadhan khususnya pada malam Lailatul Qodar. Seperti yang dilakukan oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Sidoarjo, Jawa Timur ini.

Buru Lailatul Qodar, PMII Gelar Sahur on The Road (Sumber Gambar : Nu Online)
Buru Lailatul Qodar, PMII Gelar Sahur on The Road (Sumber Gambar : Nu Online)

Buru Lailatul Qodar, PMII Gelar Sahur on The Road

Memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, PC PMII Sidoarjo membagikan 1000 bungkus nasi kepada warga Sidoarjo yang hendak menyantap sahur. Mereka menyusuri sepanjang jalan Sidoarjo mulai dari depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo menuju pasar Larangan hingga berhenti di kantor PCNU Sidoarjo, jalan Airlangga Sidoarjo, Jawa Timur.

"Pada sahur on the road ini, kami membagikan 1000 bungkus nasi sebagai simbol 10 hari terakhir Ramadhan dan memburu berkah malam 1000 bulan. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menambah kecintaan kita kepada sesama sebagai bukti nilai dasar pergerakan yaitu hablum minannas," kata Ketua Umum PC PMII Sidoarjo, Muhammad Mahmuda, Selasa (28/6).

Sahur on the road yang digagas oleh PC PMII Sidoarjo ini mendapatkan respon positif dari masyarakat setempat. Nampak antusias, warga yang mengetahui aktivis muda NU ini membawa bungkusan nasi, warga pun berdatangan dan berebut ingin mendapatkan nasi tersebut. Tak ayal, sampai terjadi aksi saling dorong sesama warga yang ingin mendapatkan nasi tersebut. (Moh Kholidun/Mukafi Niam)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kiai, Ulama PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal

Hari ini, PBNU Luncurkan Buku Putih NU-PKI

Jakarta, PKB Kab Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), hari ini meluncurkan buku putih bertajuk “Benturan NU-PKI 1948-1965”. Buku itu merupakan respon dan klarifikasi (tabayyun) atas berbagai informasi dan propaganda yang muncul akhir-akhir ini.

Buku putih diluncurkan di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Senin (9/12) siang, dihadiri antara lain Hermawan Sulistyo (LIPI-peneliti peristiwa 1965), Kiki Syahnakri (PPAD), Agus Sunyoto (Sejarawan), dan KH Miftakhul Akhyar (Rois NU Jatim).

Hari ini, PBNU Luncurkan Buku Putih NU-PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari ini, PBNU Luncurkan Buku Putih NU-PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari ini, PBNU Luncurkan Buku Putih NU-PKI

Menurut Panitia Peluncuran Buku Putih, Adnan Anwar, buku itu antara lain adanya dramatisasi jumlah korban PKI dalam peristiwa 1965. Dikatakannya, dari sekitar belasan atau puluhan ribu korban disebutkan berjumlah ratusan ribu, bahkan peneliti barat mengasumsikan jumlah korban menyentuh angka hingga satu juta orang.

PKB Kab Tegal

“Tim buku putih mengungkapkan adanya proses dramatisasi jumlah korban itu. Bahkan di beberapa daerah yang menjadi basis PKI, jumlah korban yang disebutkan itu lebih banyak dari jumlah penduduk yang terdata waktu itu. Ini harus diluruskan,” kata Wakil Sekretaris PBNU itu, Ahad (8/12).

Buku itu mengungkapkan bahwa rentetan peristiwa 1948 dan 1965 merupakan konflik horisontal. Korban dan pelakunya berasal dari banyak pihak. Buku itu secara khusus melampirkan korban dari kalangan NU yang hampir tidak pernah dicatat oleh para peneliti barat.

PKB Kab Tegal

Menurut Adnan, buku itu diterbitkan untuk melanjutkan proses rekonsiliasi (islah) telah terjadi secara alami, terutama di antara NU dan keluarga korban 1965.

“Jangan sampai propaganda dan provokasi yang dilakukan pihak-pihak tertentu dapat mengganggu proses terjadinya rekonsiliasi yang terjadi alami. Kita tidak bisa membiarkan ada orang luar terus mengadudomba bangsa Indonesia,” katanya.

Ditambahkan, buku itu juga ditujukan untuk kader NU. “Generasi NU yang lahir belakangan harus mengetahui sejarah secara menyeluruh agar tidak goncang dan resah dengan berbagai informasi yang beredar,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Budaya PKB Kab Tegal

Khulasoh Lupa Kaus Kaki di Kongres Muslimat

Jakarta, PKB Kab Tegal - Lupa itu ada ongkosnya. Meski hal sepele, tapi akbitanya kaki Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Brebes Khulasoh lecet karena saking bergesekan dengan sepatu yang dikenakannya.

“Biasanya pakai kaus kaki, tapi kali ini lupa,” kata pensiunan PNS di Kemenag Brebes sambil meraba jari-jari kakinya di aula utama Asrama Haji Embarkasi Jakara, Pondok Gede, Jakarta Timur, pada Kamis siang (24/11).

Khulasoh Lupa Kaus Kaki di Kongres Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Khulasoh Lupa Kaus Kaki di Kongres Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Khulasoh Lupa Kaus Kaki di Kongres Muslimat

Kaki dalam kondisi seperti itu, tentu tidak nyaman beraktivitas di arena Kongres Muslimat ke-17 tersebut. Ibu kelahiran tahun 1947 tersebut tertatih jika berjalan.

PKB Kab Tegal

Ia tak kehabisan akal untuk melindungi kaki lecetnya.

“Mas, di luar ada yang jualan hansaplas tidak ya?” ?

PKB Kab Tegal

Tentu saja ini adalah kode bahwa ia sebetulnya ingin dibelikan benda tersebut. Di Jakarta, benda semacam itu pasti tersedia di hampir setiap warung. Saya pun menawarkan diri jadi relawan. Tanpa diskusi, langsung mencari benda tersebut. ?

Sepanjang perjalanan membeli tersebut, saya menebak, ibu tersebut pasti akan membayarnya. Dan ternyata betul. Namun saya menolaknya. Saya hanya meminta ditukar dengan kesediaan dia untuk diwawancarai. Dia mengiyakan.

“Saya diminta aktif di Muslimat pada tahun 1989 oleh almarhum KH Masyhuri Mughni dari Pesantren Benda Sirampog,” katanya.

Padahal, kata dia, waktu itu dia aktif di Fatayat sebelumnya saja tidak. Namun ia tak bisa menolaknya karena itu perintah kiai yang ditaatinya.

Bagi ibu yang pernah nyantri di Babakan Ciwaringin, Cirebon tersebut, perintah kiai Msyhuri dulu ia pahami sekarang bahwa aktif di Muslimat NU adalah karena li i’lai kalimatillah, menegakkan agama Allah.

“Saya merasakan betul-betul banyak manfaat aktif di Muslimat. Banyak barokahnya. Barokah silaturahim, barokah rezeki,” ungkapnya.

Sebagai ketua Muslimat, ia juga menjaga betul anak-anaknya agar tetap dalam barisan Nahdlatul Ulama. Caranya dengan memperkenalkan anak sedari dini melalui kegiatan, tradisi, praktik ibadah yang sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunah wal-Jamaah an-nahdliyah.

Kongres Muslimat NU ke-17 tersebut dibuka Presiden Joko Widodo dengan tabuhan rebana disaksikan Ketua Umum PBNU, Ketua Umum Pimpinan Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan ribuan pengurus dan anggota Muslimat serta tamu Undangan. Di antara tamu tersebut ada Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Ketua MPR RI Osman Sapta Odang, dan lain-lain. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal AlaNu, Pondok Pesantren PKB Kab Tegal

Canda Nabi dengan Sayyidina Ali

Selain sebagai utusan Allah, Nabi Muhammad juga manusia biasa, meski tak seperti manusia biasa (basyarun laysa kal basyari). Sebagai manusia, Nabi Muhammad SAW tak lepas dari perilaku umumnya manusia, termasuk bercanda, yang tak sampai merendahkan martabatnya.

"Nabi juga suka bercanda," ungkap Kiai Ahmad Muwaffiq. Kisah ini ia sampaikan dalam peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad di Masjid Al-Fathonah, Kesatrian, Purworejo, Jumat (31/3/2017).

Merujuk dari sebuah Hadits riwayat Imam Bukhari, pendakwah NU yang kini tinggal di Jombor, Sleman, Yogyakarta tersebut mengisahkan kepada para jamaah yang hadir.

Canda Nabi dengan Sayyidina Ali (Sumber Gambar : Nu Online)
Canda Nabi dengan Sayyidina Ali (Sumber Gambar : Nu Online)

Canda Nabi dengan Sayyidina Ali

Suatu ketika, Nabi dan Sahabat berbuka puasa. Salah satu menu yang tersaji adalah kurma. Merekapun menikmatinya, dan meletakkan sampah berupa biji kurma di depan masing-masing.

Merasa biji yang ada didepannya terlalu banyak, keisengan Sayyidina Ali pun muncul. Ia kemudian memindahkan biji-biji itu ke hadapan Nabi, mencampurkan dengan biji sisanya, kemudian berseloroh,

PKB Kab Tegal

"Apa engkau begitu lapar, wahai Nabi, sehingga begitu banyak kurma yang engkau habiskan," kata Sayyidina Ali, sambil melihat tumpukan biji kurma di depan Nabi.

Mendengar keisengan ini, Nabi pun tak marah, spaneng, apalagi mencaci maki Sayyidina Ali. Dengan cerdas, beliau membalas keisengan tersebut.

"Bukannya kau yang justru terlalu lapar, wahai Ali. Lihat di depanmu, tak hanya kurmanya yang engkau makan, tetapi juga sekaligus biji-bijinya," balas Nabi, seperti ditirukan Kiai Muwaffiq. Hadirin pun tertawa: Geerrr!!! (Ahmad Naufa)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Pemurnian Aqidah, IMNU PKB Kab Tegal

Menshalatkan Jenazah Teroris dan Koruptor

Aksi teror dan korupsi dengan segala bentuknya dan motifnya mendadak jadi kejahatan paling terkutuk setidaknya pada lima belas tahun terakhir di Indonesia. Bahkan orang-orang yang terlibat atau menikmati dua jenis kejahatan ini ikut juga melaknat perilaku teror dan perilaku koruptif yang dilakukan orang lain.

Aksi teror dan tindak kejahatan korupsi karenanya menjadi musuh masyarakat. Tidak heran saat aksi teror atau tindak kejahatan korupsi tercium oleh media, masyarakat mengumpat pelakunya dengan sebutan “Dajjal”.

Menshalatkan Jenazah Teroris dan Koruptor (Sumber Gambar : Nu Online)
Menshalatkan Jenazah Teroris dan Koruptor (Sumber Gambar : Nu Online)

Menshalatkan Jenazah Teroris dan Koruptor

Dampak kejahatan setingkat Dajjal ini bisa dilihat dan diraba langsung oleh pancaindra. Banyak sekali kerugian yang diderita oleh masyarakat akibat aksi teror dan tindakan korupsi.

PKB Kab Tegal

Karena aksi teror, seorang istri menjadi janda, seorang suami menjadi duda, anak-anak menjadi yatim, orang-orang sehat menjadi cacat, aset-aset dan fasilitas umum menjadi rusak, orang-orang menjadi resah.

PKB Kab Tegal

Sementara korupsi menurunkan derajat kemuliaan seseorang. Yang paling kentara, korupsi meruntuhkan keikhlasan. Mereka yang diamanahkan melayani masyarakat, justru merasa paling berjasa dan mengharapkan imbalan di luar gaji pokok. Layanan untuk masyarakat umum atau mewujudkan kepentingan umum bergeser menjadi layanan untuk kepentingan “pemborong”.

Atas dasar ini kejahatan teror dan perilaku busuk korupsi digolongkan sebagai dosa besar yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Khazanah ulama menyebutnya sebagai “kaba’ir” dosa besar yang mengundang laknat Allah beserta makhluk-Nya hingga ikan-ikan di dasar laut.

Terlebih lagi kejahatan teror. Kejahatan ini bisa juga masuk ke dalam kategori bid’ah dan zindik. Pasalnya pelaku teror kerap mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah seperti membunuh manusia dalam kondisi aman atau membunuh diri dengan meledakan bom di keramaian.

Aksi sweeping tempat-tempat hiburan atau rumah ibadah agama lain juga termasuk salah satu bentuk teror. Demikian juga aparat birokrasi yang menjadi centeng atas kepentingan-kepentingan perusahaan tertentu dengan mengintimidasi masyarakat demi kelancaran aktivitas perusahaan yang bersangkutan.

Tetapi segagah apa pun, teroris dan koruptor juga tetap mengalami kematian sebagaimana makhluk hidup pada umumnya. Lalu bagaimana kalau mereka wafat? Apakah umat Islam tetap diwajibkan untuk memandikan, mengafankan, menyembahyangkan, dan memakam jenazahnya? Ibnu Rusydi dalam Bidayatul Mujtahid menerangkan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? " ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Mayoritas ulama sepakat membolehkan umat Islam untuk menyembahkan jenazah setiap orang yang mengucapkan “Lâ ilâha illallâh” baik jenazah itu pelaku dosa besar maupun ahli bid‘ah. Hanya saja Imam Malik memakruhkan orang-orang terpandang atau terkemuka untuk ikut menyembahyangkan jenazah ahli bid’ah. Tetapi Imam Malik tidak berpendapat perihal pemerintah menyembahyangkan jenazah mereka yang terkena hukuman mati (hudud). Bahkan sebagian ulama tidak memperbolehkan masyarakat menyembahyangkan jenazah pelaku dosa besar, pelaku zina, dan pelaku bid‘ah. Pilihan makruh oleh Imam Malik lebih pada kecaman dan sanksi (sosial) untuk mereka.

Dari keterangan di atas, Ibnu Rusydi mengisyaratkan bahwa ulama, para kiai, para ustadz, modin, amil, dan juga orang terpandang di sebuah masyarakat tidak perlu hadir menyembahkan jenazah teroris, pelaku sweeping, koruptor, mereka yang menyalahgunakan jabatan.

Cukup masyarakat awam yang menghadiri upacara sembahyang dan pemakaman jenazah mereka. Ini merupakan bentuk sanksi sosial dan kecaman keras atas kejahatan-kejahatan besar seperti teror, korupsi, sweeping yang sangat merusak kehidupan masyarakat secara umum. Wallâhu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Bahtsul Masail, Berita PKB Kab Tegal