Selasa, 07 November 2017

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom!

Tasikmalaya, PKB Kab Tegal

Pelajar muslim harus berjihad melalui berbagai bidang diantaranya ekonomi, budaya, dan pendidikan. Saat ini pelajar dan generasi muda sudah tidak zamannya lagi lempar bom, perang, dan sebagainya atas nama jihad agama.

Hal itu disampaikan Haryadi Ahmad Satari Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang juga Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya saat mengisi materi Seminar Peningkatan Wawasan Pelajar Muslim Nusantara di Kantor MWCNU Salopa, Rabu (20/1).

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom!

“Di negara kita masih banyak yang harus kita fikirkan dan perbaiki seperti ekonomi , dimana anak muda sekarang bisa mengisi peluang dan memperbaiki ekonomi untuk jangka panjang ke depan. Nah anak muda ini sebagai pelopor dan bisa berkreativitas untuk lebih memajukan daerah dan negara diawali dari diri sendiri,” paparnya.

Adapun jihad lewat budaya, tambahnya, adalah pelajar harus bisa mengaplikasikan Qowaid Ushul Fiqh yang menjadi landasan NU, Almuhafaadzatu ala al-qadimi asshalih wal akhadzu bil jadidil ashlah.

Lewat kegiatan ini, imbuhnya, adalah salah satu bentuk hormat kepada para pejuang kemerdekaan yang memperjuangkan jiwa dan raga. “Kita harus isi Kemerdekaan ini dengan cara yang positif, salah satunya dengan terus belajar bersama seperti kegiatan ini,” ujarnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Fragmen, Quote PKB Kab Tegal

Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli

Ini adalah halaman sampul dan halaman ketiga dari kitab “Samîr al-Shibyân li Ma;rifah Furûdh al-A’yân” karangan Syekh Hasan al-Dîn ibn Muhammad Ma’shûm ibn Abî Bakr al-Dâlî al-Samatrâwî (Syekh Hasan Ma’shum Deli, w. 1937), seorang ulama besar Nusantara yang juga mufti Kesultanan Deli pada awal abad ke-20 M.

Kitab ini mengaji tentang tuntunan dasar ajaran agama Islam (ushûl al-dîn), yang mencakup kajian tentang dasar-dasar tauhid, juga dasar-dasar hukum fiqih ibadah atas madzhab Syafi’I, mulai dari bersuci, sembahyang, zakat, puasa, hingga haji.

Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli

Dalam kata pengantarnya, Syekh Hasan Ma’shum Deli mengatakan bahwa para koleganya telah berkali-kali meminta dirinya untuk menuliskan sebuah risalah yang menghimpun penjelasan tentang tuntunan dasar ajaran agama Islam bagi kalangan pemula dalam bahasa Melayu, yang mencakup kajian tauhid dan fiqih ibadah.

Syekh Hasan Ma’shum Deli menulis;

PKB Kab Tegal

? ? ? ? ?2 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?2 ? ? ?.

PKB Kab Tegal

(Amma Ba’du. Maka tatkala berulang-ulang permintaan setengah daripada al-ikhwan supaya hamba himpunkan bicara ‘Aqaid al-Iman dan yang bergantung dengan Furu’ Syari’ah daripada syarat-syarat dan rukun-rukun kadar yang tiada lebih dari pada Furudh al-A’yan karena hendak dihafalkan akandia bagi kanak-kanak yang baru belajar).

Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi). Dalam kolofon, disebutkan bahwa karya ini diselesaikan pada malam Selasa, 29 Ramadhan tahun 1341 Hijri (bertepatan dengan 15 Mei 1923 M). Mengacu pada titimangsa penulisan, besar kemungkinan karya ini ditulis dan diselesaikan di Deli. Tertulis pada kolofon di bagian akhir kitab;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 1341 ?

Karya ini kemudian dicetak dan diterbitkan sebelas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1934 M (1353 Hijri) di kota Kairo, oleh Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî. Tebal naskah cetakan ini sebanyak 55 halaman.

Pada versi cetakan ini, dicetak-sertakan juga karya Syekh Hasan Ma’shum Deli lainnya, yang berjudul “Tadzkirah al-Murîdîn fî Sulûk Tharîqah al-Muhtadîn” setebal 21 halaman. Karya terakhir mengkaji bidang tasawuf, etika, serta seluk beluk ajaran tarekat.

Saya mendapatkan naskah kitab ini dalam versi cetakan di atas dari sahabat saya asal Medan, al-Fadhil al-Mufti Sayyid Zuhdi, seorang graduan Universitas Al-Azhar Kairo sekaligus Program Pendidikan Fatwa pada Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta al-Mashriyyah.

Tentang sosok pengarang karya ini, yaitu Syekh Hasan Ma’shum Deli, ia dilahirkan di kawasan Labuan, salah satu wilayah Kesultanan Deli Darus Salam di Sumatera, pada tahun 1882 M (1300 H). Pada masa itu, di daerah pesisir utara pulau Sumatra terdapat beberapa negara bersistem Kesultanan bercorak Melayu-Islam, seperti Kesultanan Deli, Kesultanan Riau-Lingga, Kesultanan Siak Inderapura, Kesultanan Asahan, Kesultanan Johor, Kesultanan Selangor, Kesultanan Jambi, dan lain-lain.

Sang ayah, yaitu Syekh Ma’shum ibn Abi Bakar Deli, tercatat sebagai ulama besar Kesultanan Deli pada masanya yang mengajar di madrasah kesultanan tersebut. Ketika berusia 10 tahun, Syekh Ma’shum membawa serta anaknya, yaitu Syekh Hasan yang kita bicarakan ini, pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Ketika sang ayah pulang kembali ke negaranya di Kesultanan Deli, sang anak tetap tinggal di Makkah untuk bermujawarah dan belajar di sana.

Di antara guru-guru Syekh Hasan Ma’shum Deli ketika berada di Makkah adalah Syekh Ahmad ibn Muhammad Zain al-Fathâni, Syekh Ahmad al-Khayyâth al-Makkî, Syekh Sa’îd Bâ-Bashîl, Syekh Muhammad Husain al-Habsyî, Syekh Abû Bakar Muhammad Syathâ, Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdul Salam Kampar, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, dan lain-lain.

Pada tahun 1907 M (1325 H), Syekh Hasan Ma’shum pun pulang ke Kesultanan Deli. Sosoknya dikenal sebagai seorang yang berilmu pengetahuan luas. Ia pun mulai mengajar di madrasah kesultanan. Karir dan reputasinya kian cemerlang, hingga akhirnya Sultan Deli saat itu, Sri Sultan Ma’moen al-Rasyid Perkasa Alamsyah (memerintah 1879-1924 M), melantiknya sebagai mufti dan qadi Kesultanan Deli.

Di sekitar tahun 1914 M (1332 H), Syekh Hasan Ma’shum terlibat polemik dengan salah satu sahabatnya ketika belajar di Makkah dulu dan saat itu telah menjadi ulama di Ranah Minang serta menjadi salah satu tokoh gerakan pembaharuan (Kaum Muda), yaitu Syekh Abdul Karim Amrullah (ayahanda HAMKA, w. 1945 M).

Saat itu, Syekh Abdul Karim Amrullah menulis risalah berjudul “al-Fawâid al-Aliyyah fî Ikhtilâf al-Ulamâ fî Hukm Talaffuzh al-Niyyah”. Di sana beliau mengatakan bahwa mengucapkan “usholli” sebelum takbiratul ihram saat hendak melaksanakan shalat adalah perbuatan bid’ah dhalalah.

Syekh Hasan Ma’shum kemudian menulis risalah lain sebagai tanggapan (radd) atas risalah yang ditulis oleh kawannya itu dan membantah beberapa pendapat Syekh Abdul Karim Amrullah yang membid’ahkan pengucapan “ushalli” sebelum takbiratul ihram. Risalah tersebut berjudul “al-Quthûfât al-Saniyyah fî Radd Ba’dh Kalâm al-Fawâid al-‘Aliyyah”.

Rupanya, polemik antardua sahabat yang berbeda haluan itu, yaitu antara Syekh Abdul Karim Amrullah yang berhaluan modernis (kaum muda) dengan Syekh Hasan Ma’shum Deli yang berhaluan tradisionalis (kaum tua), sampai juga pada guru keduanya di Makkah sana, yaitu pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916 M). Sang guru pun pada akhirnya menulis sebuah risalah untuk menyudahi polemik kedua muridnya itu. Risalah tersebut berjudul “al-Khuthath al-Mardhiyyah fî Hukm al-Talaffuzh bi al-Niyyah”. Dalam risalah tersebut, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau mendukung pendapat Syekh Hasan Ma’shum Deli sekaligus meluruskan pendapat Syekh Abdul Karim Amrullah.

Syekh Hasan Ma’shum Deli terus berkhidmah sebagai pengajar sekaligus mufti Kesultanan Deli hingga wafat pada 24 Syawal 1355 Hijri (7 Januari 1937 M). (A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sejarah PKB Kab Tegal

Muludan, Ansor Patebon Gelar Budaya Pengajian Teaterikal

Kendal, PKB Kab Tegal. Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Patebon kabupaten Kendal bersama Dewan Kesenian Kendal meperingati maulid Nabi Muhammad SAW dengan pelbagai kegiatan mulai dari sema’an 30 juz Al-Quran, imtihan awwal TPQ 06 An-Nur Margosari. Sementara puncak peringatan maulid diisi dengan pementasan rebana, pembagian pohon, dan pengajian teaterikal bersama KH Amin Budi Harjono di halaman TPQ NU 06 An-Nur, Ahad (4/1) malam.

Ketua Panitia Maulid Nabi Muhammad SAW Ulul Azmi mengatakan, selain pembacaan maulid Simthud Durror juga ada beragam acara. Kegiatan puncak gelar budaya pengajian teaterikal diisi oleh musik sholawat dan puisi oleh Dewan Kesenian Kendal, Sedulur Caping Gunung Kendal, Penyair Sebumi Kelana Siwi Kristyaningtyas dan Narti Rikha, Penyair Semarang.?

Muludan, Ansor Patebon Gelar Budaya Pengajian Teaterikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Muludan, Ansor Patebon Gelar Budaya Pengajian Teaterikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Muludan, Ansor Patebon Gelar Budaya Pengajian Teaterikal

Peringatan maulid ini dihadiri jajaran pengurus PAC Ansor Patebon, Pengurus Dewan Kesenian Kendal, MWCNU Patebon, dan jamaah pengajian yang memadati halaman. Hujan yang menguyur, tidak mengurangi semangat mereka untuk memperingati puncak peringatan maulid Nabi Muhammad, Ahad (4/1) malam.

PKB Kab Tegal

“Semoga kegitan ini bisa menumbuhkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad dan memahami kearifan budaya lokal. Sebab, sekarang ini banyak akidah yang tidak sesuai dengan kearifan NU yang telah lama membumi ke masyarakat,” tutur Ketua Ansor Patebon Sukarto.

PKB Kab Tegal

Sementara Kiai Budi Harjono membagikan pohon dan caping kepada para jamaah. Ia berpesan kepada mereka untuk nandur, menanam pohon. Sebab Indonesia merupakan paru-paru dunia. Sementara caping gunung merupakan tanda bahwa bentuk lingkaran sebagai manifestasi perwujudkan kehidupan ini. sedangkan lambang gunung menjadi puncak hubungan manusia dengan Allah Swt.

“Kita adalah bangsa yang beradab. Semua aktivitas terkait-paut dengan puncak hubungan dengan Allah, ungkapan sehari-hari yang terucapkan seperti ealah, oalah, ndelalah, walah. Ungkapan yang telah membudaya tersebut sebagai bentuk Illah yakni selalu berhubungan langsung dengan Allah,” ucap Kiai yang akab dipanggil dengan sebutan Kiai Budi. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Amalan, Anti Hoax PKB Kab Tegal

Senin, 06 November 2017

Bagaimana Puasa dalam Pandangan Tasawuf?

Tujuan berpuasa, sesuai perintah Allah SWT adalah untuk menjadikan manusia bertakwa. Pelaksanaan ibadah puasa tidak hanya sekadar menahan makan dan minum. Dikaji dari sisi tasawuf, puasa harus dilaksanakan dengan melibatkan hati.

Berikut wawancara Kendi Setiawan dari PKB Kab Tegal dengan KH Lukmanul Hakim, dari Majelis Ifta’ Jam’iyyah Ahlu at-Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) DKI Jakarta.? ?

Bagaimana Puasa dalam Pandangan Tasawuf? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Puasa dalam Pandangan Tasawuf? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Puasa dalam Pandangan Tasawuf?

Ibadah puasa itu menurut tasawuf seperti apa?



Ibadah adalah perbuatan yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Nah, puasa itu menahan makan dan minum dari fajar sidiq sampai terbenamnya matahari. Puasa menurut tasawuf, bukan hanya menahan makan minum saja. Tapi harus bisa menjaga lisan dan hati. Makanya apa yang bisa membatalkan pahala puasa harus kita jaga.

PKB Kab Tegal

Ada lima hal yang bisa membatalkan pahala ibadah puasa, yaitu berbohong, mengadu domba, gibah, bersumpah palsu, dan mengumbar pandangan secara syahwat. Jikalau kita sanggup menghindarkan itu, maka kita bisa menjaga pahala puasa kita. Bukan hanya pahala puasa, tapi mendapatkan pahala di hadapan Allah SWT.

Kalau misalnya sekarang hanya puasa menahan makan dan minum itu puasa yang umum. Karena puasa itu ada dua, yaitu puasa ‘aam (umum) dan puasa khos (khusus). Puasa khos bukan hanya tidak makan dan tidak minum, tetapi termasuk menjaga hati. Maka puasa secara tasawuf tidak sekadar menahan haus dan lapar.

PKB Kab Tegal

Kalau dari sisi tasawuf seperti apa dalam menjalankan ibadah puasa ini?



Orang yang betul-betul senang dengan datangnya bulan Ramadhan yang diwajibkan berpuasa, puasanya akan menambah semangat. Sehingga terjadi peningkatan ibadah, juga dari fisiknya akan sehat. Seperti dalam hadits disebutkan “Berpuasalah engkau, maka akan sehat.” Insyaallah orang yang sedang sakit pun dengan melaksanakan puasa sesuai aturan, ia menjadi sehat.

Bagaimana upaya-upaya untuk berpuasa seperti yang disebutkan secara tasawuf?



Ya kita harus belajar, bukan hanya dari pelaksanaan secara syariat, tapi juga dari ketasawufannya, artinya belajar masalah hati. Ini yang paling berat. Termasuk orang yang mencapai tingkatan takwa, prosesnya tidak hanya ibadah syariat. Dari tahap muslim meningkat menjadi mukmin, kemudian muhsin. Setelah mukhlisin lalu mutaqqin (bertakwa).

Orang menjadi mukmin tidak hanya cukup dengan syahadat, karena iman itu apa? Iman itu diucapkan dengan lisan, hati meyakininya, dan anggota badan merasakan. Sebab orang muslim, tapi tidak mukmin masih banyak. Misalnya orang Islam, dalam KTP-nya dicantumkan beragama Islam. Tapi ia tidak shalat, itu kan namanya bukan mukmin.

Nah, sekarang melaksanakan ibadah, tapi harus muhsin. Artinya hal yang baik-baik saja yang dikerjakan, yang tidak baik harusnya ditinggalkan misalnya perbuatan maksiat.

Ada cara lain?



Sekarang orang yang sudah muhsin, menjalankan kebaikannya karena ingin dipuji orang lain. Ini jelas akan sia-siapa walaupun itu perbuatan baik. Oleh karena itu harus ikhlas, semata-mata perbuatan yang dikerjakan untuk mengharap ridla Allah SWT, barulah akan mencapai tahap mutaqqin.

Kalau sudah mutaqqin, Allah akan janjikan lima hal seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat At-Talaq ayat 2-5. Wamayyattaqillahi yaj ‘allahu mahrajaa, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar baginya, artinya akan keluar dari kesulitan.

Kemudian, wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, wa mayyatwakkal ‘alallahi faguwa habuhu. Dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.

Berikutnya, wa mayyattaqqillaha yaj ‘allahuu min amrihii yusraa. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.

Balasan lainnya bagi orang bertakwa adalah wa mayyattaqillaaha yukaffir ‘anhu sayyi aatihii wa yu’thim lahuu ajraa. Barangsiapa yang? bertakwa kepada Allah, nicscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.

Nah, untuk bisa mencapai tahap takwa seseorang harus lebih dulu ikhlas. Melakukan ibadah tanpa diketahui atau dipengaruhi orang lain. Hal yang sepele adalah saat seseorang misalnya akan mengerjakan shalat sunah, ada perasaan takut dipuji orang lain, akhirnya tidak jadi melakukan shalat sunah. Padahal? kalau ikhlas orang mau bilang apa, dia akan kerjakan demi ridha Allah. Masalah ikhlas ini, kita semua harus belajar, termasuk saya juga masih terus belajar. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Said Aqil: Aktivitas Kita Bernilai Jika Mampu Entaskan Kemiskinan

Jakarta, PKB Kab Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpesan, berbagai aktifitas organisasi di lingkungan NU seperti rapat dan kegiatan lainnya tak akan bernilai jika tidak mampu menyelesaikan masalah masyarakat seperti kemiskinan.

Said Aqil: Aktivitas Kita Bernilai Jika Mampu Entaskan Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Aqil: Aktivitas Kita Bernilai Jika Mampu Entaskan Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Aqil: Aktivitas Kita Bernilai Jika Mampu Entaskan Kemiskinan

“Aktifitas Muslimat NU adalah untuk memperhatikan, memperdulikan saudara-saudara kita, baik Muslim maupun non-Muslim,” katanya dalam buka bersama Muslimat NU di Jakarta, Sabtu.

Ia menjelaskan, memberi kecukupan berbagai kebutuhan masyarakat merupakan sesuatu yang menjadi tuntutan agama dan termasuk salah satu jihad. 

PKB Kab Tegal

“Termasuk jihad adalah bagaimana kita melidungi masyarakat yang baik-baik, bukan pelaku kejahatan, bukan maling, bukan bos judi. Selama warga Indonesia yang baik-baik, mari kita bela mereka dengan memberikan kecukupan pangan. Muslim ataupun non-Muslim,” tandasnya.

Karena itu, jika ada satu saja penduduk Indonesia yang meninggal karena kelaparan, semua ikut menanggung dosanya. “Satu saja ada saudara kita mati karena tidak makan, Muslim atau non-Muslim dosa kita semua.” 

PKB Kab Tegal

Kebutuhan kedua yang harus diperhatikan adalah pakaian. Kalau ada orang Indonesia, Muslim atau non-Muslim, tidak berpakaian layak, maka dosa semua. “Apalagi kita orang Islam, syarat sah shalat adalah suci. Kalau pakaian cuma satu bagaimana bisa,” tanyanya.

Kebutuhan dasar lain yang harus diperhatikan adalah tempat tinggal. Rakyat Indonesia, harus punya rumah semua berapapun ukurannya. Ia mengingatkan bahwa orang Islam diwajibkan menghormati tamu. Tentu saja untuk itu diperlukan rumah yang layak. 

Persoalan lain juga harus menjadi perhatian seperti bagaimana member perlidungan kepada masyarakat seperti pelayanan kesehatan gratis. 

Jihad lain selain jihad perang adalah, bagaimana masyarakat beriman kepada Allah dan ini membutuhkan ilmu. “Bagaimana kita mampu memberikan argumentasi terhadap wujudnya Allah.” (Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Internasional, Santri, Tokoh PKB Kab Tegal

Setiap Organisasi Perlu Merealisasikan Tiga Perkara Ini

Sidoarjo, PKB Kab Tegal. Wakil Sekretaris PCNU Sidoarjo Ustadz M Rifai menuturkan tiga hal yang harus direalisasikan oleh setiap organisasi terutama Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU).

Setiap Organisasi Perlu Merealisasikan Tiga Perkara Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Setiap Organisasi Perlu Merealisasikan Tiga Perkara Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Setiap Organisasi Perlu Merealisasikan Tiga Perkara Ini

"Tiga ini yang harus direalisasikan oleh IPNU-IPPNU, pertama penataan organisasi. NU di seluruh tingkatan bisa berjalan dengan baik bagi seluruh Lajnah, Banom dan tingkatan di cabang," tuturnya saat memberikan sambutan pada acara Pondok Aswaja VII di Ponpes Chusnaini Klopo Sepoloh Sukodono Sidoarjo, Sabtu (4/7).

Kedua, peningkatan amaliyah. Saat ini banyak yang menggunakan Aswaja, tetapi bukan NU. Maka dari itu, pihaknya meminta supaya mengikuti Aswaja yang Nahdlatul Ulama.

PKB Kab Tegal

"Pondok Aswaja ini silakan diikuti dengan baik, sebagai bekal. Orang itu berbeda, antara yang ikut pondok Aswaja atau tidak. Karena nanti itu terlihat dari peningkatan wawasan Aswajanya," ungkapnya. 

Banyak pemuda yang tergiur dengan ISIS. Tapi NU tidak mengenal paham garis geras. Untuk membentengi dari radikalisme itu sendiri harus mengikuti kegiatan seperti Pondok Aswaja.

PKB Kab Tegal

"Sikap NU di tengah masyarakat adalah tawazun, tawasuth, tasamuh, i’tidal, dan Amar maruf nahi mungkar. Itu yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.

Ketiga, tentang pendidikan. Jangan sampai pendidikan kalah dengan perkara lain. Karena pendidikan itu sangat penting. Pondok Aswaja yang dilakukan oleh IPNU-IPPNU itu mungkin akan menemukan kesulitan. 

“Karena menerapkan istiqomah itu tidak mudah, namun jika dilakukan dengan konsisten, pasti akan terwujud,” ujarnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal IMNU PKB Kab Tegal

Minggu, 05 November 2017

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka

Bantul, PKB Kab Tegal. Acara pembukaan Bulan Budaya yang diadakan oleh PWNU DIY dalam rangka memperingati Harlah NU ke-90, Sabtu malam (11/5), berlangsung cukup ramai. 

Hujan yang mengguyur daerah lapangan Piyungan, Bantul, Yogyakarta, sebagai lokasi acara cukup deras. Namun semangat para personil group sholawat sebagai pengisi acara, yang mayoritas sudah tidak dapat dikatakan muda, tetap patut diapresiasi tinggi. 

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Budaya PWNU DIY Dibuka

Sebagai pra acara, malam itu diisi dengan penampilan dan kolaborasi tiga kelompok shalawat dari beragam jenis, yakni group hadrah ittihadul fata yang membawakan shalawat berbahasa Arab, kelompok sholawat emprak pesantren Kaliopak yang menyajikan shalawat dengan bahasa Jawa dan diiringi tarian, kemudian group shalawat ‘Kuda Mas’ yang memadukan shalawat dengan alat-alat musik Tionghoa.

PKB Kab Tegal

Alunan musik shalawat yang indah pun menggema malam itu. Selain sarat akan kandungan nilai-nilai agama yang disampaikan melalui seni musik, penampilan ketiga group shalawat yang beragam itu menunjukkan kolaborasi antar etnis yang berbeda, namun tetap dapat disatukan dan bernafaskan Islam pula.

Usai penampilan ketiga group shalawat, acara dilanjutkan dengan sambutan ketua pelaksana kegiatan Bulan Budaya, Samsu Hadi Samono. Dalam sambutannya tersebut, dikatakan bahwa rangkaian kegiatan bulan budaya telah dimulai sejak pagi, yakni apel pagi sebagai bentuk kesetiaan terhadap Pancasila, kemudian kirap budaya dan Jatilan sebagai bentuk pengenalan budaya kepada masyarakat. 

PKB Kab Tegal

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk mempertegas kembali budaya-budaya NU yang sesuai dengan Negara Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu Camat Piyungan, Agus Sulistiyana, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan dalam rangka mewujudkan jati diri bangsa, melestarikan budaya dan menggalang persatuan. 

“NU itu dapat merekatkan hubungan masyarakat, karena saat ini persatuan sedang terusik”, tegasnya.

Kemudian diperkuat lagi dengan pernyataan KH Asyhari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY, bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mempertegas kembali relasi Islam dengan budaya, terlebih Yogya yang dikenal sebagai pusat budaya. Bagi NU itu, lanjutnya, menjalankan Islam itu yang penting sesuai dengan syari’at. 

“NU itu mementingkan realitas, bukan sekedar formalitas,” tandasnya.

Usai sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan penyerahan wayang secara simbolik, dari Rais Syuriyah NU DIY, KH Asyhari Abta, kepada dalang, Ki Cermo Radiyo Harsono, sebagai tanda pagelaran wayang telah dimulai.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kyai PKB Kab Tegal