Sabtu, 21 Oktober 2017

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

Jepara, PKB Kab Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengimbau warga NU untuk memasyarakatkan cara beragama yang moderat. Kiai Said mengingatkan mereka untuk berjuang untuk itu. Karena, banyak pihak asing yang memprovokasi agar bangsa Indonesia terlibat dalam gerakan ekstrem.

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

“Bangsa Barat sangat mendambakan Indonesia menjadi radikal. Jika sudah radikal, mereka memiliki alasan untuk menggempur Nusantara,” kata Kang Said saat menyampaikan sambutan di Harlah ke-71 Yayasan Mathaliul Huda di desa Bugel kecamatan Kedung kabupaten Jepara, Rabu (17/9) malam.

Sebab itu, sikap ke-NUan tegasnya harus tetap dijaga. “Orang NU jangan mudah terpancing pada kelompok yang suka mengebom. Sebab NU cinta damai. Jangan sampai ikut-ikutan ISIS. Gerombolan garis keras itu sudah bukan Islam, karena suka membunuh saudaranya sendiri,” pesan Kang Said di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

PKB Kab Tegal

Kepada hadirin, pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini mengingatkan orang tua untuk benar-benar mengawasi anaknya dari pengaruh paham ekstrem. “Ciri lahiriahnya kelompk wahabi antara lain berjenggot panjang, bergamis, bercelana cingkrang, atau tanda hitam di jidat.”

Pengurus masjid juga lebih cermat. Jangan sampai wahabi menguasai kepengurusan masjid. Bogor, Tangerang, dan Bekasi merupakan kota yang dikuasai kelompok wahabi. “Untungnya LTM PBNU lekas bertindak sehingga masjid-masjid yang direbut kelompok tersebut bisa kembali,” imbuh Kang Said. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal PonPes, Budaya PKB Kab Tegal

Jumat, 20 Oktober 2017

Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur

Sleman, PKB Kab Tegal. Mahasiswa STAI Sunan Pandanaran (Staispa) ngaji Karakter Santri ala Gus Dur, Selasa (1/9) malam. Mereka mengangkat karya Greg Barton Autobiography of Abdurrahman Wahid sebagai rujukan diskusi. Mereka mengawalinya dengan tawasulan yang ditujukan kepada para ulama dan kiai-kiai Nusantara, terutama Gus Dur.

Pemandu Ngaji Gus Dur Dr. Suhadi Cholil mengatakan, dari karya Greg Barton ini kita hanya mengambil empat bab yang dirasa penting. Kegiatan ini juga menggunakan metode khas pesantren yakni model bandongan.

Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur

"Ngaji Gus Dur ini bisa juga disebut ngaji sirah (riwayat). Sebab, kita akan menyelami sosok Gus Dur melalui buku ini untuk menggali berbagai perilaku dan pemikiran Gus Dur sebagai teladan. Selain itu kita juga sekaligus dapat belajar bahasa Inggris melalui buku ini," terangnya.

PKB Kab Tegal

Dari seorang Gus Dur, lanjutnya, kita dapat melihat sosok yang dengan jerih payah serta teguh dalam mengabdikan ilmu dan masyarakat. Gus Dur juga merupakan seorang yang sangat mencintai ilmu dan masyarakat. Itu yang perlu kita tiru, sebagai generasi penerus bangsa.

Menurut dosen CRCS program pasca sarjana UGM ini, santri hari ini harus mampu berbahasa asing. Karena untuk menggaungkan Islam Nusantara, penguasaan bahasa asing merupakan komponen yang sangat penting.

PKB Kab Tegal

"Sebab, saya melihat karya-karya para Ulama Nusantara, sekarang banyak yang telah dialihbahasakan ke bahasa asing. Di antaranya, karya Syeikh Nawawi al-Bantani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, pada saat saya berkesempatan berkunjung ke sana. Karya Syeikh Ihsan Jampes juga telah ada terjemahannya dalam bahasa asing, dan lain sebagainya. Hal demikian baik, apalagi jika santri yang melakukan itu," pungkasnya. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Kamis, 19 Oktober 2017

Perpustakaan PBNU Siap Terima Dokumen Lembaga dan Banom NU

Jakarta, PKB Kab Tegal. Perpustakaan PBNU meminta kerjasama pengurus lajnah, lembaga, dan banom NU dalam pendokumentasian data-data mereka. Perpustakaan PBNU berkepentingan terhadap data-data semua lembaga dan banom NU.

Perpustakaan PBNU Siap Terima Dokumen Lembaga dan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpustakaan PBNU Siap Terima Dokumen Lembaga dan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpustakaan PBNU Siap Terima Dokumen Lembaga dan Banom NU

Syatiri Ahmad, Kepala Perpustakaan PBNU, saat tengah merapikan sejumlah berkas di mejanya, mengutarakan perihal tersebut kepada PKB Kab Tegal di Ruang 202, Perpustakaan PBNU, Kantor PBNU lantai dua, Jakarta Pusat, Kamis (13/12) sore.

“Kita juga pengen mengoleksi dokumen-dokumen terkait kegiatan atau program lajnah, lembaga, dan banom NU,” kata Syatiri Ahmad kepada PKB Kab Tegal yang tengah memotret ruang perpustakaan dari beberapa sudut, Kamis (13/12) sore.

PKB Kab Tegal

Menurut dia, data-data lembaga dan banom NU yang dibutuhkan perpustakaan PBNU, dapat beraneka bentuk. Syatiri menyebutkan bentuk data itu antara lain berkas program, profil lembaga, laporan tahunan, foto kegiatan, laporan kegiatan, hasil rapat organisasi, bulletin, terbitan berkala, dan bentuk data lainnya.

Berkas-berkas lembaga dan banom NU yang baru masuk akan diklasifikasikan ke dalam data primer dalam koleksi perpustakaan PBNU. Perpustakaan PBNU telah menyediakan folder dan lemari khusus untuk menyimpan data-data tersebut.

PKB Kab Tegal

“Karena itu, kita perlu perhatian dan kerjasama dari pengurus, minimal sekretaris lajnah dan banom NU yang ada untuk menyiapkan data-data tersebut dalam periode kepengurusannya,” tambah Syatiri.

Program pendokumentasian data mereka, tegas Syatiri, penting demi kelengkapan koleksi perpustakaan. Menurut dia, program ini dapat memudahkan siapa saja, termasuk pengurus lembaga dan banom NU itu sendiri ketika membutuhkannya pada suatu saat.

Pengunjung perpustakaan, tambah Syatiri, berasal dari latar belakang profesi mulai dari penulis, wartawan, peneliti, pengamat, dan akademisi. Selain mencari sumber-sumber primer ke-NU-an, ada di antara mereka yang mengejar data-data lajnah, lembaga, atau banom-banom NU, pungkas pria setengah baya yang merawat koleksi Perpustakaan PBNU.

?

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Budaya PKB Kab Tegal

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Bantul, PKB Kab Tegal. Lahan terbatas sama sekali bukan alasan untuk berani berkreasi atau berkarya. Tampak dalam foto, Pengasuh Pondok Pesantren Alimdad, KH M Habib A Syakur, sedang berusaha meluruskan batang tanaman lombok dan terong di media tanam polybag di terik sinar matahari.

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Beberapa puluh polybag berisi tanaman lombok dan terong memang sengaja ditata sedemikian rupa oleh Habib di pekarangan kediamannya, yang masih masuk dalam kawasan komplek Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul. Dalam keterangannya, Habib menyebutkan bahwa ia telah menyiapkan sekira 500 polybag untuk kedua jenis tanaman tersebut.

"Sejatinya, saya juga ingin mempersiapkan beberapa ratus polybag lagi untuk berbagai jenis tanaman lain, seperti tomat, timun, dan kacang panjang. Tapi, saya kira hal ini akan saya lakukan secara berjenjang dahulu," ujar Habib.

PKB Kab Tegal

Media tanam polybag yang dirawat oleh Habib ini terdiri dari campuran tanah dengan pupuk kandang dan kompos yang keduanya merupakan hasil dari pengolahan limbah di Pondok Limbah yang dimiliki PP Al-Imdad Bantul. Hal ini adalah ejawantah dari visi pesantren Al-Imdad sendiri, yaitu SANTRI SALIH--Santun, Agamis, Nasionalis, Terampil, Ramah, Inovatif dan SAdar LIngkungan Hidup.

"Saya gak punya pengetahuan apa-apa tentang tanaman polybag ini, tapi saya beranikan diri untuk mencobanya, sebab berdasarkan teori dan pengalaman sebagian orang, hal semacam ini mungkin saja dilakukan," jawab Habib saat ditanya perihal pengalamannya menekuni tanaman polybag ini.

PKB Kab Tegal

Habib lantas memungkasi, "Kalau usaha saya berhasil, ini akan meringankan anggaran belanja untuk makan santri dan kalaupun gagal, saya kira tak jadi masalah. Sebab, dalam prosesnya saja, saya sudah terhibur dengan merawatnya."(Yusuf Anas/Anam) Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Warta PKB Kab Tegal

Jurnal Pesantren

Nama sebuah berkala yang diterbitkan oleh P3M, sebuah LSM di Jakarta yang memiliki perhatian pada pengembangan pesantren. Dalam daftar pengelolanya, tertulis nama KH Sahal Mahfudz ? sebagai Pemimpin Umum dan sebagai wakilnya Abdurrahman Wahid. Bertindak sebagai pemimpin redaksi M. Nashihin Hasan.

Sementara itu duduk di dewan redaksi ada Abdurrahman Wahid, Abdulllah Syarwani, Adi Sasono, M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Said Budairy, Soetjipto Wirosardjono, Zamakhsyari Dhofier, Musfihin Dahlan. Staf redaksinya Muntaha Azhari dan Abdul Mun’im Shaleh H. Dan Masdar F. Mas’udi sebagai pPemimpin usaha. Berkala ini beralamat di Jalan Anggrek Nelimurni V/B.83, Slipi, Jakarta.

Pada kulit sampulnya di bagian dalam dikemukakan bahwa, “Berkala ini diterbitkan sebagai media informasi dan komunikasi serta wadah pengajian untuk membangkitkan kepedulian dan wawasan pengembangan melalui jalur pemikiran yang bertolak pada titik pandang keagamaan....”?

Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Pesantren

Dalam nomor perdana berkala ini, M. Nashihin Hasan sebagai Pemimpin Redaksi dalam rubrik “Assamualaikum” mengemukakan peran berkala ini sebagai media kajian dan dialog yang secara khusus ditujukan pada tiga bidang prioritas.

Pertama, kajian bidang sistem pendidikan Islam di Indonesia dengan proyeksi pada integrasi ke dalam sebuah sistem pendidikan nasional yang terpadu. Kedua, dialog di bidang pengabdian masyarakat dan pembentukan jaringan komunikasi. Dan ketiga, pembahasan bidang pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan dengan proyeksi khusus pada penumbuhan etos kemasyarakatan sesuai tuntutan keadaan.

PKB Kab Tegal

Dengan keinginan di atas, berkala ini menyajikan tulisan-tulisan ilmiah populer hasil penelitian, survei, hipotesis atau gagasan kratif yang menyangkut aspek pendidikan, pengembangan masyarakat, kepesantrenan, ilmu-ilmu keagamaan dan yang sejenisnya. Redaksi berkala ini secara terbuka mengundang para ahli, sarjana, kiai, praktisi, santri, maupun mahasiswa untuk menulis secara bebas di media ini, tetapi kebanyakan tulisan tampaknya hadir atas dasar permintaan redaksi secara khusus berkaitan dengan topik yang hendak dikemukakan.

PKB Kab Tegal

Nomor perdana Pesantren terbit pada Oktober-Desember 1984 dengan sampul depan lukisan seorang kiai. Berkala berukuran 17,5 x 24,5 dengan bahan isi kertas buram dan sampul kertas karton, dan tebal 80-an halaman ini dijual dengan harga Rp 1.000.?

Dalam edisi perdana yang bertopik tradisi keilmuan di pesantren, setelah rubrik “Mukaddimah” yang berisi semacam editorial redaksi, hadir rubrik “Artikel” yang diisi empat tulisan masing-masing dari Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Zamakhsyari Dhofier, dan Masdar F. Mas’udi. Semuanya membahas tradisi dan pengembangan keilmuan di pesantren.?

Kemudian rubrik “Wawasan” diisi wawancara dengan KH Aziz Mashuri, Tholhah Mansur, Habib Chirzin, dan A. Syafii Ma’arif. Lalu rubrik “Profil Tokoh” diisi tulisan mengenai sosok KH Bisri Sansuri, rubrik “Sosok Pesantren” diisi ulasan mengenai pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, dan terakhir, rubrik “Tinjauan Buku” yang diisi dengan tulisan mengenai sebuah kitab hadits Itman al-Dirayah.

Edisi-edisi Pesantren selanjutnya diisi dengan susunan rubrik seperti di atas. Hanya sesekali ditambah dengan rubrik “Komentar” yang berisi tanggapan pembaca terhadap suatu tulisan pada edisi sebelumnya. Yang menarik, halaman-halaman sisa yang kosong pada awal-awal edisi diisi lukisan vignet oleh Mustofa Bisri, seorang pelukis, penyair, dan kiai, serta belakangan disi oleh Mufid Aziz.?

Berkala Pesantren memiliki kedudukan penting pada pertengahan hingga akhir 1980-an, terutama dalam mewadahi pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru mengenai pengembangan pendidikan pesantren dan pendidikan Islam khususnya, serta pemikiran keagamaan secara umum.

Melalui berkala ini di antaranya sejumlah gagasan seperti kontekstualisasi kitab kuning, kesalehan sosial, pembaruan fiqih, kedudukan perempuan, dan lain-lain dikemukakan dengan berani serta penuh semangat.

Para penulisnya yang berusia 20-an akhir hingga 40-an awal pada saat itu kelak menjadi pemimpin dan intelektual terkemuka di kemudian hari, baik di lingkungan NU dan pesantren maupun di tataran nasional secara umum, seperti Abdurrahman Wahid, Mustofa Bisri, Tholhah Mansur, Masdar F. Mas’udi, A. Malik Madany, dan lain-lain. Dari keanggotaan redaksinya, para penyumbang tulisan, dan topik-topik yang diangkat, jelas sekali kalau berkala ini menjadi media dialog kalangan pesantren dengan kalangan di luarnya.

Pada 1989 terjadi pergeseran dalam susunan pengelola keredaksian. Nama Abdurrahman Wahid tidak lagi menjadi Wakil Pemimpin Umum, posisinya digantikan M. Nashihin Hasan yang sebelumnya menjabat Pemimpin Redaksi. Sedangkan posisi Pemimpin Redaksi diduduki oleh Masdar Farid Mas’udi yang sebelumnya menjabat Pemimpin Usaha sekaligus Redaktur Pelaksana. Abdurrahman Wahid sendiri kemudian duduk di jajaran Staf Ahli bersama KH Ali Yafie, Soetjipto Wirasardjono, Abdullah Syarwani, Dawam Rahardjo, dan Adi Sasono.?

Berkala Pesantren terbit rutin tiga bulan sekali atau empat edisi dalam setahun hingga tahun 1988. Tapi, sejak 1989, karena faktor pendanaan dan keterbatasan tulisan, jumlah edisi ? menjadi menurun. Pada 1989 hanya terbit tiga edisi, tahun 1990 dua edisi, tahun 1991 tiga edisi, dan tahun 1992 hanya satu edisi, bahkan sejak itu berkala Pesantren tidak pernah muncul lagi.?

Edisi terakhir No. 1/Vol IX/1992 berisi laporan mengenai “Tarekat dan Gerakan Rakyat”. (Hairus Salim HS)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal News, Anti Hoax, Kajian Islam PKB Kab Tegal

Remaja Puteri Madinah Suka Bercerita, Menolak Difoto (1)

Madinah, PKB Kab Tegal

Madinah sebagai kota Rasulullah SAW memiliki ciri khas tersendiri dibanding kota-kota lain di Arab Saudi. Penduduk kota Madinah terkenal sebagai penduduk yang ramah dan mudah akrab. Penduduk di kota Madinah memiliki kebiasaan saling menyapa dan mengucapkan salam ketika bertemu dan berpapasan. Tak heran jika dengan mudah kita dapat akrab bercengkerama dengan penduduk Madinah.



Jangankan para pedagang yang berharap menarik keuntungan materi dari keramahan dengan para pendatang dan peziarah, para penduduk yang berprofesi lain pun memang ramah. Bahkan para asykar dan syurtoh (penjaga dan polisi) di Madinah pun cenderung lebih ramah. Konon, banyak yang bilang keramahan ini karena Madinah senantiasa ditunggui Rasulullah SAW. Dan memang kepercayaan ini masih banyak melekat pada penduduk Madinah.

Remaja Puteri Madinah Suka Bercerita, Menolak Difoto (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Remaja Puteri Madinah Suka Bercerita, Menolak Difoto (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Remaja Puteri Madinah Suka Bercerita, Menolak Difoto (1)

Wisma Haji Indonesia di Madinah yang merupakan kantor pusat urusan haji pemerintah Indonesia di Madinah membuktikan keramahan penduduk Madinah ini, Pagi ini, Rabu 13 Oktober 2010. Wisma haji yang diapit oleh dua Madrasah, membuat halaman depan hampir selalu dipenuhi oleh anak-anak sekolah yang asyik bermain dan bercanda. Pada saat istirahat panjang dan menjelang pulang, anak-anak pelajar Madinah ini selalu bermain-main di taman-taman seputar Wisma.

PKB Kab Tegal

Anak-anak ini berbicara dengan keras dan cepat, meskipun mereka adalah remaja puteri (mungkin memang sudah lahjah/logat anak-anak Madinah berbicara keras). Mereka dapat sekonyong-konyong mengucapkan salam kepada seseorang yang lewat, meskipun misalnya sedang asyik berdebat dengan temannya.  Tentu saja mereka akan segera tanggap membalas salam, bila kita mencoba menyapanya.  Menyebutkan nama dengan riang bila kita mengejaknya berkenalan. Tapi tunggu dulu, jangan pernah mencoba mengulurkan tangan untuk bersalaman, bila lawan bicara kita berbeda jenis.

Bila secara refleks kita mengulurkan tangan saat berkenalan, maka sebelum berkedip, kita akan mendapati mereka telah melenggang meninggalkan pembicaraan, meskipun misalnya bila Anda adalah seorang pria dewasa dan lawan bicara anda hanyalah seorang gadis kecil berumur 8-10 tahun.

PKB Kab Tegal

Ibarat burung-burung merpati selalu menyemarakkan dan meneduhkan suasana kota Madinah, mereka seakan-akan sangat jinak dan menunggu untuk uluran tangan untuk dibelai. Namun  ternyata tidak seperti kelihatannya yang jinak, burung-burung ini akan segera berhamburan beterbangan bila kita melakukan gerakan yang dianggapnya tidak wajar. Mereka tidak akan mau mendekat meskipun kita menyebarkan biji-bijian, tidak lagi mendekat hingga mereka mulai yakin bahwa kita tidak akan menangkapnya. JInak-jinak merpati, biar jinak susah didekati.

Begitupun  gadis-gadis kecil ini, mereka suka bercanda dan berdekat-dekat dengan kita. Menyapa, berbicara dan menanyakan apa saja sesuai keinginan mereka.  Dengan gaya bahasa sesukanya, seakan dianggapnya kita berbicara bahasa Arab sepandai mereka, mereka akan mengatakan keinginan-keinginan dan pertanyaanya dengan cepat dan lantang, sembari seakan tak sabar menunggu jawaban dari kita. Padahal pada saat yang sama, otak kita sedang bekerja keras berusaha memahami apa maksud kata-kata yang keluar beruntun dari mulutnya.

Bila kita mencoba bertanya kepada salah satu dari mereka, saling dorong saling rebut perhatian dan saling adu keras suara pun keluar dari mulut mereka.  dengan sebuah pertanyaan, "Kelas berapa?" Mereka kemudian berlomba-lomba menceritakan suasana di kelasnya masing-masing setelah adu kencang menyebutkan angka yang merujuk pada kelasnya masing-masing.  (min/bersambung)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Meme Islam, AlaNu, Ulama PKB Kab Tegal

LKNU Karanganyar Gelar Khitan Massal dan Donor Darah

Karanganyar, PKB Kab Tegal - Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Karanganyar menggelar aksi sosial sunatan massal dan donor darah di Masjid Muhajirin, Perum Josroyo Indah Jaten, Kabupaten Karanganyar, Ahad (22/1). Aksi sosial ini melibatkan anak-anak kecil setempat sebagai peserta.

Ketua LKNU Karanganyar dr Yaqub Iskandar mengatakan, kegiatan sosial ini merupakan rangkaian dari maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh takmir masjid Muhajirin.

LKNU Karanganyar Gelar Khitan Massal dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Karanganyar Gelar Khitan Massal dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Karanganyar Gelar Khitan Massal dan Donor Darah

"Sunatan masal ini diikuti anak-anak warga sekitar, namun jumlah tidak sesuai target yang direncanakan, mungkin karena waktu yang mendadak dan kegiatan sunatan massal sudah akif sekolah" kata Yaqub kepada PKB Kab Tegal saat dihubungi usai kegiatan.

PKB Kab Tegal

dr Yaqub menambahkan, kegiatan sosial ini pertama kali yang dilakukan oleh LKNU Karanganyar sebagai media dakwah agar lembaga ini dapat dikenal oleh warga Karanganyar.

"Semoga ini menjadi awal langkah LKNU untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat NU khususnya dan masyarakat pada umumnya," harap Direktur Unit Donor Darah (UDD) PMI Karanganyar tersebut. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Budaya, Warta, Berita PKB Kab Tegal