Minggu, 25 Februari 2018

Pesantren, NU, Indonesia

Oleh Binhad Nurrohmat

Sebatang sawo tua menjulang di relung ingatan Fulan. Pohon itu remang di pelataran sebuah pesantren tua di Bendo, Pare, Kediri. Rinai hujan barusan pergi. Aroma tanah menguasai sekujur indera penciuman. Maghrib telah datang. Suasana serupa bauran ketenangan, kesejukan dan wibawa tak terkatakan. Bluk! Sebutir buah sawo rebah di basah tanah.

Ada kulah lebar segiempat di sudut kompleks pesantren -- tempat menampung air wudlu. Sebagian sisinya berlumut tipis dan gelap. Kubus-kubus beton tebal berjajar ke arah masjid seperti batu-batu yang dipijak bergiliran saat menyeberangi sungai. Fulan bertelanjang kaki menapaki kubus-kubus beton itu seusai berwudlu. Satu demi satu.

Seusai wirid shalat Maghrib berjamaah, puluhan santri putra segera duduk membentuk tiga perempat lingkaran di serambi atau bagian depan masjid pesantren. Tanpa suara. Semuanya bersarung dan berkupluk hitam. Di dada mereka terdekap kitab berbahasa Arab. Di tengah lingkaran, ada meja kayu kecil dan alas serupa matras untuk sang kiai yang masih berwirid di mihrab masjid.

Pesantren, NU, Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, NU, Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, NU, Indonesia

Sang kiai berjalan ke arah tengah lingkaran itu. Langkahnya hening. Performanya tampak sepuh dan wibawa. Busananya serba putih. Tak ada santri berani menatapnya. Wajah santri tertunduk semua. Kiai bersila dan segera membacakan isi kitab dengan memberikan artinya kata demi kata. Suaranya teduh dan pelan. Para santri menyimak dan memberi tanda di bawah sejumlah kata dengan ujung pena. Di luar masjid kian remang dan udara menunggu bersama kesenyapan.

Sebagian santri ada yang bersekolah di terang hari. Yang lainnya khusus belajar kitab kuning dan pada terang hari bekerja serabutan atau membantu sang kiai. Mereka berasal dari luar Jawa Timur dan kota-kota beradius seratusan kilometer dari kota Kediri.

PKB Kab Tegal

Tak semua pesantren saat ini terlukiskan serupa itu.

Pesantren merupakan komunitas tempat menimba pengetahuan agama dan membentuk kepribadian yang saleh. Semua penggagas, pendiri dan pemuka Nahdlatul Ulama (NU) hingga hari ini pernah tertempa kehidupan pesantren. Sebagian bahkan mengasuh pesantren hingga akhir hayat.

Boleh dipastikan NU tak pernah ada tanpa pesantren. Basis keutamaan NU adalah kalangan pesantren. Pengetahuan dan pribadi kalangan ini memberi warna utama organisasi ini. Puncak-puncak pesantren berkontribusi kepada NU melalui pengetahuan dan kepemimpinan.

PKB Kab Tegal

Berubahnya pesantren akan tercermin pula kepada rona organisasi NU. Dinamika kehidupan banyak yang tak bisa dielak oleh pesantren dan NU di tataran lokal, nasional maupun global. NU lahir menanggapi dinamika keberagamaan di semua tataran. Situasi gerak transnasional ajaran agama yang kaku yang merebak ke seluruh penjuru dunia sejak paruh pertama abad XX turut membenihkan kelahiran NU untuk menghadangnya. Juga menyikapi liberalisasi dalam keagamaan. Yang kaku dan yang liberal adalah dua kubu yang sama-sama bergesekan dengan tradisi-tradisi masyarakat yang memeluk Islam sebagai agama. NU berposisi tidak di kedua kubu itu.

Itulah barangkali yang melantari NU menerima negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini bukan sebagai negara agama. Teokrasi. Juga bukan negara yang total sekuler. Ketuhanan adalah dasar negara yang pertama di negara ini. "Believe in God", kata Soekarno ketika pidato di podium PBB.

NU telah berendah hati kepada bangsa ini. Tak memaksakan kehendak dan tak membiarkan ada yang mendesakkan kehendak kepada dirinya. NU keluar dari Masyumi yang Islamis dan tak mengapresiasi Muslim tradisionalis. Juga Pancasila secara resmi NU terima sebagai azas tunggal yang tak bertentangan dengan NU. NU bukanlah azas, melainkan tujuan-tujuan.

Peta lama belum berubah. Kekakuan dan keliberalan menghimpit eksistensi NU. Antara Arab dan Barat dulu dan kini NU memosisikan eksistensi. Bukan soal sikap moderat atau bukan moderat. NU lebih ingin bersikap yang tepat dalam kompleksitas nasional dan global. Dulu dan sekarang. Ini sungguh tak gampang. NU bukan semata keagamaan. NU juga komitmen kepada kebangsaan, keindonesiaan.

Sebatang sawo bertahan di pelataran pesantren di Bendo, Pare, Kediri. Batangnya berlumut dan daunnya rimbun meneduhkan. Pohon itu dijaga bukan sebagai sesembahan. Entah sudah berapa butir buahnya ternikmati dari generasi ke generasi.

Di Kediri pada paruh kedua abad kemarin, kala itu belum sebesar sekarang pohon sawo itu, ada suatu kekuatan ideologi kiri dari Eropa TImur hendak memaksakan kehendaknya. Namun gagal. Ideologi-ideologi yang lain kini bergerilya ke banyak penjuru. Dari Asia Barat dan Amerika Utara. Ada yang teokratis dan liberal. Ada pula yang bukan keduanya.

Fulan bernaung di bawah rindang sawo itu pada suatu malam. Ada daun jatuh di sisinya. Pada raut lembaran daun itu terbaca waktu yang layu. Daun-daun lain bertahan di dahan. Bertahan di dahan bersama pohon besar menjulang di bawah langit berbintang.

Penulis adalah pegiat sastra, tinggal di Jombang, Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Khutbah PKB Kab Tegal

Tiga Nasihat Jibril untuk Umat Nabi Muhammad SAW

Surabaya, PKB Kab Tegal - Ustadz Thohir, khotib Jumat di Masjid Rumah Sakit Islam Jemursari, Surabaya, Jumat (4/8) menyampaikan tiga pesan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Mengutip kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Banten, ia menyampaikan tiga pesan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad yang sebenarnya ditujukan kepada umat akhir zaman.

Pertama Hiduplah sesukamu Muhammad, tapi ingatlah engkau akan mati. "Kita diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, kita mau beribadah atau maksiat itu pilihan. Tapi ingat kita akan mati," terang Ustadz Thohir dengan suara lirih.

Tiga Nasihat Jibril untuk Umat Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Nasihat Jibril untuk Umat Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Nasihat Jibril untuk Umat Nabi Muhammad SAW

Dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 35, Allah SWT mengatakan setiap orang yang bernafas, pastilah akan mengalami kematian. Semua orang itu pasti akan mati. "Dengan mengingat mati, dia akan ingat dua jalan yakni surga dan neraka. Kita dibebaskan untuk memilih," terangnya.

PKB Kab Tegal

Nasihat kedua. Cintailah siapapun dengan sesukamu tapi ingatlah kau akan dipisahkan. "Kita diberi kebebasam untuk mencintai siapa saja, tapi suatu saat kita akan berpisah," lanjutnya.

Perpisahaan itu sungguh menyakitkan. Jika tidak, maka Rasulullah tidak akan menangis saat ditinggal mati oleh Sayidah Khadijah. Sungguh berpisah itu sangat menyakitkan. Berpisah bisa karena kematian atau pengkhiatanan.

PKB Kab Tegal

Pepatah mengatakan, cintai kekasihmu biasa saja karena suatu saat ia akan menjadi musuhmu. Begitu juga sebaliknya, bencilah musuhmu biasa saja, suatu saat ia akan menjadi kekasihmu.

Pesan ketiga. Berbuatlah sesukamu, tapi ingatlah setiap perbuatan pasti ada balasannya. Pesan ini mengingatkan setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan pula. Begitu juga sebaliknya. Barangsiapa yang menanam benih, pasti dia akan menuai hasilnya.

"Iya kalau balasan itu dibalas saat kita masih muda. Tapi kalau balasan itu di masa tua kita, sungguh penyesalan atau kesenangan yang akan kita terima," pesan sang khotib sebelum mengakhiri khutbahnya. (Rof Maulana/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kajian, Fragmen PKB Kab Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

Simbol Pesantren dan NU di Stadion Sepak Bola

Bandung, PKB Kab Tegal 



Ketua Umum PBNU KH Said Siroj menyebutkan beberapa nilai positi sepak bola, di antaranya adalah memperkuat watak santri yang telah ditanamkan di pesantren. Salah satunya tidak boleh memiliki sikap egois.

Simbol Pesantren dan NU di Stadion Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
Simbol Pesantren dan NU di Stadion Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

Simbol Pesantren dan NU di Stadion Sepak Bola

Di dalam sepak bola, kata dia, santri harus bisa bekerja sama dengan santri lainnya. Mereka harus membangun teamworking yang sehat untuk kemenangan bersama. 

Tak hanya itu, Kiai Said bersyukur, karena adanya Liga Santri Nusantara simbol-simbol NU dan pesantren terbawa ke stadion.

“Alhamdulillah karena adanya Liga Santri, Shalawat Badar, Ya robbi bil mustofa, Ya Lal Wathon ada di lapangan sepak bola. Enggak ada itu sebelumnya, enggak ada itu,” tegas kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak itu. 

PKB Kab Tegal

Bahkan, bait-bait kitab Alfiyah Ibnu Malik yang menjadi hafalan para santri dinyanyikan pendukung kesebelasan dari tribun. Mereka tidak mencaci pemain atau pendukung lawan, tapi fokus pada cara mendukung timnya.  

Lebih dari itu, penonton, pemain dan penyelenggara Liga Santri melaksanakan Shalat Berjamaah Maghrib di area atletik di stadion Gelora Bandung Lautan Api Ahad (29/10), sebelum Grand Final Liga Santri Nusantara 2017 di kota kembang Bandung.

PKB Kab Tegal

Tentang hal itu, Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama KH Abdul Ghofarrozin mengatakan, hal itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa Liga Santri Nusantara berbeda dengan liga-liga yang lain. 

Sistem permainannya sama, sebagaimana sepak bola pada umumnya, tapi watak-watak pesantren ditekankan untuk dibawa ke lapangan. Misalnya menghormati keputusan wasit. Di lapangan, wasit diperlakukan sebagai kiai yang harus dipatuhi. Harus bersikap sportif dan tidak gampang emosi. 

Pada gelaran Grand Final Liga Santri 2017, Direktur Kompetisi dan Pertandingan LSN, M. Kusnaeni menyatakan, dua pesantren harus bangga bermain di stadion kebanggaan masyarakat Jawa Barat, Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). 

“Ini stadion yang digunakan Persib Bandung di Liga Satu,” katanya. 

Liga Santri Nusantara mulai digelar pada 2015 oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Tahun berikutnya dan tahun ini Kemenpora menggandeng RMINU sebagai penyelenggara. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Internasional, Hadits PKB Kab Tegal

Pesantren Tambakberas Berburu Bukti Sejarah

Jombang,PKB Kab Tegal

Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) yang lebih akrab disebut Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur akan melangsungkan gawe besar yakni peringatan seabad madrasah dan 191 tahun pesantrennya. Untuk menyambut itu kepanitiaan mengupayakan pusat dokumentasi atau museum.

Pesantren Tambakberas Berburu Bukti Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tambakberas Berburu Bukti Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tambakberas Berburu Bukti Sejarah

"Kami terus berburu testimoni atau pengakuan dari para pelaku sejarah, dalam hal ini siapa saja yang mengetahui kiprah pesantren di masa awal," kata divisi dokumen, H Muhyiddin Zainul Arifin, Sabtu (26/3).

Bersama panitia yang lain, H Muhyiddin melakukan serangkaian wawancara dan pencarian dokumen demi mengukuhkan keberadaan dan kiprah para pendahulu maupun pesantren. "Sejumlah sesepuh yang masih bisa diajak komunikasi terkait kiprah para pendahulu pesantren satu demi satu kami datangi," katanya. Demikian pula dokumen yang membenarkan usia madrasah serta sejumlah barang penting dari para pengasuh masa awal juga terus diupayakan.

PKB Kab Tegal

"Bahkan ada piagam yang berhasil ditemukan panitia yang menerangkan bahwa usia madrasah ternyata lebih tua dari data yang dimiliki panitia," terang dosen di Universitas KH Abdul Wahab Chasbullah atau Unwaha Jombang ini. Demikian pula benda bersejarah yang pernah dimiliki para pendahulu pesantren turut diinventarisir, lanjutnya.

Sebagai langkah awal dan berdasarkan masukan saat koordinasi dengan anggota devisi telah disepakati untuk menggali data dari para putra dan putri pengasuh. "Para panitia sudah kami bagi agar bisa menyebar ke sejumlah dzurriyah atau keluarga pesantren," katanya. Karena dari para keluarga dalem tersebut nantinya akan muncul temuan baru atau bahkan rekomendasi siapa saja yang layak untuk dikonfirmasi terkait kiprah para pendahulu pesantren.

PKB Kab Tegal

"Kami akan mengumpulkan sebanyak mungkin pandangan dan pengakuan hingga barang bersejarah dari berbagai kalangan sebagai upaya untuk mengungkap kiprah para sesepuh dan pendahulu," ungkapnya. Beberapa keluarga juga tidak berkeberatan berbagi koleksi foto dan benda pusaka yang nantinya akan dipamerkan. "Tidak menutup kemungkinan, foto dan dokumen serta benda bersejarah tersebut belum terpublikasi," lanjutnya.

Terhadap pihak yang tidak berkenan untuk menyerahkan benda bersejarah yang ada kaitannya dengan pesantren dan para pengasuh, divisi ini tidak akan memaksa. "Kami bisa menggunakan kamera atau scan agar bisa mendapatkan materi yang ada," jelasnya. Dan nantinya seluruh koleksi tersebut akan dipamerkan di Gedung Serba Guna KH Abdullah Said dari tanggal 27 hingga 2 Juni.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pesantren Tambakberas yang didirikan tahun 1825 oleh salah satu pasukan Pangeran Diponegoro yang membentengi Jawa yakni Abdussalam yang lebih populer dengan nama Mbah Saichah akan memperingati ulang tahun. Dan di pesantren yang mulai mengenalkan model madrasah secara klasikal tahun 1915 ini juga mengadakan sejumlah kegiatan dari mulai 26 April hingga 4 Juni mendatang. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul Ulama, Tegal, Aswaja PKB Kab Tegal

Memaknai Reformasi Sosial Arab Saudi

Pemerintah Saudi Arabia baru-baru ini melakukan sejumlah kebijakan yang akan mengubah kondisi sosial secara mendasar. Perempuan yang sebelumnya dilarang menyetir mobil sendirian, dalam waktu dekat akan diizinkan untuk menyetir sendiri. Ini merupakan kebijakan yang menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat Saudi. Di seluruh dunia, hanya di negeri itulah wanita dilarang menyetir mobil sendirian. Perempuan juga sudah mulai diizinkan masuk stadion olahraga dengan menempati sebuah area khusus. Hal lainnya adalah, mulai adanya perempuan yang menjadi deputi wali kota. 

Perubahan kebijakan di negeri yang sebelumnya sangat konservatif dalam memaknai ajaran Islam ini akan berdampak pada mobilitas sosial kaum perempuan. Kaum hawa akan memiliki ruang lebih besar untuk berekspresi di ranah publik dan meningkatkan partisipasinya dalam sejumlah peran-peran yang sebelumnya tertutup. Di masa yang akan datang, mungkin saja diluncurkan kebijakan yang lebih memberi ruang bagi perempuan untuk mengaktualisasikan kapasitasnya atau reformasi lainnya yang mengarah pada pemaknaan ajaran Islam yang lebih moderat. 

Memaknai Reformasi Sosial Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Memaknai Reformasi Sosial Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Memaknai Reformasi Sosial Arab Saudi

Kelahiran kerajaan Arab Saudi merupakan hasil persekutuan antara ulama konservatif Abdul Wahab dengan klan Ibnu Saud. Tak heran, ulama memiliki peran penting dalam penentuan sejumlah kebijakan di negeri kaya minyak ini. Tapi dengan sejumlah perubahan dunia seperti penurunan harga minyak yang merupakan tulang punggung perekonomian Saudi, tak ada pilihan bagi Saudi untuk bisa terus berkembang atau bahkan sekedar bertahan, kecuali dengan melakukan sejumlah perubahan kebijakan yang pada akhirnya harus menyentuh aspek sosial negeri tersebut agar reformasi tersebut bisa berjalan dengan lancar. Kebijakan tersebut adalah Visi 2030.

Apa yang terjadi di Arab Saudi juga mempengaruhi dinamika pergerakan Islam di kawasan lain, termasuk di Indonesia mengingat Saudi merupakan salah satu sumber rujukan ajaran Islam. Berkembangnya wajah Islam konservatif yang beberapa tahun belakangan ini terjadi di Indonesia salah satunya merupakan hasil dari perluasan wahabisme melalui alumni Saudi yang kembali ke Indonesia. Mereka mendirikan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan, serta rajin menyampaikan gagasannya melalui ceramah d muka publik, di internet, juga merambah media sosial. Wacana yang mengemuka terhadap sejumlah masalah agama seperti isbal, maulid nabi, sampai dengan jenggot, yang sebelumnya sudah meredup itu merupakan akibat dari pertarungan ide tersebut.

Jika Saudi lebih moderat dalam penafsiran terhadap ajaran-ajaran agama, maka para pengikut wahabisme di sejumlah negara kemungkinan juga akan menyesuaikan pendapatanya. Jika Saudi melihat Islam dalam perspektif ke depan, bukan tekstual dan berorientasi masa lalu, maka akan lebih mudah bagi dunia Islam untuk mengarahkan tujuan besarnya guna mencapai kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perdebatan sejumlah persoalan khilafiyah yang sudah berlangsung berabad-abad telah menguras energi lebih mudah untuk dicarikan titik temu.

PKB Kab Tegal

Sesungguhnya umat Islam memiliki sumberdaya yang luar biasa yang bisa digunakan menjadi modal untuk kemajuan dan kesejahteran umat. Sayangnya, modal yang sangat berguna tersebut dihabiskan untuk hal-hal yang kurang substansial. Gaya hidup para pengeran yang berfoya-foya dengan limpahan alam yang diberikan menyebabkan tak banyak capaian yang diraih dibandingkan dengan potensi yang dimiliki. Penyelesaian masalah dengan pendekatan militer yang terjadi di negera-negara kaya minyak di Timur Tengah bukan hanya menyia-nyiakan potensi yang dimiliki, bahkan merusak peradaban yang sudah ada. 

Perilaku yang lebih rasional dalam mengelola kekayaan negara di Timur Tengah yang mulai terlihat seperti di Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Mereka melakukan investasi hasil kekayaan minyaknya pada hal-hal yang lebih produktif agar saat minyak sudah berkurang atau habis, mereka bisa tetap bertahan. Kebijakan ini mulai dicontoh oleh negara-negara teluk lainnya. Ini akan berdampak baik bagi kehidupan umat Islam secara umum. 

Semoga saja, reformasi ekonomi dan sosial yang kini berlangsung di Arab Saudi tersebut bisa berjalan dengan lancar. Jangan sampai pengalaman reformasi politik dalam Musim Semi Arab yang ternyata gagal bahkan menimbulkan permasalahan serius yang hingga kini belum terselesaikan. Umat Islam seluruh dunia berkepentingan akan stabilitas Saudi Arabia mengingat negera tersebut menjadi pelindung dari dua kota suci umat Islam, Makkah dan Madinah. (Ahmad Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Fragmen PKB Kab Tegal

Pelajar NU di Cianjur Menulis Islam yang Ramah

Cianjur, PKB Kab Tegal. Nahdliyyin Nusantara (Nahnu) memfasilitasi pelatihan jurnalistik dan pemanfaatan sosial media yang rahmatan lil alamin di pesantren Al-Huda, Al-Musri, Ciranjang, Cianjur, Sabtu-Ahad (6-7/9). Ketua Inspirasi Desa Nusantara Zainul Munasihin hadir sebagai narasumber dalam pelatihan dengan 100 peserta yang terdiri atas pelajar MTs, MA, dan anggota Nahnu Jabar.

Seknas Nahnu Miftakhul Aziz dalam sambutannya mengatakan pentingnya para pemuda NU memanfaatkan teknologi informasi. "Nahnu menginginkan pemuda-pemudi Nahdliyyin dan remaja masjid berkembang di tengah kemajuan teknologi informasi," kata Aziz, Ahad (7/9).

Pelajar NU di Cianjur Menulis Islam yang Ramah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU di Cianjur Menulis Islam yang Ramah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU di Cianjur Menulis Islam yang Ramah

Semua kegiatan anak-anak muda NU, menurut Aziz, harus diisi dengan kegiatan positif dan produktif. Dengan berbekal silaturahmi, Nahnu akan terus bergerak ke arah itu, tandas Aziz.

PKB Kab Tegal

Salah seorang pengasuh pesantren Al-Huda KH Dede Basri mendukung gerakan Nahnu. Pesantren, menurut kiai yang lazim dipanggil Gus Basri ini, tidak boleh dibatasi hanya sekadar tempat pendidikan Islam.

PKB Kab Tegal

"Pesantren juga medan perjuangan Islam," Gus Basri mengingatkan dalam sambutannya.

Santri harus berperan aktif menyuarakan Islam rahmatan lil alamin di mana berada, termasuk dalam media sosial. “Santri harus ambil bagian terdepan memproduksi konten Islam rahmatan lil alamin guna membendung wacana Islam garis keras yang selama ini banyak sekali mengisi media sosial,” pungkas Gus Basri. (Nashr Fanie/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Lomba, Kyai, Internasional PKB Kab Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

Saifullah: Ansor Jangan Terlibat Konflik Elit Parpol

Kebumen, PKB Kab Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Saifullah Yusuf menegaskan, seluruh kader GP Ansor hendaknya tidak melibatkan diri dalam konflik elit partai politik, terlebih jika mengarah pada aksi kekerasan.

"Kader Ansor jangan melibatkan diri dalam konflik elit parpol, apalagi jika mengarah pada tindak kekerasan," kata Gus Ipul, panggilan akrab Saifullah Yusuf, saat melantik kepengurusan Pimpinan Cabang Ansor Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Minggu (25/3).

Gus Ipul lantas mencontohkan kasus "penyerbuan" Gedung Graha Astranawa, Surabaya, Jumat (23/1) lalu oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai kader PKB karena di dalam gedung itu sedang berlangsung rapat persiapan deklarasi Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).

Saifullah: Ansor Jangan Terlibat Konflik Elit Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)
Saifullah: Ansor Jangan Terlibat Konflik Elit Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)

Saifullah: Ansor Jangan Terlibat Konflik Elit Parpol

Yang memprihatinkan, kata Gus Ipul, baik kader PKB yang menyerang maupun kader PKNU yang diserang sama-sama anggota keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU).

"Saya berharap yang terlibat peristiwa itu bukan kader Ansor atau Banser. Saya juga meminta agar ke depan kader Ansor dan Banser tak terlibat atau dilibatkan dalam kasus-kasus seperti ini," katanya.

Dikatakannya, sebagai organisasi kader, Ansor tidak memaksa kadernya untuk berafilisasi pada partai politik tertentu. Kader Ansor bebas memilih dan bergabung dengan partai politik apa saja.

PKB Kab Tegal

"Tapi hendaknya perbedaan afiliasi politik tidak menjadikan kita bermusuhan satu sama lain, apalagi hingga melakukan kekerasan," kata Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Partai PPP tersebut.

Saifullah yang juga Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal lebih lanjut mengatakan, sangat tidak elok jika di dalam situasi yang serba sulit sekarang ini rakyat disuguhi dengan pertikaian antarpartai politik.

PKB Kab Tegal

"Semestinya partai politik memberi solusi bagi kondisi saat ini, bukan menyuguhi rakyat dengan pertikaian, apalagi ekerasan," katanya.

Sebelumnya, belasan massa yang membawa bendera PKB dan Garda Bangsa (PKB pro-Gus Dur dan Muhaimin Iskandar) menyerbu Graha Astranawa dan mencabuti sejumlah bendera yang berkibar di pagar gedung itu, di antaranya bendera PKB, Banser, dan GP Ansor.

Massa sempat dihadang Komandan Satuan Tugas (Satgas) PKB pro-Choirul Anam, Halim, namun pimpinan Satgas itu justru dipukuli hingga mulut dan hidungnya tampak berdarah.

Bentrok "berdarah" itu mengundang puluhan peserta rapat persiapan deklarasi PKNU di lantai dua Graha Astranawa pun turun untuk membantu Halim yang dikeroyok massa itu.

Adu mulut sempat terjadi dan puluhan massa itu pun mengusir belasan massa yang melakukan penyerangan itu sampai akhirnya belasan mereka pun membubarkan diri. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ulama, Nusantara PKB Kab Tegal