Minggu, 28 Januari 2018

Pesantren Al-Nahdlah Tawarkan Beasiswa untuk Pelajar Timor Leste

Depok, PKB Kab Tegal. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok, menawarkan beasiswa kepada pelajar Timor Leste yang berminat menempuh pendidikan di Al-Nahdlah Islamic Boarding School. Hal ini disampaikan Kepala Madrasah Aliyah Al-Nahdlah Abdullah Mas’ud, saat menerima kunjungan delegasi Timor Leste Coalition for Education (TLCE), di Pesantren Al-Nahdlah, Depok, Rabu (26/10). ?

Pesantren Al-Nahdlah Tawarkan Beasiswa untuk Pelajar Timor Leste (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Nahdlah Tawarkan Beasiswa untuk Pelajar Timor Leste (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Nahdlah Tawarkan Beasiswa untuk Pelajar Timor Leste

“Kalau ada anak Timor Leste yang mau sekolah di sini, kami akan terima dengan senang hati dan juga akan kami berikan beasiswa sampai lulus sekolah," tegas pria yang juga Wakil Ketua LAZISNU ini di hadapan Presiden TLCE Augusto Pires, dan rombongan.

Dalam pidatonya, Kepala Madrasah Aliyah Al-Nahdhah, menyambut baik kunjungan pegiat pendidikan dari Timor Leste ini. Ia bercerita bahwa para pendiri pesantren dan madrasah Al-Nahdlah sama seperti aktivis TLCE. Para pendirinya adalah para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang juga fokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, lalu mereka bertekad mendirikan lembaga pendidikan. ?

Masud juga bercerita bahwa pesantren Al-Nahdhah kini telah berusia 10 tahun. Para alumninya sudah tersebar di berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan swasta favorit, seperti di ITB, UI, ITS, IPB, Unair, Unpad, Undip bahkan di UNRI dan STAN. Pesantren ini menampung siswa dari seluruh Indonesia, sehingga para siswa tidak hanya dari Jakarta dan Pulau Jawa saja. Banyak juga siswa yang berasal dari luar Jawa seperti Papua, Manado, Makassar, Lampung, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Presiden Timor Leste Coalition for Education (TLCE) Augusto Pires, menyampaikan bahwa kunjungannya ke Indonesia adalah untuk studi banding tentang kebijakan pendidikan di Indonesia dan juga implementasinya. Pendidikan di Timor Leste masih menghadapi sejumlah masalah, terutama kekurangan tenaga pendidik yang berkualitas.?

PKB Kab Tegal

“Kita perlu banyak belajar tentang pengelolaan kebijakan pendidikan kepada Indonesia, yang jelas lebih maju,” tukas Augusto Pires.

Augusto Pires menambahkan pendidikan di pesantren sudah terpadu dan patut ditiru. Di pesantren, tersedia semua jenjang pendidikan, mulai dari dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Apalagi tempat tinggal siswa dan ketersediaan gizinya juga sudah terprogram dengan baik dengan model asrama.

PKB Kab Tegal

“Model pendidikan yang terintegrasi seperti ini perlu diterapkan di Timor Leste,” katanya

Delegasi Timor Leste ini datang ke Indonesia atas fasilitas Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Abdulah Ubaid, Koordinator Nasional JPPI mengatakan, delegasi ini ingin belajar dari sistem pendidikan 24 jam yang diterapkan pesantren.?

“Karena itu, mereka kami antar ke pesantren Al-Nahdhah yang juga menyelenggarakan pendidikan formal Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah ini,” terang Ubaid.?

Selain ke pesanten, delegasi Timor Leste ini juga berkunjung ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, untuk berdiskusi terkait dengan kebijakan pendidikan di Indonesia. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Tegal, PonPes, Nusantara PKB Kab Tegal

Pelajar NU Nganjuk Digembleng di Aswaja Camp

Nganjuk, PKB Kab Tegal



Ratusan pelajar dari MA, SMA dan SMK se-Kabupaten Nganjuk antusias mengikuti salah satu rangkaian acara menyambut Hari Santri yakni Aswaja Camp II. Acara ini digelar di Lapangan Retjo Banteng, Babadan, Patianrowo, Nganjuk pada 09-10 Oktober 2016.?

Aswaja Camp merupakan acara penanaman ajaran dan doktrin keaswajaan yang dikemas dalam bentuk perkemahan, sehingga disukai para pelajar.

Pelajar NU Nganjuk Digembleng di Aswaja Camp (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Nganjuk Digembleng di Aswaja Camp (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Nganjuk Digembleng di Aswaja Camp

Acara yang dibuka oleh Bapak Wakil Bupati Nganjuk, Abdul Wahid Badrus ini sempat diguyur hujan, namun tidak mematahkan semangat para peserta seantero Nganjuk untuk tetap melaksanakan pembukaan.?

Dalam Aswaja Camp II ini kegiatan dibagi menjadi tiga segmen yaitu gemblengan kader penggerak Aswaja, amaliyah Aswaja dan kompetisi Aswaja.?

Aswaja Camp II merupakan agenda gabungan dari LDNU, Aswaja Centre NU, FKPP Brajamusti, IPNU, IPPNU, dan BEM STAIM yang dimaksudkan untuk menggiatkan kesadaran akan pentingnya mempelajari Aswaja sejak dini.?

PKB Kab Tegal

Wahyu Irvana selaku Komandan DKC CBP IPNU Nganjuk sekaligus SC kegiatan menuturkan bahwa Aswaja Camp ini penting untuk mengenalkan ajaran dan amaliyah Aswaja kepada pelajar tingkat remaja, agar tidak mudah terjebak dengan doktrin-dotrin radikalisme, ekstrimisme, hedonisme, liberalism, dan komunisme. Acara dikemas dengan berbagai kegiatan yang menarik agar nilai-nilai keaswaja-an diharapkan lebih mengena dan berkesan. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Fragmen PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal

Pelajar NU Mijen Terus Rekrut Kader Baru

Demak, PKB Kab Tegal. Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU kecamatan Mijen kabupaten Demak kembali melakukan rekrutmen kader. Pengurus pelajar NU Mijen menyamakan visi dan misi kader barunya melalui Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) selama dua hari, Sabtu-Ahad (12/13/9) di MA Al-Ittihad, Mijen, Demak.

Peserta merupakan perwakilan sekolah dan madrasah tingkat atas yang berada di Mijen. Sebanyak 43 pelajar mengikuti kaderisasi IPNU-IPPNU yang bertema “Aktifkan Diri, Kembangkan Potensi, dan Raih Prestasi Melalui Organisasi”.

Pelajar NU Mijen Terus Rekrut Kader Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Mijen Terus Rekrut Kader Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Mijen Terus Rekrut Kader Baru

“Semoga Makesta ini menghasilkan kader-kader baru IPNU-IPPNU yang benar-benar berkualitas sesuai kebutuhan organisasi. Sehingga keberadaan IPNU-IPPNU sebagai wadah menyerap aspirasi pelajar NU bisa berjalan maksimal,” kata Ketua IPNU Mijen Miftakhurrohman.

PKB Kab Tegal

Sementara Ketua IPNU Demak Abdul Halim mengajak semua kader dan pengurus IPNU-IPPNU di semua tingkatan agar mengutamakan menjaga aset kader yang sudah ada, agar tetap tumbuh subur serta berkembang, beberapa program kerja yang kiranya perlu segera direalisasikan.

“Mari laksanakan agar terselesaikan. Proses regenerasi harus senantiasa berjalan, kami harap peserta Makesta diinventarisir dan ada tindak lanjut agar semua konsisten untuk terus berproses di IPNU-IPPNU," kata Halim.

PKB Kab Tegal

Wakil Ketua IPPNU Demak Inayati berharap semua semangat untuk terus belajar berjuang bertaqwa dan jaga kesucian niat ajarkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

Tampak hadir pada kaderisasi ini Ketua MWCNU Mijen KH Imam Suyono, pihak Madrasah Aliyah Al-Ittihad K Suyono, Rekanita Sumiyati perwakilan IPPNU Demak, dan jajaran tim kaderisasi IPNU Demak. (Syafii Chudlori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Doa PKB Kab Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Aswaja dan NKRI Terancam, Diperlukan Komite Hijaz Baru

Surabaya, PKB Kab Tegal - Reformasi tidak hanya membawa angin perubahan positif, tapi juga memunculkan ancaman khususnya bagi keberadaan Ahlussunnah wal Jamaah Nahdlatul Ulama atau Aswaja NU. Tantangan ini harus dijawab dengan kemunculan Komite Hijaz Baru.

"Angin reformasi yang terjadi ternyata tidak semata memberikan perubahan yang baik bagi situasi di negeri ini," kata KH Abdurrahman Navis. Justru dengan reformasi itu pula, mulai banyak aliran dan ideologi yang kalau dibiarkan akan mengancam eksistensi ajaran Aswaja NU, bahkan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI, lanjut Kiai Navis, sapaan akrabnya.

Aswaja dan NKRI Terancam, Diperlukan Komite Hijaz Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja dan NKRI Terancam, Diperlukan Komite Hijaz Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja dan NKRI Terancam, Diperlukan Komite Hijaz Baru

Peringatan tersebut disampaikan Direktur PW Aswaja NU Center Jawa Timur ini saat memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi Dauroh Aswaja Internasional yang berlangsung, Ahad (13/3).

PKB Kab Tegal

Kiai Navis kemudian menyebutkan kemunculan ideologi transnasional yang datang dari berbagai negera seperti Syiah, Wahabi, Salafi dan sebagainya yang hingga kini semakin menggerogoti Aswaja NU di sejumlah kawasan. Demikian pula kemunculan aliran ekstrem kanan dan kiri yang mengiringi kehadirannya di negeri ini. "Belum lagi lahirnya aliran baru di sejumlah daerah yang turut memperkeruh keadaan," ungkap Kiai Navis.

PKB Kab Tegal

Sejumlah aliran dan ideologi tersebut tidak lagi secara sembunyi menyerang Aswaja NU. "Mereka bahkan terang-terangan membidahkan bahkan mengatakan kafir kepada kelompok yang tidak sejalan dengan kepercayaannya," kata kiai yang juga Wakil Ketua PWNU Jatim ini.

Kalangan yang kerap mengafirkan amaliyah para salafus shalih tersebut sudah merambah di banyak lini. "Dari mulai lembaga pendidikan dan tempat ibadah di sekitar kita," katanya di hadapan ratusan peserta dauroh.

Karenanya tidak ada pilihan lain bagi NU, kecuali meneguhkan dan membentengi akidah Aswaja dalam diri, keluarga, dan masyarakat.

"Dibutuhkan Komite Hijaz baru agar keberadaan Aswaja semakin teguh dan dapat membentengi dari sejumlah ancaman yang ada," tegasnya.

Lewat dauroh yang dikuhususkan kepada para putra kiai yakni gus atau gawagis ini maka akan ada tindaklanjut yang bisa dilakukan di masing-masing pesantren. "Bisa dengan mengadakan dauroh di pesantren maupun madrasah dan sekolah agar materi keaswajaan dapat semakin dioptimalkan," ujarnya.

Bagi Pengasuh Pesantren Nurul Huda Sencaki Surabaya ini, menjaga dan meneguhkan Aswaja sebagai bagian dari upaya menyelamatkan warisan para pendiri NU. "Kita rawat dan jaga warisan KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan muassis NU yang lain," pungkasnya.

Dauroh Aswaja Internasional lil Gawagis se-Jatim ini menghadirkan? narasumber KH Marzuki Mustamar, KH Abdurrahman Navis, Ustadz Idrus Ramli, Ustadz Faris Khoirul Anam, Ustadz Maruf Khozin, serta Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini dari Libanon. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Quote, PonPes PKB Kab Tegal

Habib Luthfi Minta Setiap Kajian Aswaja Disertai Dalil

Pekalongan, PKB Kab Tegal. Dalam setiap kajian ajaran Ahlussunnah wal jamaah, narasumber hendaknya jangan membuat rujukan hanya kepada para ulama salafus sholihin saja, seperti Imam Syafii, Hambali, Maliki dan Hanafi. Akan tetapi hendaknya disertai dalil-dalil dari Al-Quran dan Hadits, sehingga peserta kajian menjadi paham apa yang diamalkan oleh warga NU bukan merupakan perbuatan bidah.

Habib Luthfi Minta Setiap Kajian Aswaja Disertai Dalil (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Minta Setiap Kajian Aswaja Disertai Dalil (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Minta Setiap Kajian Aswaja Disertai Dalil

Demikian disampaikan Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya saat memberikan tausiyah di hadapan ratusan peserta kajian rutin Aswaja di Masjid Al Jami Kauman, Kota Pekalongan, Sabtu (19/5) malam.

Dikatakan, peserta harus kita yakinkan bahwa amaliyah NU adalah benar sesuai yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW dan bukan karangan para ulama yang menurut mereka dianggap bidah.

PKB Kab Tegal

Menurut Habib Luthfi, majelis ini sangat penting untuk mengkaji secara mendalam tentang aswaja, agar para generasi penerus NU tidak buta tentang sejarah dan dasar amaliyah NU. Pasalnya, saat ini banyak anak anak NU yang tidak paham apa itu aswaja, sehingga mudah goyah jika ada kelompok lain yang dengan mudahnya merongrong akidah anak-anak muda NU.

PKB Kab Tegal

Habib Luthfy berharap kepada yang hadir untuk selalu membawa catatan dan mencatat apa yang telah disampaikan narasumber.

"Hal itu penting dilakukan agar putra putri kita tidak kehilangan tulisan yang sangat penting, karena belum tentu anak-anak kita bisa seperti bapaknya," kata Habib.

"Jika yang hadir hanya menjadi peserta pasif, maka akan ada banyak hal yang tidak diketahui, sehingga ini menjadi tantangan bagi narasumber untuk menjelaskan secara detail setiap hal dengan merujuk pada Al-Quran dan Hadits," tambahnya.

"Kajian Aswaja ini digelar secara rutin oleh Syuriyah PCNU Kota Pekalongan ini."

 

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal News PKB Kab Tegal

Agama Harus Mampu Selesaikan Masalah Kemanusiaan

Jakarta, PKB Kab Tegal. Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), M. Ali Yusuf menyatakan, kerusakan alam telah mencapai titik kritis. Perubahan iklim makin ekstrim dewasa ini. Di seluruh belahan dunia, iklim sudah hampir tidak bias diramalkan lagi. Bencana sudah terjadi di mana-mana.

Hal ini disampaikan oleh Ali Yusuf dalam refleksi dan doa bersama dengan tema “Under One Sky We Will Light The Way on Climate Change” bersama sejumlah pimpinan agama dan lembaga yang concern terhadap isu-isu kemanusiaan di Jakarta, Kamis (24/9). 

Agama Harus Mampu Selesaikan Masalah Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama Harus Mampu Selesaikan Masalah Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama Harus Mampu Selesaikan Masalah Kemanusiaan

Para perwakilan agama berharap agar ada pemecahan bersama untuk sebuah alternatif agar dunia ini bisa menjadi rumah bersama bagi semua umat manusia.

PKB Kab Tegal

“Agama-agama harus mampu menggerakkan umatnya agar segera mengambil tindakan bersama untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan demi keberlangsungan masa depan dunia,” ujar Ali.

Ali menegaskan, dampak dari perubahan iklim telah dirasakan oleh negara-negara, komunitas di seluruh belahan dunia. Dampak perubahan iklim telah merusak sistem dan sektor penting bagi kelangsungan hidup manusia, termasuk sumber daya air, ketahanan pangan dan kesehatan yang juga berdampak pada kemiskinan. Red: Mukafi Niam 

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Nahdlatul Ulama PKB Kab Tegal

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi

Oleh Muhammad Ishom 



“Aku punya gagasan untuk mempertemukan mereka berdua

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi



agar saling isi dengan cerita derita duka lara

Barangkali nanti tumbuh naluri sejati

dan kembali seperti sediakala

PKB Kab Tegal

Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti

Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” (Bait ke-6)

PKB Kab Tegal

Itulah enam baris dari bait terakhir lirik lagu berjudul “Zaman” yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya– Ebiet G. Ade–dan dirilis pada tahun 1986. Apa yang dimaksudkan Ebiet dengan frasa “mereka berdua” pada baris pertama di atas tak lain adalah bencong dan tomboi sebagaimana terdapat dalam judul tulisan ini meski Ebiet tidak menyebut sama sekali dua istilah itu di dalam lirik lagunya. 

Kedua istilah itu telah umum digunakan oleh masyarakat untuk menyebut kelompok orang yang perilaku atau penampilannya tidak cocok menurut kewajaran dengan jenis kelamin yang disandangnya. Mereka yang disebut bencong mungkin sama dengan yang dimaksud gay atau transgender dalam LGBT meski tidak setiap bencong adalah gay atau transgender. Demikian pula mereka yang disebut tomboi mungkin sama dengan yang dimaksud lesbian dalam LGBT meski tidak setiap tomboi adalah lesbian. 

Saat ini orang tengah ramai kembali membicarakan tentang LGBT sehubungan dengan penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap perkara 46/PUU-XIV/2016 yang diajukan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Euis Sunarti bersama sejumlah pihak. Tahun lalu Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta para lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dihukum penjara maksimal 5 tahun. 

Penolakan itu telah dipahami sebagian kalangan di sejumlah postingan di media sosial bahwa MK telah melegalkan perbuatan zina dan homoseksual. Pemahaman sekaligus tuduhan ini ditolak oleh Juru Bicara MK Fajar Laksono yang menegaskan Mahkamah tidak melegalkan perbuatan seksual sejenis (Kompas.com, 18/12/2017, 20:15 WIB).

Namun, tulisan ini tak dimaksudkan untuk membicarakan polemik tentang LGBT dari berbagai perspektif karena penulis hanya sekedar ingin mengingat kembali bahwa tiga puluh satu (31) tahun lalu seorang penyanyi sekali pencipta lagu–Ebiet G. Ade–telah menyodorkan sebuah gagasan untuk mencarikan solusi terhadap fenomena bencong dan tomboi yang masing-masing bisa masuk dalam kategori gay atau transgender dan lesbian.

Sejauh yang bisa saya tangkap dari lirik lagu “Zaman” secara keseluruhan, Ebiet G. Ade berpikir bahwa bencong dan tomboi dapat dipertemukan dalam ikatan perkawinan sebab mereka yang secara fisik laki-laki tetapi secara seksual tertarik kepada sesama jenis sebenarnya juga menyadari ketidak wajarannya. Mereka bahkan tak menghendaki hal itu terjadi sehingga selalu menangisi nasibnya. Akhirnya mereka sampai pada pertanyaan mendasar apakah hal itu berdosa. 

Pikiran Ebiet G. Ade tersebut sebagaimna dapat kita simak pada bait ketiga sebagai berikut: 

Ia bersembunyi menyimpan tangis yang tak kuasa dibendung

Ia jatuh cinta namun keburu sadar itu tak wajar

Tanda tanya bergolak di dalam fikirannya, “Berdosakah?”

Sedang ia pun tak menghendaki

Siapa gerangan yang dapat membantu menjawabnya? (Bait ke-3)





Pada baris terkahir dari bait ini Ebiet G. Ade mengajukan pertanyaan siapa gerangan yang dapat membantu menjawab pertanyaan dari laki-laki bencong tentang berdosa tidaknya jika ia jatuh cinta secara tidak wajar karena mencintai sesama jenis. Beberapa pihak dari kalangan agamawan baik Islam maupun Nasrani telah memberikan jawaban tegas bahwa mencintai sesama jenis yang kemudian diungkapkan dengan hubungan seksual adalah berdosa. 

Pada bait keempat dan kelima Ebit G. Ade mengungkap fenomena yang berkebalikan dengan bencong, yakni tomboi sebagaimana tertuang dalam dua bait berikut ini:

Perempuan dongak di atas angin

Kepalanya bengkak penuh mimpi kekerasan

Tubuh sintal dan tegap menampilkan kejantanan

Tak tercermin sikap lembut sebagaimana kodratnya (Bait ke-4)

 

Rambutnya yang kasar kotor berdebu

Diisapnya cerutu bibir retak terbakar

Langkah dihentak-hentak, galak seperti singa

Ia ingin tampil lengkap sebagaimana layaknya lelaki (Bait ke-5)





Kedua bait itu (Bait ke-4 dan ke-5) mengungkapkan secara jelas tentang tomboi dengan disebutnya perempuan yang bertingkah laku tidak sebagaimana kodratnya tetapi malahan  ingin menampilkan kejantanan sebgaimana layaknya lelaki. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Queen Mary University, London, 1 dari 3 perempuan tomboi tumbuh menjadi lesbian. (Hidayatullah, 12 Juli 2011-10:44 WIB). 

Perempuan tomboi yang tumbuh menjadi lesbian inilah yang dibicarakan Ebiet G. Ade untuk dipertemukan dalam ikatan perkawinan dengan seorang bencong yang gay atau transgender sebagaimana diungkapkan dalam bait keenam di awal tulisan ini. Argumentasi Ebiet G. Ade dalam gagasanya ini adalah karena dari perkawinan semacam ini barang kali akan tumbuh naluri sejati dari masing-masing pihak sehingga akan kembali menjadi orang normal sesuai dengan kodrat jenis kelamin masing-masing. 

Gagasan Ebeit G. Ade tersebut patut diapresiasi karena dari berbagai perspektif agama, sosial dan susila tidak bertentangan. Bisa jadi gagasan ini menjadi alternatif terapi yang mujarab bagi ketidakwajaran kaum bencong dan tomboi dalam ekspresi diri dan seksualitasnya sehingga mereka bisa diselamatkan secara hukum maupun moral. Namun pertanyaannya adalah apakah para bencong mau kawin atau dikawinkan dengan kaum tomboi?

Jawaban dari pertanyaan itu telah Ebiet temukan dalam kedua baris terkahir dari bait keenam atau penutup di atas: “Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti. Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” Artinya jika Tuhan berkata “Kun” (jadilah), maka “fayakun” (maka jadilah).  

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sejarah, IMNU, Humor Islam PKB Kab Tegal