Sabtu, 23 Desember 2017

Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi

Bojonegoro, PKB Kab Tegal. Gejolak lintas agama di beberapa daerah yang santer diberitakan media massa belakangan ini mendorong para tokoh dari berbagai agama di Bojonegoro duduk bersama menyamakan kesepahaman tentang pentingnya menolak ekstremisme.

Mereka bertemu dalam seminar deradikalisasi agama bertema “Mengembalikan Nilai Suci Agama Berupa Kasih Sayang dan Perdamaian”, yang difasilitasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bojonegoro sebagai langkah antisipasi.

Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi

Ketua FKUB Bojonegoro, KH Alamul Huda berharap melalui yang berlangsung di ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro, Kamis (15/10), umat beragama di Bojonegoro bisa membangun sikap saling menghargai. Ia tidak ingin konflik yang terjadi di luar negeri, seperti Ukraina, dan di dalam negeri, semisal Kalimantan, Aceh, Tolikara maupun yang lain, tak dialami Bojonegoro.

PKB Kab Tegal

Menurutnya, daerah paling rawan konflik di Bojonegoro berada di wilayah barat, seperti Kecamatan Padangan. Selain pengurus FKUB Bojonegoro, tokoh dan pemuda lintas agama, pertemuan tersebut juga dihadiri anggota Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, organisasi masyarakat, mahasiswa, dan undangan lainnya.

PKB Kab Tegal

Hadir sebagai narasumber pengasuh Pondok Pesantren Alif Lam Mim dan dosen Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Imam Mawardi, Romo FX Eko Armada Riyanto dari Seminari Tinggi CM Malang dan Pdt. Simon Filantropa dari Surabaya.

Bupati Bojonegoro Suyoto yang turut hadir mengatakan sepakat menolak ekstemisme. Menurutnya, sikap merasa paling benar merupakan perilaku yang tida normal.

"Perasaan damai kuncinya. Apa yang diselenggarakan FKUB ini, usaha untuk merelaksasi, membikin suasana nyaman, tidak ekstrem, tidak ngotot untuk kebenaran. Damai dalam dirinya, lingkungan, alam dan tuhan," ungkapnya.

Sedangkan, salah seorang narasumber, Imam Mawardi menjelaskan, radikalisme yang mengatasnamakan agama merupakan hasil penafsiran sempit berdasarkan emosi, bukan rasionalisasi agama. "Jadi kalau ngomong agama, harus rasional holistik (utuh). Ketika ngomong agama secara parsial, akan terjadi letupan-letupan yang akan mengganggu," imbuhnya.

Ia mengingatkan, Bojonegoro mengandung potensi konflik ketika pembangunan Bojonegoro tidak merata, atau kepentingan-kepentingan kelompok dan kepartian yang mendominasi. Sehingga kesenjangan-kesenjangan yang menjadi dasar sampai munculnya radikalisme hars dihapus.

Ditambahkan, narasumber lainnya Pdt Simon Filantropa juga menceritakan, Provinsi Jawa Timur sudah belajar lebih dahulu soal aksi kelompok ekstrem. Karena peristiwa pada 1996, di Sidotopo Situbondo, sudah ada aksi perusakan gereja luar biasa, juga bom Natal tahun 2000.

Penyebab konflik lintas agama, menurutnya, lebih karena pemahaman yang tidak cukup. Tahunya hanya surga-neraka. “Kalau tidak sama mengikutinya masuk neraka. Selain itu karena jurang ketimpangan sosial sangat besar. Orang semakin nekat disebabkan problem sosial faktor ekonomi,” tuturnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul Ulama PKB Kab Tegal

Hanya 1,71 Juta Umat Islam Indonesia Pakai Bank Syariah

Surabaya, PKB Kab Tegal. Hanya 1,71 juta dari 176,88 juta umat Islam di Indonesia yang memakai bank syariah dalam transaksi dan investasi, sedangkan mayoritas umat Islam tetap memakai bank konvensional.

"Ada sekitar 88 persen dari 201 juta penduduk Indonesia atau sekitar 176,88 juta orang beragama Islam, namun hanya sekitar 1,6 persen dari 88 persen atau sekitar 1,71 penduduk menjadi nasabah Bank Syariah," ujar Dr A Subarjo Joyosumarto dari Lembaga Perkembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Jakarta di Surabaya, Minggu.

Hanya 1,71 Juta Umat Islam Indonesia Pakai Bank Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hanya 1,71 Juta Umat Islam Indonesia Pakai Bank Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hanya 1,71 Juta Umat Islam Indonesia Pakai Bank Syariah

Ia mengemukakan hal itu dalam Seminar dan Kuliah Gabungan Program Doktor Ilmu Ekonomi Islam Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang juga menghadirkan Prof Dr H Mubiar Purwasasmita (ITB) dan Dr Hasanuddeen Abdul Aziz (International Islamic University Malaysia atau IIUM di Institute of Islamic Banking and Finance Malaysia).

Menurut dia, ada beberapa sebab mengapa jumlah nasabah di Bank Syariah Indonesia masih cukup rendah, diantaranya karena untuk negara dengan sistem politik yang sekuler, maka keseluruhan perangkat sistem politik dan ekonomi adalah perangkat kapitalis.

"Dalam situasi seperti itu, perbankan Syariah dikembangkan dengan cara dual banking system, yaitu bank-bank Syariah dikembangkan dalam kerangka perangkat system ekonomi kapitalis, seperti di Malaysia, Indonesia, Mesir, Singapura," tegasnya.

Cepat atau lambatnya pengembangan bank Syariah, katanya, sangat tergantung kepada besar kecilnya dukungan pemerintah, bahkan pertumbuhan nasabahnya tidak secepat bank konvensional.

PKB Kab Tegal

"Sekitar tahun 2000-an, Bank BCA meluncurkan program Tahapan dengan target sekitar Rp2 miliar per-tahun, namun sekarang jumlah uang nasabah yang terkumpul per-tahunnya sudah mencapai Rp2 miliar, bahkan kini melampaui Rp4 Miliar per-tahun," ungkapnya.

Ketika ditanyakan caranya, katanya, salah seorang direktur pemasarannya mengatakan hanya dengan melakukan jemput bola kepada nasabah yaitu mendatangi calon nasabah ketika gajian yakni setiap tanggal 1 per bulannya.

PKB Kab Tegal

"Hasilnya dengan strategi tersebut kini sudah melampaui target. Mungkin bank syariah juga menerapkan marketing seperti itu," paparnya.

Ia menambahkan perbankan Syariah di Indonesia dimulai tahun 1992 dengan diresmikan berdirinya Bank Mualamat. Kini sudah terdapat sekitar tiga Bank Umum Syariah, 92 Bank Perkreditan Rakyat Syariah, 19 Bank Umum yang membuka Unit Syariah di samping cara konvensional, dan 29 Asuransi Takaful.

"Kini, pangsa pasar bank Syariah secara keseluruhan sekitar 1,7 persen pada tahun 2006 dan diharapkan akan meningkat menjadi 5 persen pada tahun 2008," katanya.

Menyinggung masalah suku bunga dalam perbankan konvensional, ia mengungkapkan suku bunga sebaiknya dilarang, karena transaksi menggunakan suku bunga bertentangan dengan aspek pemerataan, sebab peminjam uang wajib membayar suku bunga yang pre-determine, walau ada kemungkinan debitur mengalami kerugian dalam usahanya.

"Sistem ekonomi bunga lebih berorientasi kepada keselamatan dana daripada orienstasi pertumbuhan ekonomi, karena kepentingan itu, maka bank-bank lebih tertarik untuk memberi kredit kepada pengusaha besar dan bonafid daripada pengusaha kecil," tuturnya. (ant/eko)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Budaya, Bahtsul Masail, Nasional PKB Kab Tegal

Festival Sastra Islam di Makassar Disambut Meriah

Makassar, PKB Kab Tegal. Pentas seni mengawali pembukaan Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) 2015. Kegiatan yang digelar oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Sulsel bekerja sama Universitas Islam Makassar ini berlangsung di Auditorium KH Muhyiddin Zain kampus UIM Makassar, Rabu (16/12) pagi.

Festival Sastra Islam di Makassar Disambut Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Festival Sastra Islam di Makassar Disambut Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Festival Sastra Islam di Makassar Disambut Meriah

Penampilan musikalisasi puisi dari Sekolah Islam Athirah (SIA) mengawali penampilan seni. Mereka menyanyikan puisi yang ditulis oleh Direktur SIA Edi Sutarto. Ada pula penampilan dari Forum Komunikasi Cinta Alquran (FKCA) Sulsel binaan Dr Majdah M Zain.

Kegiatan pembukaan digelar dengan orasi budaya, taushiyah, peluncuran buku, dan bedah novel Ayat-Ayat Cinta 2 bersama Habiburrahman El Shirazy.

PKB Kab Tegal

Ketua panitia Fitrawan Umar mengatakan, tantangan dunia Islam ada dua, pertama dari muslim sendiri yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kedua, lahirnya Islamopobhia (ketakutan terhadap Islam).

"Kehadiran kami adalah untuk menyampaikan dakwah dalam bentuk tulisan. Teduh mencerahkan menjadi tema festival. Berangkat dari itu, dalam berdakwah kami hendak mengajak bukan mengejek. Menyampaikan dengan cara santun dan tidak menghasut," tegasnya.

PKB Kab Tegal

Ketua FLP Pusat Shinta Yudisia menyampaikan rasa syukur dan salut atas kinerja kader FLP se-Sulsel. Ia mengaku sangat bangga atas FSIN yang digelar selama empat hari, 16-19 Desember. "Ini acara spesial kita. Menurut Pramudya, menulis itu bekerja untuk keabadian," tandasnya.

Berdasar pantauannya, dia menilai apa yang digelar FLP Sulsel luar biasa persiapannya. Silakan membasahi hati dengan agenda-agenda sastra. "Salah satu balasan adalah kita bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi," sebut penulis yang telah melahirkan 50-an buku ini.

Rektor Universitas Islam Makassar yang juga ketua dewan penasihat panitia FSIN 2015 Dr Majdah M Zain menyampaikan bahwa setiap manusia punya potensi untuk menebarkan kebaikan di bumi.

"Jika kita ingin menghitung nikmat-Nya, kita tidak akan sanggup. Saya setuju ini proyek hati nurani. Di tengah-tengah tontonan yang tidak menarik, Festival Sastra Islam sangat membantu dalam pencerahan. Bangsa ini harus dicerahkan dari sisi hati nuraninya. Mencerahkan manusia harus diawali dari hati nuraninya," urainya.

Kita suguhkan karya sastra yang sifatnya humanis. Membangun manusia berhati bersih bisa dilakukan dengan karya sastra. "Saya tidak bisa menulis tetapi saya hanya bisa mendukung. Tulislah apa yang menjadi ide. Kita menggelar sastra Islami? Mudah-mudahan inilah sumbangsih kita untuk bangsa dan agama," tutupnya.

Penampilan Arif Daeng Rate, salah seorang seniman sinrilik yang juga kader FLP UNM memukau para hadirin dan penulis yang memadati pembukaan Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) 2015. Kegiatan yang berlangsung di auditorium pagi ini dihadiri seribuan peserta yang merupakan mahasiswa dan warga umum se-Sulsel.

Melalui sinriliknya Arif menyampaikan tentang pentingnya seni dan sastra. Menurutnya, budaya tutur dalam hal ini karya sastra tutur telah ada di Sulsel sejak ribuan tahun lalu. "Karena itu, sastra menjadi sangat penting untuk pencerahan bangsa," kata alumni sastra Inggris UNM ini. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Hadits, Quote PKB Kab Tegal

NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba

Surabaya, PKB Kab Tegal

Kalangan pesantren digoncangkan dengan kabar bahwa ada santri yang menggunakan narkotika dan obat/bahan berbahaya (narkoba) jenis ekstasi agar kuat berdzikir. Tak tanggung-tanggung, pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal Budi Waseso. Dan secara terbuka, ia menyebut kasus tersebut ada di Jawa Timur. 

"Pernyataan Budi Waseso mungkin ada benarnya. Itu sebagai peringatan bagi kita bahwa pengedar berusaha masuk ke segala lini, termasuk pesantren dengan segala cara," kata Ketua PWNU Jatim, KH Muhammad Hasan Mutawakkil Alallah, Sabtu (5/3).

NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Ajak Pesantren Waspadai Peredaran Narkoba

Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini mengaku bahwa dirinya hingga kini belum mendapatkan laporan dari pemangku pesantren di Jatim kalau ada santri yang mengonsumsi narkotik untuk memacu stamina agar kuat berzikir dalam waktu lama. "Saya tidak tahu kalau soal itu," kata Kiai Mutawakkil, sapaan akrabnya.

Kiai Mutawakkil justru mengkhawatirkan bahwa para pengedar bahan berbahaya tersebut memanfaatkan oknum santri yang mantan pecandu, agar memasukkan barang itu dan mengenalkannya kepada teman santri lain. "Misalnya, ada lulusan SMP yang biasa memakai narkoba, lalu SMA atau MA-nya diteruskan di pesantren. Kemungkinan dari situ narkoba bisa masuk pesantren," terangnya.

Kendati demikian, Ketua PWNU Jatim dua periode ini berharap bahwa kalangan pesantren untuk meningkatkan kewaspadaan. Apa yang disampaikan Budi Waseso tersebut sebagai peringatan kepada para pengasuh pesantren agar waspada terhadap peredaran narkotika. Dan Kiai Mutawakkil juga meminta BNN dapat menginstruksikan kepada jajaran di daerah agar menindak tegas jika ada anggota masyarakat yang mengedarkan barang haram tersebut di sekitar pesantren.

PKB Kab Tegal

Sebagai langkah antisipasi, Kiai Mutawakkil berharap agar pesantren menerapkan aturan yang ketat terhadap para santri. "Yang rawan kan pesantren-pesantren yang tidak terlalu menerapkan peraturan ketat," pungkasnya.

PKB Kab Tegal

Seperti yang beredar di sejumlah media, Kabid Pemberantasan dan Penindakan BNN Jatim, AKBP Bagijo Hadi Kurnijanto mengaku mengungkap kasus narkotika yang kebetulan melibatkan anak seorang kiai di Sumenep, Madura, Jatim.

"Itu hanya oknum yang kebetulan berada di lingkungan masyarakat pesantren," kata Bagijo, kala itu. Dia sendiri mengaku bahwa BNN belum menemukan bukti narkotik masuk pesantren. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Lomba, Daerah PKB Kab Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Jika Dipaksakan, FDS Hilangkan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda

Pringsewu, PKB Kab Tegal. Kebijakan Full Day School mendapat tentangan dari Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Provinsi Lampung Fathurrahman. Sekjen HIPSI Lampung Fathurrahman mengatakan bahwa FDS akan membunuh kreativitas dan life skill para generasi muda dalam bidang ekonomi dan kewirausahaan.

Jika Dipaksakan, FDS Hilangkan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Dipaksakan, FDS Hilangkan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Dipaksakan, FDS Hilangkan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda

"Banyak anak didik sepulang sekolah membantu ekonomi keluarganya seperti di bengkel, cetak batu bata atau kalau di perkotaan membuka distro dan rental komputer kecil-kecilan," katan Pria yang akrab dipanggil Ustadz Faun ini, Sabtu (12/8) di Pringsewu, Lampung.

Jiwa kewirausahaan dan kemandirian harus ditanamkan kepada para generasi muda khususnya para pelajar. "Pelajar jangan hanya dibekali dengan teori ekonomi dan akuntansi. Namun mereka perlu untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau seharian hanya berkutat di sekolah, kapan praktiknya," tegasnya.

Selain kesempatan waktu yang dipangkas dan dibatasi untuk mengasah jiwa kewirausahaan, kebijakan FDS menurut alumni Pesantren Al Falah Ploso Jawa Timur ini juga akan berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat menengah kebawah.

PKB Kab Tegal

"FDS tidak tepat diterapkan sebab akan membebani orang tua para pelajar. Sebagai contoh biaya uang saku akan bertambah padahal mayoritas orang tua berada pada kelas ekonomi menengah ke bawah, biasanya 2000-5000, bila FDS diterapkan membengkak bisa dua kali lipat karena bertambahnya biaya bekal dan transportasi. Tentu ini memberatkan," ujarnya.

Karena itu, kebijakan FDS menurutnya tidak tepat diterapkan di Indonesia. "Jangan latah menerapkan FDS, dan kepada sekolah yang terlanjur menerapkan ini jangan karena gengsi agar dianggap sebagai sekolah yang mampu melaksanakan kebijakan ini tanpa melihat sosio ekonomi anak didiknya," imbaunya.

Lebih jauh,ia mengingatkan bahwa kemandirian hidup generasi muda khususnya dibidang ekonomi pada saat ini akan berpengaruh pada kemandirian bangsa di masa yang akan datang. Sehingga perlu dibuat kebijakan yang dapat menumbuhkan life skill dan kewirausahaan bukan malah menjadikan generasi muda malas bekerja. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Hadits PKB Kab Tegal

Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba

Bojonegoro, PKB Kab Tegal. Menjelang pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor dan Fatayat NU Sumberejo menggelar beberapa perlombaan. Kegiatan untuk menyemarakkan pelantikan itu diselenggarakan di kompleks Lembaga Pendidikan Maarif NU MINU Walisongo Desa Sumuragung Kecamatan Sumberejo Kabupaten Bojonegoro, Ahad (18/9).

Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba

"Lomba ini diadakan dalam rangka pelantikan bersama PAC Ansor dan Fatayat pada 25 September," kata Sekretaris Panitia Ahsanul Amilin kepada PKB Kab Tegal.

Beberapa perlombaan yang diadakan diantaranya lomba paduan suara, dai atau daiah, baca puisi dan kreasi hijab syari ala Aswaja.

PKB Kab Tegal

Dijelaskan, perlombaan dai atau daiah diikuti peserta se-Kabupaten Bojonegoro dengan dewan juri diambil dari profesional dan panitia, termasuk dewan juri lomba baca puisi dan kreasi hijab syari ala Aswaja. "Tetapi untuk lomba kreasi hijab syari ala aswaja, peserta membludak dari perkiraan. Yang diperkirakan hanya 50an peserta tapi bertambah sampai 90 peserta," jelasnya.

Sementara itu untuk lomba paduan suara atau mars Fatayat, hymne fatayat dan lagu wajib nasional terbaru Subhanul Wathonkarya KH Wahab Chasbulloh. Lomba tersebut melibatkan ratusan peserta karena diikuti semua Ranting Fatayat NU se-Kecamatam Sumberejo.

PKB Kab Tegal

"Para peserta berdandan busana resmi Fatayat hijau-hijau. Masing-masing ranting berkelompok atau beregu, satu regu terdiri dari 10 sampai15 orang," ungkap Amilin sapaan akrabnya.

Ditambahkan, dari hasil tersebut untuk lomba dai juara satu diraih Hanum Faizah Rahma dari santri siaga pondok pesantren at tanwir, berikutnya Allayya Ayu Nikmatul F menjadi juara kedua dari Talun Sumberejo dan Lilik Nur Indah Sari dari Tulungagung Sumberejo sebagai juara ketiga. Sedangkan pemenang lomba puisi juara satu diraih Lilik Nur Indahsari dari Tulungrejo, juara kedua Benang Sari siswi SMK Semenpinggir Kapas dan juara ketiganya diraih Reza Ali Widiawati dari Kayulemah.

Sementara itu untuk pemenang lomba kreasi hijab, juara satu dimenangkan Ranting Pekuwon I, juara duanya Ranting Margoagung dan juara ketiganya dimenangkan santri siaga Pondok pesantren At Tanwir Talun. Untuk lomba kreasi hijab diikuti berkelompok terdiri dari tiga orang. "Hadiah lomba diserahkan saat pelantikan di balai kecamatan sumberejo," imbuhnya.

Saat pelantikan nanti akan dirangkai dengan dialog kepemudaan bertema Bangkit bersama Ansor dan fatayat NU Sumberrejo. Rencanaya akan dihadiri narasumber ketua DPRD Mitroatin, Wakil Ketua DPRD Sunjani dan mantan Ketua Ansor Khisbullah. (M. Yazid/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Aswaja, Sunnah PKB Kab Tegal

Masdar: Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor!

Rangkasbitung, PKB Kab Tegal. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Masudi menegaskan, hukuman mati bagi pelaku koruptor harus diterapkan untuk memberikan efek jera terhadap pelakunya. Menurutnya, hukuman mati terhadap pelaku korupsi yang merugikan keuangan negara dan menyengsarakan rakyat banyak, tidak bertentangan dengan undang-undang.

”PBNU sangat mendukung hukuman mati itu tanpa pandang bulu dengan idealisme Indonesia yang makmur dan adil bagi semua rakyat,” kata KH Masdar Farid Masudi seusai acara peletakan batu pertama pembangunan TK/SD/SMP/SMA di Kabupaten Lebak, Sabtu (16/6).

Masdar: Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor! (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar: Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor! (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar: Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor!

Korupsi di Tanah Air sudah menggurita terjadi di mana-mana dengan melibatkan pejabat negara, kepala daerah, wakil rakyat, dan politisi. Bahkan, hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang menyatakan DPR adalah lembaga terkorup di negeri ini. "Hukuman mati dibenarkan undang-undang kita guna memenuhi rasa keadilan jika pelaku korupsi sudah sangat keterlaluan hingga menimbulkan kerugian uang Negara yang cukup besar," kata Masdar. 

PKB Kab Tegal

PBNU sebagai elemen masyarakat sipil sangat mendorong penerapan hukuman mati bagi koruptor agar dapat memberikan efek jera. Selain itu lanjutnya, aparat penegak hukum diminta dapat kerja keras untuk membongkar juga mencegah tindakan korupsi hingga menyeret pelaku ke pengadilan tanpa pandang bulu.

PKB Kab Tegal

Penegakan hukum dinilai belum konsisten sehingga pemberantasan korupsi tidak maksimal, meskipun, pemerintah sudah memiliki undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juga pembentukan lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Semestinya, kita komitmen untuk melaksanakan UU Tipikor yang sudah dibuat dan harus dilaksanakan," ujarnya.

Terus merebaknya kasus korupsi, akibat penegakan hukum belum maksimal dengan memberikan hukuman ringan dan tidak memberikan efek jera. Selain itu juga seseorang yang melakukan korupsi akibat lemahnya keimanan kepada Allah SWT, sehingga mereka hidup pragmatis hedonisme dengan mengejar kekayaan dengan cara melanggar hukum negara dan agama.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor: Candra Zaini

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Syariah PKB Kab Tegal