Minggu, 12 November 2017

Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko

Kenitra, PKB Kab Tegal. Dalam rangka kunjungan muhibah, segenap rombongan KH Sholahudin Wahid ? yang tiba di Maroko pada hari Jumat (5/4) langsung disambut hangat oleh Duta Besar Republik Indonesia Untuk ? Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja dan sebagian besar mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Maroko.

Dalam acara penyambutan ini juga diisi dengan acara diskusi atau tausiyah bersama KH Sholahudin Wahid pengasuh pondok pesantren Tebuireng yang bertempat di Wisma Duta Indonesia.?

Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko

Sebelum acara dibuka H. Husnul Amal selaku sekretaris pribadi Dubes RI H. Tosari Widjaja sekaligus pembawa acara menyampaikan bahwa kunjungan rombongan Gus Sholah (panggilan akrab KH Sholahudin Wahid ) tidak bisa lepas dari peran almarhumah Mahsusoh Ujiati istri Dubes H. Tosari Widjaja yang semasa hidupnya pernah meminta Gus Sholah untuk berkunjung ke Maroko, hanya saja baru saat ini Gus Sholah baru bisa meluangkan waktunya.

PKB Kab Tegal

Dubes RI Untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja dalam sambutannya berharap semoga kedatangan rombongan ini mampu memperkuat hubungan kerjasama antara Indonesia dan Maroko khususnya dalam pendidikan Islam.?

Di dalam tausiyahnya Gus Sholah banyak sekali memberikan motifasi kepada para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Indoensia (PPI) Maroko agar bisa memanfaatkan waktunya sebaik mungkin serta belajar untuk berfikir secara luas. Agar cakrawala berfikir mahasiswa tidak jumud.?

PKB Kab Tegal

Di sisi lain Gus Sholah juga berbicara mengenai keadaan yang sedang terjadi di Indonesia, mulai dari ? kemasyarakatan, keekonomian, kepemerintahan, dan yang sangat menarik adalah ketika beliau berbicara mengenai pendidikan yang ada di Indonesia.

"Penyebab ? dari kemunduran pendidikan yang ada di indonesia ? dikarenakan oleh pihak pengajar yang tidak memahami konsep pendidikan secara benar, karena makna pendidikan yang sebenarnya adalah transfer of knowledge yang di bungkus dengan nilai-nilai sopan santun bukan hanya menyalurkan ilmu saja lalu lepas tangan."

Gus Sholah juga berpendapat bahwa ada tiga factor yang harus diperhatikan dalam metode pendidikan. Yang pertama guru menguasai dan benar-benar mendalami materi, yang ke dua guru sudah pernah mendapatkan pelatihan pengajaran dan yang ke tiga guru harus mampu memilki akhlak yang baik dan harus di salurkan ke siswa didik.

Ia juga menambahkan bahwa masyarakat muslim di Indonesia, khususnya para santri, jangan pernah mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu umum.?

“Jangan ? pernah mengatakan bahwa ilmu agama adalah ilmu ukhrowi dan ilmu umum adalah ilmu duniawi, karena semuanya adalah sama dan wajib untuk dipelajari, semisal ketika ilmu umum ? di orientasikan untuk menolong orang lain maka itu juga di sebut dengan ilmu ukhrowi, jadi saya pesankan ? bahwa santri harus mempelajari kedua-duanya.”

? Acara ini juga dimeriahkan dengan group sholawat rebana yang dibawakan oleh mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang mengikuti program kelas internasional di Univ. Ibnu Tofail Kenitra, Maroko.

Hadir pula segenap jajran home staf dan lokal staf KBRI Rabat, para mahasiswa Indonesia dan masyarakat Indonesia yang ada di maroko.

Kontributor: Nizar Presto

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal IMNU, Pendidikan PKB Kab Tegal

Haflah, Pesantren Futuhiyyah Gelar Teater

Demak, PKB Kab Tegal



Tahun ini, 2017 Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak kembali menggelar pementasan teater. Pementasan ini merupakan bagian dari serangkaian acara haflah akhirussanah yang meliputi muwada’ah, khatmil Al-Qur’an dan khatmil kutub. Kegiatan tahunan tersebut insyallah akan dilaksanakan pada hari Ahad malam (21/5) bersama dengan grup Hadlrah al-Muqorrobin Kendal yang dipimpin oleh al-Habib Abdullah Farid bin Masyhur al-Munawwar.?

Lakon yang akan dipentaskan kali ini ialah berjudul Tak Ada Bintang di Dadanya. Sebuah karya yang ditulis oleh Hamdy Salad dan ditulis ulang oleh dua sutradara muda Fakhrur Rozi dan Abd. Chanan S. Lakon ini bercerita tentang seseorang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pendidikan anak bangsa.

Haflah, Pesantren Futuhiyyah Gelar Teater (Sumber Gambar : Nu Online)
Haflah, Pesantren Futuhiyyah Gelar Teater (Sumber Gambar : Nu Online)

Haflah, Pesantren Futuhiyyah Gelar Teater

Menurut Rozi, selaku sutradara, lakon ini sangat relevan dipentaskan di dunia pesantren, mengingat pesan-pesan moralnya mengenai dunia pendidikan begitu luhur. “Karena di pesantrenlah ditemui sosok seperti kiai yang dengan penuh keikhlasan dan keistiqamahannya mendidik para santri dari seluruh pelosok negeri. Sosok seperti kiai inilah yang saya kira sangat sulit ditemui di zaman modern yang materialistik ini,” katanya.?

Kegembiraan juga dirasakan oleh Fathon, salah satu dari aktor Teater Fatah. “Sungguh sebuah lakon yang menurut saya sangat luar biasa, saya senang dapat menjadi salah satu aktor di teater ini, sebuah pengalaman yang cukup berharga dan tak didapatkan di bangku madrasah. Sekali lagi saya sangat bersyukur dapat mengikuti prosesnya dari awal, dimulai dari latihan yang cukup melelahkan, disiplin, penuh dengan aturan main, sampai harus menguji mental level tingkat tinggi, yang paling penting bagi saya bahwa kesenian adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia,“ ungkap Fathon.

PKB Kab Tegal

Selain bertujuan untuk menghibur para tamu undangan, acara ini juga sebagai media pembelajaran santri untuk mengenal dunia seni secara lebih dalam. Pengenalan seni melalui teater cukup efektif, mengingat latar belakang para santri yang notabene bukan anak seni. Dengan terjun langsung, mereka tidak dibingungkan oleh banyaknya teori dan kajian seni-kebudayaan. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Olahraga, Ulama PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal

KH Hasyim Asy’ari Juga Seorang Pedagang

Jombang, PKB Kab Tegal. Ada yang menarik di Pesantren Tebuireng saat diasuh KH Hasyim Asy’ari. Beliau meliburkan kegiatan mengaji pada hari Selasa karena memiliki usaha di berbagai tempat. Sebuah gambaran bahwa Hadratus Syaikh juga memiliki perhatian pada ekonomi.

Hal ini disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Shalahuddin Wahid saat menerima pengurus Himpunan Pengusaha Santri Indonesia di pesantren ini. Ini pula yang akhirnya kian memompa semangat para pengusaha muda santri ini untuk terus mengembangkan usaha agar kelak para santri dapat mandiri.

KH Hasyim Asy’ari Juga Seorang Pedagang (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Asy’ari Juga Seorang Pedagang (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Asy’ari Juga Seorang Pedagang

H Mohammad Ghozali menyampaikan informasi tersebut disela-sela Senam Santripreneurship yang diselenggarakan di Alon-alon Jombang (24/2). Ketua Umum HIPSI ini sangat tersentuh dengan wejangan dari Gus Sholah –sapaan KH Shalahuddin Wahid- tersebut. 

PKB Kab Tegal

Gus Sholah menandaskan bahwa setiap Hari Selasa, KH Hasyim Asy’ari memanfaatkannya untuk mengembangkan bisnis di beberapa kota seperti Kediri dan sekitarnya. Dan karena menghormati tradisi tersebut, Pesantren Tebuireng juga menerapkan libur khusus pada hari Selasa sebagai bentuk apresiasi kepada hadratus syaikh. 

PKB Kab Tegal

Cucu hadratus syaikh ini juga berpesan kepada para santri lewat HIPSI untuk menjadikan semangat kewirausahaan sebagai bagian tak terpisahkan dari sosok seorang santri. 

“Ini pula yang semakin memperkuat semangat kami untuk terus membimbing calon usahawan muda agar mampu bersaing pada kesempatan mendatang,” ungkapnya.

Ghozali yakin, dengan terus dilakukannya sosialisasi tentangan kewirausahaan di sejumlah pesantren, maka akan semakin banyak santri yang nantinya ingin mengembangkan diri untuk membuka usaha. Tidak menutup kemungkinan pada dua puluh tahun mendatang bangsa Indonesia akan menjadi salah satu negera adikuasa. 

“Alangkah indahnya bila pengusaha yang berperan saat itu adalah para santri,” harapnya.

Kini HIPSI telah memiliki perwakilan di delapan provinsi. Sedangkan untuk di Jawa Timur telah terbentuk 18 kepengurusan di tingkat kabupaten dan kota. 

“Kami akan terus mengembangkan sayap karena respon para santri juga menggembirakan,” pungkasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Kiai, Sholawat PKB Kab Tegal

Gus Mus Sebut Dua Tantangan NU Saat ini

Jepara, PKB Kab Tegal. Pejabat ? Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri megatakan, saat ini NU sebagai jam’iyyah (organisasi) belum bisa berjalan optimal dan masih sebatas kumpulan, komunitas atau jama’ah.?

“NU itu wadahnya jam’iyyah modern, tapi isinya jama’ah tradisional,” katanya pada taushiyah di Gedung PCNU, Jalan Pemuda No.51 Jepara, Sabtu (21/2).

Gus Mus Sebut Dua Tantangan NU Saat ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Sebut Dua Tantangan NU Saat ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Sebut Dua Tantangan NU Saat ini

Untuk itu, lanjut Gus Mus, diperlukan kajian dan langkah yang serius untuk memadukan kekuatan jama’ah dan kesadaran jam’iyyah di kalangan warga NU. Gus Mus menyebut itu tantangan internal.?

PKB Kab Tegal

Menurut Gus Mus, tantangan internal tersebut kelihatannya sederhana, tapi sangat penting agar NU tidak diobok-obok oleh kekuatan yang ingin memecah-belah kekuatan NU, menghadap-hadapkan kiai dan santri, kalangan tua dan muda dengan isu Islam syariah dan Islam liberal, isu Syiah-Sunni dan sebagainya. Hal itu terjadi karena hingga saat ini NU belum kuat.?

Padahal jika jam’iyyah NU kuat, menurut Pengasuh Pesantren Raudlatul Thalibin Rembang Rembang ini, maka NU tidak perlu galau karena 60 juta warga NU akan mematuhi aturan organisasi secara baik.

PKB Kab Tegal

Tantangan NU yang kedua, lanjut dia, adalah tantangan yang bersifat internasional karena muncul organisasi Islam yang justru mencemarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Mereka memekikkan takbir malah melakukan pemboman. Mereka membawa bendera bertuliskan laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah, tapi membakar dan membunuh orang. ? Sehingga semakin banyak orang di eropa dan amerika yang anti-islam (islamophobia).

Karena itu, menurut dia, tugas para pengurus NU makin berat. Tantangan internal dan internasional mengharuskan warga nahdliyyin harus waspada. Gerakan memecah-belah Indonesia dilakukan dengan cara membenturkan antar warga NU karena NU adalah organisasi sosial keagamaan yang paling istiqomah dalam mempertahankan Pancasila dan NKRI.?

Perlu didirikan pusat kajian ke-NU-an?

Pada kesempatan yang dihadiri 500 Pengurus Cabang, Majelis Wakil Cabang (MWC) dan ranting se-Kabupaten Jepara, Gus Mus meminta agar pemikiran, pemahaman dan amaliah warga NU dikaji secara ilmiah sebagai dasar pijakan pengembangan potensi warga NU.?

“Saya merasa perlu didirikan pusat kajian ke-NU-an di Jepara karena sejak ayah saya dulu sampai saya jadi Plt Rais Aam sekarang, ke-NU-an orang Jepara sangat kental dan tidak diragukan lagi,” tutur kiai yang akrab disapa Gus Mus ini.

Menurut Gus Mus, di Jepara mulai bintang film sampai bupatinya adalah ? NU. Dulu tiap podium pengajian selalu ada lambang NU. Hampir tiap desa ada lailatul ijtima’.?

“Bahkan orang Jepara sampai gelut gara-gara rebutan pengakuan sebagai orang NU,” katanya. Yang tak kalah penting, lanjut dia, adalah berdirinya Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) di Jepara.

Ia melanjutkan, pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran Islam ala NU sangat penting, tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Para pengamat NU seperti Martin Van Bruinessen, Andree Feillard, dan Mitsuo Nakamura merasa heran karena NU tidak ada matinya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nasional, Olahraga PKB Kab Tegal

Lembaga Dakwah NU Garut Resmi Dikukuhkan

Garut, PKB Kab Tegal. Bertempat di Pondok Pesantren Al-Futuhat di Kampung Pangauban Desa Dano Kecamatan Leles Kabupaten Garut, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Garut dan Kecamatan Leles resmi dikukuhkan. Pembaitan pengurus oleh Rais Syuriyah KH Amin Muhyidin dan disaksikan ratusan jamaah pengajian dari setiap kampung.?

Menurut ketua LDNU H Lukmanul Hakim, pembentukan LDNU tergolong dini yakni hanya berkisar 1 minggu. Akan tetapi dengan pembentukan pengurus sekarang pengukuhan pengurus secepatnya dilakukan.?

Lembaga Dakwah NU Garut Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Dakwah NU Garut Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Dakwah NU Garut Resmi Dikukuhkan

"Pengukuhan ini menjadi momentum awal bagi kita untuk bekerja secara langsung kepada masyarakat," katanya sesaat setelah melakukan pelantikan, Selasa (26/4).?

Menurutnya pelantikan ini juga dilakukan berbarangan dengan peringatan isra’ miraj. "Dengan berbarangan dengan peringatan isra’ miraj kami harapkan ini menjadi hal baik bagi kepengurusan kita," ungkapnya.?

Dede Sulaiman pengembang SDM LDNU menambahkan dirinya ingin cepat bekerja. "Kami ingin cepat bekerja makanya kami langsung menyelengarakan peringatan isra miraj," katanya.?

Sementara itu Camat Kecamatan Leles Asep Sunandar menyambut baik dengan pengukuhan LDNU Garut dan Leles yang sudah dilantik. Menurutnya dengan pelantikan ini dirinya berharap banyaknya pembinaan masyarakat terutama oleh para ulama.?

PKB Kab Tegal

"Kami sambut baik pelantikan ini dan kami ucapkan selamat kepada para pengurus yang sudah dilantik," katanya.?

Para pengurus LDNU Garut diantaranya H Lukmanul Hakmi (ketua), K.A Uus Abdurahman (Wakil ketua), Ust Heri Haerudin (Sekertaris), Ahmad Syarifai (Wakil sekertaris), dan H Ahmad Satibi (Bendahara).

Bidang kaderisasi : Cep Badar. Pengembangan SDM : Dede Sulaiman, H Undang. Komunikasi dan informasi : Dindin Daniella, Hendra. Pengkajian : Ustd Alit Kurnia S, Asep Mudakir.

PKB Kab Tegal

Bidang kaderisasi, Cep Badar. Pengembangan SDM, Dede Sulaiman, H Undang. Komunikasi dan informasi, Dindin Daniella, Hendra. Pengkajian, Ustd Alit Kurnia S, dan Asep Mudakir. (Badhi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal AlaNu PKB Kab Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Untuk Apa PMII Didirikan?

Oleh KH Nuril Huda (Pendiri PMII)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 2016 genap berusia 56 tahun. Sebagai warga pergerakan sekaligus pendiri PMII, penulis bangga sekaligus bersyukur ke hadirat Illahi Robbi yang telah memberikan karunia dan nikmat untuk terus mengabdi dan berjuang dalam mencari ridla-Nya.

Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa PMII Didirikan?

Bangga karena tidak terasa ternyata PMII sudah berusia 56 tahun, umur yang dalam hitungan usia sudah tidak muda lagi, tapi semangat dan jiwa sebagai warga pergerakan harus muda dan siap menjadi garda terdepan dalam mengawal tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

PKB Kab Tegal

Semakin tua semakin menjadi. Artinya, dengan sikap kesatria, profesional dan mandiri, PMII harus lebih produktif memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap agama dan bangsa Indonesia. Meskipun acapkali PMII selalu menjadi momok dalam rumah sendiri, tapi itulah perjuangan, bahwa perjuangan hanya butuh pengorbanan bukan imbalan.

PKB Kab Tegal

Meminjam istilah Bung Karno “berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”, begitu juga dengan PMII, sekali PMII selamanya berjuang bersama PMII. Di PMII hanya butuh pemuda yang idealis dan semangat berjuang mengawal tradisi Aswaja. Berorganisasi itu belajar menghargai orang lain, latihan mengenal orang, menghormati keyakinan orang lain. Orang yang tanpa latihan maka dia akan menjadi pemimpin yang wagu, yang tidak pernah menghargai orang lain, apalagi menghormati orang lain.

Nah, pada harlah (hari lahir) PMII kali ini, terpenting dan yang paling penting adalah mengenang dan mendoakan (haul) jasa para pendiri PMII. Meneruskan perjuangan dan menjaga tradisi paham Aswaja. Tentu, melalui acara istighotsah, tahlil, dan doa bersama. Karena inilah etika dan kebudayaan model Aswaja. Harlah PMII dalam setiap tahun harus selalu diperingati agar para generasi PMII tahu, orang lain tahu, apa sih PMII dan mengapa didirikan. Ini penting!

Mengapa PMII berdiri? Pada saat itu, tahun 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi, dan lain sebagainya. Akan tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar justru tidak memiliki. HMI yang dulunya menjadi garda NU akan tetapi lebih condong kepada Masyumi.

Akhirnya, munculah ide dan gagasan dari daerah-daerah untuk mendirikan pergerakan mahasiswa yang selanjutnya diberi nama PMII. Beridirnya PMII tidak mulus begitu saja, banyak ganjalan dan kendala untuk mendirikan sebuah pergerakan Islam. Namun, karena keukeuh dan tekad bulat dari para pendiri PMII, maka hingga saat ini PMII tetap kokoh berdiri dan eksis sepanjang masa.

Gagasan Mendirikan PMII

Gagasan untuk mendirikan PMII berawal muncul dari pojok Sekretariat IPNU di Yogyakarta, dan waktu itu yang menjadi koordinator sementara adalah Ismail Makki. Setelah semua ide dikumpulkan, maka sepakat untuk mendirikan PMII. Sebanyak 13 orang sowan (menghadap) kepada Pengurus Besar NU di Jakarta yang isinya niatan untuk mendirikan PMII. Akhirnya, setelah berbincang dan membahas panjang, maka PBNU setuju PMII didirikan yang tujuannya adalah untuk mengikat para mahasiswa NU agar tidak bisa dan memiliki rumah sendiri.

Pada tahun 1960-an tepatnya bulan Ramadhan, selama 3 hari di Kaliurang,Yogyakarta, berkumpulah para tokoh IPNU dan 13 pimpinan IPNU wilayah se-Indonesia. Ketika itu, saya merupakan ketua IPNU cabang Solo yang saat itu sedikitnya memiliki 7 perguruan tinggi. Karena memang syarat mendirikan PMII di daerah harus ada perguruan tingginya. Sedangkan utusan dari PBNU yang hadir adalah KH. Anwar Mussadad.

Nah, dalam kongres pertama inilah PMII resmi berdiri lalu melahirkan berbagai macam aturan dan okoh muda yang selanjutnya diberikan mandat untuk meneruskan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Nusantara. Karena esensi didirikannya PMII adalah pertama, untuk meneruskan estafet perjuangan NU. Kedua, untuk melatih diri bermasyarakat dan berorganisasi tanpat mengubah pendirian dalam mempertahankan Aswaja. Dan ketiga, untuk menyiapkan generasi yang mampu menangani pergolakan tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Untuk mendirikan PMII di daerah, saya sowan ke KH Abdul Hadi Al Hafidz di Langitan, Tuban. Niatan itu mendapat restu dan pesan untuk menunaikan puasa. Saya puasa 7 hari, dan mendirikan PMII di Lamongan, kemudian harus kembali lagi ke Solo untuk melanjutkan kuliah. Jadi, tidak main-main untuk memperjuangkan PMII. Bahwa berjuang di NU itu tidak mengandalkan pemikiran saja tetapi juga mengorbankan harta dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Sekali lagi inilah perjuangan. Jadi, idealis itu butuh generasi, bahwa mendirikan PMII sampai merawat organisasi itu tidak gampang dan butuh perjuangan panjang. Untuk itulah, generasi saat ini hanya tinggal meneruskan dan merawat saja, tidak kurang, tidak lebih. Dan yang paling utama adalah tradisi Aswaja jangan sampai pudar dan musnah ditelah modernnya zaman.

Setelah PMII berdiri, maka para pengurus langsung eksen dan menyebarkan PMII di kampus-kampus. Berawal di kampus Yogyakarta, selama beberapa tahun anggotanya bisa dihitung jari, karena banyak mahasiswa yang tidak tertarik dengan PMII. Apa PMII itu? Mahluk apa itu? begitu kira-kira pertanyaannya.

Alhamdulillah, di Asia Tenggara, hanya PMII-lah yang sampai hari ini tetap eksis dan banyak anggotanya hampir mencapai satu juta dua ratus, tiap kota ada PMII. Dari 9 tokoh pendiri PMII, kini tinggal 3 orang yang masih hidup dan terus berjuang agar PMII tetap eksis dan menjadi penerus perjuangan ajaran Aswaja. Ketiga tokoh itu di antaranya, saya, KH Munsih Nahrawi dan KH Khalid Mawardi.

Sampai sekarang saya masih terus bergerilya ke daerah-daerah untuk menyuarakan panji-panji PMII. Pada tanggal 17 April 2016 saya menghadiri harlah PMII di Tuban, lanjut ke Lamongan pada tanggal 18, terus ke Bekasi, dan tanggal 19 saya menghadiri harlah PMII di Bondowoso, dan tanggal 20 saya menghadiri harlah PMII di Pamekasan, Madura. Kalau dituruti, hidup saya di jalanan, tapi enggak apa-apa, memang harus begini. Yang penting PMII tetap hidup dan terus berkembang.

Kalau saya tidak turun, saya khawatir, dalam ilmu sosiologi, suatu organisasi yang lama didirikan tanpa sentuhan pendiri maka lambat laun akan berubah. Makanya, saya khawatir PMII kalau tidak diurusi, akan berubah dan lama-lama tidak keruan. Saya sangat memperhatikan, terlebih kalau di luar daerah, apakah saya diundang MUI, NU, atau acara lainnya, saya selalu telepon temen-temen PMII untuk kumpul sama-sama bicara soal PMII dan masa depan PMII. Ini saya lakukan, mumpung saya masih hidup.

Tantangan hari ini, besok dan lusa PMII adalah budaya zaman. Tapi kalau idealisme PMII selamanya tidak bisa berubah yakni Aswaja, begitu juga soal akidah tidak bisa kompromi dan berubah, sekali NU selamanya tetap NU. Memang zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu, dari sisi budaya, karakter dan modelnya. Untuk itulah, generasai PMII saat ini harus bisa mengalahkan zaman atau paling tidak, jangan sampai kalah dengan budaya zaman saat ini. Boleh kita bicara budaya, boleh kita bergaya modern, boleh kita berdandan barat, boleh kita berpolitik, dan seterusnya. Tapi, jangan sekali-kali idealisme dan idiologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berubah. Karakter NU harus tetap melekat walaupun penampilan bukan NU.

Salam pergerakan! Wallâahul muwaffiq ila aqwamith tharîq. Wassalam.

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Santri, IMNU PKB Kab Tegal

Lopis Raksasa dan Tadisi Syawalan Pekalongan

Pekalongan, PKB Kab Tegal - Syawalan merupakan tradisi masyarakat Kota Pekalongan khususnya masyarakat daerah Krapyak di bagian utara Kota Pekalongan, yang dilaksanakan pada setiap hari kedelapan sesudah Hari Raya Idul Fitri.

Bahkan Syawalan yang jatuh pada 8 Syawwal merupakan hari yang sangat istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh warga. Pasalnya, hari itu merupakan hari berkumpulnya ribuan warga untuk bisa silaturrahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan secara gratis.

Lopis Raksasa dan Tadisi Syawalan Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lopis Raksasa dan Tadisi Syawalan Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lopis Raksasa dan Tadisi Syawalan Pekalongan

Hal paling menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya Lopis Raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter dengan diameter 1,5 meter dan berat mencapai 225 Kg. Setelah acara doa bersama, Lopis Raksasa kemudian dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

PKB Kab Tegal

Para pengunjung biasanya berebut untuk mendapatkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silahturahmi antaranggota masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat Lopis yang lengket.

Masyarakat Krapyak juga biasanya menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis kepada para pengunjung. Jumlah pengunjung pada tradisi ini mencapai ribuan orang yang berasal dari seluruh Kota Pekalongan dan sekitarnya. Setelah pembagian Lopis selesai, biasanya para pengunjung berbondong-bondong ke obyek wisata Pantai Slamaran Indah untuk berlibur bersama keluarga sekadar menikmati kesegaran udara pantai atau menikmati meriahnya hiburan gratis yang telah dipersiapkan masyarakat Krapyak sebelumnya.

PKB Kab Tegal

Dari mana tradisi ini berasal? Menurut sejarah, sebagaimana dituturkan KH Zaenuddin tokoh masyarakat setempat kepada PKB Kab Tegal, orang yang pertama kali memelopori Syawalan adalah KH Abdullah Sirodj, ulama Krapyak yang masih keturunan Tumenggung Bahurekso (Senopati Mataram). Awalnya KH Abdullah Sirodj rutin melaksanakan puasa Syawal, puasa ini kemudian diikuti masyarakat sekitar Krapyak dan Pekalongan pada umumnya sehingga meski hari raya, mereka tidak bersilaturahmi demi menghormati yang masih melanjutkan ibadah puasa Syawal.

Dulu, sehabis Shalat Ied suasananya masih seperti Ramadhan. Baru pada hari ke-8 Syawal, suasana Lebaran benar-benar terasa. Yang menjadi khas dalam tradisi Syawalan di Krapyak Pekalongan adalah disajikannya makanan berupa lopis. KH Abdullah Sirodj memilih lopis sebagai simbol Syawalan di Pekalongan karena terbuat dari beras ketan yang memiliki daya rekat yang kuat, yang menyimbolkan persatuan.

Zaenudin mengatakan, Presiden Soekarno datang dalam rapat akbar di lapangan Kebon Rodjo Pekalongan (sekarang Monumen) tahun 1950, beliau berpesan agar rakyat Pekalongan bersatu seperti lopis sehingga warga Krapyak setiap Syawalan selalu memotong lopis.

"Hal itu sebagai rasa syukur kepada Allah, dan melaksanakan sunah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Adapun rasa syukur tersebut diwujudkan dalam bentuk jajanan berbentuk lopis. Karena filosofi lupis sendiri sangat religius baik dari segi pemakaian bahan maupun dalam proses pembuatannya," ujarnya.

Dikatakan, ketan sebagai bahan dasar lopis memiliki makna persatuan (kraket=erat), karena ketan yang sudah direbus memiliki daya rekat yang kuat dibanding nasi. Kita sebagai sesama Muslim harus memiliki rasa saling peduli dan saling mengingatkan satu sama lain. Beras ketan yang putih, bersih memiliki makna kesucian (kembali fitri) dalam nuansa lebaran.

Bungkus lopis diambilkan dari daun pisang, yang memiliki arti perlambang Islam dan kemakmuran. Bahwa Islam selalu menumbuhkan kebaikan dan menjaga karunia Tuhan. Daun pisang yang digunakan tidak boleh terlalu tua ataupun terlalu muda, karena akan berpengaruh pada cita rasa lopis tersebut.

Selain itu ikatan atau tali pembungkus menggunakan serat pelepah pisang, melambangkan kekuatan. Sesuatu yang sudah dicapai (kembali fitri) harus dijaga agar tidak luntur ataupun berkurang. Akan lebih baik jika semakin bertambah atau ditingkatkan. Pengikat ini juga bisa berarti sebagai pengikat kita untuk menjalin silaturahmi antar-Muslim (Hablum minan nas).

Meski konon tradisi Syawalan sudah ada sejak tahun 1885, tradisi ini mulai dilakukan secara besar-besaran pada tahun 1950. Dengan memotong lopis berukuran besar oleh kepala daerah setempat. Proses memasak lopis raksasa membutuhkan waktu 4-5 hari, dengan menggunakan dandang berukuran besar. Untuk memindahkannya, harus memakai katrol.

Tahun ini Syawalan yang jatuh pada hari Ahad (2/7), lopis raksasa di Krapyak dibuat dengan diameter 213 cm dan tinggi 232 cm. Lopis dengan berat 1252 kg ini siap dibagi-bagikan kepada siapa pun yang hadir.

Nur Hidayah (50) warga Krapyak kepada PKB Kab Tegal mengatakan, tidak hanya lopis raksasa yang khas di Syawalan, hal unik lainnya adalah warga Krapyak yang mayoritas warga nahdliyyin memberikan makanan ataupun minuman secara gratis bagi siapa saja yang bertamu ke rumah pada hari kedelapan Syawwal.

Selain lopis raksasa, warga Pekalongan di beberapa? kawasan lain juga merayakan Syawalan dengan menerbangkan balon udara. Tradisi balon udara ini konon merupakan tradisi orang keturunan Indo Eropa zaman dulu yang bermukim di Pekalongan. (Iz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Santri PKB Kab Tegal