Senin, 05 Februari 2018

Jelang Putaran Kedua Pilkada, Warga Jakarta Jangan Takut Intimidasi

Jakarta, PKB Kab Tegal - Direktorat Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) Polda Metro Jaya AKBP Anjar Gunadi mengimbau masyarakat Jakarta untuk bergembira menyongsong putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Gunadi mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya pada kesempatan kedua ini sesuai dengan pilihan hati masing-masing.

Demikian disampaikan AKBP Anjar Gunadi dalam tasyakuran Harlah Ke-94 NU di aula Yayasan Darul Marfu, Jalan H Zainudin, Radio Dalam, Gandaria, Jakarta Selatan, Ahad (9/4) malam.

Jelang Putaran Kedua Pilkada, Warga Jakarta Jangan Takut Intimidasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Putaran Kedua Pilkada, Warga Jakarta Jangan Takut Intimidasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Putaran Kedua Pilkada, Warga Jakarta Jangan Takut Intimidasi

Ia juga mengajak masyarakat untuk menghargai pilihan anggota masyarakat yang berbeda. Menurutnya, dukung-mendukung calon adalah hak dari anggota masyarakat, tetapi harus tetap berada di jalur hukum dan tuntutan nilai-nilai etika yang berlaku.

PKB Kab Tegal

“Ini zaman pilkada. Tak perlu sikut-sikutan. Tahun 2019 nanti kembali pilpres. Kita akan melewati pemilihan umum terus ke depan, tak putus-putus. Semoga masyarakat tidak bosan. Ini tuntutan demokrasi,” kata Gunadi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak khawatir dengan pilihannya karena pihak kepolisian dan TNI akan mengawal proses pilkada Jakarta ini.

PKB Kab Tegal

Gak usah takut. Sama setan saja kita tidak boleh takut. Setiap TPS, satu polisi dan satu TNI. Ini pesta demokrasi. Semua harus senang. Jangan sampai ketakutan. Dan jangan golput,” kata Gunadi di hadapan ratusan warga NU.

Sementara Walikota Jakarta Selatan menegaskan bahwa pilkada Jakarta ini adalah pesta demokrasi. Semua orang harus senang mengikuti pesta ini.

“Kalau ada intimidasi, laporkan ke dandim dan kapolres. Tak boleh ada intimidasi. Tak boleh menakut-takuti. Indonesia milik semua orang,” kata Walikota Jakarta Selatan.

Peringatan Harlah NU ini diawali dengan khataman Al-Quran dan ditutup dengan istighotsah. Di sela acara pengurus harian PCNU Jakarta Selatan memberikan bantuan kepada puluhan anak-anak yatim dan dhuafa.

Dalam khataman dan istighotsah yang diselenggarakan PCNU Jakarta Selatan ini tampak hadir Direktorat Kamtibmas Polda Metro Jaya AKBP Anjar Gunadi, Kapolres Jaksel Kombes Iwan, Dandim Jakarta Selatan, Walikota Jakarta Selatan Tri Kurniadi. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Lomba PKB Kab Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Rais Suriyah MWCNU Wafat, Bupati Jepara Berbela Sungkawa

Jepara, PKB Kab Tegal. KH Miftah Abu, Rais Syuriah MWCNU Pecangaan meninggal dunia, di RSUD Kartini Jepara, Sabtu (03/10) kemarin. Wafatnya tokoh NU Jepara mendapat ucapan bela sungkawa dari banyak kalangan, utamanya bupati Jepara.

Rais Suriyah MWCNU Wafat, Bupati Jepara Berbela Sungkawa (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Suriyah MWCNU Wafat, Bupati Jepara Berbela Sungkawa (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Suriyah MWCNU Wafat, Bupati Jepara Berbela Sungkawa

Dalam sambutannya mewakili pemerintah daerah, Bupati Jepara H Ahmad Marzuqi merasa kehilangan salah satu keping dari Jepara. “Ujian agung yang diturunkan kepada kita harus kita hadapi dengan sabar,” katanya kepada ribuan pentakziyah yang memadati rumah duka di Karangrandu, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, Ahad (04/10) pagi.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, ia berharap agar estafet perjuangan diteruskan oleh anak-anaknya. KH Makmun Abdullah Hadziq mewakili shahibul musibah menambahkan, sosok Kiai Miftah bagi dia merupakan suri tauladan yang hanya memikirkan umat.

PKB Kab Tegal

Pada Muktamar NU di Jombang ke 33 lalu, meski usianya sudah sepuh namun almarhum masih mengikuti kegiatan lima tahunan NU ini.? “Kiai Miftah perlu kita contoh. Momen itu merupakan napak tilas perjuangan beliau. Beliau adalah pejuang yang ikhlas,” tutur pengasuh pesantren Balekambang Jepara.

Ketua PCNU Jepara, KH Asyhari Samsuri menyebut A’wan Rais Syuriah PCNU Jepara ini sosok yang ikhlas, merakyat dan qanaah. “Dengan kembalinya almarhum keharibaan Allah merupakan duka bagi warga NU Jepara,” paparnya.

PKB Kab Tegal

Kiai Asyhari berharap NU sanggup untuk meneruskan perjuangan-perjuangannya. Sedangkan KH Kamil Ahmad, Rais Syuriah PCNU Jepara mengharapkan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dalam menghadapi musibah.? KH Miftah Abu meninggal dalam usia 75 tahun. Meninggalkan 1 istri Maslihah dan 5 anak Ahmad Sahil, Yusrotun, M. Sahal, Anas Maimun dan Anizah. Almarhum dikebumikan di maqbarah belakang masjid Baiturrahim Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Foto: KH Miftah Abu, Rais Syuriah MWCNU PecangaanKH Miftah Abu, Rais Syuriah MWCNU Pecangaan

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Doa PKB Kab Tegal

Hadapi MEA, IPPNU Garut Luncurkan Produk Kreatif

Jakarta, PKB Kab Tegal - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU) Garut menyambut baik kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang mulai berlaku pada Desember 2015. Kepengurusan pelajar NU Garut ini meresmikan tiga produk di jalan Cimanuk Kelurahan Muara Sanding Kecamatan Garut Kota, Sabtu (30/1).

Mereka mengembangkan tiga usaha kreatif yang dirintis IPPNU Garut sejak 2014 lalu. Tiga produk itu mencakup produk kuliner jajanan khas yang terkenal dengan pelbagai level pedasnya, Seblak Calawak, cemilan, dan juga karangan bunga.

Hadapi MEA, IPPNU Garut Luncurkan Produk Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi MEA, IPPNU Garut Luncurkan Produk Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi MEA, IPPNU Garut Luncurkan Produk Kreatif

Dari segi sajian tampak berbeda dari seblak pada umumnya, variasi kerupuk dengan aneka porsi yang ditawarkan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Setiap harinya Seblak Calawak habis sekira 80 cup ditambah pesan-antar untuk wilayah Garut Kota. Pelanggan dapat juga menjumpai jajanan seblak ini Jalan Cimanuk Kelurahan Muara Sanding.

Penanggung jawab umum usaha kreatif ini Sofa Siti Marwah mengatakan, “Ketiga usaha ini tidak berdiri tanpa hambatan, tetapi karena kekompakan pengurus dan keinginan pengurus IPPNU Garut kuat, usaha ini bisa terwujud sebagai kontribusi kami dalam mengahadapi MEA, dengan kualitas yang terbaik dan siap bersaing dengan negara-negara yang tergabung di dalam MEA.”

PKB Kab Tegal

Produk lainnya Makring Calawak, cemilan ringan yang terdiri atas dua jenis produk, emplod dan keripik jagung. Menurut penanggung jawab produk ini Sella Farijah, keduanya merupakan jajanan khas Garut yang disajikan dengan varian rasa mulai dari Original, Calawak Seuhah, Calawak Ngacay, dan Calawak Jengkang.

PKB Kab Tegal

Usaha ini sehari menghabiskan sekira 100 bungkus dengan pembeli dari beragam kalangan. Untuk membelinya bisa via pesan-antar atau langsung ke alamat yang sama dengan tempat Seblak Calawak.

Sementara produk terakhir karangan bunga yang terbuat dari kedebong pisang. Ketua tim unit usaha ini Siti Rohmah membuat kerajinan berupa variasi bunga seperti bunga mawar, bunga tulip dan berbagai bunga sesuai pesanan pembeli. Umumnya kerajinan ini belum terlalu familiar di kalangan masyarakat, tetapi justru disambut hangat karena dinilai memiliki daya tarik tersendiri.

Meski berbahan dasar kedebong pisang, daya tahannya bisa lebih lama karena dibuat seawet mungkin dengan bahan pendukung lainnya. Dengan demikian, pemesan tidak perlu khawatir cepat rusak jika disimpan sebagai hiasan rumah atau hiasan lainnya dalam waktu lama. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Aswaja PKB Kab Tegal

PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah

Kudus, PKB Kab Tegal. Pengurus Wilayah nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa tengah  menilai sertifikasi ulama dan dai sebagai bentuk sikap kebingungan pemerintah dalam penanganan aksi radikal maupun teroris Oleh karenanya, Nahdlatul Ulama secara tegas menolak sertifikasi ulama atau dai yang diwacanakan Badan nasional penanggulangan terorisme (BNPT) tersebut.  

PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jateng: Sertifikasi Ulama Bentuk Kebingungan Pemerintah

"Bila yang menjadi kerisauan pemerintah adalah dai  yang menimbulkan keresahan dan mendorong terjadinya radikal atau teror, tangkap saja! Apalagi  jumlahnya tidak banyak dan orangnya itu-itu saja," kata Ketua PWNU Jateng KH Moh Adnan, dalam acara Halal bi halal Badan Pelaksana Pendidikan Hasyim Asyari Kudus, Selasa (11/9).

Ia mengatakan ide BNPT ini membingungkan berbagai kalangan karena di masyarakat banyak sebutan dan kategori tokoh ulama maupun juru dakwah seperti dai panggung, khotib, dai radio atau tv, dan lainnya 

PKB Kab Tegal

"Jika semua juru dakwah diseragamkan harus bersertifikasi, korbannya akan bertambah banyak dari pada target untuk mengawasi atau membatasi gerakan dakwah orang-orang yang memprovokasi," tandas KH Moh Adnan.

Di depan ratusan guru madrasah tersebut, KH Adnan menegaskan peranan dan posisi Nahdlatul Ulama terhadap nasib Bangsa. Dikatakan, NU dari masa ke masa selalu tampil di depan dalam menjawab persoalan bangsa.

PKB Kab Tegal

"Termasuk saat muncul radikalisme dan terorisme, Nahdlatul Ulama tampil dengan mengusung konsep Islam rahmatal lil alamin," tandasnya.

Tetapi. ketika bangsa menghadapi problem multi komplek belakangan ini, imbuhnya, posisi NU sepertinya mengalami pergeseran tidak memahami atau mengambil inisiatif memecahkan persoalan kecuali secara parsial.

"Kalau  indonesia ini tidak menyelesaikan masalahnya dan Nu tidak memiliki kemampuan sebagaiamana yang dicatat sejarah, saya tidak hanya khawatir nasib NU melainkan juga nasib bangsa ini,"tegasnya..

Usai berceramah pada acara yang bertempat di aula MANU Hasyim Asyari 2 Karangmalang Gebog Kudus ini, KH.Moh Adnan mengunjungi kampus Akademi Kebidanan Muslimat NU di jl Lambao Bae Kudus. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Warta PKB Kab Tegal

Peduli Keasrian, GP. Ansor Kencong Lakukan Penghijauan

Jember, PKB Kab Tegal

Musim hujan yang masih terus berlanjut dan kerap kali menimbulkan longsor, mendorong Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kencong, Jember, Jawa Timur  untuk melakukan penghijauan pada Ahad (29/1).

Penghijauan tersebut dilakukan di Dusun Wonoroto, Desa/Kecamatan Umbulsari, Jember dengan melibatkan 30 anggota Banser. Seribu lebih pohon yang terdiri dari mahoni, mangga, dan jambu ditanam di sisi kiri-kanan beberapa ruas jalan di dusun tersebut.

Menurut Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kencong Muhammad Yasin Yusuf Gahzali, penghijauan tersebut sebagai bentuk kepedulian Ansor terhadap keasrian, kelestarian dan juga keindahan jalan desa. “Selain itu, pohon-pohon itu bisa mencegah longsor dalam skala kecil. Lebih dari itu, buah pohon tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kelak,” ujarnya kepada PKB Kab Tegal.  

Peduli Keasrian, GP. Ansor Kencong Lakukan Penghijauan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Keasrian, GP. Ansor Kencong Lakukan Penghijauan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Keasrian, GP. Ansor Kencong Lakukan Penghijauan

Yasin menambahkan, pohon-pohon di pinggir jalan dewasa ini semakin langka. Padahal, banyak sekali gunanya. Selain untuk kesejukan, pohon di pinggir juga berfungsi sebagai pembatas kanan-kiri jalan.

Dulu, katanya, pohon-pohon di pinggir jalan menjadi ciri khas jalan desa, sebagaimana pohon asam yang kokoh menjadi “pagar” di berbagai ruas jalan perkotaan. “Sekarang pohon-pohon di pingir jalan, sudah mulai punah. Dan kami priahtin sekali, sehingga kami berharap ini (penghijauan) juga menginspirasi pihak lain untuk melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Dalam penghijauan tersebut, Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kencong juga melibatkan murid-murid MI Darul Huda, Dusun Wonoroto. Tujuanya adalah untuk menanamkan kecintaan mereka terhadap lingkungan. Sebab, mereka adalah calon pemilik dusun yang juga punya tanggung jawab terhadap  keasrian dan kelestarian lingkungannya. “Mereka kita ajak terlibat dalam dalam penanaman, agar tertanam kesadaran  sejak dini dalam diri mereka betapa pentingnya pohon, sebagai penyangga kehidupan manusia,” urainya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi) 

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Sunnah PKB Kab Tegal

Majelis Dzikir Hubbul Wathon Berkomitmen Kawal NKRI dan Pancasila

Jakarta, PKB Kab Tegal. Dalam konteks keindonesiaan, Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) ingin menjadi garda terdepan dalam dalam mengawal NKRI dan Pancasila, serta menjadi tempat berkumpulnya seluruh elemen bangsa. Untuk konteks global, MDHW ingin menjadi jembatan komunikasi dan silaturahim antarumat beragama.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum MDHW KH Musthofa Aqil Siroj dalam laporannya kepada Presiden Joko Widodo di halaman Istana Merdeka Jakarta, Selasa (1/8) malam.

Majelis Dzikir Hubbul Wathon Berkomitmen Kawal NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Dzikir Hubbul Wathon Berkomitmen Kawal NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Dzikir Hubbul Wathon Berkomitmen Kawal NKRI dan Pancasila

“Bapak Presiden dan peserta dzikir kebangsaan yang saya hormati. Kami ingin peran ulama dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan kembali dihidupkan dan mendapatkan ruang. Resolusi jihad yang pernah difatwakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari harus dikontekstualisasi dengan kondisi saat ini,” ujarnya disambut aplaus hadirin.

Menurut dia, memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Ke-72 Republik Indonesia, saat ini kita memiliki tugas untuk mengajak negerasi muda mencintai tanah airnya. 

PKB Kab Tegal

“Cinta agama itu iya, namun cinta Tanah Air juga iya. Jadi, antara cinta agama dan Tanah Air tidak boleh dipertentangkan,” tegas Kiai asal Cirebon ini.

Selain sebagai wujud syukur dan cinta Tanah Air, lanjut dia, melalui dzikir dan doa bersama berbagai masalah yang menghambat kemajuan bangsa segera dapat teratasi. 

“Melalui dzikir dan doa bersama ini semoga Indonesia menjadi negara yang tenteram, aman, damai,” harapnya.

PKB Kab Tegal

Rais Syuriah PBNU ini juga berharap, semoga ihktiar kita diridhoi Allah. Secara khusus ia menyampaikan ucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah memfasilitasi dan memberikan dukungan penuh terhadap terselenggaranya acara dzikir kebangsaan di halaman istana.

“Tak lupa ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada saudara Hery Haryanto Azumi, selaku Sekjen MDHW sekaligus ketua pelaksana dzikir kebangsaan, yang dengan gigih dan bekerja keras mensukseskan acara ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada semua pihak—baik dari pihak Istana maupun panitia—atas terselenggaranya acara ini,” paparnya.

MDHW, kata Kiai Musthofa Aqil, lahir dengan semangat ingin menjadi sarana atau jembatan terbangunnya aliansi strategis bagi segenap elemen bangsa untuk bersama-sama ikut mensukseskan berbagai agenda kebangsaan. Visi MDHW ingin mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang agamis dan nasionalis, berkeadilan dan demokratis.

“Sedangkan misinya ingin mengkonsolidasi semua elemen masyarakat dalam rangka mencari jalan keluar atas berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Internasional, Pertandingan PKB Kab Tegal

40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara

Tak bisa dipungkiri, pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia telah banyak mencetak generasi yang justru mampu merawat tradisi masyarakat lokal. Tak hanya itu, para lulusan lembaga pendidikan Islam klasik tersebut juga telah melahirkan banyak pejuang kemerdekaan Indonesia. Hal inilah yang menginisiasi masyarakat untuk mendirikan madrasah formal sebagai tindak lanjut pendidikan di pesantren.

Masyarakat di Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah misalnya. Diadvokasi oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU setempat, masyarakat di desa tersebut berhasil mendirikan madrasah pertama di pesisir pantai utara Kecamatan Losari pada tahun 1975 dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Al-Islamiyah Prapag Kidul, Losari. Selama 40 tahun, madrasah ini dipercaya oleh masyarakat di empat desa, yakni Desa Prapag Kidul, Prapag Lor, Karang Dempel, dan Limbangan untuk mengisi pendidikan agama kepada anak-anak di pesisir pantai utara.

40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara

Tak banyak juga yang mengetahui, bahwa MI Al-Islamiyah Prapag Kidul ini merupakan salah satu madrasah tertua di Kecamatan Losari. Meskipun di Desa Prapag Kidul saat ini terdapat 3 Sekolah Dasar (SD), masyarakat lebih memilih madrasah ini untuk pendidikan anak-anaknya karena sudah dipercaya masyarakat selama puluhan tahun.

PKB Kab Tegal

“Madrasah ini terus berusaha mengembangkan diri dari berbagai aspek dan keterampilan pendidikan untuk memenuhi aspirasi masyarakat juga, karena MI ini lahir dari masyarakat,” ujar Kepala MI Al-Islamiyah Prapag Kidul Losari, Burhanuddin, SPdI.

Setiap tahun, MI Al-Islamiyah Prapag Kidul selalu dipenuhi dengan pendaftar. Sehingga terkadang harus menolak calon siswa baru. Untuk menyikapi persoalan ini, MI Al-Islamiyah terus berusaha mengembangkan sarana dan prasarana berupa penambahan ruang belajar siswa. Perkembangan pesat ini bisa dikatakan dimulai sejak tahun 1995. Terhitung sejak tahun tersebut, MI Al-Islamiyah telah memperluas lahan untuk dibangun ruang kelas baru.

PKB Kab Tegal

Perkembangan sarana dan prasarana itulah yang bisa dikatakan, bahwa MI Al-Islamiyah lebih maju dibanding 3 sekolah umum setingkatnya di Desa Prapag Kidul. Jadi, jika di SD ruang kelas 1 hanya ada 1 kelas, di MI Al-Islamiyah telah menyediakan 2 kelas. Hingga 2015 sekarang, perkembangan madrasah yang menjadi primadona warga pesisir ini cukup representatif dalam memajukan pendidikan Islam di tengah masyarakat.

Iklim pengajaran berbasis lingkungan

Sarana yang semakin banyak membuat masyarakat juga tak perlu khawatir untuk memasukkan anaknya ke MI Al-Islamiyah Prapag Kidul. Kini, madrasah sedang mengembangkan lingkungan yang ramah anak untuk proses pengembangan pendidikannya. Lingkungan yang memadai menjadi salah satu perhatian utama madrasah untuk mewujudkan iklim pengajaran yang nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik.

Dengan lingkungan yang memadai, MI Al-Islamiyah memanfaatkan keragaman lingkungan seperti membuat taman dengan berbagai penghijauan. Selain itu, madrasah juga memanfaatkan lingkungan sekitar yang masih asri untuk sarana outdoor learning para siswanya dalam memahami keanekaragaman hayati. Khususnya karakter daerah pesisir pantai dengan khazanah historis yang melingkupinya. Untuk menunjang hal tersebut, madrasah juga menggunakan instrumen tradisi masyarakat lokal dalam rangka pemahaman budaya berbasis lingkungan, seperti sedekah bumi dan sedekah laut.

Sedekah bumi memiliki nilai-nilai luhur yang memberi pesan kepada peserta didik, bahwa bumi yang kaya harus dikelola dengan baik dan benar. Dari bumilah tumbuh berbagai macam tanaman, baik yang masyarakat tanam atau yang tumbuh secara alami di pekarangan atau kebun. Dari tradisi ini, peserta didik juga diajarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang dianugerahkan Tuhan dalam bentuk tanaman atau pepohonan yang menghasilkan bahan makanan sehari-hari. Hal tersebut menjadi media belajar siswa, bahwa menanam, menjaga, dan memelihara tumbuhan menjadi kewajiban manusia agar bumi selalu subur.

Demikian pula dengan tradisi sedekah laut, peserta didik juga dikenalkan dengan konsep pelestarian alam berbasis laut. Sehingga turut menjaga keanekaragaman laut untuk kehidupan di masa mendatang. Berangkat dari tradisi sedekah laut juga, para siswa diberikan pelajaran, bahwa mensyukuri anugerah Tuhan atas kekayaan melimpah di laut perlu dijaga, dilestarikan, dan disyukuri. 

Nilai-nilai pendidikan berbasis lingkungan tersebut sejalan dengan ajaran agama, ‘Kerusakan di laut dan di bumi merupakan ulah tangan para manusia.’ Sehingga generasi muda sebagai modal pembangunan perlu diberikan kesadaran sejak dini untuk melesatarikan lingkungan, baik di bumi maupun laut. Hal inilah yang mendorong MI Al-Islamiyah untuk mengembangkan pendidikan berbasis lingkungan. Apalagi sekarang, di tepi pantai, daratan semakin tergerus oleh laut yang berpotensi menggerus pemukiman sehingga masyarakat sudah harus sadar mengisi pesisir dengan penanaman pepohonan seperti mangrove.

Selain outdoor learning sebagai basis pengajaran, MI Al-Islamiyah juga mengembangkan keterampilan siswa dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Madrasah ini menerapkan sistem ngaji bareng hingga shalat berjamaah sebagai ekstrakurikuler agama. Selain itu, kecerdasan psikomotorik juga dikembangkan oleh MI Al-Islamiyah melalui berbagai kegiatan olahraga, seperti ekstrakurikuler bola voli. Selain itu, medan daerah pesisir juga sangat cocok untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang dilakukan oleh gerakan pramuka MI Al-Islamiyah.

Saat ini, MI Al-Islamiyah dikelola oleh Yayasan Al-Islah Prapag Kidul, Losari, Brebes. Madrasah ini juga salah satu madrasah yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Sebab itu, pola pengajaran paham keagamaan mengacu pada prinsip Aswaja NU yang konsisten dengan prinsip dan paham Islam yang ramah dan toleran. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Makam PKB Kab Tegal