Rabu, 08 November 2017

Ipmafa Bantu Korban Banjir di Pati

Pati, PKB Kab Tegal. Program Studi Manajemen Zakat Wakaf ? Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati, Jawa Tengah, mendatangi salah satu wilayah korban banjir Pati, Ahad (19/3).

Kaprodi Zawa Ipmafa Jamal Mamur Asmani, didampingi Sekprodi M. Luthfi dan perwakilan dari anggota BEM setempat menyerahkan bantuan secara langsung kepada Agus Sutrisno, Ketua RT 02/RW 03 Dukuh Penggingwangi, Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, Pati.

Ipmafa Bantu Korban Banjir di Pati (Sumber Gambar : Nu Online)
Ipmafa Bantu Korban Banjir di Pati (Sumber Gambar : Nu Online)

Ipmafa Bantu Korban Banjir di Pati

Kondisi di desa yang mempunyai 96 kepala keluarga ini tergolong memprihatinkan. Lokasinya yang terletak di pinggiran Kabupaten Pati dan lebih rendah dari bantaran sungai yang ada di sampingnya mengakibatkan setiap tahun area tersebut tergenang kala air sungai meluap dan membutuhkan waktu lama untuk surut.

Bantuan yang diserahkan Prodi Zawa Ipmafa tersebut berasal dari donasi seluruh civitas akademika Ipmafa Pati yang meliputi pakaian pantas pakai dan mie rebus.

PKB Kab Tegal

Agus Sutrisno menyampaikan rasa terima kasih kepada Ipmafa yang berkenan memberikan bantuan. Bantuan tersebut akan didistribusikan kepada warga setempat yang betul-betul membutuhkan.

Jamal Mamur Asmani setelah penyerahan bantuan tersebut menyatakan, Ipmafa sebagai kampus riset berbasis nilai-nilai pesantren selalu menjadikan nilai-nilai pesantren sebagai referensi utama dalam setiap kegiatannya. Sikap tolong menolong kepada sesama adalah salah satu nilai pesantren yang sangat luhur yang relevan diterapkan dalam situasi dan kondisi apapun, apalagi saat ujian datang.?

PKB Kab Tegal

“Dengan mengunjungi korban secara langsung sudah seyogianya Pemerintah Kabupaten Pati menata kembali sungai yang ada di Dukuh Penggingwangi supaya tidak menjadi hantu yang menakutkan bagi warga-warganya,” ujarnya.

Menurutnya, sungai tersebut sudah harus dinormalisasi supaya mampu menampung debit air, sehingga tidak meluap dan menggenangi rumah warga setiap tahunnya. Kerja sama antara pemerintah Pati dan Kudus menjadi keniscayaan karena sumber air di Dukuh Penggingwangi banyak berasal dari Kudus, mengingat lokasinya menjadi daerah perbatasan Pati-Kudus. Kerja sama ini diharapkan mampu mengatasi persoalan banjir yang terjadi setiap tahun supaya masyarakatnya bisa tenang bekerja. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal

Ideologi Urusan NU dan Muhammadiyah, Teroris Urusan TNI dan Polri

Jepara, PKB Kab Tegal?



Rais Syuriah PCNU Jepara KH Ubaidillah Noor Umar mengatakan, jam’iyyah NU dan Muhammadiyah harus selalu dibesarkan. Ia menyampaikan hal itu pada silaturrahim Kapolres Jepara, PCNU, Pengurus Daerah Muhammadiyah dan media yang berlangsung di gedung NU Jepara, Jawa Tengah pada Kamis (9/2).?

Jika sudah besar, kata pengasuh pesantren Darul Ulum Bandungharjo Donorojo Jepara tersebut, Kapolres tidak perlu patroli, tidur saja karena sudah diurusi NU dan Muhammadiyah.?

Ideologi Urusan NU dan Muhammadiyah, Teroris Urusan TNI dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ideologi Urusan NU dan Muhammadiyah, Teroris Urusan TNI dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ideologi Urusan NU dan Muhammadiyah, Teroris Urusan TNI dan Polri

Yang panting, lanjutnya, ialah mengidentifikasi 73 golongan Islam yang pernah disabdakan Nabi Muhammad. “Islam NU itu yang bagaimana, Muhammadiyah seperti apa, Syiah maupun Wahabi yang bagaimana perlu direnungkan bersama,” harapnya sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut.?

Karena itu, untuk urusan ideologi, serahkan kepada NU dan Muhammadiyah. Polri dan TNI di belakang. Sedangkan untuk urusan teroris, NU dan Muhammadiyah di belakang dan mendukung sepenuhnya kinerja aparat keamanan.?

PKB Kab Tegal

Kiai Ubaid bersyukur kantor PCNU Jepara disambangi berbagai kalangan mulai polisi, tentara, pendeta maupun biksu. Menurut dia, silaturahim seperti itu harus terus dirawat, tidak membenci tradisi baik yang ada di masing-masing pihak. Termasuk di dalam Islam sendiri. ? ?

Ketua PD Muhammadiyah Jepara Fahrurrazi menyampaikan hasil kunjungan petinggi PDI Perjuangan di gedung Pengurus Pusat Muhammadiyah. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa masyarakat Indonesia sepakat dengan NKRI harga mati.?

Adapun 4 pilar NKRI itu sebutnya NU, MD, TNI dan Polri. Keempatnya elemen tersebut tegasnya adalah jangkar kekuatan NKRI.?

PKB Kab Tegal

Hal lain ditambahkan AKBP M. Samsu Arifin. Menurut Kapolres Jepara itu berdirinya negara Indonesia tidak lepas dari jerih payah NU dan Muhammadiyah; KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. “Tanpa jasa beliau-beliau polisi tidak bisa apa-apa,” jelasnya.?

Apalagi yang berkaitan yang ada di dalam kepala, ideologi. “Jelas kita tidak mampu menembusnya,” tambahnya.?

Momen itu terang Samsu merupakan sarana untuk membesarkan NU dan Muhammadiyah karena mulai berdirinya bangsa hingga saat ini tidak lepas dari kontribusi ulama. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Hadits, Sejarah, Daerah PKB Kab Tegal

Selasa, 07 November 2017

CBP-KKP Kudus Bekali Anggota Dengan Latgab

Kudus, PKB Kab Tegal. Dewan Koordinasi Cabang Corp Brigade Pembangunan dan Korp Kepanduan Putri (DKC CBP-KKP) IPNU-IPPNU Kudus mengadakan  latihan gabungan (Latgab) di Sungai Kaligelis Jurang Gebog Kudus, Ahad (19/5). 

Latgab yang berlangsung sehari itu diikuti sebanyak 32 anggota CBP-KKP pilihan dari kecamatan se Kudus.

CBP-KKP Kudus Bekali Anggota Dengan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP-KKP Kudus Bekali Anggota Dengan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP-KKP Kudus Bekali Anggota Dengan Latgab

Dalam kegiatan tersebut, peserta diberi bekal  materi khusus teknik pertolongan pertama pada kecelakaan(P3K) dan turun tebing. Selain teori yang disampaikan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kudus dan instruktur dari DKC CBP-KKP Kudus, semua peserta laki-laki dan perempuan melakukan praktik penanganan korban dan latihan turun tebing dari jembatan Kali Gelis.

PKB Kab Tegal

Komandan CBP Kudus Khoirul Anam mengatakan Latgab bertujuan memberikan bekal tambahan ketrampilan dalam membantu  korban kecelakaan maupun bencana. 

“Selain itu, untuk mempererat jalinan silaturrahim dan membangun kepeduliaan serta kekompakan anggota antar anggota CBP-KKP,” ujarnya kepada PKB Kab Tegal di sela-sela Latgab.

PKB Kab Tegal

Ia menyatakan Latgab dengan materi khusus  P3K ini supaya anggota CBP-KKP memiliki keterampilan khusus penanganan korban kecelakaan. Sedangkan latihan turun tebing ini dimaksudkan untuk melatih anggota terampil menuruti tebing sehingga mampu menangani  bila terjadi bencana di pegunungan.

“Pada intinya, semua kader CBP-KKP ini selalu siap sedia membantu pada waktu terjadi bencana baik di jalanan, pegunungan maupun perairan,” tambah Anam.

Ketika ditanya, Alumnus STAIN Kudus ini menjelaskan peranan CBP-KKP sangat signifikan dalam upaya membentuk kader muda NU. Disamping melatih keterampilan dan membangun kepedulian, organisasi sayap IPNU-IPPNU ini juga  mempersiapkan jiwa-jwa kader yang siap  memperkokoh rasa nasionalisme.

“Hingga kini, jumlah anggota CBP-KKP Kudus mencapai ratusan yang tersebar di ranting. Semuanya terdidik dan terdampingi menjadi kader ajaran Aswaja yang memiliki semangat nasionalisme tinggi,” imbuh Anam.

Menurut rencana, pihaknya akan mengadakan pendidikan latihan utama (Diklatama) tingkat karesidenan Pati bulan Juli mendatang. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal News, Nasional PKB Kab Tegal

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom!

Tasikmalaya, PKB Kab Tegal

Pelajar muslim harus berjihad melalui berbagai bidang diantaranya ekonomi, budaya, dan pendidikan. Saat ini pelajar dan generasi muda sudah tidak zamannya lagi lempar bom, perang, dan sebagainya atas nama jihad agama.

Hal itu disampaikan Haryadi Ahmad Satari Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang juga Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya saat mengisi materi Seminar Peningkatan Wawasan Pelajar Muslim Nusantara di Kantor MWCNU Salopa, Rabu (20/1).

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom!

“Di negara kita masih banyak yang harus kita fikirkan dan perbaiki seperti ekonomi , dimana anak muda sekarang bisa mengisi peluang dan memperbaiki ekonomi untuk jangka panjang ke depan. Nah anak muda ini sebagai pelopor dan bisa berkreativitas untuk lebih memajukan daerah dan negara diawali dari diri sendiri,” paparnya.

Adapun jihad lewat budaya, tambahnya, adalah pelajar harus bisa mengaplikasikan Qowaid Ushul Fiqh yang menjadi landasan NU, Almuhafaadzatu ala al-qadimi asshalih wal akhadzu bil jadidil ashlah.

Lewat kegiatan ini, imbuhnya, adalah salah satu bentuk hormat kepada para pejuang kemerdekaan yang memperjuangkan jiwa dan raga. “Kita harus isi Kemerdekaan ini dengan cara yang positif, salah satunya dengan terus belajar bersama seperti kegiatan ini,” ujarnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Fragmen, Quote PKB Kab Tegal

Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli

Ini adalah halaman sampul dan halaman ketiga dari kitab “Samîr al-Shibyân li Ma;rifah Furûdh al-A’yân” karangan Syekh Hasan al-Dîn ibn Muhammad Ma’shûm ibn Abî Bakr al-Dâlî al-Samatrâwî (Syekh Hasan Ma’shum Deli, w. 1937), seorang ulama besar Nusantara yang juga mufti Kesultanan Deli pada awal abad ke-20 M.

Kitab ini mengaji tentang tuntunan dasar ajaran agama Islam (ushûl al-dîn), yang mencakup kajian tentang dasar-dasar tauhid, juga dasar-dasar hukum fiqih ibadah atas madzhab Syafi’I, mulai dari bersuci, sembahyang, zakat, puasa, hingga haji.

Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli

Dalam kata pengantarnya, Syekh Hasan Ma’shum Deli mengatakan bahwa para koleganya telah berkali-kali meminta dirinya untuk menuliskan sebuah risalah yang menghimpun penjelasan tentang tuntunan dasar ajaran agama Islam bagi kalangan pemula dalam bahasa Melayu, yang mencakup kajian tauhid dan fiqih ibadah.

Syekh Hasan Ma’shum Deli menulis;

PKB Kab Tegal

? ? ? ? ?2 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?2 ? ? ?.

PKB Kab Tegal

(Amma Ba’du. Maka tatkala berulang-ulang permintaan setengah daripada al-ikhwan supaya hamba himpunkan bicara ‘Aqaid al-Iman dan yang bergantung dengan Furu’ Syari’ah daripada syarat-syarat dan rukun-rukun kadar yang tiada lebih dari pada Furudh al-A’yan karena hendak dihafalkan akandia bagi kanak-kanak yang baru belajar).

Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi). Dalam kolofon, disebutkan bahwa karya ini diselesaikan pada malam Selasa, 29 Ramadhan tahun 1341 Hijri (bertepatan dengan 15 Mei 1923 M). Mengacu pada titimangsa penulisan, besar kemungkinan karya ini ditulis dan diselesaikan di Deli. Tertulis pada kolofon di bagian akhir kitab;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 1341 ?

Karya ini kemudian dicetak dan diterbitkan sebelas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1934 M (1353 Hijri) di kota Kairo, oleh Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî. Tebal naskah cetakan ini sebanyak 55 halaman.

Pada versi cetakan ini, dicetak-sertakan juga karya Syekh Hasan Ma’shum Deli lainnya, yang berjudul “Tadzkirah al-Murîdîn fî Sulûk Tharîqah al-Muhtadîn” setebal 21 halaman. Karya terakhir mengkaji bidang tasawuf, etika, serta seluk beluk ajaran tarekat.

Saya mendapatkan naskah kitab ini dalam versi cetakan di atas dari sahabat saya asal Medan, al-Fadhil al-Mufti Sayyid Zuhdi, seorang graduan Universitas Al-Azhar Kairo sekaligus Program Pendidikan Fatwa pada Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta al-Mashriyyah.

Tentang sosok pengarang karya ini, yaitu Syekh Hasan Ma’shum Deli, ia dilahirkan di kawasan Labuan, salah satu wilayah Kesultanan Deli Darus Salam di Sumatera, pada tahun 1882 M (1300 H). Pada masa itu, di daerah pesisir utara pulau Sumatra terdapat beberapa negara bersistem Kesultanan bercorak Melayu-Islam, seperti Kesultanan Deli, Kesultanan Riau-Lingga, Kesultanan Siak Inderapura, Kesultanan Asahan, Kesultanan Johor, Kesultanan Selangor, Kesultanan Jambi, dan lain-lain.

Sang ayah, yaitu Syekh Ma’shum ibn Abi Bakar Deli, tercatat sebagai ulama besar Kesultanan Deli pada masanya yang mengajar di madrasah kesultanan tersebut. Ketika berusia 10 tahun, Syekh Ma’shum membawa serta anaknya, yaitu Syekh Hasan yang kita bicarakan ini, pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Ketika sang ayah pulang kembali ke negaranya di Kesultanan Deli, sang anak tetap tinggal di Makkah untuk bermujawarah dan belajar di sana.

Di antara guru-guru Syekh Hasan Ma’shum Deli ketika berada di Makkah adalah Syekh Ahmad ibn Muhammad Zain al-Fathâni, Syekh Ahmad al-Khayyâth al-Makkî, Syekh Sa’îd Bâ-Bashîl, Syekh Muhammad Husain al-Habsyî, Syekh Abû Bakar Muhammad Syathâ, Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdul Salam Kampar, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, dan lain-lain.

Pada tahun 1907 M (1325 H), Syekh Hasan Ma’shum pun pulang ke Kesultanan Deli. Sosoknya dikenal sebagai seorang yang berilmu pengetahuan luas. Ia pun mulai mengajar di madrasah kesultanan. Karir dan reputasinya kian cemerlang, hingga akhirnya Sultan Deli saat itu, Sri Sultan Ma’moen al-Rasyid Perkasa Alamsyah (memerintah 1879-1924 M), melantiknya sebagai mufti dan qadi Kesultanan Deli.

Di sekitar tahun 1914 M (1332 H), Syekh Hasan Ma’shum terlibat polemik dengan salah satu sahabatnya ketika belajar di Makkah dulu dan saat itu telah menjadi ulama di Ranah Minang serta menjadi salah satu tokoh gerakan pembaharuan (Kaum Muda), yaitu Syekh Abdul Karim Amrullah (ayahanda HAMKA, w. 1945 M).

Saat itu, Syekh Abdul Karim Amrullah menulis risalah berjudul “al-Fawâid al-Aliyyah fî Ikhtilâf al-Ulamâ fî Hukm Talaffuzh al-Niyyah”. Di sana beliau mengatakan bahwa mengucapkan “usholli” sebelum takbiratul ihram saat hendak melaksanakan shalat adalah perbuatan bid’ah dhalalah.

Syekh Hasan Ma’shum kemudian menulis risalah lain sebagai tanggapan (radd) atas risalah yang ditulis oleh kawannya itu dan membantah beberapa pendapat Syekh Abdul Karim Amrullah yang membid’ahkan pengucapan “ushalli” sebelum takbiratul ihram. Risalah tersebut berjudul “al-Quthûfât al-Saniyyah fî Radd Ba’dh Kalâm al-Fawâid al-‘Aliyyah”.

Rupanya, polemik antardua sahabat yang berbeda haluan itu, yaitu antara Syekh Abdul Karim Amrullah yang berhaluan modernis (kaum muda) dengan Syekh Hasan Ma’shum Deli yang berhaluan tradisionalis (kaum tua), sampai juga pada guru keduanya di Makkah sana, yaitu pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916 M). Sang guru pun pada akhirnya menulis sebuah risalah untuk menyudahi polemik kedua muridnya itu. Risalah tersebut berjudul “al-Khuthath al-Mardhiyyah fî Hukm al-Talaffuzh bi al-Niyyah”. Dalam risalah tersebut, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau mendukung pendapat Syekh Hasan Ma’shum Deli sekaligus meluruskan pendapat Syekh Abdul Karim Amrullah.

Syekh Hasan Ma’shum Deli terus berkhidmah sebagai pengajar sekaligus mufti Kesultanan Deli hingga wafat pada 24 Syawal 1355 Hijri (7 Januari 1937 M). (A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sejarah PKB Kab Tegal

Muludan, Ansor Patebon Gelar Budaya Pengajian Teaterikal

Kendal, PKB Kab Tegal. Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Patebon kabupaten Kendal bersama Dewan Kesenian Kendal meperingati maulid Nabi Muhammad SAW dengan pelbagai kegiatan mulai dari sema’an 30 juz Al-Quran, imtihan awwal TPQ 06 An-Nur Margosari. Sementara puncak peringatan maulid diisi dengan pementasan rebana, pembagian pohon, dan pengajian teaterikal bersama KH Amin Budi Harjono di halaman TPQ NU 06 An-Nur, Ahad (4/1) malam.

Ketua Panitia Maulid Nabi Muhammad SAW Ulul Azmi mengatakan, selain pembacaan maulid Simthud Durror juga ada beragam acara. Kegiatan puncak gelar budaya pengajian teaterikal diisi oleh musik sholawat dan puisi oleh Dewan Kesenian Kendal, Sedulur Caping Gunung Kendal, Penyair Sebumi Kelana Siwi Kristyaningtyas dan Narti Rikha, Penyair Semarang.?

Muludan, Ansor Patebon Gelar Budaya Pengajian Teaterikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Muludan, Ansor Patebon Gelar Budaya Pengajian Teaterikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Muludan, Ansor Patebon Gelar Budaya Pengajian Teaterikal

Peringatan maulid ini dihadiri jajaran pengurus PAC Ansor Patebon, Pengurus Dewan Kesenian Kendal, MWCNU Patebon, dan jamaah pengajian yang memadati halaman. Hujan yang menguyur, tidak mengurangi semangat mereka untuk memperingati puncak peringatan maulid Nabi Muhammad, Ahad (4/1) malam.

PKB Kab Tegal

“Semoga kegitan ini bisa menumbuhkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad dan memahami kearifan budaya lokal. Sebab, sekarang ini banyak akidah yang tidak sesuai dengan kearifan NU yang telah lama membumi ke masyarakat,” tutur Ketua Ansor Patebon Sukarto.

PKB Kab Tegal

Sementara Kiai Budi Harjono membagikan pohon dan caping kepada para jamaah. Ia berpesan kepada mereka untuk nandur, menanam pohon. Sebab Indonesia merupakan paru-paru dunia. Sementara caping gunung merupakan tanda bahwa bentuk lingkaran sebagai manifestasi perwujudkan kehidupan ini. sedangkan lambang gunung menjadi puncak hubungan manusia dengan Allah Swt.

“Kita adalah bangsa yang beradab. Semua aktivitas terkait-paut dengan puncak hubungan dengan Allah, ungkapan sehari-hari yang terucapkan seperti ealah, oalah, ndelalah, walah. Ungkapan yang telah membudaya tersebut sebagai bentuk Illah yakni selalu berhubungan langsung dengan Allah,” ucap Kiai yang akab dipanggil dengan sebutan Kiai Budi. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Amalan, Anti Hoax PKB Kab Tegal

Senin, 06 November 2017

Bagaimana Puasa dalam Pandangan Tasawuf?

Tujuan berpuasa, sesuai perintah Allah SWT adalah untuk menjadikan manusia bertakwa. Pelaksanaan ibadah puasa tidak hanya sekadar menahan makan dan minum. Dikaji dari sisi tasawuf, puasa harus dilaksanakan dengan melibatkan hati.

Berikut wawancara Kendi Setiawan dari PKB Kab Tegal dengan KH Lukmanul Hakim, dari Majelis Ifta’ Jam’iyyah Ahlu at-Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) DKI Jakarta.? ?

Bagaimana Puasa dalam Pandangan Tasawuf? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Puasa dalam Pandangan Tasawuf? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Puasa dalam Pandangan Tasawuf?

Ibadah puasa itu menurut tasawuf seperti apa?



Ibadah adalah perbuatan yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Nah, puasa itu menahan makan dan minum dari fajar sidiq sampai terbenamnya matahari. Puasa menurut tasawuf, bukan hanya menahan makan minum saja. Tapi harus bisa menjaga lisan dan hati. Makanya apa yang bisa membatalkan pahala puasa harus kita jaga.

PKB Kab Tegal

Ada lima hal yang bisa membatalkan pahala ibadah puasa, yaitu berbohong, mengadu domba, gibah, bersumpah palsu, dan mengumbar pandangan secara syahwat. Jikalau kita sanggup menghindarkan itu, maka kita bisa menjaga pahala puasa kita. Bukan hanya pahala puasa, tapi mendapatkan pahala di hadapan Allah SWT.

Kalau misalnya sekarang hanya puasa menahan makan dan minum itu puasa yang umum. Karena puasa itu ada dua, yaitu puasa ‘aam (umum) dan puasa khos (khusus). Puasa khos bukan hanya tidak makan dan tidak minum, tetapi termasuk menjaga hati. Maka puasa secara tasawuf tidak sekadar menahan haus dan lapar.

PKB Kab Tegal

Kalau dari sisi tasawuf seperti apa dalam menjalankan ibadah puasa ini?



Orang yang betul-betul senang dengan datangnya bulan Ramadhan yang diwajibkan berpuasa, puasanya akan menambah semangat. Sehingga terjadi peningkatan ibadah, juga dari fisiknya akan sehat. Seperti dalam hadits disebutkan “Berpuasalah engkau, maka akan sehat.” Insyaallah orang yang sedang sakit pun dengan melaksanakan puasa sesuai aturan, ia menjadi sehat.

Bagaimana upaya-upaya untuk berpuasa seperti yang disebutkan secara tasawuf?



Ya kita harus belajar, bukan hanya dari pelaksanaan secara syariat, tapi juga dari ketasawufannya, artinya belajar masalah hati. Ini yang paling berat. Termasuk orang yang mencapai tingkatan takwa, prosesnya tidak hanya ibadah syariat. Dari tahap muslim meningkat menjadi mukmin, kemudian muhsin. Setelah mukhlisin lalu mutaqqin (bertakwa).

Orang menjadi mukmin tidak hanya cukup dengan syahadat, karena iman itu apa? Iman itu diucapkan dengan lisan, hati meyakininya, dan anggota badan merasakan. Sebab orang muslim, tapi tidak mukmin masih banyak. Misalnya orang Islam, dalam KTP-nya dicantumkan beragama Islam. Tapi ia tidak shalat, itu kan namanya bukan mukmin.

Nah, sekarang melaksanakan ibadah, tapi harus muhsin. Artinya hal yang baik-baik saja yang dikerjakan, yang tidak baik harusnya ditinggalkan misalnya perbuatan maksiat.

Ada cara lain?



Sekarang orang yang sudah muhsin, menjalankan kebaikannya karena ingin dipuji orang lain. Ini jelas akan sia-siapa walaupun itu perbuatan baik. Oleh karena itu harus ikhlas, semata-mata perbuatan yang dikerjakan untuk mengharap ridla Allah SWT, barulah akan mencapai tahap mutaqqin.

Kalau sudah mutaqqin, Allah akan janjikan lima hal seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat At-Talaq ayat 2-5. Wamayyattaqillahi yaj ‘allahu mahrajaa, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar baginya, artinya akan keluar dari kesulitan.

Kemudian, wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, wa mayyatwakkal ‘alallahi faguwa habuhu. Dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.

Berikutnya, wa mayyattaqqillaha yaj ‘allahuu min amrihii yusraa. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.

Balasan lainnya bagi orang bertakwa adalah wa mayyattaqillaaha yukaffir ‘anhu sayyi aatihii wa yu’thim lahuu ajraa. Barangsiapa yang? bertakwa kepada Allah, nicscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.

Nah, untuk bisa mencapai tahap takwa seseorang harus lebih dulu ikhlas. Melakukan ibadah tanpa diketahui atau dipengaruhi orang lain. Hal yang sepele adalah saat seseorang misalnya akan mengerjakan shalat sunah, ada perasaan takut dipuji orang lain, akhirnya tidak jadi melakukan shalat sunah. Padahal? kalau ikhlas orang mau bilang apa, dia akan kerjakan demi ridha Allah. Masalah ikhlas ini, kita semua harus belajar, termasuk saya juga masih terus belajar. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ahlussunnah PKB Kab Tegal