Minggu, 11 Februari 2018

Pagar Nusa Siapkan Pendekar Kuat Mental dan Kokoh Spiritual

Salatiga, PKB Kab Tegal. Pagar Nusa menyiapkan barisan pendekar untuk tetap kuat fisik dan mental serta kokoh spiritualnya. Guna membangun benteng spiritual, Pagar Nusa menyelenggarakan Gemblengan Akbar dan Ijazahan Ilmu Hikmah di Lapangan Kalibening Salatiga, Sabtu-Ahad (16-17/9).

Agenda ini, dihadiri oleh ratusan pendekar di kawasan Karesidenan Semarang, para kiai dan sesepuh Pagar Nusa. Hadir pula Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, Waketum Pagar Nusa, M. Athoillah Habib dan jajaran Pimpinan Pusat Pagar Nusa.?

Pagar Nusa Siapkan Pendekar Kuat Mental dan Kokoh Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Siapkan Pendekar Kuat Mental dan Kokoh Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Siapkan Pendekar Kuat Mental dan Kokoh Spiritual

Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, menegaskan betapa pentingnya gemblengan dan ijazah ilmu hikmah ini.?

"Pagar Nusa harus siap dengan segala kondisi. Dengan latihan yang terus menerus, baik latihan teknik pencak silat maupun olah bathin dan penguatan spiritual. Keseimbangan dimensi inilah yang menjadi fondasi kekuatan Pagar Nusa," tegas Nabil.?

Nabil juga menyampaikan seruan agar Pagar Nusa fokus pada pengabdiannya. "Kunci pengabdian pendekar dan kader Pagar Nusa pada konsistensi, istiqomah. Mengabdi untuk siapa? Untuk kiai, pesantren dan NKRI," jelas Nabil.?

PKB Kab Tegal

Dalam orasi singkatnya, Ketum Pagar Nusa mengajak para pendekar dan kader Pagar Nusa tidak terpancing emosi di segala kondisi.?

"Sekarang ini dan mendatang, akan ada banyak godaan, pancingan kerusuhan. Di beberapa lokasi sudah mulai membara. Pagar Nusa jangan terpancing isu, jangan terbawa emosi. Pahami dengan jernih setiap fenomena, lalu koordinasi dengan jaringan yang ada," seru Nabil.?

"Pembenturan massa antara warga Nahdliyyin dengan pelbagai kelompok lain sudah mulai terjadi. Rentetan isu, dari Wahabi hingga kebangkitan PKI, kita harus jeli melihatnya. Jangan mau dibenturkan, Pagar Nusa punya pilihan sikap dan garis komando," terang Nabil.?

Untuk menguatkan jaringan dan konsolidasi pendekar, Pimpinan Pusat Pagar Nusa melakukan safari pendekar dan silaturahmi kader di berbagai daerah, dari ujung Aceh hingga Papua, dari Manado hingga Lombok, Nusa Tenggara Barat. Safari pendekar dan silaturahmi ini merupakan konsolidasi Pagar Nusa untuk mengabdi pada kiai dan menjaga NKRI. (Red: Fathoni)

PKB Kab Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Nahdlatul PKB Kab Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Bupati Inhu: Demi NU, Inhu Siap Tuan Rumah Nasional LSN 2018

Indragiri Hulu, PKB Kab Tegal?



Perhelatan akbar liga santri Region V Sumatera yang meliputi Riau dan Kepulauan Riau berhasil diselenggarakan dengan sukses. Salah satu faktor pendukungnya adalah sumbangsih dan dukungan total dari stakeholder daerah, di antaranya kepala daerah Indragiri Hulu.

Acara yang diawali dengan pertandingan final antara Pondok Pesantren Salafiyah Babussalam vs Pondok Pesantren Jabbal Nur yang berakhir dengan skor 3 - 0 itu berlangsung meriah dan dihadiri oleh ribuan warga yang datang dari berbagai penjuru di Provinsi Riau.?

Bupati Inhu: Demi NU, Inhu Siap Tuan Rumah Nasional LSN 2018 (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Inhu: Demi NU, Inhu Siap Tuan Rumah Nasional LSN 2018 (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Inhu: Demi NU, Inhu Siap Tuan Rumah Nasional LSN 2018

Di sela-sela acara, Bupati Indragiri Hulu H. Yopi SE, menyatakan dukungan dan kesiapannya untuk menjadikan Indrahiri Hulu sebagai tuan rumah Seri Nasional Liga Santri Nusantara tahun 2018.?

"Ini penting untuk gebyar dan dakwah NU di luar Jawa, terutama di tanah Sumatera. Saya kira sudah waktunya kita ingin membuktikan bahwa NU itu besar di mana-mana, bukan saja di Jawa bahkan di seluruh Indonesia," ujar Yopi sembari menyiratkan optimisme Selasa (29/8).

PKB Kab Tegal

"Saya yakin setelah melihat antusiasme dan dukungan masyarakat Riau terhadap LSN tahun 2017 ini. Pihak swasta pun demikian. Bahkan dengan bangga kami bisa mengatakan bahwa untuk LSN Region V Riau, kami tidak harus sampai mengeluarkan APBD tahun ini. Tanpa APBD aja bisa semeriah ini, tidak terbayang kalau mendapatkan dukungan lebih banyak stakeholder lainnya di tahun depan," imbuh Yopi.

Inhu Luar Biasa dan Perlu Diapresiasi?

Di tempat terpisah, PKB Kab Tegal menghubungi Irham Saifuddin yanng merupakan jajaran Direksi LSN yang ikut hadir dalam pembukaan LSN Region V Sumatra di Inhu.?

"Terus terang kami panitia nasional tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk gelaran liga santri di Riau. Semua sudah disiapkan oleh pemangku kepetingan setempat. Ini luar biasa dan harus diapresiasi. Ini patut dijadikan contoh daerah lainnya bahwa LSN bisa diselenggarakan tanpa tergantung APBN dan APBD."

Sementara itu Koordinator Kesebelasan Ponpes Salafiyah Babussalam, Zainal mengatakan, "Indragiri Hulu luar biasa. Terima kasih atas fasilitas yang diberikan kepada peserta. Saya apresiasi panitia lokal dan koordinator region serta panitia penyelenggara region atas suksesnya acara ini. Sebagai peserta, saya bisa merasakan kemurahan dan dukungan yang luar biasa dari Bupati Inhu. Saya dukung Inhu jadi tuan rumah tingkat nasional untuk LSN tahun depan."

PKB Kab Tegal

Penyelenggaraan liga santri di Region Sumatra V Riau ini diikuti oleh 16 pesantren yang tersebar di seluruh Provinsi Riau. Ini merupakan penyelenggaraan pertama bagi Riau karena tahun-tahun sebelumnya Riau belum berpartisipasi dalam kompetisi sepakbola paling besar di tanah air ini yang diikuti oleh 1.024 klub di seluruh tanah air. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Ubudiyah, Pemurnian Aqidah PKB Kab Tegal

90 Persen Penduduk Gaza Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

Jakarta, PKB Kab Tegal. Kepala Komite Populer terhadap Pengepungan Jamal Al-Khodari menggambarkan kondisi kehidupan di Jalur Gaza sebagai "bencana" setelah perang Israel terbaru.?

Dalam sebuah siaran pers, Al-Khodari mengatakan bahwa lebih dari 90 persen warga Palestina di Gaza hidup di bawah garis kemiskinan karena peningkatan tajam tingkat pengangguran.?

90 Persen Penduduk Gaza Hidup di Bawah Garis Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
90 Persen Penduduk Gaza Hidup di Bawah Garis Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

90 Persen Penduduk Gaza Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

"Pengungsi warga Gaza, yang tinggal di tempat penampungan, mengalami kondisi bencana," kata Al-Khodari, "karena mereka kehilangan kebutuhan dasar kehidupan setelah runtuhnya hampir semua fasilitas layanan utama seperti listrik, air dan sanitasi."?

PKB Kab Tegal

Dia mencatat bahwa krisis kemanusiaan meningkat setelah perang Israel di Jalur Gaza. "Penghasilan perseorangan menjadi di bawah $ 2 per hari," katanya.?

Al-Khodari mengatakan bahwa sekitar 95 persen air Gaza tidak dapat diminum dan air laut tercemar karena 40 juta liter air limbah yang tidak diolah mengalir ke dalamnya setiap hari. "Ini menimbulkan bencana pada kesehatan masyarakat dan juga industri perikanan," katanya.?

PKB Kab Tegal

Mengenai infrastruktur, Al-Khodari menekankan, itu sudah babak belur sebelum perang Israel terbaru karena pengepungan Israel, dan serangan udara selama perang memperburuk masalah.?

"Secara umum, semua aspek kehidupan sangat terpengaruh, termasuk sektor pertanian," katanya. "Tanah pertanian tercemar oleh bahan beracun dari roket Israel yang melanda peternakan," tambahnya.?

Al-Khodari menyerukan semua badan dan organisasi dunia Arab untuk segera menawarkan solusi cepat untuk menyelamatkan nyawa warga Gaza. (middleeastmonitor/mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Anti Hoax, Nahdlatul PKB Kab Tegal

Hari Id menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Semua orang memaknai Idul Fitri dengan cara dan daya pikirnya sendiri. Ada yang memaknainya dari segi etimologis, historis, filosofis, dan juga realis. Itu sah-sah saja. Demikian halnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla fil Akhlaq, wat Tashawwuf, wal Adabil Islamiyah, Syekh Abdul Qadir memaknai hari Id sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hari Id menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Id menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Id menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Artinya, “Idul Fitri itu bukan mengenakan pakaian bagus, mengonsumsi makanan enak, memeluk orang-orang tercinta, dan menikmati segala kelezatan duniawi. Idul Fitri adalah kemunculan tanda penerimaan amal ibadah; pengampunan dosa dan kesalahan; penghapusan dosa oleh pahala; kabar baik atas kenaikan derajat di sisi Allah, ‘pakaian’ pemberian, ‘harta benda’ baru, aneka pemberian, dan kemuliaan; kelapangan batin karena cahaya keimanan; ketenteraman hati karena kekuatan keyakinan; tanda-tanda Ilahi lain yang tampak; pancaran lautan ilmu dari dalam sanubari melalui ucapan; pelbagai kebijaksanaan, kafasihan, dan kekuatan retoris,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah li Thalibi Tariqil Haq Azza wa Jalla, Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1997 M/1417 H, juz II, halaman 34).

PKB Kab Tegal

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak menolak hal-hal yang bersifat lahiriyah-material. Tetapi ada yang tidak kalah dari unsur material, yaitu aspek non-material. Baginya, ketakwaan dan penerimaan amal-ibadah jauh lebih penting dari semua yang bersifat lahiriyah.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengutip riwayat Sayydidina Ali RA yang memakan roti dengan kualitas rendah di hari raya Idul Fitri. Betapa terkejutnya seorang sahabat yang mendapati Sayyidina Ali RA sedang memakan roti dengan kualitas rendah di hari raya Idul Fitri.

PKB Kab Tegal

“Bukankah ini hari raya wahai Amirul Mukminin? Kenapa baginda memakan roti seperti itu?”

“Hari raya Id itu bagi mereka yang puasanya diterima, amal ibadahnya diterima, dan dosanya diampuni. Bagiku, hari ini hari raya Id. Begitu juga esok hari. Setiap hari aku tidak bermaksiat kepada Allah, dan itu artinya setiap hari adalah hari raya Id bagiku,” jawab Sayyidina Ali RA.

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa hari raya Idul Fitri bukan soal mudik atau tidak mudik, bukan masalah pakaian baru-tidak baru, bukan perkara pakai dresscode atau tidak, bukan perihal berbagi uang receh-atau tidak. Hari raya Id adalah ketakwaan, kebijaksanaan, dan perbaikan hidup beragama ke depan di bawah cahaya iman dan kekuatan keyakinan kepada Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Sunnah, PonPes PKB Kab Tegal

Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Santri dan Pesantren

Jakarta, PKB Kab Tegal - Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. Mau tahu apa saja fakta-fakta menarik seputar santri dan dunia pesantren? Berikut adalah 11 ulasannya khusus untuk anda.

1. Para santri ngetel (masak) sendiri?

Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Santri dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Santri dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Santri dan Pesantren

Masak sendiri merupakan salah satu hal yang mendewasakan dalam dunia pesantren. Tempo dulu, ketika belum ada kompor, santri masak memakai kayu bakar. Ketika musim hujan tiba, tak jarang banyak hanger atau sandal jepit yang hilang. Ke mana hilangnya, ya, jelas ke tungku untuk memasak. Namun, sekarang jarang santri yang masak sendiri, seiring dengan perkembangan jaman. Jika mencari santri memasak di dapur, silakan cari pondok yang masih salaf.

2. Makan se-lengser bersama

PKB Kab Tegal

Inilah yang membuat apapun makanannya akan enak terasa. Santri yang memasak, ketika sudah siap saji, makanan ditiriskan di lengser atau daun pisang. Kemudian dimakan secara bersama-sama oleh 5 - 10 orang. Meski nasi dan sayur masih panas, para santri tak peduli untuk melahapnya. Soal tangan gosong atau lidah terbakar, itu soal nanti. Masalahnya, kalau tidak berani ambil resiko itu, dijamin tidak kenyang karena kalah dengan yang lain.

PKB Kab Tegal

3. Antri mandi

Pesantren yang jumlah santrinya ribuan, ketika pagi dan sore hari akan ada pemandangan menarik di kamar mandi atau kali (sungai). Satu kamar mandi, bisa antre tiga orang. Jika tak sabar, yang ngantri akan menggedor-gedor pintu. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya buang hajat dengan pintu digedor-gedor. Berbeda dengan kamar mandi, kalau mandi di sungai antrinya petelesan celana untuk santri putra. Sungguh menggelikan.

4. Terserang penyakit kulit

Penyakit kulit atau kudis, akrab bagi santri baru. Hal ini seakan menjadi "ujian" pertama bagi santri; apakah nantinya ia akan betah tinggal di pesantren atau tidak. Saking parahnya, santri yang terkena penyakit ini kadang sampai tak bisa duduk atau sulit jalan. Mau dibawa ke rumah sakit, dokter, tak jua sembuh-sembuh. Hanya waktu yang bisa menyembuhkannya, hingga badan kebal dan penyakit merasa bosan sendiri.Namun, itu dulu. Pesantren sekarang sudah banyak memiliki air bersih dan sanitasi yang memadahi.

5. Tidur di lantai berbantal pakaian kotor

Dulu tak ada ceritanya santri tidur di kasur. Tidurnya cukup merebahkan badan di lantai kamar, depan kamar atau serambi masjid. Untuk bantal, pakaian kotor dikumpulkan lalu dibungkus dengan sarung. Hal itu sudah lebih dari cukup menghilangkan kantuk karena kesibukan ngaji pagi, siang sampai malam.

6. Berebut IN atau jajanan

Sudah menjadi tradisi, ketika ada santri baru atau menerima wesel atau sehabis pulang selalu membawa aneka jajanan. Ketika si santri datang diantar orang-tua, seluruh anggota kamar akan bersikap dewasa dan melayani tamu dengan penuh penghormatan, seperti anjuran baginda nabi.?

Namun sejurus kemudian, ketika para tamu orang tua atau wali santri itu pulang, akan segera terjadi kegaduhan: berebut jajanan. Ini suatu tradisi yang lazim terjadi di pesantren-pesantren salaf, meski latar belakang santri adalah seorang yang mampu. Berebut I.N. atau jajanan ini menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan.

7. Dikejar setoran

Setoran disini bukanlah setoran yang lazim terjadi antara sopir angkot dengan juragannya, namun setoran hafalan nadzaman dan syair-syair kitab. Biasanya, seminggu sekali para santri setoran hafalan tersebut kepada sang ustadz. Jika tidak memenuhi target, si santri akan ditazir dan lebih ekstrem lagi tak bisa naik kelas.

8. Mayoran

Istilah mayoran dewasa ini jarang terdengar. Ini adalah manifestasi kekompakan atau rasa syukur santri setelah mengkhatamkan kitab. Biasanya, ada pengurus kelas yang menariki iuran lalu dibelikan daging. Daging, merupakan barang mewah bagi santri yang dengan kultur pesantren salaf rata-rata menyuruh untuk hidup senderhana, riyadlah dan tirakat. Namun, sepertinya tradisi mayoran ini sekarang lekang oleh waktu karena makanan mewah sudah ada dimana-mana.

9. Tazir (hukuman)

Pesantren dimanapun memiliki peraturan. Jika ada santri yang melanggar, ia akan dihukum sesuai bobot pelanggarannya. Ada yang diceburkan ke kolam atau sunga, dicukur gundul atau dipajang di depan pesantren dengan mengalungkan papan bertuliskan kesalahannya. Ketika terjadi taziran ini, biasanya semua santri menonton dan menyoraki. Ini pelajaran sekaligus tes mental dan melatih tanggung jawab.

10. Berebut mencium tangan kiai

Pesantren salaf mengajarkan santri untuk memuliakan ilmu dan ahlinya. Salah satu bentuk memuliakan tersebut adalah bersalaman dan mencium tangan kiai. Ini terjadi di semua pesantren-pesantren salaf, kecuali pesantren modern. Selain itu, bersalaman dan mencium tangan kiai adalah sebuah upaya ngalap berkah agar mendapat ridla dari sang kiai.

11. Tirakat

Terakhir dalam tulisan ini, adalah tirakat. Para santri biasanya meminta ijazah kepada kiai akan amalan-amalan tertentu seperti: ngrowot (tidak makan nasi), puasa, shalat jamaah, manaqib, mujahadah, dalalil dll. Amalan tersebut merupakan metode salafiyyah yang menjadi perekat masuknya ilmu ke hati. Jadi, jangan heran kalau ada santri yang makannya nasi aking (oyek, thiwul) karena itu ia sedang menjalankan misi spiritual. Bahkan, di pesantren tertentu, banyak santri yang mengamalkan ilmu kanuragan sehingga tak mempan bacok.

Demikianlah 11 fakta menarik tentang santri di pesantren yang dapat saya rangkum. Semoga, ke depan para santri terus dapat berkiprah membangun masyarakat, negara dan bangsa dalam domain agama Islam yang rahmatan lil alamin. Selamat Hari Santri Nasional!. Kiriman dari Ahmad Naufa, Santri PP An-Nawawi Berjan Purworejo

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Internasional, Kiai, Tegal PKB Kab Tegal

Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah

Yogyakarta, PKB Kab Tegal. Dalam acara tahlil memperingati wafatnya KH Zainal Abidin Munawwir, Selasa (25/3) tadi malam, Katib Aam PBNU KH Malik Madani berpesan agar warga Nahdhiyin menjaga Ukhuwah Nahdliyah, kekompakan sesama warga NU menjelang pemilu 2014 nanti.

“Saya tidak ingin berbicara panjang lebar, saya hanya ingin titip pesan dari PBNU, menjelang tanggal 9 April yang akan datang ini, PBNU berpesan agar warga NU menjaga Ukhuwah Nahdliyah. Ukhuwah ini harus dijaga betul, supaya Ukhuwah Nahdliyah bisa menjelma menjadi Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: Jelang Pemilu, Jagalah Ukhuwah Nahdliyah

“Tidak usah tengkar? satu sama lain karena berbeda pilihan politik. PBNU tidak pernah mewajibkan warganya untuk memilih partai tertentu. Silahkan tanya kepada hati nurani masing-masing,” tambah Kiai Malik.

PKB Kab Tegal

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Malik juga berpesan agar memilih orang bukan karena money politik.

“Pilihlah orang yang menurut pendapat kita orang ini orang baik. Kalau jadi wakil kita di DPR nanti akan menyuarakan aspirasi kita. Tidak akan memperkaya diri sendiri. Inilah pesan PBNU,” ungkap Kiai asal Pulau Madura tersebut

PKB Kab Tegal

Acara tahlil bersama dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya KH. Zainal Abidin Munawwir tersebut dihadiri oleh ratusan jamaah yang terdiri dari santri dan masyarakat. Mereka berduyun-duyun memenuhi halaman Pesantren Krapyak selepas Isya’. Dengan dipimpin oleh KH Najib Abdul Qadir, para jamaah khusyuk membacakan doa untuk KH Zainal Abidin Munawwir yang wafat tanggal 15 Februari 2014.? (Nur Rokhim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal Syariah PKB Kab Tegal

Hajar Hidayatullah 1-4, Darul Ulum Wakili Sumatera VI di Putaran Final LSN

Bengkulu, PKB Kab Tegal. Laga final Liga Santri Nusantara Regional Sumatera VI yang meliputi Sumatera Barat dan Bengkulu, telah berlangsung Rabu (5/10) di Stadion Semarak Sawah Lebar, Kota Bengkulu.

Hajar Hidayatullah 1-4, Darul Ulum Wakili Sumatera VI di Putaran Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Hajar Hidayatullah 1-4, Darul Ulum Wakili Sumatera VI di Putaran Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)

Hajar Hidayatullah 1-4, Darul Ulum Wakili Sumatera VI di Putaran Final LSN

Kickoff laga final yang mempertemukan juara Zona Sumbar Pesantren Darul Ulum, melawan juara Zona Bengkulu, Pesantren Hidayatullah, ditandai dengan tendangan bola oleh Kapolda Bengkulu Brigjen Pol M Ghufron.

Sejak peluit panjang berbunyi, tim Darul Ulum mencoba membangun serangan terlebih dahulu. Tetapi usaha kedua tim perwakilan Zona Sumbar dan Bengkulu ini, belum menghasilkan gol hingga babak pertama usai.

Memasuki babak kedua, kedua tim saling menyusun serangan, bola-bola bahaya sempat kedua peroleh, tapi sayang hingga babak kedua selesai, tak ada satupun yang dapat menghasilkan gol. Hingga pada akhirnya terjadilah adu finalti, yang dimenangkan Pesantren Darul Ulum dengan gol 4-1.

Dengan kemenangan tersebut, Pesantren Darul Ulum berhak melaju ke babak seri nasional mewakili Regional Sumatera VI yang pada babak penyisihan diikuti 14 Pesantren se-Sumbar dan Bengkulu.

PKB Kab Tegal

"Dengan kemanangan ini, maka Pesantren Darul Ulum akan mewakili Regional Sumatera VI di seri nasioanal yang akan berlangsung di Yogyakarta,” jelas Herliardo Ketua Panpel Sumatera VI.

"Siapapun yang menang kita apresiasi, yang penting momentum Liga Santri Nusantara telah membangkitkan ghirah/semangat pesantren di bidang olahraga," tambahnya.

Laga final Regional Sumatera VI di samping dihadiri Kapolda Bengkulu, juga hadir Kapolres Bengkulu, Staf Ahli Gubernur Bengkulu, Din Ikwan, para pejabat Kemenag Provinsi, panitia Liga Santri Nusantara pusat dan daerah, serta ratusan suporter kedua tim. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PKB Kab Tegal

PKB Kab Tegal Kiai, Ubudiyah PKB Kab Tegal